
Di dalam gedung pusat Alkemis cabang kota Silver, Ketua alkemis Guan Chen sedang berusaha menyembuhkan Pangeran Sun Ryu.
Guan Chen tampak kesulitan menyembuhkan Sun Ryu. Ia tidak bisa berbuat banyak hanya melakukan hal-hal sesuai standar.
Untung saja Guan Chen berhasil membuat kondisi Sun Ryu stabil. Ia sudah agak baikan untuk sementara waktu. Ia tidak tahu kapan kondisi Sun Ryu akan drop lagi.
"Terima kasih Paman Guan Chen".
"...". Guan Chen termenung kebingungan.
"Paman?".
"Oh... iya. Sama-sama Pangeran Sun Ryu". Guan Chen mencoba tersenyum.
"Tidak perlu dipaksakan Paman. Aku tahu penyakitku sangatlah langka. Sebenarnya aku ke sini bukan meminta untuk diobati. Melainkan berpamitan".
"Berpamitan apa maksudmu?".
"Paman sudah ku anggap seperti Ayah sendiri. Paman sudah mengurus ku waktu aku kecil dan memberiku semangat. Semua kenangan indah yang Paman tinggalkan sangat berarti untukku".
"Pangeran juga sudah ku anggap seperti anak sendiri. Maka dari itu aku akan berusaha menyembuhkan mu".
"Tidak perlu dipaksakan Paman. Aku tahu Paman kesulitan tentang penyakitku. Aku rasa waktuku tidak lama lagi. Jadi aku berkeliling berpamitan kepada orang-orang yang menyayangiku".
"Jangan menyerah Pangeran. Pangeran pasti bisa sembuh".
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Aku sudah lelah hidup di atas tandu".
"...". Guan Chen tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya terdiam memegang tangan Sun Ryu.
"Uhuk... uhuk... Arrkkk". Keadaan Sun Ryu kembali memburuk. Ia tampak kejang-kejang menahan rasa sakit.
Guan Chen tidak kuasa meneteskan air mata melihat perjuangan Sun Ryu. Ia kembali mencoba menstabilkan kondisi Sun Ryu.
Beberapa menit kemudian.
Kondisi Sun Ryu sudah stabil. Meski begitu cahaya di matanya sudah redup sepenuhnya. Wajar saja rasa sakit itu menggerogoti harapan Sun Ryu.
Setiap berpindah dari tabib alkemis satu ke tabib alkemis yang lainnya jiwa Sun Ryu pecah berlahan-lahan.
Masa remaja harusnya jadi masa terindah. Namun untuk Sun Ryu hanya ada langit-langit di atasnya dan tandu di punggungnya.
Bertahun-tahun menjadi mayat hidup sepertinya sudah waktunya bagi Sun Ryu untuk menyerah.
Penyakitnya selalu menang. Apa gunanya bertempur jika tidak ada harapan sama sekali. Musuhnya terlalu kuat.
"Uhuk... Uhuk... Sepertinya ini saatnya". Napas Sun Ryu berlahan-lahan mulai meredup.
"Pangeran...". Pelayan cantik itu segera memeluk Sun Ryu seakan tidak akan melepaskannya.
"Pengawal kalian semua keluarlah".
__ADS_1
"Kami tidak bisa melakukannya Tuan Guan Chen".
"Cepatlah Keluar...! Aku akan berusaha menyembuhkan Pangeran Sun Ryu sekali lagi". Melihat tekat Guan Chen para pengawal itu keluar.
"Kamu juga pelayan. Kamu harus keluar".
"Tidak aku tidak akan keluar".
"Pengobatan kali ini cukup berbahaya. Kamu bisa terbunuh karenanya. Lebih baik aku mati bersama Pangeran".
"Uhuk... Apa yang kamu katakan. Cepat tinggalkan aku".
"...". Pelayan itu tidak mau melepaskan Sun Ryu.
"Lepaskan ini perintah!".
"...". Pelayan itu tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
Air mata mulai mengalir deras membasahi baju Pangeran Sun Ryu. Tekat pelayan itu begitu kuat ia tidak takut mati demi Pangeran Sun Ryu.
"Terima kasih Ni Ni". Sun Ryu membelai lembut kepala pelayan cantik itu.
"Clik... clik...". Guan Chen mengunci pintu ruang alkemis. Sekarang tidak ada yang bisa masuk atau pun keluar.
"Persiapkanlah nyawa kalian berdua. Aku tidak tahu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Belau bisa menyelamatkan nyawamu atau membunuh kita semua".
"Beliau? Kalau begitu jangan Paman. Aku tidak ingin Paman dan Ni Ni terluka".
"Baiklah kalau begitu, keputusan sudah bulat. Aku akan menceritakan tentang Master alkemis hebat dari gedung pusat alkemis kota Goliat".
"Gedung pusat alkemis kota Goliat?".
"Iya. Baru-baru ini dua orang perwakilan datang dari kota Goliat. Kemampuan mereka jauh di atasku. Mereka berdualah yang membantuku menyempurnakan Pil Pembangkit Naga".
"Mungkin mereka adalah harapan satu-satunya untuk kesembuhan Pangeran Sun Ryu. Tapi... Aku dilarang menceritakan tentang mereka kepada siapa pun".
"Tolong beritahu kami Tuan Guan Chen". Ni Ni bersujud.
"Mereka adalah...".
"Sing...!!!". Prajurit Boneka muncul mengarahkan pedang ke leher mereka bertiga.
"Guan Chen. Kamu telah melanggar perjanjian. Kalian bertiga harus mati". Prajurit boneka hendak menggorok leher mereka bertiga.
"Tu... tunggu dulu. Aku tidak keberatan jika Tuan menggorok leherku. Tapi aku minta satu hal. Beritahu dulu keadaan kita kepada beliau. Biar beliau yang memutuskan".
"P... prajurit boneka... Benar juga masih ada Tuan Sun Long".
"Sing...!". Prajurit boneka mengintimidasi.
"Tu... tunggu dulu. Aku warga kota Vegas. I... ini tanda pengenalku". Ni Ni memberi tanda pengenal.
__ADS_1
"Sing...". Prajurit boneka memasukan pedangnya untuk Ni Ni.
"Kamu memang warga kota Vegas. Tapi dua orang ini bukan. Aku akan memanggil Nyonya dan biarkan Nyonya yang menentukan nasib kalian bertiga".
"Uhuk... Uhuk... Arrkkk...". Penyakit Sun Ryu kambuh di saat yang tidak tepat.
"Pangeran...".
"Sleb...". Prajurit boneka menyuntikan sesuatu ke tubuh Sun Ryu.
"A... apa yang kamu lakukan". Ni Ni marah menerjang. Namun tertahan oleh prajurit boneka.
Beberapa detik kemudian.
"I... Ini... Aku sembuh...! Rasa sakit dan lemasnya sudah menghilang". Sun Ryu menggerak-gerakan tubuhnya.
"Hati-hati masih ada pedang di lehermu".
"Terima kasih Tuan".
"Ssshhh... Ngikkk... Tang...". Tiba-tiba kunci pintu baja ruang alkemis meleleh dan hancur.
"Tap...".
"Tap...".
"Tap...". Qian Qi dan Mei Mei masuk. Terlihat para penjaga sudah terkapar di lantai.
Penjaga dengan Tingkat Pagoda 6 dan 7 tidak mampu bersaing dengan Qian Qi dan pasukannya. Mereka berhasil dikalahkan tanpa suara sama sekali.
"Nyonya Qian Qi". Ni Ni tunduk pada Qian Qi.
"Hhhmmm... Sepertinya aku mengenali wajahmu. Tapi dimana... Oia... Kamu pembawa acara lelang waktu itu".
"Iya Nyonya itu saya".
"Sudah berdirilah". Ni Ni berdiri.
"Nyonya akan ku potong-potong tua bangka ini. Sepertinya dia belum kapok aku tendang".
"Glugg...". Guan Chen terdiam ketakutan menelan ludah.
"Itu semua karena aku. Biar aku yang menanggung kesalahan mereka berdua".
"Hhhmmm... Kepalaku sedang pusing. Aku tidak mood untuk ribut dengan kalian. Mei Mei tolong buatkan teh". Prajurit boneka segera menyiapkan meja dan kursi untuk Qian Qi, sementara Mei Mei membuatkan teh.
Tidak ada suara yang terdengar sama sekali selain suara Mei Mei yang menyeduh teh. Setelah duduk, Qian Qi merebahkan bagian atas tubuhnya ke meja dan memalingkan wajah.
Terlihat Qian Qi sedang kelelahan akibat melihat Sun Jian. Energinya habis terbakar api amarah yang membara.
Nasib Sun Ryu, Ni Ni dan Guan Chen jadi tidak menentu. Tidak ada yang bisa memprediksi tindakan wanita ketika moodnya sedang buruk.
__ADS_1
Takdir Sun Ryu, Ni Ni dan Guan Chen ditentukan oleh teh yang Mei Mei buat. Semoga saja teh itu bisa meredam mood buruknya Qian Qi.