Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 133 - Mimpi dan Imajinasi


__ADS_3

"Tok...! tok...!".


"Masuk". Lian Shi masuk ke kamar Sun Long. Ternyata Sun Long dan Sun An sedang berkemas menyiapkan pakaian mereka.


"Lapor Tuan. Jin Xianyi sudah bangun".


"Bagus... Apa barang-barangmu sudah diambil semua Liu An".


"Sudah Ayah. Ayah, aku mau pergi ke kamar Tuan Putri dulu. Ayah saja yang angkat barang-barangnya". Sun An langsung pergi.


"Dasar anak-anak". Sun Long lanjut menyiapkan barang-barang.


"Tuan Liu Long. Tuan mau kemana? Kenapa barang-barangnya dibawa semua? Jangan bilang Tuan mau pergi mening...".


"Tenang Lian Shi. Kami cuma pindah kamar, kami pindah ke kamar sebelah. Kamar utama ini akan kita gunakan untuk menyembuhkan Jin Xianyi".


"Ooo... Aku jadi khawatir. Aku kira Tuan mau pergi. Memangnya tidak bisa di ruang kesehatan biasa?".


"Ruang kesehatan biasa terlalu sempit. Aku butuh ruangan yang cukup besar. Aku akan bertarung melawan Iblis yang ada di kutukan Jin Xianyi".


"Me... Melawan Iblis?".


"Sudahlah kamu tidak perlu khawatir. Kamu tinggal nonton, aku sendiri yang akan melawannya".


"Ba... Baik Tuan".


"Prajurit Boneka".


"Siap Tuan".


"Tolong bawakan barang-barang ini dan persiapkan alat-alatku".


"Siap Tuan".


"Lian Shi, aku mau masak dulu untuk Jin Xianyi. Sementara itu tolong persiapkan barang-barang Jin Xianyi dan pindahkan ke lemari itu".


"Baik Tuan". Sun Long dan Lian Shi pergi.


...


"Tuan Putri...". Sun An masuk ke kamar Jin Xianyi.


"Eh... Ada Liu An".


"Tuan Putri mimpi apa? Kok tidurnya lama sekali?".


"Mimpi apa ya... Sepertinya aku mimpi jadi Ratu. Aku berhasil mengalahkan para pengkhianat dan menyelamatkan kekaisaran Jin".


"Wah... Pasti seru".


"Kalau Liu An mimpi apa?".


"Aku mimpi masak bersama Ibu. Kami masak banyak sekali. Tapi pas mau makan kebangun gara-gara teriakan Kakak Lian Shi".


"Maaf Liu An. Kakak panik. Habis... sahabat kakak yang satu ini, keluyuran gak bilang-bilang". Lian Shi menyusul masuk ke kamar Jin Xianyi.


"Kamu yang tidurnya kaya kebo. Susah banget dibangunin".

__ADS_1


"Ya... Namanya juga lelah. Kamu juga, lagi sakit bukannya istirahat. Jadi pingsankan".


"Oia... Aku pingsan. Bagaimana bisa aku sampai ke kamar ini?".


"Tuan Liu Long yang menggendongmu".


"Kalau begitu aku harus bertetima kasih dan minta maaf kepadanya".


"Tidak perlu buru-buru. Kamu santai saja dulu. Nanti Tuan Liu Long yang datang ke sini".


"Tapi...".


"Nanti saja Jin Xianyi. Kalau kamu jalan sekarang yang ada malah bikin repot".


"Yasudah kalau begitu".


"Maaf Liu An. Aku jadi merepotkan Ayahmu. Bahkan Ayahmu sampai rela menyentuhku".


"Tidak apa-apa Tuan Putri. Ayah memang harus dipaksa. Ayah terlalu bucin kepada Ibu".


"Lian Shi mau dibawa ke mana baju-bajuku?".


"Ayah memutuskan untuk mengobati Tuan Putri. Tuan Putri akan pindah ke kamar utama".


"Apa... Terima kasih banyak. Tapi... Bagaimana dengan Ibumu Liu An? Kalau Ibumu akan tersakiti karena suaminya memegang wanita lain, maka aku tidak ingin disembuhkan".


"Tuan Putri tidak perlu khawatir. Ibu orangnya sangat baik. Ia lebih mementingkan kemanusiaan dari pada perasaannya sendiri. Kalau ibu ada di sini. Pasti Ibu sudah menyeret Ayah untuk mengobati Tuan Putri".


"Sepertinya Ibumu orang yang hebat Liu An".


"Tidak juga. Kalau di rumah Ibu orangnya cengeng. Selalu menyalahkan diri sendiri dan merasa khawatir setiap saat. Ibu terlalu banyak berpikir".


Sun An menceritakan kesehariannya bersama Qian Qi. Ia terlihat antusias menceritakan kenangan-kenangan indahnya yang mengundang gelak tawa.


Beberapa saat kemudian.


"Wah... harum sekali. Pasti Ayah yang masak. Aku jadi lapar".


"Iya Liu An. Katanya Ayahmu mau masak untuk Jin Xianyi".


"Untukku...?".


"Iya. Sebentar lagi kamu akan diobati. Jadi kamu harus makan dulu".


"Tok... Tok...". Sun Long membuka pintu.


"Wah... Makanan".


"Ini bukan untukmu Liu An. Ini makanan orang sakit".


"Makanan orang sakit atau bukan. Kalau Ayah atau Ibu yang masak semuanya jadi enak".


"Kalau gitu, kamu bantu dulu Jin Xianyi makan makanan ini. Nanti Ayah masakin makanan untukmu".


"Siap Ayah".


"Bagaimana kondisimu Jin Xianyi?".

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Tuan. Hanya saja masih terasa lemas. Tuan Aku minta maaf karena telah merepotkan. Tuan sampai harus menggendongku...".


"Seharusnya aku yang minta maaf. Kami terpaksa mencari letak kutukan Iblismu tanpa seizinmu".


"Mencari letak kutukan Iblis?".


Lian Shi memegang dadanya mencoba memberi tanda pada Jin Xianyi. Spontan Jin Xianyi paham dan menutup asetnya dengan kedua tangan.


A... Apa maksudnya? mengapa Lian Shi tahu letak kutukanku? Tuan Liu Long dan Lian Shi mereka mencarinya... Berarti mereka melepas pakianku. Wajah Jin Xianyi mendadak merah merona.


"Jin Xianyi kenapa wajahmu merah? Apa kamu merasa sakit?".


Dag... Dug...


                   Dag... Dug...*


Dag... Dug...


"Kyaaa...". Karena syok Jin Xianyi terdiam mematung. Tanpa sadar wajah Sun Long sudah berada di depannya. Sementara tangan kiri Sun Long sudah berada di dahinya.


Dag... Dig... Dug... Tangannya kasar sekali. Sepertinya Tuan Liu Long sudah melalui perjuangan yang panjang untuk sampai sejauh ini.


"Suhu tubuhmu agak hangat. Bahkan pipimu ikutan merah. Sebaiknya kamu segera makan. Setelah makan aku akan memeriksamu. Kalau begitu aku pergi dulu untuk memeriksa peralatan di kamar utama". Sun Long pergi.


Tidak hanya dahiku bahkan pipiku juga disentuhnya. Ada apa denganku? Kenapa sentuhan Tuan Liu Long terasa berbeda.


Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Seperti ada percikan listrik setiap kali Tuan Liu Long menyentuhku.


"Wajah Tuan Putri sama seperti Ibu. Apa Tuan Putri juga mencintai Ayah?".


"Hhhaaa...! A... Apa yang kamu bilang Liu An. I... Itukan ayahmu". Jin Xianyi kaget salah tingkah. Ia lupa kalau Sun Long sudah ada yang punya.


"Hhhmmm...".


"Ke... kenapa kamu melihatku seperti itu Liu An?".


"Tidak ada... Sebaiknya Tuan Putri segera makan. Nanti buburnya keburu dingin. Biar aku suapin".


"Tidak perlu Liu An aku bisa makan sendiri".


"Tidak apa-apa Tuan Putri. Biar aku saja yang suapin".


"Baiklah kalau begitu". Jin Xianyi mulai makan.


"Hhhmmm...".


"Ada apa Liu An. Kenapa kamu serius seperti itu?".


"Mmm... Maaf Tuan Putri aku hanya bengong sebentar. Ini...". Sun An kembali nyuapi Jin Xianyi.


"Aku sedang berpikir. Seperti apa rasanya jadi Tuan Putri. Kalau Ayah menikah dengan Tuan Putri. Ayah dan Tuan Putri akan jadi Raja dan Ratu. Terus gantian aku yang jadi Tuan Putrinya".


"Uhuk...! Uhuk...!". Jin Xianyi tersedak kaget mendengarnya. Wajahnya kembali memerah.


"Uhuk...! Uhuk...!".


"Aduh Tuan Putir... Pelan-pelan makannya. Ini minum air dulu".

__ADS_1


"Glug... Glug...".


Dasar Liu An. Enteng sekali imajinasinya. Wajar saja dia masih kecil. Raja dan Ratu... Jadi yang kedua... Sepertinya tidak terlalu buruk. Jin Xianyi tersenyum manis.


__ADS_2