
"Sun Long. Istrimu sedang membutuhkanmu. Ia masih merasa bersalah akibat kematian orang-orang yang tidak bersalah".
"Sebentar lagi turnamen peringkat akan dimulai. Qian Qi harus fokus dengan turnamennya. Aku takut ia terluka jika memikirkan hal lain". Sun Long membaca surat yang dikirimkan Yu Na.
Beberapa hari telah berlalu sejak batu Blue Diamond dan batu Red Diamond milik Qian Qi diserahkan ke Sun Long.
Sejak penyerahan kedua batu itu serangan ke perguruan Pedang Bulan berhenti. Semuanya aman terkendali.
Hanya saja Qian Qi masih sering menangis mengurung diri di kamar Yu Na, ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
Hal itu mempengaruhi kondisi mental Qian Qi. Yu Na khawatir Qian Qi tidak bisa mengendalikan kekuatannya di turnamen nanti. Bisa saja ia melukai orang lain atau dirinya sendiri.
Yu Na sudah menyerah untuk membujuk Qian Qi. Apa yang Yu Na sampaikan tidak bisa membuat hati Qian Qi tenang. Mungkin hanya Sun Long yang bisa menenangkan hati istrinya.
Memang Qian Qi terlalu baik. Sangking baiknya ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Sun Long menyukai sifat baik Qian Qi. Meski hal itu naif dan merepotkan tapi itu adalah Qian Qi.
Akhirnya surat balasan dari Sun Long tiba. Mengetahui istrinya yang sedang gundah gulana mau tidak mau Sun Long harus menghiburnya.
Awalnya Qian Qi tidak mau menerima surat dari Sun Long. Ia mengira surat itu surat kosong. Mengingat sifat Sun Long yang selalu mengirimkan surat berisi kertas kosong.
Untuk memastikan surat itu tidak kosong, Yu Na membuka suratnya. Sebenarnya Yu Na sendiri khawatir Sun Long akan bersikeras mengirimkan surat kosong. Mengingat sifat keras kepalanya yang sudah melekat mendarah daging.
Yu Na dapat bernafas lega. Kali ini surat balasan dari Sun Long tidaklah kosong, surat itu ada tulisannya. Yu Na pun menyerahkan kembali surat itu kepada Qian Qi.
Seketika itu Qian Qi tersenyum manis. Ia sangat rindu dengan Sun Long. Waktu terasa begitu cepat tanpa kekonyolan yang Sun Long buat.
Qian Qi merasa sudah bertahun-tahun ia menantikan surat yang sesungguhnya dari Sun Long. Waktu berbulan-bulan sangat menyiksa bagi pasangan yang dimabuk cinta.
"Sweety... Aku tidak punya kesabaran sebesar dirimu. Aku berada di ujung tanduk kehampaan, tanpa cahaya darimu. Surga Hitam terasa begitu gelap dan hampa".
"Hatiku hancur setiap kali membaca surat darimu. Kamu bahagia, kamu tersenyum, kamu tertawa dan kamu menangis tanpa aku di sisimu".
"Aku tidak menulis surat untukmu. Karena aku tidak ingin kamu merasakan rasa cemburu yang sangat menyiksa".
"Aku marah, aku hancur, aku cemburu. Aku cemburu dengan angin, aku cemburu dengan bayangan, aku cemburu pada semua hal yang ada di dekatmu".
__ADS_1
"Kamu boleh bahagia dan kamu boleh tertawa, tapi aku tidak mengizinkanmu untuk menangis. Jangan menyiksaku dengan tangismu. Kamu hanya boleh menangis di bahuku".
"Air matamu terlalu berharga untuk jatuh di sembarang tempat. Jadilah kuat Sweety, tahan air matamu hanya untukku".
Hubby... Qian Qi tidak bisa berkata-kata. Jantungnya berdebar begitu kencang. Seakan merasakan hal yang sama seperti yang Sun Long rasakan.
"Qian Qi...?". Yu Na keheranan melihat Qian Qi tiba-tiba terdiam tidak bergerak.
"Haaa... Huh...". Qian Qi menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Tidak lupa ia juga mengelap air mata yang mulai mengering di kelopak matanya.
"Ada apa Qian Qi? Apa yang ditulis Sun Long?".
"Hubby tidak mengizinkan aku untuk menangis?".
"Haaa...!? Apa suamimu sudah gila? Wajar saja kalau kamu menangis. Hal itu dapat dimaklumi karena kita adalah manusia, memiliki perasaan. Jangan dengarkan perkataan Suami bodoh mu itu".
"Bukan begitu Dewi. Hubby hanya memperbolehkan ku menangis di bahunya".
"Cih...!!! Dasar pasangan muda. Bikin khawatir saja. Aku jadi menyesal telah bertanya".
"Iya Dewi?".
"Jangan terlalu kasar. Aku tidak ingin kamu menghancurkan seluruh divisi Petarung Bulan". Melihat wajah Qian Qi yang serius Yu Na jadi khawatir kepada musuh-musuhnya Qian Qi.
"Aku tidak janji". Qian Qi pergi begitu saja.
"Dasar Cucu merepotkan... Aku terlalu tua untuk semua ini". Setelah kepergian Qian Qi, Yu Na langsung merebahkan badannya di kasurnya yang empuk.
Seakan gila Yu Na menciumi bantal dan kasurnya yang sudah lama ia rindukan. Qian Qi memang membantu banyak untuk perguruan Pedang Bulan. Tapi ia juga membawa masalah yang cukup merepotkan.
...
"Tuan Liu Long? Kenapa Tuan menangis?". Jin Xianyi terbangun dari tidurnya. Tidak sengaja ia melihat Sun Long yang sedang membaca surat dari Qian Qi.
"Aku tidak apa-apa. Ini surat dari istriku. Aku sangat merindukannya".
__ADS_1
Lagi-lagi karena istrinya. Tuan Sun Long memang sangat mencintai istrinya. Aku tidak punya kesempatan sama sekali.
Tenang Jin... Lagi pula aku adalah seorang putri dari kekaisaran Jin. Tidak mungkin aku jadi pelakor. Sayang sekali andai saja Tuan Sun Long masih sendiri.
"Tuan...?". Sun Long memegang dahi Jin Xianyi guna mengukur suhu tubuhnya.
"Suhu tubuhmu normal tidak ada keanehan sama sekali. Apa kamu bisa merasakan sentuhanku?". Sun Long menggenggam tangan Jin Xianyi.
"Bisa Tuan". Jin Xianyi memejamkan matanya.
Dasar bajingan. Bagaimana bisa aku merelakan dirimu kalau kamu menyentuhku selembut ini.
"Kalau sekarang?". Sun Long memegang telapak kaki Jin Xianyi.
"Bisa juga".
"Xiii... xiii... xiii... Geli Tuan". Jin Xianyi tak kuasa menahan tawa ketika Sun Long menggelitik telapak kakinya.
"I... Ini apa Tuan?". Tidak sengaja tawa Jin Xianyi membuat selimut di tangannya terangkat sedikit.
"Ini namanya infus. Dengan ini tubuhmu akan sembuh lebih cepat. Lihatkan kamu sudah mulai lincah. Semuanya bisa di gerakan. Tapi jangan terlalu banyak bergerak. Aku takut infusnya lepas".
"Baik Tuan... Krukkk...!!!". Suara perut Jin Xianyi tiba-tiba bunyi. Rasa malu langsung menyebar ke seluruh tubuh Jin Xianyi, tidak terkecuali wajahnya yang merah merona.
"Tunggu sebentar aku akan menyiapkan makanan untukmu".
"Terima kasih Tuan".
"Kali ini jangan sampai kamu tidur lagi. Ini aku ganti kotak musiknya jadi boneka Liu An. Kamu ngobrol saja dengan boneka ini".
"Xiii... xiii... xiii... Maaf suara kotak musik itu begitu merdu. Aku jadi ngantuk dan tertidur". Jin Xianyi menerima boneka Sun An. Sementara Sun Long pergi ke dapur.
"Liu An. Ayahmu begitu sempurna. Aku sudah berusaha memendam perasaanku. Tapi setiap kali aku memendamnya, Ayahmu selalu bisa menemukan dan membongkarnya".
"Aku dibuat bingung olehnya. Hatiku belum siap kalau harus diaduk-aduk seperti ini. Kalau terus seperti ini aku bisa menyerah dan bersedia dijadikan yang kedua".
__ADS_1