
“Sudahlah Qian Qi… Itu hanyalah masa lalu”.
“Pengorbanan Bibi untuk kita semua, tidak akan pernah bisa dibayar Qian Qi. Jadi kita harus berusaha membuat Bibi bahagia. Bibi seperti seorang ibu untuk kita”.
“Tidak perlu sampai seperti itu. Bibi hanya mau melihat kalian tumbuh dan bahagia. Kalian semua sudah seperti anak bagi Bibi”.
“Bi. Besok kita akan pergi ke makam ibu. Sekarang sudah ada kapal tempur Atlas. Jadi perjalan ke sana tidak terlalu berbahaya. Akhirnya aku bisa mengantarkan Bibi kepada ibu”.
Sun Fangxin hanya bisa menangis dan memeluk erat Sun Long. Dia sudah menantikan hal ini begitu lama. Hatinya hancur ketika mengetahui Kakaknya Liu Shu gugur tidak lama setelah dibuang ke surga hitam.
Sun Fangxin merasa bersalah karena ia meninggalkan Liu Shu bersama Sun Li. Ia tidak pernah menjenguk kakaknya dalam waktu yang cukup lama. Sun Fangxin memutus segala hubungan dengan masa lalunya karena larut dalam kesedihannya sendiri.
Akhirnya Sun Fangxin menyesal ketika dapat kabar bahwa Sun Long dan Liu Shu telah dibuang ke Surga Hitam. Semenjak itu Sun Fangxin memiliki tujuan hidup baru, untuk menemukan mereka berdua. Namun yang bisa ditemukan hanyalah Sun Long.
“Keluarkan saja Bi, tidak apa-apa”. Sun Long mengelus-elus punggung Sun Fangxin yang menangis di bahunya.
Setelah beberapa menit berlalu dan Sun Fangxin mulai tenang kembali.
“Ini sudah malam kalian pasti lelah kalau begitu Bibi pamit dulu.”
“Bibi tidur di sini saja bersama Qian Qi. Aku akan tidur bersama Dodo Fung”.
“Tidak, kaliankan suami istri tidak boleh tidur terpisah”.
“Tidak apa-apa Bi. Aku mau tidur bersama Dodo Fung. Tidak lama lagi kita akan berpisah. Aku masih khawatir dengannya. Aku harus memeriksanya dulu, aku belum yakin apakah dia sudah siap”.
“Eleh… dasar kamu. Bilang saja kamu terlalu sayang dengan adikmu. Yasudah Bibi tidur di sini. Tapi kamu harus tanya dulu dengan istrimu setuju atau tidak”. Sun Fangxin menoleh ke arah Qian Qi yang terlihat tersenyum gembira.
“Walah… walah… Awal-awal menikah kalian saling benci satu sama lain. Sekarang kalian malah paham dengan keinginan masing-masing tanpa bicara. Kalian membuat Bibi iri saja”.
“Bibi…”. Qian Qi sedih kembali.
__ADS_1
“Yasudah kalau begitu aku pamit dulu ke tempat Dodo Fung”. Sun Long mencium dahi Qian Qi.
“Hati-hati Hubby”. Qian Qi tersenyum menutup pintu.
Setelah itu mereka berdua bersiap-siap untuk tidur. Qian Qi dan Sun Fangxin berbaring di kasur. Sun Fangxin memiringkan badannya untuk melihat Qian Qi. Ia teringat kembali saat-saat ia mengeurus Qian Qi yang masih kecil. Cukup melelahkan namun meninggalkan memori yang begitu indah.
“Qian Qi apa kamu bahagia Bibi nikahkan dengan Sun Long?”.
“Terima kasih banyak Bi. Sun Long adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima. Tapi aku tidak yakin cukup baik untuknya. Sun Long terlalu sempurna, Sedangkan aku…”.
“Tidak perlu khawatir tentang itu. Dari caranya memandangmu Bibi yakin kamu sudah lebih dari cukup. Qian Qi…”.
“Ada apa Bi?”.
“Maafkan Bibi. Bibi terlalu fokus kepada Sun Long. Bibi terlambat mengurusmu”.
“Tidak perlu meminta maaf Bi. Karena itu juga kesalahanku. Aku mudah percaya pada orang, dengan mudahnya aku terperdaya oleh mereka”.
“Bibi… Tolong aku”.
“Tidak apa-apa Qian Qi. Ini adalah anakmu bersama Sun Long. Jangan pikirkan hal yang tidak perlu”.
“Tidak bisa Bi. Aku dihantui rasa bersalah setiap kali berada di sisi Hubby. Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku lebih baik mati dari pada menyakiti Sun Long. Anak ini adalah dosaku seharusnya Hubby tidak perlu menanggungnya. Ceraikan saja aku dia bisa menikah dengan Luo Meilin atau yang lainnya. Banyak wanita yang lebih baik dari pada aku. Aku tidak pan…”. Sun Fangxin menutup mulut Qian Qi.
“Sudah Cukup Qian Qi. Kenapa kamu setega itu kepada Sun Long? Belum cukupkah dia sengsara selama ini? Tolong kamu jangan menambah bebannya lagi. Dia sudah memberikan segalanya untukmu. Dia tidak melihat wanita lain, dia membantumu untuk tumbuh, dia menyelamatkan ayahmu Bahkan dia menerima anakmu. Hanya satu yang ia inginkan darimu Qian Qi. Dia memberikan segalanya hanya untuk melihatmu bahagia”.
“Sun Long hanya mau kamu bahagia Qian Qi. Apa lagi yang harus dia bayar agar kamu bisa bahagia? Kalau kamu cinta dengan Sun Long. Lupakan masa lalu. Buang segala kesedihan di hatimu. Bebaskan dirimu Qian Qi Bahagialah. Sun Long bukanlah orang normal Qian Qi. Satu detik saja. Kamu hilangkan segala beban di hatimu dan tunjukkan sebarapa bahagianya dirimu pada Sun Long. Maka kamu akan melihat seberapa bahagianya Sun Long”.
“Maafkan aku Bi…”.
“Jangan minta maaf pada Bibi. Minta maaf pada Sun Long. Bibi sudah berpesan padamu sebelumnya. Apakah kamu sudah lupa akan pesan Bibi?”.
__ADS_1
“Tidak Bi. Aku tidak melupakannya. Yang pertama aku harus buat diriku bahagia bersama Sun Long. Dua bahagiakanlah Sun Long”.
“Bahagialah Qian Qi”.
“Tapi Bi. Aku tidak bisa bahagia begitu saja. Masih terlalu banyak rantai yang menahanku. Aku hanya bisa pura-pura bahagia karena aku tidak pantas bahagia”.
Tiba-tiba Sun Fangxin mengelus rambut Qian Qi dengan lembut. Sentuhan tangannya sangat berbeda dari biasanya. Ada getaran tertentu disetiap sentuhannya. Qian Qi melihat wajah Sun Fangxin. Seketika itu jantungnya berdegup kencang. Sun Fangxin hanya tersenyum menatap mata Qian Qi. Tatapan bangga seorang ibu melihat anaknya.
Mata Sun Fangxin berkaca-kaca memancarkan cahaya seakan bersyukur dengan setiap detik yang berlalu. Qian Qi pun menangis dan memeluk Sun Fangxin. Ia rindu dengan tatap seorang ibu. Yang hampir ia lupakan.
“Bibi… Ngeee…”. Qian Qi menangis sesegukan.
“Beranilah Qian Qi. Beranilah menjadi lebih baik lagi. Maka dengan begitu kebahagiaan akan menghampirimu. Kalau kamu mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak pantas. Maka selamanya kamu tidak pantas. Kamu harus berani mengatakan. Aku pantas dan aku akan membuktikannya. Jika kamu percaya dan berani kabut di dalam kepalamu akan menghilang. Semuanya jadi lebih jelas”.
“Baiklah Bi aku akan mencobanya”.
“Percayalah pada Bibi. Pejamkan matamu dan ikuti arahan Bibi”. Qian Qi menurut, Sun Fangxin mengarahkannya berdiri dan berjalan beberapa langkah.
“Bayangkan dirimu di masa depan. Bayangkan Sun Long menggendong anakmu. Sun Long memanggilmu dari kejuhan… Kemarilah Qian Qi. Tangan-tangan mungil anakmu berusaha meraihmu. Tangannya membuka dan menutup lucu sekali seakan memanggil ibu… ibu…”.
“Tapi kamu tidak segera menghampiri mereka. Kamu merasa tidak, aku tidak pantas. Aku terlalu kotor”.
“Lalu kamu berpaling sejenak membalikan badan. Wajah bahagia mereka yang mengharapkan kehadiranmu berubah menjadi wajah kecewa. Bahkan kamu bisa mendengar anakmu yang menangis. Ia merasa ibunya tidak meninginkannya. Kamu mendengar suara Sun Long yang mencoba nenangkan anakmu yang menangis”.
“Mereka tidak peduli kamu kotor atau bersih. Mereka hanya ingin istri dan ibunya menghampiri mereka. Ketika kamu berbalik mereka sudah menghilang tidak ada lagi”. Qian Qi mulai mengerti dan merasa menyesal. Dia tidak ingin Sun Long dan anaknya menghilang dari hadapannya. Air mata pun mulai menetes lembut di pipinya. Dengan lembut Sun Fangxin memegang bahu Qian Qi.
“Kami di sini Qian Qi. Sun Long dan anakmu ada di belakangmu. Jari-jari mungil itu memegang erat ibunya seakan tidak akan pernah melepaskannya lagi dan Sun Long langsung mencium bibirmu dengan lembut seakan itu adalah ciuman terakhir”.
“Bukalah matamu Qian Qi”. Qian Qi membuka matanya. Ia melihat sebuah kaca. Ia melihat dirinya sendiri dan bayangan Sun Long bersama anaknya.
“Ini bukan tentang dirimu lagi Qian Qi. Kalian bertiga adalah satu. Sun Long dan anakmu tidak akan meninggalkanmu. Jika kamu tidak ingin menghampiri mereka, mereka yang akan menghampirimu”.
__ADS_1