Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 101 - Mochi


__ADS_3

“Apa kalian baik-baik saja?”.


“Ya. Kami baik-baik saja. Terima Kasih karena telah membantu kami”.


“Maaf ini salahku, Ular ini lari dari seranganku”.


“Tidak apa-apa yang penting tidak ada yang terluka. Maaf hanya ini yang bisa kami berikan sebagai rasa terima kasih”. Sun Long memberi beberapa mochi kepada wanita misterius itu.


“Terima Kasih. Sebaiknya kalian masuk ke dalam kota terlebih dahulu. Aku akan menemui kalian setelah mengurus ular ini. Tempat ini cukup berbahaya”.


“Baiklah kalau begitu kami permisi”. Sun Long dan Sun An melanjutkan perjalanan.


“Hhhmmm… Aku tidak menyangka ayah jago berbohong”.


“Tentu saja Ayah jago berbohong, kita hidup di Surga Hitam. Kamu juga harus pandai berbohong Sun An, agar tidak ada yang bisa menipumu. Tapi jangan pernah berbohong…”.


“… Kepada orang yang kita sayangi”. Sun An melanjutkan.


“Pandai anak Ayah”. Sun Long mengelus-elus kepala Sun An.


“Hiii… hiii… hiii…”.


“Berhenti!”. Penjaga kota menghentikan kereta kuda Sun Long.


“Selamat siang Tuan”. Sun Long menyapa.


“Apa yang ada di dalam kereta kudamu?”.


“Alat pembuat Mochi Tuan. Kami penjual Mochi”.


“Aku ingin melihatnya”.


“Baik Tuan”. Sun Long turun dan membuka kereta kudanya.


“Aku tidak pernah melihatmu. Siapa namamu?”.


“Nama saya Liu Long dan anak saya namanya Liu An, Kami berkelana menjual Mochi”.


“Cukup aneh. Kamu punya anak kecil tapi berkelana. Hal itu sangat berbahaya”.


“Anak saya telah kehilangan Ibunya. Ia jadi sedih jika tetap di rumah. Maka dari itu kami berkelana”.


“Maaf. Aku turut berduka cita…”.


“Tidak… Maksudku bukan meninggal. Ibunya lebih memilih bersama bangsawan dari pada penjual mochi”.


“Bajingan…! Kakakku juga terpuruk karena hal yang sama. Semoga kalian berdua diberi kekuatan. Tetap tabah kawan. Jika butuh bantuan aku berjaga di sini setiap hari”.

__ADS_1


“Terima kasih kawan”. Sun Long dan Sun An berhasil masuk ke dalam kota.


“Hiii… hiii… hiii… Alasan Ayah sangat bagus. Ayah bisa langsung akrab dengan orang asing”.


“Kota ini kota kecil dan biasa saja. Hal seperti itu sering terjadi Sun An. Para wanita di kota kecil biasanya berusaha menikahi para bangsawan. Tidak masalah jika mereka dijadikan yang kesekian. Yang penting hidup mereka berubah. Terlihat dari mata para penjaga. Wajah mereka muram dan kusam. Meski mereka sudah cukup umur tapi tidak ada yang menggunakan cincin pernikahan”.


“Aku tidak memikirkannya sama sekali. Pengalamanku masih kurang banyak”.


“Tentu saja masih kurang. Kamu baru 5 tahun, masih imut dan lucu”.


“CANTIK…!!! Ayah”.


Sun Long dan Sun An berkeliling di dalam kota, mencari tempat yang cocok untuk berjualan Mochi. Mereka mendapatkan tempat yang cocok di sebelah tukang permen di pasar. Sun Long mengobrol dan meminta izin kepada penjual permen terlebih dahulu.


Penjual permen itu terlihat tua renta dan hidup sendirian. Ia cukup senang melihat Sun An yang lucu. Sun An juga senang karena diberi banyak permen gratis. Sementara Sun An sibuk dengan penjual permen, Sun Long menyiapkan peralatan untuk membuat mochi.


“Ayah aku mau pukul-pukul Mochinya”.


“Boleh tapi jangan kuat-kuat ya”.


“Iya”.


Sun Long dan Sun An, membuat mochi, orang-orang berkumpul penasaran dengan pertunjukan yang di sajikan Sun Long dan Sun An.


“Hai..!”.


                    “Ai…!”.


                   “Ai…!”.


                   “Ai…!”.


Sun An memukul mochi dengan cepat sementara Sun Long membalikkan adonannya. Hal ini bertujuan untuk membuat adonannya menjadi kenyal dan lembut. Wajah imut Sun An menghipnotis orang-orang untuk datang membeli mochi.


Baru dua jam mereka berjualan mochinya sudah habis terjual. Tidak lupa Sun Long membagi-bagikan mochi untuk pedagang di sekitar mereka. Atraksi Sun An tidak hanya meramaikan toko mochinya. Toko-toko yang lain juga ikutan ramai.


Akhirnya mereka berbagi dan mencicipi dagangan masing-masing. Setelah kenyang Sun Long dan Sun An berpamitan untuk mencari penginapan. Sebelum ke penginapan Sun Long dan Sun An mampir dulu ke pintu gerbang dan membagikan mochi kepada para penjaga.


Kebetulan sekali wanita yang membunuh ular baru kembali. Sun Long juga membagikan mochi kepadanya yang langsung dimakan dengan lahap. Sepertinya dia kelelahan dan kelaparan.


Wanita itu bernama Xin Chuan. Ia sedang diuji oleh tetua sektenya untuk berburu ular Cincin. Xin Chuan berterima kasih lagi kepada Sun Long. Ia memberi Sun Long beberapa keping emas. Karena sedang menyamar Sun Long menerima keping emas dengan senang hati.


Xin Chuan penasaran dengan botol apa yang Sun Long lemparkan ke ular Cincin. Sampai membuat ular Cincin itu terhenti kebingungan. Ternyata botol yang dilemparkan Sun Long adalah parfum. Parfum membuat indra penciuman ular kacau.


Xin Chuan dan para penjaga terpukau dengan pengetahuan Sun Long. Sun Long beralasan dirinya cacat tidak memiliki dantian jadi ia mempelajari bagaimana caranya kabur dari para monster.


Xin Chuan dan para penjaga kembali kagum dengan Sun Long. Tapi Sun Long harus menghentikan obrolan, karena Sun An terlihat mengantuk. Sepertinya ia kelelahan setelah membantu Sun Long memukul mochi. Mereka berpamitan kemudian mencari penginapan.

__ADS_1



Sementara itu di perguruan Pedang Bulan. Mei Mei kembali babak belur dihajar Yu Na. Belum ada perkembangan yang berarti dari latihannya. Ia masih mengandalkan kekuatan yang ia banggakan.


Yu Na sendiri sengaja melatih Mei Mei secara langsung. Mei Mei tidak bergabung dengan murid-murid lainnya. Yu Na terlihat kesal melihat tingkah laku Mei Mei. Mei Mei memiliki potensi yang cukup besar, tapi semua itu sia-sia karena sifat liarnya.



Di sisi lain perguruan Pedang Bulan.


“Cantik sekali…”. Kai Yu memata-matai Qian Qi dari kejauhan.


“Tidak hanya cantik. Qian Qi juga sangat kuat”. Guan Ping tiba-tiba muncul di sebelah Kai Yu.


“Apa kamu mengincarnya juga?”.


“Tentu saja”.


“Sepertinya kita akan saling bunuh”.


“Ya… Terbunuh karena Qian Qi sepertinya sepadan”.


“Sepadan… Kita jarang sepemikiran. Tapi untuk kali ini kita sama”.


“Baiklah aku masih ada kerjaan. Sampai nanti di turnamen peringkat”. Guan Ping pergi.


“Lapor Nyonya. Ada dua orang yang memata-matai anda”. Prajurit boneka menghampiri Qian Qi.


“Ya aku tahu. Biarkan saja. Aku sedang menyamar. Selama mereka tidak mengganggu aku tidak akan bergerak”.


“Siap Nyonya”.


“Tunggu… Aku tidak ingin meremehkan mereka dan menyesal di kemudian hari. Cari tahu apa tujuan mereka”.


“Lapor Nyonya kami sudah tahu tujuan mereka”.


“Kalian benar-benar hebat dan bisa diandalkan. Jadi apa tujuan mereka”.


“Tujuan mereka adalah anda Nyonya”.


“Aku? Mengapa mereka mengincarku. Apa penyamaranku ketahuan? Sepertinya kita harus membunuh mereka berdua. Tujuanku adalah mengalahkan Sun Jian. Aku tidak akan membiarkan mereka menghalangiku”.


“Tidak Nyonya. Penyamaran Nyonya hanya diketahui oleh Tetua Yu Na”.


“Sudahku duga. Tetua Yu Na memang seorang Dewi. Lalu apa yang mereka inginkan dariku”.


“Mereka ingin menikahi Nyonya”.

__ADS_1


“HHHAAA…???”.


__ADS_2