
"Roket... Punch...!". Mei Mei menyemburkan Api ke Sarung Tangannya. Sarung Tangan Mei Mei melesat ke arah Kakak tingkatnya.
"Pisau Air". Tidak mau menyerah Kakak tingkat Mei Mei mencoba menghancurkan Sarung Tangan Mei Mei.
"Ting...!".
"Ting...!".
"Ting...!". Seperti yang diduga. Senjata buatan Guan Yu memang memiliki kualitas yang cukup bagus.
Pisau Air Kakak tingkat Mei Mei, gagal menghancurkan Sarung Tangan Mei Mei dan akhirnya...
"Bonk...!". Sarung Tangan Mei Mei meluncur mengenai kepala Kakak tingkatnya hingga pingsan.
"Mei Mei pemenangnya...! Ting...!". Wasit mengangkat tangan Mei Mei.
"Hore...!".
"Keren Mei Mei...!".
"Tidak sia-sia kita datang ke sini. tidak hanya menonton dua gadis cantik. Kita juga disuguhkan dengan pertarungan yang epik".
Mei Mei dan Kakak tingkatnya bertarung dengan serius. Tanpa mereka duga seluruh bangku penonton, menara, tembok bahkan sampai ke atas pohon semuanya penuh oleh para penonton.
Tanpa mereka sangka pertarungan Mei Mei dan Kakak tingkatnya menjadi pertarungan epik seperti Grand Final tahun kemarin.
Tidak hanya para murid, penonton juga berisikan para Tetua yang penasaran dengan suasana ribut di arena utama.
Ternyata Qian Qi dan Yu Na ikut hadir menyaksikan pertandingan itu. Yu Na dibanjiri banyak pujian oleh para Tetua dan murid.
Setelah pertandingan Mei Mei, tidak ada pertandingan yang menarik lagi. Orang-orang mulai pergi satu persatu melakukan kesibukannya masing-masing.
Memang hari pertama dan hari kedua merupakan proses seleksi alam. Masih banyak orang yang iseng-iseng ikut Turnamen Peringkat.
Mereka yang iseng-iseng tanpa tekat sama sekali akan tereliminasi dan binasa. Pasalnya mereka yang bertekad dan berusaha dengan serius tidak akan membiarkan para pecundang itu masuk ke peringkat 100 besar.
Yu Na dan Mei Mei pulang ke divisi Penari Bulan. Sementara Qian Qi harus kembali menunggu gilirannya bertarung.
Saat sedang menunggu Qian Qi melihat tanda pantulan cermin dari prajurit boneka. Tanda itu cukup aneh karena muncul di waktu yang tidak tepat.
Qian Qi segera berangkat menghampiri pasukan boneka dan penjaga kota Goliat. Tidak terduga ternyata salah satu regu yang ditugaskan membebaskan para sandera gagal.
__ADS_1
Regu itu memang ditugaskan untuk membebaskan para sandera di pusat kota Utopia.
Sebagian besar prajurit boneka dari regu itu hancur, sedangkan penjaga kota Goliatnya terluka parah.
Awalnya serangan berjalan lancar. Mereka berhasil sampai ke luar gerbang. Namun di luar gerbang itu sudah menanti seorang Iblis.
Iblis itu cukup aneh tubuhnya kecil seperti bayi, dengan kulit yang kasar, retak dan keras berwarna putih.
Matanya hitam dengan pupil yang menyala merah. Gerakan Iblis itu sangat cepat hampir tidak bisa diikuti oleh mata.
Tidak lama kemudian prajurit boneka hancur satu persatu. Melihat keadaan yang tidak memungkinkan prajurit boneka dan penjaga kota Goliat yang tersisa memutuskan untuk kabur.
Cukup lama mereka berkeliling untuk mengecoh iblis itu. Beberapa prajurit boneka bahkan digunakan sebagai bomb bunuh diri untuk menghilangkan jejak.
Iblis itu sepertinya salah satu dari bangsawan Iblis. prajurit boneka dan penjaga kota Goliat tidak berkutik melawannya.
Apalagi mereka berada di wilayah musuh. Tempat terdekat dari gerbang Iblis kekaisaran Sun.
Qian Qi tidak memperhitungkan kekuatan musuh. Pantas saja meski kelompok Sun Long sudah jauh lebih kuat dari rata-rata, mereka tetap bertahan belum bisa menyerang kekaisaran Sun.
Perang dingin yang tak berujung sedang berlangsung. Iblis kekaisaran Sun tidak bisa menerobos Surga Hitam karena wilayah itu berada di luar batas gerbang Iblis.
Menghadapi masalah ini Qian Qi berpikir cukup lama. Akhirnya ia menyerah untuk menghabisi seluruh komplotan Sun Jian dan Gan Ning.
Qian Qi mengira hanya Kaisar Sun Li yang menggunakan bangsawan Iblis. Ternyata Sun Jian juga menggunakannya.
Mengingat janjinya pada Sun Long, Qian Qi menarik mundur seluruh prajurit boneka dan penjaga kota Goliat.
Sun Long pernah meminta Qian Qi untuk berjanji agar mundur ketika salah satu bangsawan iblis muncul.
Tidak lupa Qian Qi juga mengirim surat darurat untuk Bibi Sun Fangxin dan Ayahnya Qian Tao.
Seluruh prajurit boneka akan memusatkan kekuatannya di perguruan Pedang Bulan. Sementara penjaga kota Goliat akan di kembalikan ke kota Goliat.
Qian Qi meminta maaf kepada prajurit boneka dan penjaga kota Goliat. Ia terlalu naif dan sombong.
Dengan kekuatan besar dari Surga Hitam, Qian Qi berpikir bisa menyelamat seluruh orang.
Qian Qi tidak berpikir pasukannya bisa terkena serangan juga. Untung saja tidak ada manusia yang jadi korban.
Meski hanya prajurit boneka bukan berarti Qian Qi tidak peduli terhadap mereka. Qian Qi tetap merasa bersalah akibat kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Kali ini Qian Qi beruntung. Bisa saja keadaan lebih buruk dari ini. Qian Qi harus kembali kebalik layar untuk sementara waktu.
Qian Qi cukup lelah memberi komando kepada prajurit boneka dan penjaga kota Goliat. Namun pertandingannya masih menanti. Qian Qi belum bisa beristirahat dengan tenang.
Malam hari pun tiba. Waktu pertandingan Qian Qi akhirnya dimulai. Lawan Qian Qi adalah Xu Huang.
Xu Huang adalah seorang pengguna kultivasi bayangan yang waktu itu balap lari bersama Qian Qi dan Zhang Liao.
Setelah di terima di divisi Petarung Bulan, Xu Huang bergabung ke dalam Unit Pembunuh untuk mengasah kemampuannya.
Xu Huang terlihat antusias dalam pertandingan ini. Ia ingin menguji kemampuan barunya untuk melawan Qian Qi.
Kali ini Xu Huang tidak mau kalah lagi. Tekatnya sudah bulat untuk mengalahkan Qian Qi.
Xu Huang bertekad untuk masuk menjadi sepuluh besar murid terbaik di perguruan Pedang Bulan.
Xu Huang percaya diri kali ini, dia pasti menang. Keberuntungan berpihak padanya. Bertarung malam hari melawan ahli kultivasi bayangan. Dua kombinasi yang cukup buruk untuk Qian Qi.
Arena pertandingan yang gelap remang-remang sangat menguntungkan Xu Huang. Xu Huang bisa masuk ke dalam bayangan di seluruh sudut arena dan keluar menyerang Qian Qi dimana pun ia berada.
Qian Qi tidak gentar. Meski rencananya gagal masih ada hal yang harus ia lakukan. Qian Qi mempersiapkan senjata dan zirahnya.
Setelah siap Qian Qi dan Xu Huang berdiri berhadap-hadapan di tengah arena. Masing-masing memiliki tekat untuk menang, tidak ada yang mau mengalah.
"Ting...!" Pertandingan pun dimulai.
"Duri Bayangan Sing...!". Bayangan di bawah kaki Qian Qi mulai menusuk seperti jarum.
"Sing...!".
"Sing...!".
"Sing...!". Bayangan jarum itu terus mengejar Qian Qi, hingga bayangan jarum itu berhasil mengelilingi Qian Qi dan mengurungnya.
"Qian Qi. Kamu mau tahu kenapa teknik ini dinamakan duri bukan jarum? Karena...".
"Sing...!". Dari jarum-jarum itu muncul duri-duri yang panjang mencoba menusuk Qian Qi.
"Perisai Petir". Qian Qi menyelubungi tubuhnya dengan bola petir yang kuat.
"Crack...!". Bola Petir Qian Qi yang terang dan keras berhasil menghancurkan duri-duri Xu Huang.
__ADS_1