
Satu bulan kemudian. Tahun ajaran baru di mulai. Murid-murid senior perguruan Sekte Pedang Bulan mulai berdatangan. Perguruan Sekte Pedang bulan terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.
Qian Qi sudah masak sejak dini hari. Tetangga baru satu bloknya akan datang hari ini. Ia penasaran siapa yang akan jadi tetangga barunya. Ia sudah menyiapkan berbagai macam makanan untuk menyambut mereka.
“Cih…! Aku tidak sudi satu blok denganmu dasar bajingan”.
“Aku juga sama, kau mengotori pandanganku saja. Pergi sana kembali ke asrama”. Terdengar suara dua orang wanita yang sedang berdebat.
Ribut-ribut apa di luar? Sepertinya tetanggaku sudah datang. Qian Qi segera bersiap-siap dan membawa kue ke depan rumah.
“Pelayan hati-hati, aku tidak ingin barang-barangku terkontaminasi dengan barang-barangnya”.
“Dih najis. Yang seperti itu disebut barang. Lebih cocok disebut sampah”. Kedua wanita itu saling membuang pandang.
“Permisi, Nona-nona. Namaku Qian Qi. Aku penghuni rumah tengah”. Kedua wanita itu serentak menoleh.
“Kau rupanya, baguslah aku tidak perlu mencari lokasimu lagi”.
“Bagus. Semua masalahku berkumpul di sini. Aku bisa menyelesaikannya sekaligus”.
“Wang Yi, Da Qiao…. A… aku membuat kue untuk kalian”. Qian Qi kaget. Situasi yang tadinya indah langsung berubah jadi mencekam. Tiga orang wanita yang saling bermusuhan tinggal di blok yang sama.
“Singkirkan kue itu dariku. Tidak level, aku tidak mau makan makanan babi”.
“Kau sebut itu makanan? Lebih seperti kotoran”.
Huuu… Tentu saja mereka akan menolaknya. Qian Qi membuang napas.
Sabar Qian Qi. Mereka masih anak-anak, masih lucu-lucunya. Qian Qi berbalik segera masuk ke dalam rumahnya.
“Tunggu dulu… Berani-beraninya kau pergi begitu saja”.
“Ada apa Nona Wang Yi?”.
“Aku ingin menantangmu. Jika aku menang, kau harus mengundurkan diri dari perumahan dan kembali ke asrama”.
“Maaf Nona. Aku hanyalah murid baru tentu saja Nona yang akan menang”.
“Mau baru, mau lama tentu saja aku yang akan menang. Kalau kau tidak mau bertarung denganku, aku anggap kau kalah. Kau harus kembali ke asrama. Kalau tidak kau akan merasakan akibatnya”.
Hhhmmm… Sebaiknya aku menyerah saja. Jika aku bertarung hal itu akan menimbulkan keributan. Lagi pula aku tidak perlu berkultivasi lagi. Kekuatanku sudah mumpuni untuk saat ini.
Lebih baik aku bersembunyi hingga turnamen peringkat di adakan 6 bulan lagi. Aku juga butuh lebih banyak informasi tentang orang-orang yang baru datang.
“Baiklah Nona. Aku akan mundur kembali ke asrama. Aku siap-siap dulu”.
“Baguslah, kau tahu diri. Pergi sana…!”. Qian Qi pergi.
“Satu musuh sudah tumbang tidak lama lagi giliranmu”. Wang Yi mengancam Da Qiao.
__ADS_1
“…”. Da Qiao tidak menanggapi. Ia segera masuk ke dalam rumahnya.
…
“Kruukkk… Calon istriku sepertinya jago masak, aku jadi lapar”.
“Tidak hanya jago masak, ia juga baik dan pengertian”. Guan Ping tiba-tiba muncul.
“Kenapa kamu selalu muncul menggangguku, pergi sana”.
“Kamu sudah sering memantau Qian Qi, sekarang giliranku. Kamu saja yang pergi”.
“Kedua wanita itu merendahkan Qian Qi. Ia terlihat murung membawa kuenya kembali. Aku akan membunuh mereka berdua”. Kai Yu marah.
“Kamu tidak bisa membunuh mereka. Dia adalah anak bangsawan Wang dan yang satunya lagi anak bangsawan Da. Akan banyak masalah yang muncul jika berhadapan dengan mereka. Keputusan calon istriku memang tepat. Lebih baik mundur untuk menang”. Gua Ping membela Qian Qi.
“Cih…! Jaga calon istriku baik-baik. Jangan sampai terjadi hal buruk padanya”. Kai Yu pergi.
Kai Yu merupakan lawan yang berat. Sepertinya perjalanan cintaku tidak akan mulus. Aku harus memperkuat diriku sendiri. Aku harus menambah dosis Qian Qi agar lebih semangat dan kuat. Guan Ping memantau Qian Qi.
…
“Sun An sepertinya di depan sana ada sebuah kedia. Bagaimana kalau kita makan di sana?”.
“Kenapa tidak Ayah saja yang masak, seperti biasa?”.
“Tidak apa-apa. Hitung-hitung kita berbagi dengan penjual lainnya”.
Sun Long masih kesal dengan Guan Ping dan Kai Yu. Suasana hatinya sedang tidak enak untuk memasak. Jadi Sun Long memutuskan untuk membeli makanan di luar. Sun Long dan Sun An memutuskan untuk makan di sebuah kedai di pinggir sungai.
“Mau pesan apa Tuan?”.
“Aku pesan satu bebek paking dan teh”.
“Baik Tuan”.
“Bebek... Kita sudah lama tidak makan bebek”.
“Kenapa Sun An? Apa kamu tidak suka bebek”.
“Aku suka bebek paking. Hanya saja… aku jadi teringat makan bebek paking bersama Ibu”.
“Ayah juga rindu dengan Ibumu”.
Sementara itu di sisi lain meja kedai.
“Sudah dulu kak. Kita makan dulu”.
“Aku masih tidak mengerti. Apa buku ini memang salah atau bagaimana. Tapi kita sangat membutuhkan Pil Pemecah Es. Akar Ubi yang kupunya tinggal dua. Aku sudah gagal sebanyak tiga kali. Keselamatan Tuan Putri ada di tanganku. Jika aku gagal menyelamatkannya Kekaisaran Jin akan hancur”.
__ADS_1
“Pil tingkat 7 memang sulit untuk di buat. Kakak tidak boleh tergesa-gesa. Kakak juga harus memikirkan kesehatan kakak sendiri”.
“Hiii… hiii… hiii…”.
Anak itu sepertinya menertawakan kakak.
“Hiii… hiii… hiii…”.
“Ada apa Sun An kenapa kamu tertawa sendiri?”.
“Kakak itu sepertinya terkecoh sama seperti aku. Buku ‘Pengobatan Alkemis Barat’ memang menyebalkan”.
“Jangan mencampuri urusan orang lain Sun An”.
“Hei anak kecil… berani-beraninya kamu menertawakan kakak”. Seorang pria menghampiri Sun An.
“Jangan salahkan aku, Nona itu yang lucu”. Sun An tidak mau kalah.
“Kamu berani-beraninya menertawakan alkemis kekaisaran. Kamu tidak tahu kakak Lian Shi adalah alkemis tingkat 7 salah satu alkemis terhebat”.
“Hebat apanya membedakan warna saja masih belum bisa”.
“Dasar anak kecil… Untung saja kamu masih kecil, kalau tidak aku sudah memukulmu dari tadi”.
“Sudah Lian Pu. Tuan, Adik. Maafkan kelakuan adikku”. Lian Shi mencoba melerai.
“Heh…! Baiklah… karena aku wanita terhormat, aku akan memaafkanmu”. Sun An berlagak sombong.
“Maaf Adik manis. Mengapa Adik mengejekku tidak bisa membedakan warna?”. Lian Shi penasaran.
“Aku tidak manis. Aku Cantik…!”.
“Maaf Adik cantik. Mengapa Adik mengejekku tidak bisa membedakan warna?”.
“Buku ‘Pengobatan Alkemis Barat’, dibuat pada zaman dulu. Jadi naga bertarung… Duar kebakar… nah terus pindah…”. Sun An menjelaskan.
“Maaf adik kakak tidak mengerti”.
“Dasar anak ini memang mau mengejek saja, tidak ada alasannya”. Lian Pu hilang kesabaran
“Buku ‘Pengobatan Alkemis Barat’ di buat pada zaman dahulu kala. Ketika wabah naga muncul di area Barat. Buku itu dibuat ketika warna belum sebanyak sekarang. Dahulu warna ungu, orange dan beberapa warna turunan belum ada namanya”.
“Warna ungu masih di sebut biru, warna orange masih di sebut merah. Pil Pemecah Es tidak menggunakan Rumput Biru, melainkan Rumput Ungu. Di wilayah Barat kebanyakan jenis rumput warnanya ungu. Meski begitu bahan yang tertulis di buku itu adalah Rumput Biru. Jadi bukunya benar cara bacanya yang salah”.
“Kamu mengarang saja Tuan. Rumput Ungu beracun. Tidak mungkin di gunakan untuk pembuatan pil obat”.
“Aku dan anakku hanya memberi tahu. Terserah padamu mau percaya atau tidak”.
“Dasar…”.
__ADS_1
“Tunggu Lian Pu. Perkataan Tuan ini ada benarnya juga. Terima kasih Tuan Aku akan mencobanya”. Lian Shi dan Lian Pu pergi begitu saja.