Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 116 - Pemanasan


__ADS_3

Apa yang aku lakukan di sini? Hal ini mungkin saja berbahaya. Aku tidak punya kewajiban untuk melakukannya. Lagi pula tidak ada satu pun orang yang ku kenal di kekaisaran Jin.


Untuk apa aku melakukannya. Hal ini akan merugikan bagiku. Harga yang harus ku bayar pastilah sangatlah mahal. Benar-benar tidak berguna, buang-buang waktu dan uang. Masih banyak hal yang harus kulakukan.


Aku sudah memiliki banyak musuh. Aku tidak mau menambah masalah lagi. Hanya tinggal tutup mata semua masalah itu akan terlewati begitu saja. Bahkan akan lebih bagus jika mereka semua terbantai. Kekaisaran Jin akan memburuk dengan begitu aku akan lebih mudah menguasainya.


Sepertinya aku juga sudah mulai berubah. Aku tidak menyangka pengaruh Sweety dan Sun An akan sekuat ini. Biasanya aku akan memenggal semua orang yang menghalangiku. Aku bahkan sudah lupa dengan Sun Long yang dingin dan kejam.


Kemana perginya monster di dalam diriku. Kemana ambisi itu? Sejak kapan ambisi itu berubah….


“Nyam… nyam… Ibu. Ayah jahat”. Sun An mengigau.


Sun An... Semenjak Sun An lahir aku kehilangan rasa dendamku. Dunia yang tadinya gelap dan kelam berubah jadi indah. Sun An mengajarkanku bahwa ada keindahan di dunia yang kelam ini.


Semuanya berawal dari rasa benciku terhadap Sweety. Hingga kebencian itu berubah jadi cinta. Aku jadi seorang Ayah. Aku tidak peduli lagi dengan dunia yang kejam ini. Aku terhipnotis dengan surga kecilku.


Mungkin benar kata Sweety. Sun An sudah cukup besar sekarang. 5 tahun, mungkin sudah cukup untuknya. Tidak bukan untuknya... Tapi untukku. Aku sudah cukup beristirahat selama 5 tahun. Benar kata Sweety aku harus mulai kembali ke dunia nyata.


Aku anggap masalah ini sebagai pemanasan. Uji coba seberapa jauh kemampuanku sebelum melawan musuh yang sesungguhnya. Aku akan coba untuk menyelamatkan kekaisaran Jin.



“Ting…!”.


                    “Crat…!”.


“Ting…!”.


                   “Crat…!”.


Pertempuran terjadi di markas cabang sekte Xin tempat tinggal Xin Chuan.


“Xin Chuan pergilah bersama yang lain. Kami akan menahan mereka di sini”.


“Tapi Ayah…”.


“Crat…! Aaarrrkkk…”. Ayah Xin Chuan terkena sabetan pedang.


“Pergi Xin Chuan...! HAAA…! Racun Abadi…! Matilah kalian semua”. Ayah Xin Chuan membakar jiwanya sampai habis menjadi asap beracun. Asap itu menghalangi musuh untuk mengejar. Namun, Anggota sekte Xin yang ada di dekat Ayahnya juga terkena dampak. Semuanya mati.


Xin Chuan terpaksa pergi dengan tangisnya. Xin Chuan bergabung dengan para wanita dan anak-anak yang sudah pergi lebih dulu. Jumlahnya tidak banyak hanya 4 orang wanita dan 8 orang anak-anak. Xin Chuan sebagai yang terkuat mencoba memandu mereka ke tempat aman.


“Kalian tidak boleh pergi. Dasar Pengkhianat...!!!”.

__ADS_1


Xin Chuan dan rombongannya terkepung oleh pasukan berkuda kerajaan Xin.


“Taring Harimau”. Kapten pasukan berkuda mengeluarkan seekor harimau dengan kekuatan kultivasinya. Harimau itu melompat hendak menerkam Xin Chuan.


“Cambuk Ular”. Xin Chuan tidak mau kalah ia mengeluarkan seekor ular dan menyerang harimau itu.


Ternyata harimau itu cukup kuat. Ia mencakar ekor ular Xin Cuan hingga terbelah. Ular Xin Chuan langsung pecah dan hancur. Kini tidak ada lagi yang bisa menghalangi laju harimau itu.


“Aaaarrrkkk…”. Xin Chuan harus merelakan tangannya tergigit harimau hingga putus.


“Rasakan dasar pengkhianat. Kami akan membunuhmu secara berlahan. Hidup Tuan Putri…!!!”.


“Kami tidak berkhianat. Kalian dibutakan oleh informasi palsu”.


“Dasar ular…!!! Berani-beraninya memfitnah para Jenderal besar. Harimau habisi dia”.


“Aaarrr…”. Harimau itu melompat hendak menerkam Xin Chuan. Xin Chuan pasrah tidak berdaya.


“Klik…!”. Sebuah granat menggelinding ke arah kaki Kapten pasukan berkuda.


“Apa ini?”. Kapten itu mengambil granatnya.


“Boom…!”. Tubuh para pasukan berkuda meledak berceceran.


“Nona Xin Chuan… Kami datang untuk membantumu”. Prajurit boneka berdatangan dari balik bayangan.


“Si… Siapa kalian”. Xin Chuan dan rombongannya ketakutan. Pasalnya prajurit boneka mengeluarkan aura hitam iblis. Prajurit boneka memang menggunakan batu qi iblis sebagai sumber energinya.


Karena Kapten pasukan berkuda mati, harimau itu pecah dan hancur meninggalkan tangan Xin Chuan yang tergeletak di tanah. Salah satu prajurit boneka mengambil tangan Xin Chuan dan menghampirinya.


“Kami bala bantuan dari Tuan Liu Long. Minumlah pil ini”. Prajurit boneka menempelkan tangan Xin Chuan ke tempatnya dan memberikan Pil Pemulih Raga untuk Xin Chuan.


“Liu Long? Siapa sebenarnya Liu Long?”. Xin Chuan curiga.


“Kita tidak bisa membahasnya di sini. Musuh masih mengejar. Minum saja pil ini. Ini Pil Pemulih Raga tanganmu akan menyatu kembali”. Meski ragu Xin Chuan tidak punya pilihan lain, ia menuruti perintah prajurit boneka.


Xin Chuan meminum Pil Pemulih Raga tangannya menyatu kembali dan tubuhnya sehat seperti semula.


“Kalian naiklah ke punggung kami. Kami akan membawa kalian dengan cara berlari”.


“Apa kamu sudah gila?”. Xin Chuan marah.


“Tenang saja Nona. Kami bukan manusia. Hal ini tidak dihitung perbuatan tercela. Kami hanyalah alat”. Prajurit boneka menunjukkan wujud aslinya yang terbuat dari baja.

__ADS_1


“Kami bisa menggunakan kuda yang ada di sana”. Kuda-kuda pasukan berkuda masih ada.


“Kuda-kuda itu terlalu lambat Nona. Cepatlah, masih banyak hal yang harus kami urus. Ini keadaan hidup dan mati”.


Prajurit boneka itu benar. Ini keadaan hidup dan mati. Xin Chuan tersadar kembali setelah melihat anggota sektenya yang masih tersisa.


“Ayo kita menurut saja”. Xin Chuan dan rombongannya naik ke punggung prajurit boneka.


“Peganglah yang erat”. Pasukan boneka langsung berlari cepat membelah hutan.



“Ayah…? Dimana kita?”. Sun An terbangun dari tidurnya. Ia segera keluar dari kereta kuda untuk menemui Sun Long.


“Eh… Liu An sudah bangun. Mau makan nak?”.


“Ini di rumah makan yang kemarin? Berarti Ayah…”. Sun An terlihat senang.


“Ia Liu An”.


“Terima kasih Ayah”. Sun An memeluk erat Sun Long.


“Jadi kamu mau makan atau tidak. Ayah sudah pesan 10 bebek peking dan 5 kambing guling”.


“Tidak ah… Aku masih ngantuk untuk mengunyah. Aku mau makan dimsum tadi pagi saja”.


“Dimsumnya tinggal sedikit. Bagaimana sambil menunggu kita main ABC lima dasar. Yang menang dapat satu dimsum”.


“Dasar Ayah tidak mau mengalah”.


“Ayah bosan kalau bengong menunggu. Mending kita main”.


“Yasudah kalau begitu. Ayo kita main”. Sun Long dan Sun An duduk di meja makan untuk bermain ABC lima dasar.


“Katanya tentang apa Ayah?”.


“Seperti biasa Zat-zat yang ada di tabel periodik Alkemis”.


“Baiklah ayo kita mulai”.


“ABC lima…”.


“Tuan…! Adik…!”. Lian Shi berhasil sampai kembali ke rumah makan. Ia berniat untuk mencari petunjuk tentang Sun Long dan Sun An. Namun tanpa diduga ia malah bertemu langsung dengan Sun Long dan Sun An.

__ADS_1


__ADS_2