Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 95 - Nenek Yu Na


__ADS_3

Itu pasti Dewi Yu Na. Ia tidak muda lagi tapi auranya masih sama. Begitu anggun dan tangguh.


“Maaf Guan Ping. Ibu gagal mendapatkan calon istri keduamu”. Mei Mei sudah menetapkan pilihannya untuk bergabung dengan divisi Penari Bulan.


“Tidak apa-apa Bu. Aku berterima kasih karena Ibu sudah berusaha sebaik mungkin untukku”.


“Jangan sedih Guan Ping. Kesempatan masih terbuka lebar. Meski beda rumah kalian masih tetanggaan. Kamu masih bisa mengejarnya”.


“…”. Guan Ping diam. Ia lelah menanggapi Ibu ketiganya yang selalu menyalah artikan keinginannya.


“Qian Qi…”. Tidak lama kemudian giliran Qian Qi tiba.


“Silakan tetua”.  Zhen Ji dan Cai Wenji langsung mengangkat tangannya. Tetua divisi lain kembali ikut-ikutan mengangkat tangannya. Hal yang tidak terduga pun terjadi. untuk pertama kalinya Tetua Yu Na tidak mengangkat tangannya. Ia menolak Qian Qi untuk masuk ke divisi Penari Bulan.


“Silakan Qian Qi memilih divisi”.


“Maaf Tetua Yu Na. Aku ingin bergabung dengan divisi Penari Bulan. Apakah saya boleh tahu kenapa anda menolak saya”. Dewi Yu Na menatap ke arah tangan Qian Qi. Ia menyadari cincin warisan Liu Shu yang dikenakan oleh Qian Qi.


“Alasannya rahasia”.


“Tetua Yu Na tolong terima saya di divisi Penari Bulan”. Qian Qi bersujud.


Orang-orang yang menyaksikan Qian Qi bersujud terdiam membisu. Keputusan Qian Qi jauh dari kata normal. Tidak ada alasan yang logis untuk menjelaskan mengapa Qian Qi sangat ingin bergabung dengan divisi Penari Bulan.


“Tidak bisa. Aku sudah terlalu tua. Aku hanya mampu mengurus temanmu yang liar itu. Lagi pula kamu tidak perlu bimbingan dariku. Kamu sudah melampaui ilmuku. Kamu hanya perlu mengingatnya”.


Mengingat? Sepertinya Dewi Yu Na memang tahu tentang kekuatan cincin ini. Aku memang belajar banyak dari Ibu Liu Shu dan Beliau. Sebenarnya aku memang sudah tahu dan menerapkan ilmu dari mereka berdua. Tapi aku masih ingin napak tilas kehidupan Ibu Liu Shu.


“Aku mohon Tetua Yu Na”.


“Tidak. Aku tetap tidak bisa menerimamu. Tapi aku mengizinkanmu berkunjung ke divisi Penari Bulan di waktu senggang”.


“…”. Qian Qi bingung. Ia tidak menyangka akan di tolak oleh divisi yang ingin dimasukinya.

__ADS_1


“Peserta Qian Qi tolong segera memilih”.


“Qian Qi masuklah ke divisi Blacksmith Bulan. Kami akan memberi berbagai keuntungan dari gedung blacksmith. Kami akan memberimu satu senjata tingkat 8”. Zhen Ji mencoba menghasut.


“Bergabung dengan kami saja Qian Qi. Kami akan memberimu tiga pil tingkat 7 dan keuntungan lainnya”. Cai Wenji juga menghasut.


Qian Qi terlihat semakin bingung setelah diberi penawaran.


“Qian Qi. Kamu harus keluar dari zona nyaman untuk menjadi kuat. Kamu tidak akan berkembang di divisi Penari Bulan. Pilih divisi Petarung Bulan, aku ingin melihat caramu menyelesaikan masalah. Masalah atau cobaan akan menempa dirimu menjadi lebih kuat”. Yu Na memberi saran.


Dewi Yu Na mengetahui masalahku dengan Wang Yi dan Da Qiao. Sepertinya Dewi Yu Na ingin mengajariku dengan cara mengujiku. Aku akan mengikuti ujiannya. Aku akan menang meski di divisi Petarung Bulan.


“Terima kasih Tetua Yu Na atas sarannya. Kalau begitu saya memilih bergabung dengan divisi Petarung Bulan”.


“Ga… ga… ga… Wanita itu berhasil dibebaskan oleh Guan Ping, tapi dia kembali lagi kepadaku. Takdir kita begitu indah. Aku akan menjadikannya hewan peliharaan terbaik”. Seseorang berbicara dalam bayangan.


“Ngeee… Maaf Guan Ping. Ibu gagal lagi. Kamu boleh menghukum Ibu”. Guan Ping tidak membalas. Ia langsung pergi menemui Guan Ba dan Guan Chen untuk memberikan laporan.


Pemilihan divisi kembali dilanjutkan. Setelah semua peserta memilih divisi, para Tetua dan murid terbaiknya kembali ke gunung masing-masing. Selanjutnya para peserta diberikan seragam, tanda pengenal dan berbagai peralatan lainnya.


Para peserta dipisah sesuai dengan divisinya masing-masing. Dengan berat hati Qian Qi dan Mei Mei harus berpisah. Para guru dari masing-masing divisi sudah menanti para murid baru. Mereka akan mengawal para murid menuju divisinya masing-masing.


“Perkenalkan nama saya Zhang Liao. Saya adalah guru kalian. Kita akan berlari menuju gunung Petarung Bulan. Murid yang sampai terakhir akan menerima hukuman dan yang sampai pertama akan mendapatkan hadiah”.


“Siap Master”.


“Persiapkan barang-barang kalian kita akan segera berangkat”. Para murid mengambil barang-barang mereka. Mereka akan berlari dan mendaki gunung sambil membawa barang-barang mereka. Hal ini tidak jauh berbeda dengan ujian pertama.


“Bagi kalian yang tertinggal, kalian ikuti saja jalur ini. Jangan pernah meninggalkan jalurnya. Meski tempat ini merupakan wilayah perguruan Pedang Bulan tapi masih banyak monster yang berkeliaran di sini. Jalur ini di lindungi oleh formasi khusus mencegah monster masuk ke dalamnya”.


“Siap Master”.


“Ada pertanyaan?”.

__ADS_1


“…”.


“Baiklah kalau begitu kita mulai saja. Kalian ikuti aku”. Zhang Liao berlari diikuti oleh para murid baru.


Pada awalnya Zhang Liao berlari dengan santai. Namun lama-kelamaan ia mempercepat laju larinya. Semakin cepat, semakin cepat hingga tersisa beberapa murid saja yang mengikutinya termasuk Qian Qi.


Sepertinya kita dapat cukup banyak bibit unggul tahun ini. Aku akan lihat, sampai sejauh mana kemampuan mereka. Zhang Liao tersenyum licik.


Zhang Liao kembali menaikkan kecepatannya. Kali ini kecepatan larinya naik secara signifikan. Ia mulai menggunakan teknik kultivasi anginnya untuk mempercepat tubuhnya.


“Payah hanya segini saja kemampuan mereka”. Murid-murid pun mulai tertinggal satu persatu.


Xu Huang yang mendapatkan peringkat kedua saat ujian pertama ternyata bergabung juga dengan divisi Petarung Bulan. Ia menaikkan laju larinya berusaha untuk menyusul Zhang Lio.


Hebat juga anak ini. Ia memiliki mental juara. Dengan angkuhnya ia mencoba melewatiku. Aku akan memberi sedikit pelajar untuknya. Semoga saja tidak menjatuhkan mentalnya.


“Badai Angin”. Zhang Liao menggunakan teknik kultivasinya. Ia mengeluarkan badai angin yang berhembus kencang dari punggungnya. Selain mempercepat laju larinya, badai itu juga menghambat dan mengganggu orang yang berlari di belakangnya.


Mari kita lihat. Masih adakah murid yang mengikutiku. Zhang Lio menoleh ke arah belakang. Ia terkejut ternyata Qian Qi dan Xu Huang masih bisa mengikutinya.


Hebat juga mereka. Bahkan ada juga perempuan yang mampu mengikutiku. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Aku akan jadi bahan lelucon jika tidak bisa meninggalkan mereka. Terutama jika yang mengikutiku adalah seorang perempuan.


“Akselerasi Angin”. Zhang Liao kembali menggunakan tekniknya. Kali ini teknik angin Zhang Liao membuat tubuhnya semakin ringan. Kecepatan larinya pun bertambah berkali-kali lipat.


Aku kasihan terhadap mereka. Semoga tidak ada yang terkena masalah mental. Di atas langit masih ada langit.


“Tap…”.


                        “Tap…”.


“Tap…”.


Suara berisik apa itu. Jangan bilang mereka masih mengikutiku.

__ADS_1


__ADS_2