Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 117 - ABC Lima Dasar


__ADS_3

“Tuan…, Adik… Tolong bantu aku. Aku butuh bantuan”. Lian Shi bersujud.


“Haaa… haaa… haaa… Tenang saja Kakak. Liu An datang untuk membantu”.


“Duduk dulu Nona. Siapa namamu? Namaku Liu Long dan ini anakku Liu An”.


“Namaku Lian Shi Tuan. Aku minta tolong, Tuan tolong bergegas ikut saya. Tuan Putri kekaisaran Jin butuh bantuan”.


“Tenang dulu Lian Shi. Silahkan duduk dulu”.


“Tapi Tuan kita harus bergegas. Tidak hanya Tuan Putri, Jenderal Xin Sheng juga tengah sekarat”.


“Aku bilang… Kamu duduk dulu di sini”. Sun Long mulai kesal. Ia meninggikan kata-katanya.


“Tenang saja Kakak Lian Shi. Ayah akan membantu Kakak. Kakak turuti saja permintaan Ayah”. Mau tidak mau Lian Shi mengikuti permintaan Sun Long.


“Kapan kamu mencukur rambutmu?”.


“Tadi pagi Tuan…”.


“Minum Pil ini…”. Sun Long memberikan Pil Pemulih Raga.


“Tapi Tuan. Pil ini sangat langka. Aku tidak bisa memakannya begitu saja”. Pil Pemulih Raga memang hanya diproduksi di Surga Hitam. Harganya pasti melambung tinggi untuk sampai ke kekaisaran Jin.


“Minum saja… Mahkotamu masih bisa diselamatkan. Aku punya banyak Pil Pemulih Raga”.


“Minum saja Kakak Lian Shi. Sayang sekali rambut indah Kakak hilang”.


“Baiklah Tuan, Adik…”. Lian Shi meminum Pil Pemulih Raga. Rambut indahnya kembali tumbuh seperti semula. Lian Shi meneteskan air mata, rambut wanita sama pentingnya seperti nyawa. Butuh alasan yang sangat kuat untuk wanita memotongnya. Rasanya sama seperti memotong harga diri. Butuh hati yang teguh dan jiwa yang lapang untuk melakukannya.


“Apa kamu lapar Lian Shi? Kami punya bebek peking dan kambing guling”.


“Kalau boleh bebek peking dan kambing gulingnya di bungkus saja. Untuk Tuan Putri dan yang lainnya”.


“Ya… Kami memang membeli bebek peking dan kambing guling untuk mereka. Sebentar lagi semuanya jadi”.


“Makan ini saja dulu Kakak Lian Shi”. Sun An memberikan Dimsumnya.


“Terima kasih Tuan, Adik…”. Dimsum itu terlalu menggoda untuk di lewatkan. Lian Shi makan dimsum itu dengan lahap.


“Nona Lian Shi apa Nona tahu permainan ABC lima dasar?”.


“Aku tahu. Sewaktu kecil aku sering memainkannya”.


“Kalau begitu ayo kita main bersama sambil menunggu. ABC lima dasarnya tentang unsur-unsur  atau senyawa yang ada pada tabel periodik Alkemis. Nona harus menyebutkan namanya dan penggunaannya”.


“Ta… tabel periodik Alkemis?”.


Orang gila mana yang menggunakan tabel periodik sebagai alat bermain. Aku saja butuh bertahun-tahun untuk menghafal dan memahaminya. Tidak salah lagi mereka adalah ahli Alkemis. Bukan mereka adalah Dewa Alkemis.


“Ayo mulai, ABC lima dasar…”. Sun Long, Sun An dan Lian Shi menunjukan jumlah jari.


“A… B… C… … N…”. Sun An mulai menghitung.


“Unsur Neodimium, penggunaannya untuk membuat magnet”. Sun Long menjawab.


“Senyawa Nitrogliserin (Dinamit), penggunaannya sebagai bahan peledak”. Sun An menjawab.

__ADS_1


A… Apa itu Nitro… apa tadi? Aku bahkan baru tahu ada senyawa seperti itu. Apa lagi penggunaannya untuk bahan peledak? Aku baru tahu ada senyawa untuk bahan peledak. Biasanya untuk racun. Aku seperti orang awam dihadapan mereka.


“Ayo Nona Lian Shi unsur atau senyawa dari huruf N”. Sun An memberi semangat.


“Senyawa Natrium Klorida penggunaannya sebagai garam dapur”.


“Ayo kita  lanjut. ABC lima dasar…”. Sun Long, Sun An dan Lian Shi menunjukan jumlah jari.


“A… B… C… … T…”. Sun An mulai menghitung.


“Unsur Titanium, penggunaannya untuk membuat senjata atau zirah tingkat 6-8 yang berkualitas”.


“Senyawa Trinitrotoluena (TNT)…”.


“Liu An… lagi-lagi bahan peledak…”.


“Hehe… Aku kan memang suka ledakan Ayah”.


“Ayo… apa unsur atau senyawa dari huruf T Kakak Lian Shi?”.


“Kakak tidak tahu Liu An. Kakak hanya mempelajari bahan alkemis sebagai tabib”.


“Yahhh…”. Sun An terlihat kecewa.


“Kalau aku mau jadi Alkemis ahli ledakan. Haaa… haaa… haaa…”.


“Memangnya ada hal yang seperti itu Liu An? Bukankah Alkemis hanya di bagi tiga. Alkemis ahli pil tabib, alkemis ahli pil kultivasi dan alkemis ahli pil racun”.


“Bukankah itu cuma dasar-dasar dari Alkemis?”.


“Hahhh…? Dasar”. Lian Shi kaget.


Sun An dan Lian Shi jadi sama-sama bingungan.


“Apa yang Kakak mainkan saat kecil? Bukankah Kakak bermain membuat pil dengan tungku alkemis”.


“Tentu saja hal itu mustahil dilakukan Liu An. Kakak pas kecil hanya main boneka dan masak-masakan”.


“Haaa…? Ayah…?”.


“Bukan salah Ayah. Kamu lebih suka main dengan tungku dibandingkan main boneka. Ayah ajarkan saja sekalian. Kamu juga terlihat senang, yasudah Ayah lanjut saja. Tingkatan Alkemismu sudah jauh di atas orang normal Liu An”.


“Ta… tapi Liu Ankan baru lima tahun, bagaimana dia bisa mengingat semuanya Tuan?”.


“Siapa bilang dia ingat semuanya. Liu An hanya tahu bahan peledak saja. Dia memang bisa membuat Pil Alkemis tapi butuh contekan. Ia tidak menghafal semuanya ia mencatat dan memahami langkah-langkahnya”.


“Sama kaya cara memasak. Dia cuma tahu cara merebus, menggoreng, menumis… Liu An harus melihat contekan untuk memasukan bahan-bahan yang tepat”.


“Metode yang anda gunakan sungguh menakjubkan Tuan Liu Long”.


“Biasa saja”.


“Tap…”.


                    “Tap…”.


“Tap…”.

__ADS_1


                   “Tap…”.


“Akhirnya sampai juga”.


“Lapor Kapten”. Rombongan Xin Chuan sampai di rumah makan.


“Liu Long… Uwe…”. Xin Chuan muntah. Prajurit boneka berlari terlalu cepat.


“Xin Chuan…”.


“Lian Shi…?”.


“Syukurlah kamu selamat”. Lian Shi memeluk Xin Chuan.


“I… Ini Tuan Makanan yang Tu… Tuan pesan”. Pemilik rumah makan dan pegawainya keluar dari dapur dengan todongan pedang di leher mereka.


“Kalian tidak menaruh racunkan, di makanan ini?”. Sun Long menatap mereka.


“Ti… Tidak…”. Pemilik dan pegawai rumah makan ketakutan.


“Aaa… Aku hanya bercanda. Coba saja kalian tidak berusaha melaporkan Lian Shi, aku tidak perlu berbuat kasar terhadap kalian. Ini 2.000 keping emas”. Sun Long membayar.


“Te… Terima Kasih Tuan”. Prajurit boneka melepas todongannya.


“Ayo Kapten Liu An…”.


“Haaa… haaa… haaa… Kapten Liu An di sini. Keluarlah Kapal Tempur Atlas”. Sun An mengeluarkan Atlas dari cincinnya.


“Ayo kalian semua naik ke atas kapalku”. Meski ragu Lian Shi, Xin Chuan dan rombongannya naik.


“… Semua Siap?”.


“Siap Kapten!”.


“Luncurkan!”. Kapal tempur Atlas terbang mengudara.


“Te… Terbang? Kita terbang?”. Lian Shi, Xin Chuan dan rombongannya kaget.


“Kemana kita pergi Ayah?”.


“Terus menuju utara dengan kecepatan normal. Naikkan ketinggian, kita akan terbang di atas awan”.


“Siap Ayah. Prajurit…!”.


“Siap Kapten”.


“Liu Long, Liu An sebenarnya kalian itu siapa?”. Xin Chuan penasaran.


“Haaa… haaa… haaa… Kakak manis. Anggap saja aku Liu An. Pahlawan cantik yang kebetulan lewat”. Sun An tersenyum membanggakan diri.


“Dan aku bawahannya”.


“Adik Liu An. Kalau adik adalah pahlawan tolong bantu Tuan Putri dan sekte Xin”. Lian Shi kembali bersujud. Xin Chuan dan rombongannya ikut bersujud juga.


“Tunjukkan saja arahnya Kakak Lian Shi”.


“Eee… Berhubung kita di atas awan kakak tidak tahu jalannya”.

__ADS_1


“Jalannya sudah benar. Menuju gua Ular tempat rahasia sekte Xin”.


“Tuan Liu Long, bagaimana Tuan bisa tahu?”.


__ADS_2