Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 98 - Belajar Berenang


__ADS_3

Kapal Tempur Atlas mendarat di pantai kekaisaran Jin.


“Asin…!”. Sun An mencoba minum air laut.


“Jangan asal minum air Sun An”.


“Aku penasaran”.


“Ayo kita siap-siap”.


“Siap-siap untuk apa?”.


“Belajar berenang”.


“Aku sudah bisa berenang”.


“Sejak kapan kamu bisa berenang?”.


“Tentu saja sejak baca buku. Aku sudah hafal cara-cara berenang”.


“Kalau gitu, kamu coba berenang sekarang. Ayah mau  lihat”.


“Mudah saja. Aku ganti baju dulu”. Sun Long dan Sun An ganti baju.


“Saatnya berenang”. Sun An langsung lari ke dalam air.


“Tunggu dulu Sun An”.


“Ada apa Ayah?”.


“Katanya kamu bisa berenang?”.


“Tentu saja aku bisa”.


“Terus kenapa kamu langsung lari ke laut”.


“Ya untuk berenang”.


“Coba sebutkan apa langkah pertama untuk berenang”.


“Gaya Katak. Tinggal buka tangan dan kaki, naikkan kepala terus tutup”.


“Kurang tepat Sun An. Langkah berenang yang pertama adalah pemanasan dulu. Agar tubuhmu tidak keram. Kalau kamu keram di dalam laut akan sangat berbahaya. Jangan pernah remehkan alam”.


“Baiklah”. Sun An kembali. Sun Long dan Sun An melakukan pemanasan.


“Ayo coba berenang ke Ayah”. Sun Long masuk ke dalam air.


Sun An berlari ke arah Sun Long. Tubuhnya mulai tenggelam sedikit demi sedikit hingga setinggi leher. Mau tidak mau ia harus berenang ke arah Sun Long. Ia mulai mengingat lagi gerakan yang telah ia hafal.


“Byurrr…”. Sun An melompat berenang ke arah Sun Long.


“Blubuk… Blubuk…”. Sun An tenggelam.


“Uhuk… Uhuk…”. Sun Long menyelamatkan Sun An dan membawanya ke pantai.


“Aku benci laut”. Wajah Sun An merah ia terlihat kesakitan.


“Sudah Ayah bilang jangan meremehkan alam”.


“Aku tidak mau ke laut lagi. Ngeee…”. Sun An menangis.

__ADS_1


Sun Long menenangkan Sun An. Setelah tenang Sun Long memanjat pohon kelapa yang ada di pantai. Ia mengajari Sun An cara buka kelapa dan meminumnya. Sun An terlihat senang ia suka rasa kelapa menyegarkan dan manis.


Setelah Sun An tenang Sun Long meminta Sun An menunggu di pantai. Ia hendak berenang ke laut untuk mencari ikan dan makanan-makanan lainnya. Sebelum pergi Sun Long memberikan sebuah ember untuk Sun An.


“Untuk apa ember ini Ayah?”.


“Untuk membuat istana atau sebagainya. Kamu main pasir saja dulu sambil menunggu Ayah”.


“Akukan sudah besar”.


“Terserah kamu saja, mau main atau tidak. Ayah pergi dulu”. Sun Long berenang ke laut.


“Yaaa… kelapanya sudah habis, enak juga minum kelapa. Hhhmmm… sekarang ngapain ya?”.


Sun An jalan-jalan di pantai. Ia melihat cangkang kerang yang bentuknya bagus. Ia memutuskan untuk berkeliling mencari cangkang kerang. Alih-alih digunakan untuk membuat istana pasir. Sun An menggunakan embernya untuk mengumpulkan kerang.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sun Long kembali dari mencari ikan. Ia melihat Sun An sedang membuat istana pasir untuk tempat tinggal kerang-kerangnya. Sun Long berjalan menghampirinya.


“Wah… ikannya besar”.


“Lihat ini Sun An”.


“Gu… gurita… ini guritakan Ayah?”.


“Iya ini gurita Sun An”.


“Kakinya banyak sekali ada 8”.


“Sun An kamu sedang buat apa?”.


“Buat istana untuk cangkang kerang”.


“Haaa… haaa… haaa…”.


“Sun An cangkang kerang itu rumah untuk kerang. Masa kamu membuat rumah untuk rumah”.


“Biar saja”.


“Sun An coba kamu dekatkan telingamu ke cangkang kerang”.


“Untuk apa ayah”.


“Coba saja”.


“Ada suara laut”. Sun An terlihat senang belajar hal baru.


“Ayah masak dulu”.


“Oke… La… la… la…”. Sun An kembali main pasir.


Aku harap Sun An kecil selamanya. Aku tidak ingin dia tumbuh dewasa. Kecil dan lucu saja. Meski Sun An bisa mengalahkan monster kuat, ia tetaplah anak kecil. Masih banyak yang harus ia pelajari.


“Sun An makanannya sudah jadi. Ayo kita makan dulu”.


“Baik Ayah”.


“Cuci tangan dulu”. Sun Long mengeluarkan air.


Sun Long dan Sun An makan di bawah pohon kelapa. Cuaca yang padat berawan membuat suasana begitu sejuk.


“Pelan-pelan makannya”.

__ADS_1


“Ikan, udang dan guritanya enak Ayah. Aku paling suka udang besar ini. Rasanya segar dan manis”.


“Ini bukan udang. Ini namanya Lobster”.


“Apa bedanya Ayah? Bentuknya sama”.


“Ukuran Lobster lebih besar, cangkangnya keras dan memiliki capit besar”.


“Ooo… Gitu. Capitnya besar juga, pasti sakit kalau tercapit”.


“Makannya harus hati-hati nangkep Lobster”.


“Kenyang… Terima kasih Ayah”.


“Ayo kita belajar berenang lagi”.


“Tidak mau”.


“Kalau kamu tidak bisa berenang. Kamu tidak bisa makan lobster, gurita atau ikan-ikan laut lainnya. Kamu juga tidak bisa melihat tempat-tempat yang indah”.


“Tapi berenang sakit Ayah”.


“Makannya belajar biar tidak sakit”.


“Aku sudah hafal caranya yang ada di buku, tapi aku tetap gagal”.


“Ilmu pengetahuan dan pengalaman merupakan dua hal yang berbeda Sun An. Buku yang kamu baca juga mengajarkan berenang di air tawar bukan air laut”.


“Memangnya beda ya Ayah?”.


“Sama saja. Cuman kamu harus pakai kacamata berenang dulu. Biar tidak perih. Ayah ajarkan pelan-pelan”.


“Iya deh…”. Sun An setuju meski wajahnya terlihat kesal.


Sun Long dan Sun An berdiri di tempat yang dangkal. Sun Long meminta Sun An untuk latihan tahan napas terlebih dahulu. Pelan-pelan ia naik dan turun di permukaan air. Namun Sun An masih tidak berani membuka matanya meski sudah pakai kacamata.


“Sun An coba kamu buka mata di dalam air. Tenang saja kamu sudah pakai kacamata jadi tidak akan perih”. Sun An melihat air laut dengan ragu.


“Percaya sama Ayah. Ayah tidak akan bohong”.


“Baik Ayah”.


“Blubuk…”. Sun An menyelam dan membuka matanya. Sun An terpukau melihat karang-karang yang berwarna warni di dekat kakinya.


“Warna-warni Ayah. Indah sekali”.


“Makannya kamu harus bisa berenang biar bisa melihat tempat yang jauh lebih indah lagi”.


“Siap Ayah. Aku ingin bisa berenang. Sekarang apa lagi”.


“Ayah akan berdiri di tempat yang lebih dalam. Kamu coba lompat ke arah Ayah. Nanti Ayah tangkap”.


“Siap Ayah”.


“Ayo lompat Sun An”.


“Byur…”.


Sun Long dan Sun An belajar berenang. Berenang merupakan kemampuan yang harus dimiliki demi keselamatan hidup. Maka dari itu Sun Long bersikeras mengajarkan Sun An karena ia sangat sayang kepada Sun An.


Belajar berenang tidak hanya tentang kemampuan tapi kepercayaan juga. Sun An harus percaya sepenuhnya kepada Sun Long sebelum merelakan dirinya melompat ke tempat yang lebih dalam.

__ADS_1


Mempercayakan nyawa sendiri di tangan orang lain merupakan ikatan yang sakral. Ikatan Sun Long dan Sun An akan lebih erat lagi dari sebelumnya. Sun Long dan Sun An menghabiskan waktu dengan berenang dan menyelam hingga Sun An kelelahan.


__ADS_2