
"Rombongan Wakil Ketua sudah tiba". Para Tetua sudah berkumpul di benteng utama perguruan Pedang Bulan.
Alangkah terkejutnya mereka melihat Wakil Ketua dan rombongannya terluka parah. Bahkan tangan kanan Wakil Ketua sampai putus. Sepertinya perjalanan mereka ke Surga Hitam tidak berjalan mulus.
Sebelum rombongan Wakil Ketua beristirahat. Wakil Ketua meminta semua petinggi untuk berkumpul di ruang rapat benteng pusat. Ada hal penting yang harus ia sampaikan.
Setelah seluruh petinggi berkumpul Wakil Ketua memulai rapatnya. Ia menceritakan perjalanannya di Surga Hitam.
Rombongannya pertama kali menemukan sebuah tempat yang cukup aneh. Golem-golem di sana sangatlah kuat.
Golem itu bentuknya juga aneh seperti manusia tapi bukan manusia. Auranya gelap seperti iblis dan jumlah mereka banyak sekali.
Awalnya rombongan Wakil Ketua mencoba menerobos masuk sendirian. Namun mereka berhasil dikalahkan dan terluka.
Akhirnya Wakil Ketua bekerja sama dengan rombongan dari perguruan lain. Namun tetap mereka berhasil di kalahkan.
Sampai akhirnya mereka bekerja sama lagi dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Mereka berhasil mendorong masuk lebih dalam sampai akhirnya. Golem yang lebih besar muncul.
Seluruh rombongan dihajar habis-habisan. Banyak dari mereka yang terluka, bahkan ada juga yang gugur.
Akibat Golem besar itu tangan kanan Wakil Ketua putus. Untung saja Tetua-tetua lain berhasil menarik Wakil Ketua ke luar wilayah.
Golem-golem itu tidak mengejar sampai keluar batas wilayah. Mereka akan kembali ke posisinya masing-masing.
Dungeon itu diyakini memiliki harta yang melimpah. Penjaga luarnya saja sangat kuat. Setelah Turnamen Peringkat dilaksanakan. Akan diadakan ekspedisi besar-besaran ke dungeon itu lagi.
Kali ini kelompoknya disaring hanya yang terkuat dari yang terkuat yang boleh ikut. Biaya yang mahal dan jumlah kuota yang terbatas, maka penyaringan anggota terpaksa harus dilakukan.
Kali ini perguruan-perguruan besar akan membawa Supremenya masing-masing. Bahkan seorang Panglima akan ikut hadir dalam ekspedisi tersebut.
"Supreme...!". mendengar kata Supreme para Tetua jadi ribut.
Supreme adalah orang dengan kekuatan yang sangat tinggi. Orang-orang yang mampu menembus ranah pelangi akan disebut Supreme.
Orang yang memiliki tingkat kultivasi ranah Pagoda Tingkat Delapan keatas merupakan manusia yang dijuluki Supreme oleh orang-orang pada umumnya.
Sayang sekali perguruan Pedang Bulan tidak memiliki Supreme sama sekali. Meski begitu pemerintah kekaisaran masih mengizinkan perguruan-perguruan yang terkenal untuk ikut berpartisipasi.
Rencananya Wakil Ketua akan membawa beberapa Tetua terkuat dan lima murid yang memiliki peringkat lima besar.
__ADS_1
Maka dari itu ujian peringkat kali ini merupakan ujian yang sangat penting. Mereka bisa saja mendapatkan harta berharga dari dungeon itu.
Wakil Ketua meminta para Tetua untuk menyiapkan jagoannya masing-masing karena besok Turnamen peringkat akan dimulai. Rapat pun selesai semua orang kembali ke tempatnya masing-masing.
"Yu Na. Untuk sementara kamu masih menjadi penanggung jawab. Aku harus pergi ke pusat Alkemis cabang kota Silver untuk memeriksakan kesehatanku dan beberapa Tetua lainnya".
"Baiklah...". Yu Na terlihat lesu ia sudah lelah menjadi pemimpin perguruan Pedang Bulan. Namun melihat kondisi Wakil Ketua. Mau tidak mau Yu Na harus setuju.
"Tenang saja. Kalau tidak ada kendala besok aku yang akan bertanggung jawab".
"Benarkah. Kalau begitu semoga lekas sembuh Wakil Ketua".
"Dasar dari dulu kamu tidak pernah berubah". Wakil Ketua dan Yu Na kembali ke tempatnya masing-masing.
Keesokan harinya seluruh murid sudah berkumpul di benteng pusat perguruan Pedang Bulan.
Untung saja Wakil Ketua dinyatakan sehat dan sanggup untuk memimpin acara turnamen peringkat perguruan Pedang Bulan.
Seluruh siswa kaget melihat keadaan Wakil Ketua yang kehilangan tangan kanannya. Meski begitu Wakil Ketua masih antusias dan semangat untuk mengadakan turnamen peringkat.
Wakil Ketua menjelaskan keuntungan jika para siswa berhasil mendapatkan peringkat teratas. Tidak hanya itu ada juga hadiah tambahan yakni ekspedisi khusus yang ia ceritakan di rapat kemarin.
Setelah pidato panjang lebar dari Wakil Ketua akhirnya turnamen peringkat perguruan Pedang Bulan dengan resmi dimulai.
Para siswa dibagi menjadi 4 kelompok untuk 4 arena yang berbeda demi mempercepat proses acara turnamen peringkat.
Lalu 4 blok itu akan di jadikan dua blok di Final. Setelah itu acara Grand Finalnya baru akan dilaksanakan.
Qian Qi dan Mei Mei berpisah ke bloknya masing-masing. Qian Qi dan Mei Mei hanya akan bertemu jika keduanya bertahan sampai ke Grand Final.
Setelah di pisah ke dalam blok masing-masing pertarungan gelombang pertama di mulai.
Qian Qi terlihat fokus memperhatikan para peserta yang bertarung. Meski para peserta terlihat lemah Qian Qi tetap antusias memantaunya.
Qian Qi tidak peduli dengan seberapa kuat atau lemahnya mereka. Ia hanya senang melihat para peserta memperjuangkan mimpinya masing-masing.
Seakan hari ini adalah hari terakhir mereka para peserta bertarung dengan sungguh-sungguh, mata mereka berbinar gemilang.
"Qian Qi. Kapan giliranmu mulai?". Zhang Liao menghampiri Qian Qi.
__ADS_1
"Masih lama Master. Aku kebagian giliran paling akhir. Mungkin aku akan bertarung nanti malam".
"Lalu sedang apa kamu di sini? Kenapa tidak pulang dulu seperti peserta lain, bersiap untuk pertarungan nanti". Terlihat pertarungan hari pertama penontonnya memang sepi. Hanya ada Qian Qi dan beberapa penonton lain.
"Tidak ah. Aku senang melihat perjuangan mereka. Lihatlah Master mereka berjuang dengan sungguh-sungguh".
"Sungguh-sungguh apanya Qian Qi. Mereka bertarung sungguh-sungguh karena ada gadis cantik yang menontonnya".
"Mana gadis cantiknya?". Qian Qi menoleh ke sana kemari.
"Serius nih? Ya kamu gadis cantiknya. Kalau gak ada kamu pertarungannya pasti lesu seperti di arena-arena lain".
"Itu di arena utama ramai. Banyak orang yang menonton. Bahkan sampai memenuhi menara seperti itu".
"Qian Qi... Qian Qi... mereka bukan menonton pertarungan, mereka bertaruh. Mereka sedang judi siapa yang menang".
"Ooo... Begitu. Aku kira pertarungan di sana lebih seru".
"Yasudah kalau begitu aku tidak akan memaksa. Aku kembali bertugas dulu".
"Hati-hati Master". Zhang Liao kembali berpatroli.
Sementara di arena utama tempat blok Mei Mei dilaksanakan.
"Aku bertaruh satu keping emas untuk si kecil itu". Mei Mei terlihat antusias ikutan bertaruh.
"Dasar bodoh. Orang kecil seperti itu mana mungkin menang. Beruntungnya aku". Para murid lain bertaruh untuk peserta yang bertubuh besar. Mereka berharap menang mudah dan mendapatkan bagian dari keping emas Mei Mei.
"Sing...!".
"Buk...!".
"Crat...!". Ternyata pemenangnya peserta yang bertubuh kecil. Meski badannya kecil tapi teknik pedangnya cukup lincah dan kuat.
"Xiii... xiii... xiii... Aku kaya...!". Karena sebagian besar murid bertaruh untuk peserta yang bertubuh besar. Keuntungan Mei Mei jadi meningkat berkali-kali lipat.
Aku bisa jadi kaya raya. Para penjudi ini tidak ada yang bisa menganalisa kekuatan otot dan pondasi Pagoda. Mereka hanya menebak berdasarkan ukuran tubuh.
Xiii... xiii... xiii... Mei Mei tertawa licik.
__ADS_1