
Me… Mereka masih mengikutiku. Bagaimana mungkin?
Qian Qi dan Xu Huang masih bisa mengikuti Zhang Liao. Bahkan mereka berdua terlihat baik-baik saja tidak kelelahan sama sekali. Zhang Liao dibuat keheranan dengan kemampuan mereka.
Zhang Liao sudah mengeluarkan dua teknik anginnya untuk mempercepat laju larinya. Ia tidak merasakan atau melihat teknik apa pun dari Qian Qi dan Xu Huang. Bagaimana mungkin mereka bisa mengimbangi larinya yang sudah berada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Awal.
“Bruk…!”. Zhang Liao terlalu lama melihat ke arah belakang dengan kecepatan tinggi. Ia tidak sadar jalan di depan sudah berbelok ke arah kanan. Akhirnya Zhang Liao melaju lurus menabrak pohon besar.
Pohon besar itu sampai roboh ditabrak oleh Zhang Liao. Zhang Liao yang jatuh mencoba berdiri kembali dan melihat keadaan sekitar. Alangkah terkejutnya ia melihat Xu Huang yang terluka ikut menabrak pohon juga.
Melihat muridnya yang terluka Zhang Liao berjalan menghampirinya. Saat Zhang Liao berjalan mendekati Xu Huang Tiba-tiba saja Xu Huang ikut bergeser juga. Hal itu aneh sekali karena Xu Huang masih tersungkur di bawah tanah.
Zhang Liao mencoba bergerak sedikit demi sedikit. Ia baru sadar bahwa Xu Huang sudah menggunakan tekniknya kepada Zhang Liao. Xu Huang tidak berlari ia pura-pura berlari, sebenarnya Xu Huang nebeng di atas bayangan Zhang Liao dengan teknik bayangannya.
“Ayo bangunlah Xu Huang”. Zhang Liao tidak marah ia membantu Xu Huang untuk berdiri.
“Maaf Master. Aku menggunakan jurus kepadamu”.
“Tidak apa-apa. Kamu cukup hebat aku bahkan tidak menyadari kamu menggunakan teknik bayangan kepadaku. Kamu murid yang menjanjikan”.
“Terima Kasih Master”.
“Tapi karena aku sudah tahu sekarang. Kamu akan kesulitan menggunakan teknik bayangan lagi kepadaku. Sepertinya kamu harus lari sendiri kali ini”.
“Baik Master”.
“Ngomong-ngomong kemana Qian Qi? Bukannya ia ada di sampingmu tadi”.
“Sepertinya ia lanjut lari Master”.
“Aku di sini”. Qian Qi tiba-tiba muncul dari balik pohon, ia sudah menyiapkan obat oles dan perban untuk Zhang Liao dan Xu Huang. Meski hatinya sedang kesal, tapi kemanusiaan nomor satu.
Qian Qi sengaja tidak memberikan mereka Pil Pemulih Raga karena lukanya tidak berat. Pil Pemulih Raga merupakan pil tingkat 5 harganya tidaklah murah. Akan sangat mencurigakan jika Qian Qi memberikan pil itu kepada mereka berdua.
Wah… Qian Qi gadis yang baik dan cantik. Aku beruntung bisa jadi gurunya.
“Xu Huang kenapa tanganmu gemetaran seperti ini? Lukamu sepertinya cukup parah”.
“A… Aku… Ti… Tidak apa-apa. Te…Terima Kasih Qian Qi”. Qian Qi tidak membalas.
Qian Qi harum sekali, suaranya juga merdu, meski wajahnya tidak terlihat tapi tangannya lembut putih bersih pasti wajahnya cantik.
__ADS_1
Meski enggan menyentuh atau disentuh oleh pria, tapi kemanusiaan nomor satu bagi Qian Qi. Ia akan menceritakannya kepada Sun Long dalam suratnya nanti. Ia merasa bersalah meski hal ini dilakukan karena terpaksa.
“Terima kasih Qian Qi. Kalau begitu mari kita lanjut larinya”.
“Tunggu dulu Master Zhang Liao. Anda harus tetap berjaga di sini”.
“Berjaga?”.
“Pohon yang Tuan tabrak bukanlah pohon biasa”.
“Kamu benar juga Qian Qi. Aku sampai lupa pohon ini merupakan pohon penghalang untuk monster. Monster-monster itu bisa masuk melalui celah ini dan membahayakan murid lainnya”.
“Lalu bagaimana sekarang Master?”.
“Kalian berdua lanjutkan larinya menuju gunung Petarung Bulan. Minta penjaga untuk mengirim bantuan ke sini”.
“Siap Master. Kalau begitu kami pergi”.
“Ya… Hati-hati. Jangan lupa lomba larinya masih berlaku”. Qian Qi dan Xu Huang kembali berlari.
“Pengikut Bayangan”. Xu Huang kembali menggunakan teknik bayangannya kepada Qian Qi.
Tidak perlu waktu lama Qian Qi sampai di gunung Petarung Bulan. Ia meminta penjaga untuk mengirimkan bantuan seperti yang diminta oleh Zhang Liao. Sementara itu Qian Qi diminta untuk menunggu terlebih dahulu di dekat gerbang benteng. Karena yang bertanggung jawab atas murid baru adalah Zhang Liao.
…
“Aduh…! Sakitnya”.
“Ada apa denganmu kenapa kesakitan begitu?”.
“Kemarin aku makan seorang manusia kurus kering, Sekarang tulangnya nyangkut di taringku”.
“Kamu ada-ada saja makannya kunyah dengan benar. Pergi saja ke area tengah dan berkumur dengan lahar. Tulang-tulang lemah itu pasti akan meleleh”.
“Kamu gila. Di sanakan wilayah kekuasaan Burung Phoenix. Aku tidak berani ke area sana”.
“Kalau tidak mau, kamu akan terus kesakitan”.
“Bagaimana kalau kamu membantuku. Badanmukan kecil kamu bisa masuk ke mulutku dan melepaskan tulangnya”.
“Tidak mau”.
__ADS_1
“Ayolah kitakan teman. Aku akan membantumu mencari makan, jika kamu membantuku”.
“Makanan? Baiklah aku akan membantumu”.
“AAAaaa…”.
“Dimana tulangnya? Aku tidak melihatnya”.
“Masuk lagi ke dalam”.
“Masih tidak ada”.
“Aaammm…!”.
“Aaarrrkkk…! Dasar bajingan kau menipuku”.
“Kriuk…!”.
“Kriuk…!”.
“Aaahhh… Kenyang juga”.
“Wah… Ceritanya bagus Sun An. Serigala Bayangan itu licik sekali, masa ia tega memakan Musang Hitam, padahal mereka adalah teman”. Sun Long bertepuk tangan melihat Sun An yang sedang bermain dengan boneka-bonekanya.
“Hubby…! Sun An… kamukan perempuan. Kamu harusnya membuat cerita yang lebih santai. Seperti Serigala Bayangan yang minum teh bersama Musang Hitam dan sebagainya. Sudah dulu main bonekanya. Ibu sudah membuatkan susu coklat untukmu”. Sun An menirukan Qian Qi dengan boneka kain berbentuk Qian Qi.
“Baik Bu”. Sun An memeluk boneka Qian Qi dan menangis.
“Sun An… Ayah juga rindu pada Ibumu”. Sun Long tiduran di sebelah Sun An
…
Qian Qi menunggu hingga malam hari. Master Zhang Liao dan para murid lainnya baru tiba di benteng Petarung Bulan. Upacara pemberian hadiah dan hukuman akan dilakukan di pagi hari.
Zhang Liao segera mengantarkan para murid ke kamarnya masing-masing. Mereka di tempatkan di sebuah asrama yang cukup besar. Ada asrama khusus laki-laki dan asrama khusus perempuan.
Para murid baru langsung masuk kamar dan tertidur pulas. Terlihat jelas wajah-wajah muda mereka yang kelelahan sekaligus senang. Mereka berhasil masuk ke dalam perguruan Pedang Bulan. Masa depan mereka akan cerah.
Berbeda dengan Qian Qi. Ia tidak bisa tidur. Semua rencananya gagal melenceng. Masuk divisi Penari Bulan gagal, berusaha tidak mencolok juga gagal. Tidak hanya gagal rencana itu malah menimbulkan masalah baru. Ia mendapatkan banyak musuh yang merepotkan.
Mei Mei juga tidak ada di sisinya untuk membantu atau menemaninya menghadapi cobaan ini. Sama seperti Sun An, Qian Qi hanya bisa menangis memeluk boneka kain Sun Long dan Sun An untuk menanggulangi rasa kesepiannya.
__ADS_1