Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 66 - Prajurit Boneka Bagian 2


__ADS_3

Prajurit boneka dan banteng api saling menganalisa satu sama lain. Keduanya baru pertama kali melihat kekuatan masing-masing. Meski banteng api berhasil menghindari ledakan granat, namun pergerakannya mulai melambat.


Banteng api itu mulai takut dengan prajurit boneka. Pasalnya ledakan granat dapat membunuhnya dengan mudah. Sementara itu prajurit boneka terus mengganti pola serangannya. Memang prajurit boneka tipe manusia didesign untuk mengganti pola serangan sampai menemukan pola serangan yang efektif.


Kali ini prajurit boneka mengeluarkan tabung Blizzard. Tabung yang digunakan Sun Long untuk mendinginkan golem Gargantua. Melihat prajurit boneka banteng api tidak mau kalah. Ia juga mulai menggunakan serangan jarak jauh.


Banteng Api itu mulai melemparkan batu-batu besar yang ada di sekitarnya dengan tanduknya.


“Boom…!”.


                “Boom…!”.


Prajurit boneka mulai kewalahan menghindari batu-batu besar itu. Hempasan tanduk banteng api begitu kuat, batu-batu besar melesat dengan cepat. Sepertinya prajurit boneka akan kalah melawan banteng api.


Sampai akhirnya sebuah kesempatan emas tercipta. Banteng api mulai pusing karena ia harus menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali demi melemparkan batu. Melihat banteng api yang lengah prajurit boneka bergegas mendekatinya.


Prajurit boneka langsung melemparkan tabung Blizzard. Tabung itu segera meledak setelah menyentuh tubuh banteng api. Hawa dingin menyebar begitu cepat memadamkan api yang menyelimuti tubuhnya.


Berkat apinya yang padam banteng api mulai melemah. Hal ini memberi kesempatan bagi prajurit boneka untuk segera membunuhnya. Namun Dodo Fung segera menghentikannya dan menyuruh prajurit boneka nomor 21 untuk naik ke kapal tempur Atlas.


“Kerja bagus prajurit. Perbaiki tubuhmu dan kembali ke posisi”.


“Siap Kapten”.


“Tuan Dodo Fung. prajurit boneka tangguh sekali mampu mengalahkan monster tingkat 6”.


“Terima kasih Medusa. Tapi prajurit-prajurit ini belum sempurna. Mereka tidak bisa berkembang sendiri. Masih lebih hebat bangsamu. Aku yakin beberapa tahun lagi mereka akan jauh lebih kuat dari prajurit boneka”.


“Terima kasih Tuan Dodo Fung. Kami akan berusaha sebaik mungkin”.


“Hhhmmm… Malas sekali. Aku harus segera menulis laporan untuk kakak”.

__ADS_1


“Baiklah Tuan”. Dodo Fung pergi menuju ruangan kapten.


“Bai Su mengapa kamu memandangi Tuan Dodo Fung seperti itu? Kamu suka ya?”.


“Maafkan saya Ratu”.


“Tidak perlu meminta maaf seperti itu. Tenang saja, Tuan Dodo Fung belum memiliki pasangan. Kesempatannya masih terbuka lebar. Tapi ingat kamu harus berjuang dengan jalan yang benar. Jangan gunakan kecantikanmu hal itu tidak akan mempan untuknya. Hal itu malah menjijikan untuknya bisa-bisa kamu dipenggal”.


“Kecantikan Ratu saja tidak bisa menaklukkannya apa lagi aku”.


“Semangat Bai Su berjuang saja dulu. Tapi kamu memiliki saingan yang kuat”. Medusa melirik ke arah Bai Zhe salah satu wanita bangsa ular.


“Ti… Tidak Ratu… a… aku tidak mungkin…”.


“Tidak apa-apa Bai Zhe. Kamu juga harus yakin jika ingin mendapatkan Tuan Dodo Fung. Kita harus saling mendukung Bai Su, Bai Zhe. Aku juga akan berjuang mendapatkannya”. Dewi Medusa segera memeluknya.


“Jika Ratu mengincar Tuan Dodo Fung juga kami akan mundur Ratu”.


“Baiklah Ratu kita bertiga harus berjuang”.


Beberapa jam kemudian Dodo Fung selesai menulis laporan untuk Sun Long.


“Aaakkk… Aaakkk…” Dodo Fung meniup peluit yang dapat menirukan suara Gagak Iblis.


Tidak lama kemudian Gagak Iblis tingkat 7 datang menghampiri. Aura merahnya yang ganas membuat bangsa ular ketakutan.


“Ada apa tuan memanggil saya?”.


“Tolong antarkan surat ini ke kakak”.


“Siap Tuan!”.

__ADS_1


“Ini imbalannya”. Dodo Fung memberikan sejumlah makanan.


“Terima Kasih Tuan. Aaaakkk… Aaakkk…” Gagak itu segera pergi ke tempat Sun Long.


“Kalian tidak perlu takut. Ada aku yang akan melindungi kalian. Hhhmmm… kalau seperti ini terus kalian tidak akan bisa menjadi lebih kuat. Kekuatan dimulai dari mental dan kemauan. Kalau kalian terlalu takut dengan segala hal kalian tidak akan bisa menjadi kuat”.


“Bangsa ular berdiri!”. Mendengar sindiran Dodo Fung Dewi Medusa segera bertindak. Mendengar perintah Dewi Medusa semua bangsa ular segera berdiri tegap.


“Kita sudah dihancurkan berkali-kali. Kita harus tegar menghadapi cobaan ini. Kita yang berhasil bertahan hidup masih memiliki banyak utang yang harus dibayar. Banyak bangsa ular yang mati untuk kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup membawa garis keturunan leluhur kita, kita hidup membawa mimpi leluhur kita, kita hidup membawa masa depan…!!!. Jalan sudah terbuka untuk kita. Kesempatan di depan mata. Apa lagi yang kalian tunggu? Berjuang atau musnah…!!!”.


“Hidup Ratu Medusa…!!!”. Bangsa ular dan Dodo Fung bertepuk tangan.


“Hebat Medusa. Ini… Bagikan dan serap batu qinya”.


Berkat pidato Dewi Medusa bangsa ular kembali bersemangat. Mereka menyerap batu qi dengan antusias dan lebih cepat. Beberapa bangsa ular bahkan berhasil menaikkan ranahnya.


Hari pun berlalu dengan cepat. Mereka menghabiskan waktu dengan menyerap batu qi. Setelah makan malam bersama mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Malam di atas kapal tempur Atlas begitu tenang. Atlas terbang cukup tinggi hingga tidak ada monster yang dapat menyerang mereka. Meski tidak ada serangan dari luar tapi ada serangan dari dalam. Dodo Fung tidak bisa tidur ia rindu dengan Sun Long dan Qian Qi.


Rasa kesepian menerpa begitu saja. Memang Dodo Fung tidak sendirian masih ada bangsa ular dan prajurit boneka. Tapi terdapat jurang yang begitu besar memisahkan mereka semua. Seakan terdapat 3 kubu yang terbentuk. Kubu prajurit boneka yang tidak memiliki perasaan, Kubu Dodo Fung yang sendirian dan kubu bangsa ular yang pendiam.


Dodo Fung memutuskan untuk duduk diluar mencari udara segar sambil memandang langit. Sudah terlalu pengap keadaan di kamarnya. Bai Su yang baru kembali dari kamar mandi tidak sengaja melihat Dodo Fung. Ia berinisiatif ingin membuatkan teh untuk Dodo Fung.


Saat Bai Su berjalan menuju dapur ia terkejut melihat Bai Zhe yang sedang kebingungan. Bai Zhe sudah lebih dulu membuatkan teh untuk Dodo Fung tapi ia terlalu takut untuk memberikan teh itu. Ia jadi mondar-mandir sendiri tidak karuan di dapur.


Bai Su dan Bai Zhe sepakat untuk mengantarkan teh bersama-sama. Dengan tangan dan kaki yang gemetaran mereka berdua menghampiri Dodo Fung dan menawarkan teh. Dodo Fung dengan senang hati menerimanya. Bahkan ia meminta Bai Su dan Bai Zhe untuk tetap tinggal menemaninya.


Meski sedikit ragu Bai Su dan Bai Zhe membulatkan tekat. Mereka teringat kembali dengan pidato Dewi Medusa sebelumnya. Mereka memberanikan diri untuk menemani Dodo Fung bersantai minum teh.


Dodo Fung melihat sebuah kesempatan emas. Ia bertanya kepada Bai Su dan Bai Zhe bagaimana caranya agar bisa lebih dekat dengan bangsa ular. Tidak terasa benang kusut itu tersambung rabih begitu saja. Suasana mulai berubah mereka bertiga mulai menceritakan kisahnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2