
5 tahun telah berlalu semenjak tubuh boneka Qian Tao berhasil dibuat.
“Horeee…! Akhirnya aku berhasil mengalahkannya. Apa Ayah melihatnya? Aku hebatkan”. Seorang anak manis menghampiri Sun Long.
“Apa? Maaf Sun An, Ayah tidak melihatnya. Mata ayah kelilipan debu”.
“Eee… Ayah jahat. Padahal aku sudah berjuang keras selama sebulan penuh untuk mengalahkannya”. Sun An memalingkan pandangannya kesal.
“Hi…hi…hiii… geli Ayah”. Sun Long menggelitik pinggang Sun An.
“Ayah cuma bercanda. Ayah melihat semua perjuanganmu dari awal. Mulai dari satu bulan yang lalu sampai sekarang. Kamu hebat pantang menyerah. Kultivasi apimu ditempa dengan sangat baik”. Sun Long menggendong Sun An naik ke atas pundaknya.
“Iiihhh… Ayah bercanda terus”.
“Habis anak Ayah lucu dan menggemaskan. Ayo kita pulang dulu, Ibu pasti khawatir”.
“Bilang apa nanti kita ke Ibu?”.
“Bilang saja kita sedang mencoba senjata baru. Karena hempasan debunya kamu jadi kotor. Kamu minum Pil Pemulih Raga dulu biar tidak ketahuan bekas lukanya”. Sun Long memberi Pil Pemulih Raga.
“Baik Ayah…”.
Sesampainya di rumah.
“Ibu aku pulang…!”.
“Hhhmmm… Hubby…! Anak kita masih umur 4 tahun. Anak perempuan lagi”. Qian Qi marah.
“Tidak Bu. Aku tidak melawan monster lagi kok. Kita cuma mencoba senjata baru”. Sun An meyakinkan Qian Qi.
“Hubby…!”. Qian Qi melotot ke arah Sun Long.
“Cuma Kadal Gurun kok. Ranahnya juga cuma Pagoda Tingkat 5 Tahap Awal”.
“Ayah…! Kan Ayah sendiri yang membuat alasan, kok malah Ayah yang mengaku?”.
“Belajar tipu daya itu penting Sun An, agar kelak kamu tidak tertipu oleh orang jahat. Tapi menjaga kepercayaan dari orang yang paling disayang itu jauh lebih penting”.
“Hubby…”. Qian Qi luluh dan tersenyum manis.
__ADS_1
“Sweety…”. Sun Long hendak memeluk Qian Qi.
“Hubby…! Kepercayaan itu memang penting. Tapi anak kita sudah terlalu kuat. Lihatlah tangannya masih mungil, tubuhnya masih pendek, wajahnya masih imut dan matanya menggemaskan. Harusnya Sun An main boneka saja di rumah, bukannya berburu monster di luar sana”. Qian Qi menjewer telinga Sun Long.
“Ya. Aku mana bisa menolaknya. Sun An menggunakan jurus imutnya padaku”.
“Justru karena aku suka main boneka Bu. Aku ingin melihat monster-monster kuat dan membuat boneka mereka”.
“Sudahlah. Makanannya nanti keburu dingin. Kamu mandi dulu sana, ganti baju terus kita makan”.
“Siap Bu”. Sun An pergi mandi.
“Aduh… Sweety sampai kapan telingaku dijewer”.
“Dasar Hubby… Aku juga ingin main bersama kalian berdua. Kalau kalian sering keluar, aku jadi tidak bisa bersama kalian”.
“Ya Sweety ikut saja. Memangnya kenapa? Sweety juga sudah jauh lebih kuat sekarang. Ranah Sweety Sudah Pagoda Tingkat 6 Tahap Akhir”.
“Iiihhh…! Kalau aku ikut dengan kalian terus siapa yang beresin rumah. Aku harus memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Aku lebih suka saat Sun An masih bayi. Hanya ada kita bertiga di dunia kecil kita”.
“Sweety…”.
“Hubby…”. Sun Long dan Qian Qi berciuman.
“Kamu mengganggu saja Sun An”. Sun Long protes.
Keluarga baru yang harmonis. Qian Qi berusaha keras untuk menjadi istri yang baik. Berkat mimpinya yang sering menjadi Liu Shu. Qian Qi jadi bisa memasak. Ia ingin merasakan betapa bahagianya memasak untuk orang yang dicintai. Maka dari itu Ia mengambil alih kebiasaan Sun Long yang sering memasak untuknya.
Hidangan yang Qian Qi sajikan begitu mewah dan nikmat. Mereka makan dengan lahap hingga habis tak bersisa. Sun An terlihat puas dan kenyang. Energinya yang habis setelah melawan Kadal Gurun sudah terisi kembali. Namun, di sisi lain ada yang aneh dengan Sun Long. Meski makanannya enak ia terlihat tidak bersemangat.
“Ada apa Ayah? Kenapa Ayah terlihat lesu?”.
“Masakan Ibumu kali ini berbeda”.
“Beda apanya? Semuanya enak”.
“Tipe makanan yang disajikan bukanlah makanan yang bisa disiapkan dalam waktu cepat. Beberapa makanan bahkan butuh waktu berhari-hari untuk membuatnya. Semua makanan ini harus dibuat dengan perhitungan waktu, butuh perjuangan dan persiapan yang matang tidak bisa main-main. Ada apa Sweety?”. Sun Long dan Sun An terlihat bingung.
“Hubby memang suami terbaik. Ada yang ingin aku sampaikan pada Suamiku Hubby dan Anak manisku Sun An”. Qian Qi terlihat ragu untuk mengucapkan isi hatinya.
__ADS_1
“Katakan saja Sweety”. Sun Long dan Sun An memperhatikan Qian Qi.
“Aku ingin mengabulkan permintaanmu Hubby. Permintaan yang dulu sempat terucap namun harus tertunda”.
“Permintaan? Permintaan apa Sweety?”. Sun Long kebingungan dibuatnya.
“Hubby sempat meminta sesuatu padaku. Permintaan Hubby adalah untuk membalaskan dendam kita berdua. Hubby ingin aku mengalahkan bajingan Sun Jian di turnamen kekaisaran”.
“Permintaan itu bahkan aku sudah melupakannya. Maaf Sweety saat itu aku hanya terbawa suasana. Aku lepas kendali, anggap saja aku tidak pernah memintanya”.
“Tidak bisa Hubby. Ini bukan tentangmu saja, ini tentang kita”.
“Tapi Sweety. Jika ini tentang kita. Bukankah lebih baik kita hidup damai bersama Sun An”.
“Ayah? Ibu?”.
“Kemarilah Nak”. Qian Qi meminta Sun An duduk di pangkuannya. Sun An pun menurut.
“Ibu dan Ayah sangat sayang dengan Sun An. Kita bisa hidup tenang di sini selamanya. Tapi… Dunia ini begitu luas. Ibu sudah berpikir selama bertahun-tahun tentang hal ini. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai sebuah keluarga”.
“Sweety…”.
“Ibu sudah menunggu cukup lama untuk Ayahmu mengatakannya. Tapi Sun An, Ayahmu terlalu sayang padamu. Bahkan ia rela mengorbankan tujuan hidupnya selama ini hanya untukmu. Perjuangan keluarga kita, sudah waktunya untuk Ibu mengingatkannya. Sun An sudah besar dan kuat sudah waktunya untuk Ayahmu terbang kembali”.
“Ibu…”.
“Kemarilah Hubby”. Sun Long mendekati Qian Qi.
“Plak…! Bangunlah Hubby”. Qian Qi tiba-tiba menampar Sun Long.
“Terima kasih Sweety”. Sun Long memeluk Qian Qi dan Sun An.
“Ayah, Ibu”.
“Selamat datang Hubby. Hubby tidak perlu memaksakan diri. Kami mencintaimu apa adanya”.
“Aku tidak memaksakan diri Sweety. Membangun keluarga denganmu merupakan hal yang indah. Bahkan terlalu indah”.
“Sun An. Keluarga kita masih memiliki dendam yang harus dibayar. Ibumu harus meninggalkan kita untuk sementara waktu. Ayah tidak bisa mengatakan dendamnya apa karena kamu masih terlalu kecil. Yang perlu kamu tahu adalah dendam merupakan sesuatu yang sangat buruk. Ayah bahkan tidak ingin kamu memahaminya”.
__ADS_1
“Sun An. Maafkan Ibu dan Ayah. Meski kita terpisah jauh namun hati Ibu dan Ayah akan selalu bersamamu”.
“Ayah…, Ibu…”. Sun An tidak mampu berkata-kata lagi ia hanya memeluk Ayah dan Ibunya dengan erat. Ia tidak memahami apa yang terjadi. Namun perubahan sikap Ayah dan Ibunya menggetarkan hatinya.