
“Lihatlah ini Qian Qi. Ini cincin pernikahan palsu yang aku dan ayahmu pakai. Ayahmu yang membuatnya. Terbuat dari baju zirah ayahmu yang pecah. Meski pun ini terbuat dari besi. Tapi benda ini adalah benda yang paling berharga untuk Bibi”. Sun Fangxin menunjukan jari manisnya.
“Bibi… Secinta itukah Bibi pada ayah? Sampai-sampai Bibi masih menggunakannya. Cincin itu sudah berkarat Bi”.
“Ya Qian Qi. Aku mencintai ayahmu. Meski dia tidak pernah mencintaiku”.
“Tapi Bi… di mimpiku sepertinya ayah mencintai Bibi juga”.
“Ayahmu hanya terlalu baik Qian Qi. Itu bukan cinta. Cinta ayahmu hanya untuk ibumu dan kamu”. Sun Fangxin kembali sedih.
“Tolong ceritakan kelanjutannya Bi. Aku benar-benar penasaran”.
***
“Bakpaunya lima lagi sayang”.
“Ini sayang”.
“Lima bakpao siap! silakan dinikmati”. Qian Tao mengantar bakpao kepada pelanggan.
“Ini sayang minum dulu”. Sun Fangxin memberikan es teh.
“Terima kasih sayang. Gulg… Ahhh… Segar sekali”.
“Pelayan tolong bakpaonya 10 lagi”.
“Siap Tuan. Tunggu sebentar”.
Hari-hari Qian Tao dan Sun Fangxin dihabiskan dengan berjualan bakpao di desa kecil. Ia tidak menyangka yang tadinya hanya untuk menyamar, bakpaonya malah laku keras. Liu Shu memang sangat hebat dalam hal memasak. Untung saja Sun Fangxin sempat belajar membuat bakpao kepadanya.
“Sayang kamu tidak apa-apa?”.
“Tidak apa-apa sayang aku hanya kelelahan”.
“Besok-besok sebaiknya kita tutup lebih cepat, agar kamu tidak kelelahan”.
“Tidak apa-apa sayang. Berjualan bakpao denganmu cukup menyenangkan”. Sun Fangxin tersenyum manis.
“Tapikan…”. Sun Fangxin menutup mulut Qian Tao.
“Sekarang aku adalah istrimu. Perlakukan aku selayaknya istri. Ini demi keselamatan kita berdua”.
“Baiklah sayang”.
__ADS_1
“Ayo kita segera siap-siap”.
“Siap-siap? Memangnya ada apa?”.
“Kita harus hadir di acara perayaan desa”.
“Apa kita harus menghadirinya?”.
“Tentu saja. Kita harus membaur dengan warga desa”.
“Baiklah”.
Qian Tao dan Sun Fangxin pun bersiap-siap untuk menghadiri acara festival panen desa. Mereka tiba tepat waktu, hadir bersama warga-warga yang lain. Setelah basa-basi dan minum-minum mereka dipaksa ikut menari di sebelah api unggun bersama para pasangan lainnya.
Ini merupakan tradisi bagi seluruh warga desa yang sudah menikah. Mereka harus ikut menari di sebelah api unggun. Agar mendapatkan berkah dan pernikahannya akan langgeng selamanya. Beberapa pasangan muda-mudi yang belum menikah juga ada yang ikut menari. Biasanya setelah ikut menari tidak lama kemudian mereka akan menikah dengan pasangannya.
Tarian api unggun berlangsung cukup lama. Bahkan sampai kobaran api besar itu padam dengan sendirinya. Iring-iringan lagu lembut, rasa cinta dan suasana yang mendukung. Membuat pasangan yang menari lupa waktu. Tidak terasa tiba-tiba sudah tengah malam dan api unggun sudah mati.
Mereka semua harus menutup tarian dengan ciuman mesra. Qian Tao dan Sun Fangxin melihat sekitarnya, pasangan-pasangan lain sudah berciuman dengan mesra. Terlihat sedikit keraguan dari wajah Qian Tao. Membuat beberapa orang yang melihatnya agak sedikit marah dan curiga. Namun, Sun Fangxin memberanikan diri mencium Qian Tao dengan ganas agar mereka kembali percaya.
“Maaf Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Suami saya memang orangnya pemalu. Jika di luar rumah ia tidak berani macam-macam. Tapi kalau di dalam rumah beda lagi ceritanya, dia sangat ganas dan perkasa”. Sun Fangxin tersenyum genit sambil memamerkan otot Qian Tao kepada mereka.
“Sudah-sudah jangan merusak suasana. Kalian semua kembali berpesta. Maaf Qian Tao, Sun Fangxin mereka hanya khawatir. Perang masih berkecamuk di luar perbatasan”. Kepala desa membubarkan orang-orang yang curiga.
Qian Tao dan Sun Fangxin pergi mengambil beberapa makanan di meja yang telah disiapkan. Terlihat wajah Qian Tao cukup bingung dan sedih. Di sisi lain ia hanyalah pengawal, tapi ia malah dilindungi oleh orang yang dikawalnya. Qian Tao memang tidak berpengalaman dalam kehidupan sosial. Ia hidup di medan perang sudah terlalu lama. Dirinya tidak bisa berkonsentrasi dalam penyamaran ini.
“Maaf sayang”.
“Cium aku”. Sun Fangxin berbisik.
“Ta…tapi…”.
“Cepat cium aku, atau kita akan ketahuan. Beberapa orang masih tidak percaya karena aku yang menciummu. Mereka masih memperhatikan kita”.
“Jangan menolah! cepat cium saja”. Qian tao hampir menoleh. Mau tidak mau Qian Tao mencium Sun Fangxin.
“Sial mereka tidak pergi juga”. Sun Fangxin sedikit menoleh.
“Apa yang harus kita lakukan”.
“Remas dadaku”.
“Sayang?”.
__ADS_1
“Cepatlah!”.
“Ba…baiklah”. Qian Tao ragu-ragu meremas dada Sun Fangxin.
“Aaahhh… Jangan di sini sayang”. Sun Fangxin mendesah cukup keras. Membuat Qian Tao kaget. Orang-orang sekitar pun kaget mendengarnya dan memalingkan pandangan.
“Maaf kepala desa, saya pamit duluan. Suami saya sudah tidak kuat. Permisi nyonya-nyonya dan tuan-tuan”. Sun Fangxin berkedip pada para wanita. Para wanita lain pun memberi semangat padanya. Membuat kecurigaan mereka benar-benar hilang.
***
“Bibi… Apa Bibi melakukannya dengan ayah?”. Wajah Qian Qi memerah.
“Sayangnya tidak… Ayahmu sama seperti Sun Long dan Dodo Fung”.
“Yah… Aku mengerti perasaan Bibi. Aku hampir melakukannya dengan Sun Long. Tapi impiannya masih mengharuskan dia untuk tetap perjaka”.
“Apa maksudmu Qian Qi? Kita sedang membicarakan ayah kandungmu. Dia sangat setia pada ibumu harusnya kamu bangga. Kok kamu malah kecewa”.
“Aku tidak tahu Bi. Mungkin karena aku mengerti perasaan Bibi. Lalu apa yang Bibi lakukan setelah pulang?”.
“Bibi masih berusaha menggoda ayahmu. Tapi ayahmu malah berkultivasi menenangkan diri”.
“Yang sabar ya Bi… Terus kelanjutannya gimana?”.
***
Keesokan harinya. Terlihat kerumunan di depan tokonya. Sun Fangxin melarang Qian Tao untuk buka toko. Ia malah menyuruhnya untuk bersiap-siap, mereka akan jalan-jalan memamerkan kemesraan kepada seluruh warga desa. Sun Fangxin pun keluar duluan ia menghampiri para warga desa yang sudah mengantri untuk membeli bakpaonya.
“Nuying kok tokonya belum buka juga? Kami sudah lelah menunggu”. Nuying adalah nama samaran Sun Fangxin
“Maaf Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan. Karena festival kemarin malam. Suami saya jadi terlalu bersemangat. Badan saya masih terlalu lemas untuk berjualan. Hari ini kami terpaksa libur dulu”.
“Wih… Pasti asik. Kalau begitu tidak apa-apa kami maklumi. Tapi besok jualan lagikan?”.
“Iya Nyonya besok kami jualan lagi”. Kerumunan itu pun bubar dan Sun Fangxin kembali ke dalam rumah.
“Sayang kita bisa tenang sekarang. Tidak akan ada yang curiga lagi kepada kita”.
“Ta…Tapi… aku jadi terlihat seperti orang mesum”.
“Maaf sayang. Sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasih. Kalau mau mesum beneran juga boleh kok. Ho…ho…hooo…”. Sun Fangxin meledek.
“Aku tidak akan pernah melakukannya Nyonya”. Qian Tao langsung membungkuk.
__ADS_1
“Cepat berdiri. Jangan lakukan itu lagi. Sekarang aku akan mandi. Kamu tunggu aku selesai mandi. Setelah itu kita akan pergi berbelanja”. Sun Fangxin pun bergegas masuk ke kamar mandi.