
Melihat Beruang Eternal yang terkulai lemas Dodo Fung segera menghampirinya. Ia mengingat permintaan kakaknya yang memintanya untuk tidak membunuh Beruang Eternal. Dodo Fung segera membeli beruang itu Pil Pemulih Raga.
Untung saja Pil Pemulih Raga ternyata efektif bagi Beruang Eternal. Beruang itu mulai sembuh kembali. Setelah sembuh Beruang Eternal itu menjadi lebih jinak. Bahkan Dodo Fung bisa mengelus-elus kepala beruang itu.
Dodo Fung yang senang memberi Beruang Eternal pelat baja lagi. Beruang Eternal pun memakannya dengan lahap. Ketika Beruang Eternal sedang asik melahap pelat baja Dodo Fung dengan sigap meneliti jiwa baja yang ada di punggung Beruang Eternal.
Dodo Fung mencoba melihat aliran energi qi yang ada di jiwa baja. Ternyata jiwa baja merupakan pusat dari energi qi Beruang Eternal. Jika Dodo Fung mencabutnya begitu saja maka Beruang Eternal akan langsung mati.
Dodo Fung tidak menemukan cara bagaimana cara mencabutnya. Kali ini ia benar-benar kebingungan. Sun Long juga tidak memberi petunjuk sama sekali. Dodo Fung berpikir keras hingga Beruang Eternal sudah menghabiskan pelat bajanya.
Beruang Eternal itu menghampiri Dodo Fung, meminta Dodo Fung untuk mengelus-elus kepalanya. Dodo Fung mengelus-elus kepala beruang itu dengan lembut. Tiba-tiba saja Beruang Eternal mengeram ke arah belakang Dodo Fung.
Ternyata puluhan monster raksasa mulai berdatangan seakan mendapatkan mangsa. Surga Hitam memang tidak pernah tenang. Dodo Fung memutuskan untuk kembali naik ke kapal tempur Atlas.
Tanpa diduga Beruang Eternal malah ikut naik ke kapal tempur Atlas. Dodo Fung, prajurit boneka dan bangsa ular langsung bersiaga menyiapkan senjata. Beruang Eternal tidak menghiraukan mereka, ia terlihat kenyang dan mengantuk. Tidak lama kemudian Beruang Eternal menguap dan tertidur begitu saja.
Dodo Fung dan yang lainnya segera memasukan senjata mereka. Meski begitu Dodo Fung tetap menugaskan beberapa prajurit boneka untuk bersiaga menjaga Beruang Eternal.
Dodo Fung kembali meneliti Beruang Eternal yang tertidur pulas. Tidak terasa hari sudah mulai sore. Namun Dodo Fung masih belum bisa menemukan cara mengambil Jiwa Baja dari punggung Beruang Eternal. Tugas dari Sun Long benar-benar sulit kali ini.
Beruang Eternal mulai terbangun dari tidurnya. Ia mulai mengeram kesakitan tanpa sebab. Tidak lama kemudian Jiwa Baja yang ada di punggungnya mulai tumbuh membesar. Sepertinya pelat baja yang tadi siang sudah berhasil dicerna olehnya.
Sepertinya proses pertumbuhan Jiwa Baja menyakiti diri Beruang Eternal. Dodo Fung mengingat kembali rasa sakitnya setelah memakan Cacing Pita. Dodo Fung yang kasihan mulai mengelus-elus lembut kepala Beruang Eternal hingga ia kembali tenang.
Berhubung matahari mulai terbenam. Dodo Fung menyudahi kegiatan hari ini. Mereka makan dan kembali ke kamarnya masing-masing. Dodo Fung kembali tidak bisa tidur. Rasa ketidaktahuan dan penasaran menghantui dirinya. Dodo Fung menghabiskan malamnya dengan memantau Beruang Eternal yang tertidur pulas.
Keesokan paginya Bai Su dan Bai Zhe terkejut melihat Dodo Fung yang bengong menatap Beruang Eternal wajahnya kusut karena mengantuk. Bai Su dan Bai Zhe segera menyiapkan teh untuk Dodo Fung. Mereka ikut duduk di samping Dodo Fung menatap ke arah Beruang Eternal.
__ADS_1
“Beruang Eternal lucu sekali, gemuk dan berbulu. Aku jadi ingin menyentuhnya”.
“A… Aku juga ingin menyentuhnya”.
“Kalian ingin menyentuhnya? Ayo kalau mau. Aku akan menjaga kalian”.
“Tidak perlu repot-repot Tuan. Kami tidak mau merepotkan”.
“Tidak apa-apa. Aku sedang buntu tidak memiliki ide. Mungkin setelah kalian menyentuhnya aku bisa mendapatkan ide”.
“Ma… Maaf Tuan. Kami tidak memiliki ilmu Alkemis sama sekali”.
“Ide bisa datang dari mana saja. Aku tidak akan memaksa. Jadi kalian mau menyentuhnya atau tidak?”.
“Mau Tuan. Beruang itu lucu sekali”.
Dodo Fung mengajak Bai Su dan Bai Zhe menyentuh Beruang Eternal yang sedang tidur. Mereka berdua berhasil mengelus-elus kepala Beruang itu membuat Beruang Eternal tersenyum dalam tidurnya.
Bai Zhe yang masih penasaran memberanikan diri untuk menyentuh Jiwa Baja Beruang Eternal. Menyebabkan Beruang itu mendengkur keras. Bai Zhe yang ketakutan refleks memeluk Dodo Fung dengan erat.
“Hhhmmm… Ada hal aneh yang terjadi ketika Bai Zhe menyentuh Jiwa Bajanya”. Dodo Fung seakan melihat sesuatu.
“Bai Zhe coba kamu sentuh lagi Jiwa Bajanya”. Dodo Fung menengok ke arah Bai Zhe. Wajah mereka berhadap-hadapan dekat sekali.
Bai Zhe yang melihat wajah Dodo Fung dari dekat langsung terkejut melepaskan pelukannya. Wajahnya langsung merah merona karena malu. Dodo Fung yang melihatnya hanya diam keheranan.
“Bai Zhe tahan dulu. Tuan Dodo Fung memintamu untuk menyentuh Jiwa Bajanya lagi”.
__ADS_1
“Ba… Baik Tuan”. Bai Zhe menarik napas mencoba menenangkan diri.
Dengan wajah yang masih merah merona Bai Zhe memberanikan diri menyentuh Jiwa Baja Beruang Eternal. Terjadi reaksi aneh di dalam Jiwa Baja itu. Pusat energi qinya berpindah dari Jiwa Baja masuk kembali ke dalam tubuh Beruang Eternal.
Hal itu berlawanan ketika Dodo Fung yang menyentuhnya. Jika pusat energi qi berpindah ke dalam tubuh Beruang Eternal, hal itu tidak akan membahayakan nyawa Beruang Eternal ketika jiwa bajanya diambil.
Dodo Fung yang masih penasaran mencoba menyentuh tangan Bai Zhe untuk melihat reaksinya. Benar saja seperti perkiraan Dodo Fung pusat energi qi Beruang Eternal kembali berpindah ke Jiwa Baja.
Dapat disimpulkan bahwa jika orang yang memegang Jiwa Baja memiliki kultivasi yang tinggi energi qi akan berpusat di Jiwa Baja. Namun jika yang memegangnya memiliki kultivasi yang rendah pusat energi qi akan berpindah ke tubuh Beruang Eternal.
Dodo Fung mulai menemukan solusi atas segala pertanyaannya. Ia mencoba melepas dan memegang tangan Bai Zhe beberapa kali. Untuk memastikan kesimpulannya benar atau salah. Ternyata kesimpulannya benar.
Untuk mengambil Jiwa Baja dibutuhkan orang dengan tingkat kultivasi rendah. Dodo Fung meminta Bai Zhe untuk membantunya mengambil Jiwa Baja Beruang Eternal.
Bai Zhe hanya diam mematung. Hatinya belum siap melihat wajah Dodo Fung dari dekat dan sekarang tangannya malah dipegang-pegang oleh Dodo Fung beberapa kali. Rasa senang dan rasa malu bercampur menjadi satu membuat dirinya bingung hingga diam mematung.
“Bai Zhe ada apa denganmu? Maafkan aku mungkin ini efek samping dari memegang Jiwa Baja tubuhmu menjadi kaku. Maafkan aku yang tidak menyadarinya”. Dodo Fung panik melihat Bai Zhe.
“Tenang Tuan Dodo Fung. Bai Zhe bukan mematung karena Jiwa Baja. Aku akan menyadarkannya”. Bai Su mencubit kecil pinggang Bai Zhe membuat dirinya kembali sadar.
“Ma… Maafkan aku Tuan”. Bai Zhe bersujud.
“Ada apa denganmu Bai Zhe? Apa kamu merasa sakit?”.
“Ti… Tidak Tuan A… Aku baik-baik saja”.
“Bai Zhe jangan berbohong padaku. Aku tidak suka dengan pembohong”.
__ADS_1
“Bai Zhe lebih baik kamu jujur saja. Jangan pernah berbohong pada Tuan Dodo Fung. Maafkan bangsaku Tuan Dodo Fung. Aku kurang mendidik mereka”. Dewi Medusa tiba-tiba datang dan ikut bersujud. Bai Su yang melihatnya ikut bersujud juga.