
“Tetua Yu Na. Apa yang terjadi?”. Zhang Liao datang bersama pasukan penjaga.
“Ada iblis yang berhasil masuk”.
“Iblis? Dari mana datangnya?”. Guan Ping dan Zhen Ji ikut hadir.
“Sepertinya ia sudah berada di dalam salah satu rumah. Mereka menyerang Qian Qi yang sedang sendiri”.
“Qian Qi? Apa dia baik-baik saja?”. Guan Ping panik.
“Aku tidak apa-apa Tuan Guan Ping”. Qian Qi keluar dari balik reruntuhan. Ia sedang mengambil barang-barangnya.
Seluruh pria yang ada di sana terdiam membisu melihat kecantikan Qian Qi. Qian Qi tidak sadar kalau penutup wajahnya sobek saat ia menggunakan teknik Tombak Raijin.
Rambut Qian Qi terurai lurus seperti sutra, matanya sayu putih bersih dengan pupil berwarna coklat, Bibir tipisnya pink seperti permen, pipinya tirus menggoda dan kulitnya putih bercahaya terkena sinar bulan purnama.
“Wah… wah… wah… Ternyata di balik penutup wajah terdapat seorang dewi”. Zhen Ji mengagumi penampilan Qian Qi. Qian Qi meraba-raba wajahnya, ia terkejut lalu bersembunyi menggunakan penutup wajah kembali.
“Untung ada tetua Yu Na. Kalau tidak, akan sangat berbahaya, Mau kita apakan mayat iblis ini”.
“Mungkin akan ku serahkan mayat iblis ini ke divisi Alkemis Bulan”.
“Tetua Cai Wenji sudah pulang tadi sore. Hanya kita berdua tetua yang masih tinggal”.
“Badan Iblis ini sangat besar. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus hal seperti ini. Tetua Zhen Ji simpan saja dulu di divisi Blacksmith Bulan. Baru besok tolong serahkan ke divisi Alkemis Bulan”. Qian Qi kembali setelah menggunakan penutup wajahnya.
“Baik Tetua Yu Na, serahkan saja padaku. Ngomong-ngomong Qian Qi. Karena rumahmu sudah hancur, kamu bisa tinggal di divisi Blacksmith Bulan untuk sementara waktu”.
“Terima kasih Tetua Zhen Ji. Tapi divisi Blacksmith Bulan terlalu jauh dari divisi Petarung Bulan. Untuk sementara waktu aku akan tinggal di divisi Penari Bulan karena lebih dekat. Jadi aku bisa bulak balik dengan mudah”.
Dasar. Anak ini mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak pernah menawarkan penginapan untuknya. Kalau sudah begini aku tidak akan bisa menolaknya.
“Yah… Yasudah kalau begitu. Tapi divisi Blacksmith Bulan akan selalu terbuka untukmu”.
“Terima kasih tetua Zhen Ji”.
“Kalau begitu kami bertiga pamit dulu”. Qian Qi, Mei Mei dan Yu Na pergi ke divisi Penari Bulan.
“Kalian semua mau sampai kapan bengong begitu”. Zhen Ji menyadarkan para pria.
“Maaf Tetua Zhen Ji”.
“Zhang Liao. Meski aku bukan atasanmu. Tapi tolong bantu bawakan mayat iblis ini ke divisi Blacksmith Bulan”.
“Siap Tetua Zhen Ji! Pasukan ayo kita bawa”. Zhang Liao pergi bersama pasukan.
“Maaf Guan Ping. Ibu gagal lagi membujuk Qian Qi untuk tinggal di divisi Blacksmith Bulan. Tapi Qian Qi benar-benar cantik tidak ada tandingannya”.
“Iya Bu. Qian Qi cantik sekali”.
“Sudahlah ayo kita kembali”. Zhen Ji dan Guan Ping pergi.
…
__ADS_1
Keesokan paginya
"Ada sebuah kisah, baru saja terjadi. Di mana seseorang dipaksa untuk jadi pahlawan. Perjuangan yang mulia mereka bilang. Tapi untukku, aku hanya ingin melihat istriku kembali”.
“Waktu itu aku bodoh, egois dan keras kepala. Bahkan sampai sekarang belum berubah. Aku akan mencari istriku sampai ketemu. Meski hal itu akan membunuhku”.
“Sayang… Sayang…”.
“Suara itu. Tidak salah lagi itu adalah suara istriku”.
“Aku ada di sini sayang”.
“Aku datang sayang. Tunggulah aku”.
“Hap…!”.
“Kriuk…”.
“Kriuk…”.
“Sayang… Akhirnya aku menemukanmu”.
“Sedih sekali ceritanya Liu An”. Penjaga toko permen menangis mendengar kisah seekor Singa yang mencari istrinya. Tapi terbunuh oleh monster Putri Malu.
“Menurut Kakek ceritanya happy ending atau bad ending? Meski Singa itu mati, tapi ia berhasil menemukan istrinya lagi”.
“Menurut Kakek ceritanya bad ending, karena Singa itu mati sebelum membalaskan dendam”.
“Kalau menurut Ayah?”.
“Ayah…”. Sun An memeluk Sun Long.
“Kalau boneka ini siapa Liu An”.
“Ini boneka Ibu yang dibuat Ayah. Liu An. Lagi-lagi kamu membuat cerita yang mengerikan. Sudah Ibu bilang buat ceritanya yang santai-santai saja. Sini bantu ibu masak untuk makan malam”. Sun An menirukan Qian Qi.
“Apa Liu An rindu dengan ibu?”.
“Iya. Liu An ingin bersama Ayah dan Ibu”.
“Liu An memang anak yang baik. Ini kakek sudah membelikan apel untuk Liu An. Kemarin kamu sudah makan banyak permen, sekarang makan apel biar giginya tidak rusak”.
“Terima kasih Kakek”.
“Yang sabar ya Liu Long. Meski kamu sendirian, kamu berhasil mendidik Liu An dengan baik”. Kakek penjual permen menepuk punggung Sun Long.
Sun An. Meski ceritanya agak samar, tapi rasa rindu itu nyata dan tulus. Maafkan Ayah dan Ibu. Kami terlalu bodoh, egois dan keras kepala. Kami tidak bisa mengabulkan permintaanmu untuk sekarang. Masih ada hal yang harus kami lakukan. Setelah semua selesai Ayah janji. Kita akan hidup bersama kembali sebagai keluarga.
“Liu Long. Aku mau membeli 10 kotak mochi”.
“10? Banyak sekali Nona Xin Chuan”.
“Aku suka sekali mochi buatan kalian. Satu kotak untukku. Sisanya untuk orang-orang yang ada di sekte Xin”. Sun Long dan Sun An langsung menyiapkan pesanannya.
__ADS_1
“Hai..!”.
“Ai…!”.
“Ai…!”.
“Ai…!”.
“Ai…!”.
“Ai…!”.
“Ai…!”.
…
“Dewi Yu Na silakan tehnya”.
“Terima kasih”. Yu Na meminum teh, kemudian kembali mengajarkan Mei Mei.
“Dewi Yu Na silakan bersandar biar aku pijat”.
“Tidak perlu”.
“Katakan saja apa yang Dewi Yu Na inginkan. Aku akan langsung siapkan”.
“Aku tidak mau apa-apa darimu. Aku hanya ingin menjinakkan Mei Mei yang liar ini”.
Ada apa dengan Nyonya Qian Qi. Ia terlihat berbeda dari biasanya. Ia terlihat sangat antusias.
“Buk…!”.
“AAAaaa…!”.
“Jangan lengah Mei Mei. Baiklah istirahat dulu 10 menit”.
“Nyonya Qian Qi. Kenapa Nyonya sangat antusias bertemu dengan Tetua Yu Na?”. Mei Mei penasaran.
“Selain Dewi Yu Na adalah Nenekku. Dulunya Dewi Yu Na sangatlah kuat dan cantik. Teknik airnya bukanlah teknik air biasa. Melainkan teknik Dewi Izanami. Sama sepertiku, Dewi Yu Na juga menyerap Esensi Dewa. Aku mengidolakan Dewi Yu Na. Cita-citaku ingin jadi seperti Dewi Yu Na. Kamu beruntung Mei Mei dilatih oleh Dewi Yu Na secara langsung”. Qian Qi tahu semua informasi tentang Yu Na dari mimpi masa lalunya.
“Dasar kalian membicarakan ku seolah-olah aku tidak ada di sini”. Yu Na terlihat marah. Padahal aslinya ia senang Qian Qi mengidolakannya.
“Qian Qi, pelajaran divisi Petarung Bulan akan segera dimulai. Lebih baik kamu pergi sana jangan menggangguku”.
“Baiklah Dewi Yu Na. Aku pamit dulu, tapi aku akan kembali lagi nanti”.
“Ayo Mei Mei kita lanjut lagi latihannya”.
…
Sementara itu di divisi Blacksmith Bulan.
“Ibu. Ada yang aneh dengan tubuh iblis ini”.
__ADS_1
“Apanya yang aneh Guan Ping?”.