Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 107 - Latihan


__ADS_3

“Eee… Ayah?”. Sun An bangun tidur


“Iya Sun An?”.


“Eee… Hhhmmm… Zzz…”. Sun An terlihat malas dan tidur lagi.


“Hiii… hiii… hiii… Ampun Ayah”. Sun Long menggelitik Sun An


“Kamu ya pura-pura tidur”.


“Sebentar lagi, aku masih ngantuk”.


“Tidak boleh. Kamu jangan manja, jangan kalah dengan rasa kantuk”.


“Besok saja latihannya badanku masih pegal”.


“Yakin mau besok? Kamu lupa besok hari apa?”.


“Eee… Besok hari… minggu…! Surat ibu akan tiba. Hore…!”.


“Iya besok hari minggu. Ayo jangan banyak alasan. Sudah waktunya latihan”.


“Baiklah ayah…”. Sun An bangun dan bersiap-siap.


Setiap tiga hari sekali Sun Long akan mengajak Qian Qi dan Sun An untuk latihan. Sun Long ingin tubuh istri dan anaknya selalu terjaga dalam kondisi prima.


Sun Long sendiri selalu latihan setiap malam. Maka dari itu ia sering kali bangun kesiangan. Bukan karena malas tapi karena terlalu rajin. Tubuhnya yang cacat membuatnya harus selalu waspada.


Terkadang Qian Qi menemani Sun Long latihan malam. Semenjak Qian Qi masuk perguruan Pedang Bulan latihan malam Sun Long terasa hampa. Meski begitu ia tetap melakukannya.


Tidak lama kemudian Sun An sudah siap dengan pakaian bela dirinya. Sun Long mengajak Sun An berlari mengelilingi kota. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Xin Chuan, Xin Chuan mengajak Sun Long dan Sun An berlari bersama. Karena Sun An menyetujuinya mau tidak mau Sun Long harus menerimanya.


Sebenarnya Sun Long tidak suka ada orang luar yang ikut latihan bersama mereka. Ia ingin latihan berdua saja dengan Sun An, tidak hanya itu Sun Long juga tidak mempercayai orang dengan mudah. Sebenarnya Sun An sengaja menerima ajakan Xin Chuan untuk lari bersamanya, bukan karena ingin berlari bersama. Melainkan untuk menahan Sun Long agar tidak meningkatkan sesi latihannya.


Meski Sun An masih kecil, ia mampu menyaingi kecepatan lari Xin Chuan. Xin Chuan kagum dengan kehebatan Sun An, Xin Chuan juga kagum kepada Sun Long. Meski ia hanyalah seorang pedagang mochi tapi Sun Long masih menyempatkan waktu untuk berlatih mengasah diri.

__ADS_1


Setelah beberapa putaran mengelilingi kota, Xin Chuan harus pamit undur diri. Ia harus melanjutkan latihan kultivasinya bersama anggota sekte Xin. Sementara itu Sun Long dan Sun An kembali lanjut berlari.  Kali ini Sun Long menambah kecepatan larinya. Membuat Sun An keteteran dan kelelahan.


Sun Long dan Sun An berlatih selama beberapa jam. Anehnya semakin lama waktu latihan, malah semakin berat tingkat kesulitannya. Seakan Sun Long ingin memaksakan tubuh mereka berdua untuk sampai pada batas maksimalnya.


Beberapa kali Sun An ingin menyerah. Namun Sun Long memanas-manasinya dengan wajah cantik Qian Qi. Sun Long mengatakan kalau mau tampil cantik seperti Qian Qi. Sun An harus latihan lebih keras lagi.


Kecantikan ibunya tidak didapat begitu saja. Perlu kerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hasutan Sun Long berhasil membuat Sun An jadi lebih semangat, hingga ia mampu menyelesaikan latihannya sampai tahap akhir.


Sun Long membuatkan Sun An es krim bertumpuk dengan berbagai macam toping  sebagai hadiah dari kerja kerasnya. Sun An tampak gembira mendapatkan es krim dari Sun Long. Latihannya tidak sia-sia karena ia mendapatkan es krim yang enak.


Bagaimana pun Sun An tetaplah anak kecil. Sun Long melatih Sun An dengan cobaan dan hadiah. Setiap kali Sun An kehilangan motivasinya. Sun Long selalu memberikan hadiah yang sepadan, dengan begitu setiap usaha Sun An jadi jauh lebih bermakna.


Cara mendidik Sun Long memang aneh. Di satu sisi ia memanjakan Sun An tapi di sisi lain ia memberikan latihan yang jauh lebih sulit dari pada anak normal biasa. Membuat Sun An tumbuh kuat seperti orang dewasa, namun tidak mengorbankan masa kanak-kanaknya.


Sun An masih bisa bermain, tertawa dan beristirahat seperti anak normal pada umumnya. Namun Sun An juga bisa berburu dan bertarung layaknya orong dewasa. Sun Long tidak menyembunyikan Sun An dari para monster di Surga Hitam.


Sebaliknya ia malah menyiapkan Sun An untuk bisa bertahan hidup di Surga Hitam. Memang kadang-kadang Sun Long terlalu memaksakan kehendaknya kepada Sun An untuk menjadi kuat secepat mungkin.


Disitulah sosok Qian Qi sangat di butuhkan. Qian Qi sebagai seorang Ibu berperan penting untuk menahan ambisi dan keinginan Sun Long. Ia tidak segan-segan memarahi Sun Long ketika Sun Long terlalu memaksa Sun An untuk jadi kuat. Sun An juga butuh waktu bermain dan beristirahat. Sun Long, Qian Qi dan Sun An melengkapi satu sama lain.


“Makannya pelan-pelan Sun An”. Sun Long mengelap mulut Sun An yang belepotan.


“Es krimnya enak Ayah. Bagaimana kalau selanjutnya Ayah jualan es krim”.


“Es krim merupakan makanan yang langka. Berjualan es krim terlalu mencolok”.


“Yasudah. Kalau begitu Ayah jualan Bing Tanghulu saja (permen buah)”.


“Siap Sun An. Kapan kita perginya?”.


“Besok saja Ayah. Aku bosan di sini”.


“Yasudah kalau begitu kita berpamitan dulu hari ini”.


Wajar saja Sun An merasa bosan, kota ini terlalu bobrok dan miskin. Hanya ada orang tua di kota ini tidak ada anak kecil.

__ADS_1


“Baiklah Ayah”. Sun Long dan Sun An mempersiapkan mochi sebagai hadiah perpisahan untuk warga kota.



Sementara itu di divisi Blacksmith Bulan Zhen Ji dan Cai Wenji sedang membahas tentang Qian Qi.


“Cai Wenji apa menurutmu kita harus melaporkan kekuatan Qian Qi kepada Wakil Ketua?”.


“Sepertinya kita memang harus melaporkannya. Kita tidak tahu apa tujuan Qian Qi atau seberapa kuat dirinya”.


“Tapi menurutku Qian Qi bukanlah musuh. Wajar jika Qian Qi sangat kuat dia adalah anak dari Jenderal besar Qian Tao. Tidak hanya itu Qian Qi dan Tetua Yu Na sepertinya saling kenal. Tetua Yu Na merupakan orang kepercayaan Ketua, kalau Qian Qi adalah musuh, aku yakin Tetua Yu Na pasti sudah menyingkirkannya”.


“Kamu benar. Kalau begitu kita harus pantau terus”.


“Kalau masalah pantau-memantau kita tidak perlu khawatir. Guan Ping dan Kai Yu tergila-gila padanya. Tanpa kita suruh mereka berdua sudah memantau Qian Qi”.


“Sebentar lagi ajaran baru akan dimulai. Qian Qi pasti mendapat masalah besar. Banyak orang yang akan mengincarnya karena merebut Guan Ping dan Kai Yu”.


“Enaknya jadi anak muda”.


“Yasudah kalau begitu aku pamit dulu, aku ingin meneliti iblis ini lebih lanjut”. Cai Wenji pergi membawa mayat Iblis.



“Gerakannya begitu sempurna dan cantik”.


“Apa kamu tidak punya pekerjaan lain? Seharian memantau Qian Qi”.


“Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat wajah Qian Qi”.


“Wajah Qian Qi sangat cantik tidak bisa digambarkan dengan kata-kata”. Guan Ping memanas-manasi Kai Yu.


“Pergi sana jangan menggangguku”.


“Baiklah aku akan pergi. Tapi kamu jangan macam-macam apa lagi sampai mencuri start”. Guan Ping pergi.

__ADS_1


__ADS_2