Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 112 - Kabur


__ADS_3

“Kamu hebat Lian Shi”. Jenderal Xin Sheng memuji.


“Kakak hebat”.


“Bagaimana dengan Tuan Putri?”.


“Uhuk… Kamu tidak pernah berubah Lian Shi. Selalu mementingkan orang lain terlebih dahulu”. Tuan Putri terbangun dari tidurnya.


“Tuan Putri. Syukurlah pilnya bekerja”.


“Sudah kubilang panggil saja dengan namaku. Kamu merupakan sahabat terbaikku Lian Shi”.


“Jin Xianyi”. Lian Shi dan Jin Xiayi tersenyum melihat satu sama lain.


“Kalian semua, aku berhutang nyawa pada kalian”.


“Aaarrrkkk…”. Jin Xianyi tiba-tiba kesakitan, aura hitam keluar dari tubuhnya(Aura Iblis).


“Jin Apa kamu baik-baik saja”.


“Aaarrrkkk… Badanku tiba-tiba lemas”.


“Brukkk…!”. Pintu kamar Jin Xianyi didobrak.


“Xin Sheng. Akhirnya kau bergerak. Kami tidak akan membiarkan kau pergi dari sini”. Jenderal-jenderal pengkhianat dan para pasukan mengepung kamar Jin Xianyi.


“Lian Shi aku tidak menyangka kau bisa membuat Pil Pemecah Es. Kau memang berbakat namun sayang kita berseberangan. Kau harus mati di sini”.


“Master…”.


“Racun Ular!”. Xin Sheng melelehkan tembok yang ada di belakang Jin Xianyi.


“Kalian kaburlah. Aku akan menahan mereka”. Lian Shi segera membopong Jin Xianyi, sedangkan Lian Pu keluar duluan mengamankan jalan.


“Tinju Badak”. Seorang Jenderal menyerang Xin Sheng.


“Insting Ular”. Xin Sheng berhasil menghindar ke samping.


“Cakar Gagak”. Tanpa diduga Jenderal yang lain sudah bersiap di belakang Xin Sheng.


“Crattt…!”. Punggung Xin Sheng terluka. Serangan itu begitu kuat hingga menembus zirahnya.


“Napas Ular”. Xin Sheng mengeluarkan asap beracun hijau pekat memenuhi seisi ruangan.


“Kalian mundurlah. Kejar Tuan Putri dan yang lainnya jangan sampai mereka lolos”. Para prajurit mundur, Sementara Jenderal-jenderal musuh segera meminum Pil Anti Racun.


“Mata Gagak. Di sana…!”. Dengan kekuatan Mata Gagak Jenderal Gagak bisa mencari letak Xin Sheng dari suhu tubuhnya.


“Tanduk Badak”.


“BRUKKK…! Kretek…!”. Jenderal itu berhasil menyundul Xin Sheng. Xin Sheng pun terpental, beberapa tulang rusuknya patah.


“Uhuk…”. Xin Sheng batuk berdarah.


“Menyerahlah Xin Sheng. Atau kami terpaksa membunuhmu”.

__ADS_1


“Racun Abadi”. Xin Sheng membakar sedikit jiwanya dan menyemburkan asap beracun ungu yang lebih kuat. Kemudian ia kabur menyusul Lian Shi dan yang lainnya.


“Kalian berdua berhenti, atau kalian akan mati”. Seorang Jenderal lainnya memperingati Jenderal Gagak dan Jenderal Badak.


“Ada apa Tuan? Bukankah kita harus mengejar mereka?”.


“Racun Abadi bukanlah racun biasa. Pil Anti Racun tidak akan mempan terhadapnya. Kalian tenang saja Xin Sheng akan mati karena racunnya sendiri. Kita tunggu saja prajurit-prajurit itu menangkap kembali Tuan Putri”.


“Baik Tuan”. Jenderal-jenderal itu mundur.


“Ting…!”. Cepat kak. Lian Pu menahan laju prajurit.


“Tinggalkan saja aku. Aku tidak ingin membahayakan kalian”.


“Bukankah itu sudah terlambat. Kita sudah berbagi cangkir, kita adalah saudari sehidup semati”.


“Aaarrrkkk…”. Lian Pu terkena serangan prajurit.


“Racun Ular”. Xin Sheng datang menolong.


“Ayo terus lari”. Mereka semua lanjut berlari sampai keluar dari Ibu kota kekaisaran Jin.


“Uhuk…” Xin Sheng terjatuh. Lian Pu dengan sigap ingin menolongnya.


“Jangan sentuh aku…! Aku sudah terkena racun yang mematikan”. Xin Sheng mencoba berdiri sendiri.


“Jenderal…”.


“Aku kita lanjut lari”. Meski susah payah rombongan Lian Shi berhasil kabur dan bersembunyi di tempat aman sekte Xin.



“Ayah…”.


“Ada apa Sun An? Kenapa kamu belum tidur sudah jam segini”.


“Aku tidak bisa tidur”.


“Mau ikut berlatih bersama Ayah?”.


“Tidak ah. Aku cape. Kenapa ayah berlatih terus setiap malam. Apa Ayah tidak lelah?”.


“Apa kamu tahu mengapa seseorang disebut pemburu?”.


“Karena dia berburu”.


“Tapi untuk apa dia berburu?”.


“Untuk mendapatkan monster. Terus dijual atau digunakan”.


“Ada banyak cara mendapatkan uang, ada banyak cara juga membeli monster. Tapi mengapa dia memilih berburu. Padahal berburu sangatlah berbahaya”.


“Mungkin karena ia suka berburu. Sama seperti aku”.


“Benar Sun An. Pemburu suka melihat mangsanya lari. Pemburu berburu karena mereka menyukainya. Adrenalin, pertarungan dan lain sebagainya. Bahkan sama sepertimu Sun An, terkadang mereka tidak peduli dengan mayat monsternya”.

__ADS_1


“Jangan berkata seperti itu Ayah. Aku jadi takut dengan diriku sendiri”.


“Takut terhadap dirimu sendiri itu bagus Sun An. Ayah juga takut dengan diri Ayah sendiri yang lemah. Maka dari itu Ayah berlatih mengalahkan diri Ayah sendiri setiap malam. Ayah suka setiap kali Ayah berhasil melewati batas diri Ayah. Rasanya begitu menyenangkan”.


“Aku jadi penasaran. Kalau begitu aku ingin ikut latihan. Aku ingin mengalahkan diriku sendiri”. Sun Long dan Sun An latihan sampai dini hari hingga tertidur kelelahan.



Keesokan paginya. Qian Qi pergi kembali menghadiri kelas unit Pemburu. Pelajaran berjalan lancar murid-murid pun bubar melakukan kegiatan masing-masing.


“Master Zhang Liao”. Qian Qi menghampiri Zhang Liao.


“Ada apa Qian Qi?”.


“Aku bisa menyembuhkan luka dalam Master Zhang Liao. Apa Master tertarik”.


“Dari mana kamu tahu tentang luka dalamku?”.


“Aku melihat gejala-gejalanya kemarin. Jadi apa Master tertarik?”.


“Jika benar kamu bisa menyembuhkanku. Aku bersedia melakukan apa pun yang kamu minta selama itu hal yang benar”.


“Tidak perlu seperti itu Master. Master hanya perlu menjaga rahasia”.


“Rahasia?”.


“Iya. Master hanya perlu menjaga rahasia. Tapi jika Master membocorkan rahasianya, aku terpaksa membunuh Master”. Qian Qi menatap mata Zhang Liao. Meski mata Qian Qi terlihat indah tapi ancaman itu nyata.


“Baiklah Qian Qi. Jika rahasia itu tidak menyakiti siapa pun aku menerimanya”.


“Bukan rahasia penting. Aku hanya ingin Master merahasiakan identitasku. Selebihnya tetap sama tidak ada yang berubah”.


“Baiklah kalau begitu Qian Qi. Aku menerima bantuan darimu. Aku bersedia merahasiakan identitasmu”.


“Qian Qi memperlihatkan Emblem Alkemis miliknya”.


Te… Tetua Alkemis Pusat kota Goliat. Rahasia ini terlalu gila. Pantas saja Qian Qi sangatlah kuat dan berbeda. Qian Qi merupakan orang dari Surga Hitam. Zhang Liao ketakutan bulu kuduknya berdiri dan berkeringat dingin.


“Setelah ini kunci, tutup semua jendela, pintu dan gorden ruangan kelas ini. Jangan lupa gunakan juga formasi kedap suara. Akan ada bawahanku yang datang mengobati Master Zhang Liao”.


“Ba… Baik Nona…”.


“Hhhmmm…”. Qian Qi menatap Zhang Liao.


“Ma… Maaf Qian Qi”.


“Yasudah kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus mengumpulkan Point untuk ikut turnamen peringkat”. Qian Qi pergi.


Tenanglah Zhang Liao. Meski dari Surga Hitam, Qian Qi adalah orang baik. Aku percaya padanya. Tangan Zhang Liao terus bergetar.


Zhang Liao mengikuti perintah Qian Qi dengan ragu. Setelah membuat formasi kedap suara prajurit boneka mulai bermunculan dari atap. Membuat Zhang Liao kaget dan  siap bertarung.


“Si… Siapa kalian?”. Prajurit boneka terlihat mencurigakan dengan jubahnya.


“Kami prajurit boneka. Anak buah dari Nyonya Qian Qi”. Seorang prajurit boneka muncul tepat di belakang Zhang Liao.

__ADS_1


P… Prajurit boneka? Mereka terlihat menakutkan. Apa benar mereka akan menyembuhkan lukaku.


__ADS_2