
Qian Qi tidak bisa mengendalikan amarahnya. Ia sangat marah ketika Da Qiao memanggilnya pelacur.
Hal itu mengingatkan Qian Qi akan kenangan buruk masa lalunya bersama Sun Jian. Kenangan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Sweety, Ibu... Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang aku adalah seorang istri dan seorang ibu.
Qian Qi mengurungkan niatnya menebas Da Qiao. Ia menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
"Qian Qi Pemenangnya...!". Wasit mengangkat tangan Qian Qi.
Para penonton bersorak melihat kehebatan Qian Qi. Sementara lawan Qian Qi mulai ketar-ketir melihatnya.
Mereka baru tahu Qian Qi berada di ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal. Meski Qian Qi merupakan siswi baru di perguruan Pedang Bulan.
Da Qiao sama sekali bukan tandingan Qian Qi. Dia baru sadar kalau dia salah pilih lawan. Da Qiao yang berada di ranah Pagoda Tingkat 5 Tahap Akhir hanya sebutir debu di hadapan Qian Qi.
...
Di sisi lain.
Wang Yi yang melihat pertandingan Qian Qi dan Da Qiao merasa geram. Meski ranahnya sama dengan Da Qiao berada di ranah Pagoda Tingkat 5 Tahap Akhir tapi ia tidak menyerah.
Rasa bencinya kepada Qian Qi begitu dalam. Ia mulai memikirkan rencana. Apa pun untuk mengalahkan Qian Qi.
Hari keempat Turnamen Peringkat berakhir. Dengan Jumlah peserta yang tersisa tinggal 32 orang.
Jadwal untuk besok adalah Qian Qi melawan Wang Yi. Karena jumlah peserta tinggal sedikit Penonton mulai berdatangan.
Kali ini Qian Qi akan bertanding di sore hari. Masih ada waktu bagi Qian Qi untuk istirahat tidur lagi sebelum pertandingan dimulai.
"Qian Qi tunggu sebentar". Yu Na menghampiri Qian Qi yang hendak pulang.
"Terima kasih Dewi, karena sudah menutupiku dengan Prisma Air".
"Sekarang bukan waktunya untuk membahas hal itu. Ikut dengan ku sekarang juga". Yu Na menarik Qian Qi ke balik semak-semak.
"Ada apa sih Dewi?".
"Sudah ikut saja".
"Aarrr...! Aarrr...!".
"Ampun Qilin... Nyonya tolong...! Qilin menggila". Qilin menggigit bokong Mei Mei.
"Aarrr...!!!".
"Qilin bagaimana bisa dia ada di sini".
"Kamu meninggalkannya di kamar, saat kamu pergi ke arena. Kebetulan Qilin dan aku berpapasan di jalan".
__ADS_1
"Nyonya tolong cepat lepaskan. Ini sakit sekali".
"Qilin lihat, aku bawa apa?". Qian Qi menunjukan keping emas kesukaan Qilin.
"Meow... Meow...". Qilin melepaskan Mei Mei dan memakan keping emas kesukaannya.
"Aduh sakit sekali. Bagaimana bisa Qilin jadi sebesar itu". Mei Mei mengelus-elus bokongnya yang digigit Qilin.
"Apa itu Qilin?". Qian Qi terlihat heran.
"Gokkk...!". Qilin marah.
"Iya... iya, maaf Qilin. Kemarin kamu masih kecil seperti anak kucing. Kenapa sekarang tiba-tiba sebesar anjing bulldog". Qian Qi, Mei Mei dan Yu Na dibuat heran dengan pertumbuhan Qilin.
"Emangnya kamu kasih makan apa Qian Qi?".
"Aku kasih emas seperti biasa. Tapi...".
"Tapi apa?".
"Kemarin malam saat aku menghisap batu qi Iblis, Qilin juga menghisapnya. Jadi aku kasih satu".
"Mungkin karena itu Qilin jadi besar secara mendadak".
"Xiii... xiii... xiii... Benar kata Nyonya. Qilin tidak botak lagi, dia ada rambutnya".
"Zzzttt... Aduh...!". Mei Mei yang kaget tidak sempat menghindar. Akhirnya petir Qilin mengenai dirinya.
"Wah...! Tidak hanya kekuatan keberuntungan, ternyata Qilin juga memiliki kultivasi petir. Tidak salah lagi dia memang monster Qilin. Monster Tingkat SSS setara dengan Phoenix".
"Qilin hebat sekali". Qian Qi yang senang segera menggendong Qilin.
"Qilin sudah besar dan berat sekarang. Tidak bisa aku sembunyikan di asetku lagi. Kalau sudah begini. Kita harus menjaga Qilin secara bergilir".
"Aku. lagi yang kena getahnya. Dasar Cucu merepotkan".
"Setidaknya sampai ekspedisi Wakil Ketua dilaksanakan. Aku akan mengantarkan Qilin ke Sun An nanti".
"Terserah kamu saja. Lagi pula meski aku menolaknya, kamu pasti tetap meninggalkannya di kamarku". Yu Na sudah pasrah.
"Heee... Heee... Heee... Terima kasih Dewi".
Setelah berpamitan Qian Qi, Yu Na dan Mei Mei berpisah. Qian Qi segera pulang untuk beristirahat tidur lagi.
...
"Ibu... Ibu...".
"Hhhyyymmm... Ada apa Dodo Ho". Bai Su bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ibu, Kakak Sun An menangis lagi...".
"Terima kasih Dodo Ho...". Bai Su memeluk Dodo Ho kemudian membawanya kembali ke kamar anak-anak.
Sesampainya di kamar anak-anak. Bai Su melihat Dodo Yang yang terlentang tertidur pulas. Sementara Sun An sedang menangis menghadap tembok memeluk boneka Sun Long dan Qian Qi.
Setelah menyelimuti Dodo Ho di kasurnya dan memberi kecupan selamat tidur. Bai Su memperbaiki posisi tidur Dodo Yang terlebih dahulu.
Meski Dodo Yang seorang perempuan. Ia benar-benar mirip dengan ayahnya Dodo Fung. Sedangkan Dodo Ho yang laki-laki malah mirip dengan kedua ibunya Bai Su dan Bai Zhe, lemah lembut dan pengertian.
Setelah memberi kecupan kepada Dodo Yang. Bai Su mulai menghibur Sun An yang rindu dengan kedua orang tuanya.
"Sun An...".
"Ngeee... ngeee...".
"Ayo Sun An. Sun An bisa tidur dengan Bibi dan Bibi Bai Zhe". Seakan mengerti dengan rasa kesepian Sun An. Bai Su menawarkan Sun An untuk tidur di kamar utama.
Berbeda dengan keluarga Sun Long. Keluarga Dodo Fung, Bai Su dan Bai Zhe membutuhkan privasi.
Sejak kecil Dodo Yang dan Dodo Ho sudah tidur di kamar anak-anak tanpa orang tua mereka.
Sedangkan Sun Long dan Qian Qi yang belum bisa membuat adik untuk Sun An. Tidak perlu privasi. Mereka bertiga tidur di kamar yang sama.
Kebiasaan itu membuat Sun An tidak bisa tidur di kamar anak-anak yang memiliki kasur terpisah satu per satu.
Bai Su menggendong Sun An membawanya ke kamar utama, tempat Bai Su dan Bai Zhe tidur.
Sesampainya di kamar utama.
"Sun An...". Bai Zhe terbangun saat Bai Su menidurkan Sun An di kasur besar kamar utama. Ia segera mengelus-elus kepala Sun An membantunya untuk tidur.
Ketika hendak tidur tiba-tiba Dodo Ho datang lagi. Ia juga mau tidur bersama di kamar utama bersama kedua ibunya dan Sun An.
"Bai Su. Bagaimana dengan Dodo Yang?".
"Tertidur pulas seperti Ayahnya".
"Anak itu... Tidak ada manja-manjanya. Ia tumbuh terlalu cepat".
"Aku juga tidak paham. Bagaimana bisa dia seperti itu".
"Aku akan menggendongnya, membawanya ke sini".
"Tidak apa-apa Bai Zhe. Biarkan saja, ia sudah tertidur pulas".
"Aku jadi tidak bisa tidur memikirkannya yang tidur sendirian. Tunggu sebentar ya Sun An...". Bai Zhe pergi menjemput Dodo Yang.
Bai Zhe aku bersyukur kita berdua menikah dengan Dodo Fung. Meski Dodo Yang adalah anak kandungku. Tapi kita tidak membedakan satu sama lain. Dua-duanya anak kita.
__ADS_1