
“Iiihhhaaa…”. Ketika Sun Long dan Sun An sedang beristirahat. Tiba-tiba datang rombongan pasukan berkuda. Berhenti di tengah-tengah kota.
“Pengumuma Penting…! Semua warga kota diharapkan berkumpul sekarang juga”. Pemimpin pasukan berkuda itu berteriak hendak memberi pengumuman. Para warga pun berkumpul mengerubungi pasukan berkuda.
“Pengumuman penting…! Tuan Putri Jin Xianyi telah diculik oleh Sekte Xin dan kedua orang ini. Kedua orang yang ada di gambar ini adalah Lian Shi Alkemis kekaisaran dan Lian Pu salah satu prajurit kekaisaran. Bagi yang melihat mereka berdua atau anggota sekte Xin segera melapor ke petugas terdekat. Sekian…”. Pasukan berkuda itu menyebarkan poster buronan Lian Shi, Lian Pu dan anggota keluarga sekte Xin.
“Kedua orang ini yang kita temui di rumah makan Ayah”. Sun An mengambil lembaran poster dan berbisik kepada Sun Long.
“Pertama Ibumu. Untuk sebuah makanan, Ayah harus menyelamatkan ribuan budak. Sekarang kamu karena kamu menertawakan orang lain, satu kekaisaran jadi ricuh. Kalian berdua benar-benar mirip”.
“Bukan salahku Ayah. Ini hanyalah kebetulan saja”.
“Ayah tidak menyalahkanmu. Kalian berdua sepertinya memang diciptakan untuk menyelamatkan dunia. Masalah yang menghampiri kalian berdua”.
“Hiii… hiii… hiii… Aku dan Ibu seperti pahlawan kalau begitu”.
“Pahlawan yang merepotkan. Tapi Ayah tetap sayang dengan kalian berdua”. Sun Long menggendong Sun An.
“Apa yang akan kita lakukan Ayah?”.
“Tidak ada. Biarkan saja itu urusan kekaisaran Jin bukan urusan kita”. Sun Long menggendong Sun An naik ke kursi kusir hendak melanjutkan perjalanan.
“Tentu saja kita harus menolong mereka Ayah”.
“Apa kamu tidak takut Ayah terluka? Musuh yang menanti adalah satu Kekaisaran Jin. Kamu tidak sayang dengan Ayah?”.
“Mana mungkin ayah terluka. Ayahkan sangat kuat. Lagi pula musuhnya terlihat lemah. Kapten regu berkuda tadi hanya ada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Awal. Aku bisa mengalahkan mereka dengan mudah”. Sun An menyombongkan diri.
“Ayah cacat Sun An. Ayah bahkan tidak punya kultivasi apa pun. Ayah jauh lebih lemah dari mereka. Apa kamu tidak lihat Ayah sering terluka saat latihan. Tadi malam saja tangan Ayah berdarah. Kamu sendiri melihatnyakan. Ayahmu sangat lemah Sun An”.
“Kekuatan Ayah bukan dari kultivasi, melainkan kecerdasan Ayah. Kultivasi hanyalah angka bagi Ayah. Ayah hanya alasan saja karena Ayah malas membantu. Kalau begitu aku akan melawan kekaisaran Jin sendirian”. Sun An turun dari kereta kuda.
“Yasudah kalau begitu. Dadah Sun An”. Sun Long tidak berhenti ia lanjut menjalankan kereta kudanya.
“Iiihhh Ayah…! Seharusnya Ayah menghentikanku”. Sun An melompat kembali ke kereta kuda.
“Habis Sun An tidak sayang Ayah…”.
“Tentu saja Sun An sayang Ayah. Tapi kasihan mereka. Jika bukan kita siapa lagi yang akan menolong mereka”.
“Biar saja Sun An, itu bukan tanggung jawab kita”.
“Iiihhh… Ayah keras kepala. Aku benci Ayah”. Sun An masuk ke dalam kereta kuda.
Rasa cinta benar-benar merepotkan. Sun Long mengeluh.
__ADS_1
…
“Permisi… Aku mau lapor”.
“Baiklah… Qian Qi. Silakan tunjukkan bukti misimu”. Pegawai itu memeriksa kartu identitas Qian Qi.
“Misiku adalah memburu monster Harimau Taring Merah. Ini bukti taringnya”.
“Baiklah kalau begitu kamu mendapat 25 Point”.
“Terima kasih Tuan”.
“Ya… ya…”. Pegawai itu pergi begitu saja.
Pengurus gedung ini kurang ramah. Mereka hanya ramah kepada para bangsawan. Bikin kesal saja. Benar peringatan dari Master Zhang Liao. Aku harus lebih sabar. Sudahlah lebih baik aku mencari misi lagi. Mumpung masih siang.
Tiba-tiba aura merah terpancar dari lantai 3 gedung pusat divisi Petarung Bulan.
Hhhmmm… Sepertinya prajurit boneka berhasil mengobati Zhang Liao.
“Haaa… haaa… haaa… Kekuatanku sudah kembali. Ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal. Aku bisa melawan balik para bajingan itu. Terima kasih Tuan”.
“Berterima kasihlah pada Nyonya Qian Qi. Jangan lupa kamu harus merahasiakan identitas Nyonya dan tentang kami”.
“Baik Tuan”. Prajurit boneka pergi kembali ke dalam kegelapan.
Zhang Liao turun ke lantai bawah hendak pergi menuju asrama putri menemui Qian Qi. Kebetulan sekali ia melihat Qian Qi menggunakan zirah lengkap, sedang memilih-milih misi.
“Nyonya Qian Qi, Terima Ka…”.
“Master Zhang Liao”. Qian Qi menatap Zhang Liao.
“Maaf aku lupa. Aku terlalu senang. Terima kasih banyak Qian Qi”.
“Sama-sama Master. Sudah tugasku sebagai murid untuk membantu gurunya. Maaf aku tidak membawa oleh-oleh untuk Master”.
“Haaa… haaa… haaa… Lihat itu. Ada apa dengan mereka? semuanya merah”.
“Iiihhh… mereka bau sekali”.
“Suuttt… Jangan kencang-kencang ngomongnya. Itu Nona Da Qiao dan rombongannya”.
“Qian Qi dasar kau bajingan…! Beraninya kau meledakkan mayat Gorila itu”.
“Maaf Nona. Aku tidak mengerti dengan maksud Nona. Setelah aku meninggalkan Nona, Aku ada di sini sedari tadi. Tidak mungkin aku meledakkan mayat gorila itu”.
__ADS_1
“Kau pasti menggunakan trik tertentu. Dasar kau bajingan awas saja nanti. Kau akan mati”. Da Qiao dan rombongannya pergi begitu saja. Mereka malu karena orang-orang mulai berkumpul menatap mereka.
“Hiii… hiii… hiii…”.
Wah… Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Nyonya Qian Qi cukup sadis juga.
“Kalau begitu aku permisi dulu Master Zhang Liao. Aku mau menjalankan misi lagi”.
“Baik Qian Qi, hati-hati”. Qian Qi pergi.
…
“Ma… Master Zhang Liao bisa disembuhkan. I… Ini merupakan berita besar”. Kai Yu kaget.
“Aku curiga ini ulah Qian Qi”.
“Tapi bagaimana bisa. Kita sudah memantaunya dari tadi”.
“Aku juga tidak tahu caranya. Tapi siapa lagi yang bisa menyembuhkan Master Zhang Liao? Tetua Cai Wenji dan Tetua Guan Chen tidak ada yang bisa menyembuhkan Master Zhang Liao. Tidak ada yang mungkin bisa melakukannya selain Qian Qi. Lagi pula kita ada di divisi Petarung Bulan. Divisi paling barbar, tidak mungkin ada ahli alkemis di dalamnya”.
“Kamu benar juga. Tapi bagaimana pun aku harus melaporkan kejadian ini sekarang. Kamu terus awasi Qian Qi”.
“Tentu saja aku akan terus mengawasinya. Pergi sana yang lama ya…”.
“Dasar bajingan”. Kai Yu pergi.
…
“Benar begitu Mei Mei. Terus… terus… pelan… sempurna…”.
“Xiii… xiii… xiii… Menari ternyata mudah. Ini semua berkat Nyonya Qian Qi yang menotokku kemarin. Sekarang badanku sudah lentur, bisa ditekuk sesuka hati”.
“Aduh…!”. Yu Na memukul Qian Qi.
“Memang kamu sudah bisa menari sekarang. Tapi sifatmu masih barbar. Masih banyak yang harus dilakukan. Kamu masih jauh dari kata wanita”.
“Ma… Masih banyak? Bukankah menari saja?”.
“Selanjutnya latihan minum teh. Kamu harus belajar adab di meja makan”.
“Apa…? Aku tidak suka teh. Aku sukanya arak”.
“Terus melawan. Benari kamu yaa…”. Yu Na kembali memukul Mei Mei.
“Ampun Tetua…”.
__ADS_1
Ngeee… Nyonya Qian Qi tolong selamatkan aku. Mei Mei menangis tersiksa.