Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 90 - Wanita Liar


__ADS_3

Qian Qi, Mei Mei dan pelayan toko pergi kembali ke lantai 1. Qian Qi memilih tombak Guandao yang tadi ia inginkan. Setelah itu mereka bergeser ke bagian sarung tangan.


Sama seperti tombak sarung tangan juga terdiri dari beberapa jenis. Ada yang memiliki satu pisau besar untuk menusuk, ada yang memiliki tiga pisau kecil seperti cakar harimau, ada yang tidak memiliki pisau sama sekali dan lain sebagainya.


Mei Mei memilih sarung tangan yang tidak memiliki pisau. Mei Mei merupakan seorang ahli bela diri, ia mengandalkan tinjunya untuk membunuh lawan. Tidak lupa Qian Qi juga membeli beberapa peralatan lainnya. Seperti jarum untuk medis, botol minum, dan lain sebagainya.


Tidak terasa hari sudah mulai siang. Qian Qi dan Mei Mei harus kembali ke penginapan untuk mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa. Saat Qian Qi dan Mei Mei berjalan menuju pintu depan terdengar kembali suara sorakan para wanita. Qian Qi dan Mei Mei segera bersembunyi di balik rak senjata.


“AAAaaa… Tuan Guan Ping!”.


Guan Ping lewat diikuti oleh puluhan wanita yang mengaguminya. Melihat para wanita itu Qian Qi dan Mei Mei dapat bernapas lega. Pasalnya wanita yang mengikuti Guan Ping berbeda dengan wanita yang mengikuti Kai Yu. Qian Qi dan Mei Mei mengendap-endap keluar dari tempat persembunyiannya.


“Tunggu kalian berdua!”. Tiba-tiba Guan Ping berteriak menghentikan Qian Qi dan Mei Mei.


Aduh! apa lagi ini?.


“A… Ada apa Tuan?”.


“Kalian berdua! Kenapa mengendap-endap seperti itu? Bungkusan tombak yang kalian bawa cukup mencurigakan. Bentuknya seperti tombak Guandao. Apa kalian mencurinya?”.


“Tidak Tuan. Kami membelinya”. Qian Qi dan Mei Mei sengaja tidak menggunakan cincin ruang untuk barang-barang mereka. Harga cincin ruang tergolong mahal. Hanya bangsawan kelas atas saja yang memilikinya. Maka dari itu mereka harus menyembunyikan cincin ruangnya.


“Tunjukkan bukti surat izin kepemilikan tombak Guandao, jika benar kalian membelinya”.


“Ini Tuan”. Qian Qi menunjukkan surat izin kepemilikan tombak Guandao.


“Nyonya perasaan ini, sepertinya dejavu”. Mei Mei berbisik kepada Qian Qi.


“Iya Mei Mei. Sepertinya kita akan dikeroyok lagi”. Qian Qi dan Mei Mei melirik ke arah para wanita liar yang siap menerkam mereka berdua.


"Maaf Nona Qian Qi. Aku jarang sekali melihat wanita pengguna tombak, apalagi tombak Guandao. Aku jadi curiga. Sebagai permintaan maaf aku akan memberikan satu buah cincin ruang. Silahkan nona pilih bentuknya”. Guan Ping mengeluarkan beberapa cincin ruang dengan berbagai bentuk.


“Ci… Cincin?”. Para wanita yang mengikuti Guan Ping semakin liar.


“RRRrrr…”.


"AAAuuu…”.


“Gok… Gok…”.

__ADS_1


"Ssshhh…”.


“Nyonya… bahkan ada yang mendesis seperti ular”. Mei Mei berbisik.


“Sepertinya kita harus segera kabur”.


“Tidak perlu Tuan. Wajar saja jika Tuan curiga. Tolong kembalikan saja surat izinnya”. Guan Ping mengembalikan surat izinnya.


Setelah menerima surat izinnya. Qian Qi dan Mei Mei langsung melompat kabur. Gerombolan wanita liar itu tidak terima mereka berusaha mengejar Qian Qi dan Mei Mei.


“Ada apa dengan mereka? Tingkahnya aneh sekali”. Guan Ping melanjutkan langkahnya.


Qian Qi dan Mei Mei berlari ke arah gang-gang sempit. Berharap dapat mengecoh para wanita liar. Aksi kejar-kejaran terus terjadi. Meski Qian Qi dan Mei Mei jauh lebih cepat, namun para wanita liar lebih banyak dan lebih paham jalan.


Meski sudah berusaha keras para wanita itu berhasil mengejar Qian Qi dan Mei Mei. Ketika mereka berdua hampir tersudut tanpa sengaja mereka melihat Wang Yi bersama para pengikutnya.


Qian Qi dan Mei Mei akhirnya terhimpit dari kedua sisi. Di sisi depan ada kelompok Wang Yi pemuja Kai Yu dan di sisi belakang ada kelompok wanita liar pemuja Guan Ping. Qian Qi dan Mei Mei memutuskan untuk memanjat tembok dan bersembunyi.


“Da Qiao…! Sedang apa kau berada di wilayah kami?”.


“Wang Yi…! Pasti wanita bajingan itu dari kelompokmu. Kalian semua memang bajingan”.


“Aku sudah muak melihat mukamu. Serang!”. Da Qiao memerintahkan pengikutnya untuk menyerang kelompok Wang Yi.


“Serang!”. Kelompok Wang Yi juga tidak mau kalah.


“Gok…! Gok…!”.


"Ngew…! Ngew…!”.


“Gok…! Gok…!”.


“Ngew…! Ngew…!”.


Kelompok Wang Yi dan kelompok Da Qiao bentrok saling bertarung. Di sisi lain Qian Qi dan Mei Mei berhasil kabur kembali ke penginapan. Setelah beberapa saat Qian Qi dan Mei Mei beristirahat di dalam kamar terdengar suara derap langkah kaki dari kejauhan.


Qian Qi dan Mei Mei yang penasaran segera membuka jendela untuk melihat asal suara. Ternyata derap langkah kaki itu berasal dari para prajurit yang berlarian ke arah gang tempat bentrokan terjadi.


“Bahkan prajurit kota sampai dikerahkan”.

__ADS_1


“Aku tidak pernah melihat wanita seliar ini di Surga Hitam. Kenapa wanita di kota begitu barbar? Bukankah mereka harusnya terlihat anggun dan berkelas seperti Nyonya?”.


“Aku juga tidak tahu Mei Mei. Mungkin setelah 5 tahun berlalu mereka berubah. Sebaiknya kita bersembunyi saja pura-pura tidak tahu”.


“Setuju Nyonya masalah ini terlalu berat bahkan untuk kita berdua”. Qian Qi dan Mei Mei menutup kembali jendelanya.



Guan Pi sampai dilantai 7 gedung blacksmith. Ia terheran-heran melihat keadaan ruangan yang acak-acakan.


“Apa yang terjadi Paman Guan Ba? Siapa yang berani menyerang gedung blacksmith?”.


“Tenang Guan Ping. Tadi ada yang meminta ujian tombak Guandao. Ini bekas ujian pertempurannya”.


“Wah…! Dia apes sekali meminta ujian saat Paman yang jadi pengawas. Paman harus lebih menahan diri, kasihan mereka. Dengan ruangan sehancur ini apa lawan paman masih hidup?”.


“Hia… hia… hia… Paman yang kalah. Bahkan Paman sempat terluka parah”.


“APA…???”.


“Apa aku tidak salah dengar Guan Ba?”. Seorang pria bertubuh besar turun dari lantai atas.


“Benar Kak. Aku kalah telak”.


“Aku tidak menyangka ada orang yang bisa mengalahkanmu. Aku kira getaran tadi disebabkan oleh amukanmu”.


“Siapa orang yang bisa mengalahkanmu Paman?”.


“Hia… hia… hia… Paman dikalahkan oleh seorang gadis muda. Namanya Qian Qi. Anak dari Jenderal Qian Tao”.


“Qian Qi… Aku bertemu dengannya di lobi tadi. Aku kira ia datang untuk mencuri tombak Guandao. Apa ranahnya sehebat itu Paman?”.


“Ada hal yang aneh dari Qian Qi. Ranahnya berada di Pagoda Tingkat 3 Tahap Menengah. Tapi teknik dan gerakannya seperti berada di Pagoda Tingkat 6 atau 7”.


“Pagoda Tingkat 3 Tahap Menengah? Mustahil. Mana mungkin ia bisa mengalahkan Paman, Paman berada di ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal. Aku saja yang berada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Awal tidak berkutik melawan Paman. Mungkin Paman salah lihat”.


“Bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang jelas ia akan mengikuti ujian perguruan Pedang Bulan besok”.


“Guan Ping. Awasi Qian Qi”.

__ADS_1


“Siap Ayah!”. Guan Yu kembali ke lantai atas.


__ADS_2