Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 97 - Hadiah Sun Long


__ADS_3

“Hhhaaa…”. Sun An bangun dari tidurnya. Ia tidak melihat Sun Long di sisinya. Tumben sekali ayahnya bangun duluan. Sun An yang penasaran segera keluar kamar dan mencari keberadaan Sun Long.


Aroma makanan tercium semerbak memenuhi seisi rumah. Menghipnotis Sun An untuk datang mencari sumber aromanya. Sun An terkejut melihat Sun Long yang sibuk memasak berbagai macam makanan.


“Ayah untuk apa semua makanan ini?”.


“Untuk dimakanlah memangnya untuk apa lagi?”.


“Bukankah ini terlalu banyak? Apa paman Dodo Fung akan datang?”.


“Tidak Paman Dodo Fung tidak akan datang”.


“Siapa yang akan menghabiskan seluruh makanan ini?”.


“Kita berdua”.


“Ayah…?”. Sun An bingung.


“Sudah kamu makan saja dulu. Ayah punya kejutan untukmu”.


“Benarkah?”. Sun An langsung bersemangat dan makan dengan lahap. Sambil menunggu Sun An makan, Sun Long memasukan makanan-makanan itu ke dalam toples.


“Sudah Ayah. Mana kejutannya?”.


“Kamu mandi dulu dan gunakan pakaian yang ayah siapkan”.


“Ayah…?”.


“Sudah lakukan saja”.


“Iya deh”. Sun An mengikuti permintaan Sun Long dengan rasa penasaran yang menghantuinya.


“Ayah…?”. Sun An sudah selesai mandi dan berpakaian rapih. Namun ia tidak melihat keberadaan Sun Long.


“Di sini Sun An”. Sun Long memanggilnya dari depan rumah. Sun An pun menghampirinya. Ia melihat Sun Long yang sedang mengirim beberapa surat dengan Gagak Iblis.


“Apa ada surat dari Ibu?”.


“Tidak ada Sun An. Surat dari Ibu akan datang setiap hari minggu”. Sun An tampak sedih.


“Mana hadiahnya?”.


“Itu”. Sun Long menunjuk ke arah depan pagar.


“Mana?”.


“Itu… Masa kamu tidak melihatnya?”.


“Lihat apa sih Ayah? Ayah lagi apa? kenapa semua jendela rumah ditutup?”.


“Itu hadiahmu Sun An. Ayah akan menunjukkan dunia kepadamu. Kita akan pergi bertualang”.


“Bertualang? Asik…!!! Terima Kasih Ayah”. Sun An memeluk Sun Long.


Semoga saja dengan bertualang Sun An tidak sedih lagi. Aku tidak kuasa melihat Sun An sedih dan murung setiap hari. Aku sudah meminta maaf dan memberitahu kepergian kami melalui surat. Semoga keadaan tetap baik-baik saja.


Sweety kami juga pergi…


“Sun An kamu cocok pakai baju ini. Merah dan lucu”.


“Cantik ayah... Aku sudah besar aku tidak lucu lagi. Aku cantik”.


“Iya deh…”.


“Tapi ayah kita akan bertualang kemana? Bukankah ayah masih memiliki kutukan?”. Sun An kembali sedih.


“Dunia ini sangat luas Sun An kekaisaran Sun hanya sebagian kecil. Kita akan bertualang ke kekaisaran sebelah. Jauh ke arah timur menuju Kekaisaran Jin”.


“Asik…! Tapi ayah kalau kita pergi jauh bagaimana dengan surat Ibu”.

__ADS_1


“Tenang saja Sun An. Ayah sudah memikirkannya. Ayah akan membuat jalur pengiriman surat baru dengan prajurit boneka, mengikuti jejak perjalanan kita”.


“Kalau begitu aku tidak khawatir lagi. Kapan kita berangkat Ayah?”.


“Sekarang juga”.


“Bagaimana dengan keluarga yang lain?”.


“Ayah sudah memberitahu mereka melalui surat tadi. Kamu tidak perlu khawatir Ayah sudah mempersiapkan semuanya”.


“Kita pergi dengan apa Ayah?”.


“Lihat ini. Ayah berhasil membuat cincin ruang baru dengan bahan langka. Cincin ini mampu menampung kapal tempur dengan ukuran menengah. Kita akan berangkat menggunakan Kapal Tempur Atlas”.


“Hebat sekali cincinnya ayah. Kalau bisa dibuat banyak persenjataan kita akan meningkat pesat”.


“Tidak bisa Sun An bahannya langka. Ini kamu yang pakai”. Sun Long memberi cincin ruang ke Sun An.


“Kenapa aku yang pakai Ayah?”.


“Demi keamananmu Sun An. Kamu yang akan menjadi kapten dan bertanggung jawab atas kapal tempur ini. Ayo keluarkan kita berangkat”.


“Haaa… haaa… haaa… Kapten Sun An di sini. Bersiaplah seluruh pasukan…! Kapten Sun An akan menaklukkan dunia. Haaa… haaa… haaa…”. Sun An mengeluarkan Kapal Tempur Atlas dari cincinnya. Sun Long dan Sun An segera menaikinya.


“Layar!!!”.


“Siap!”.


“Kemudi!!!”.


“Siap!”.


“Mesin”.


“Siap!”.


“Radar”.


“Siap!”.


“Siap!”.


“Senjata”.


“Siap!”.


“Pertahanan!”.


“Siap!”.


“Semua siap?”.


“Siap Kapten!!!”.


“Luncurkan!”. Kapal Tempur Atlas berangkat.


“Haaa… haaa… haaa…”.


“Hebat Kapten Sun An…!”. Sun Long menggendong Sun An dan menari-nari seperti yang ia lakukan kepada Qian Qi.


Sun Long senang melihat Sun An hafal dengan seluruh prosedur peluncuran tanpa diberitahu. Sepertinya Sun An selalu memperhatikan Sun Long dan Dodo Fung sebagai kapten kapal.


“Haaa… haaa… haaa… Kapten Sun An memang yang terhebat”. Sun An memuji dirinya sendiri.


“Prajurit berangkat menuju kekaisaran Jin“.


“Siap Kapten!”.


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


“Zzz… Zzz…”. Sun An tertidur sambil di gendong Sun Long.


Sepertinya Sun An terlalu bersemangat. Energinya langsung habis seketika. Untung saja dia senang dengan perjalanan ini. Aku harus terus menjaga senyumnya. Aku tidak ingin melihat tangisannya lagi.



Beberapa jam kemudian.


“Bajingan Sun Long…!!! Dia melakukannya lagi. Memutuskan sesuatu secara mendadak. Aku harus mengurus kota Goliat sendirian lagi. Bajingan…!!! Aku sudah terlalu tua untuk ini”. Pang Tong marah membaca surat dari Sun Long.



“Surat dari siapa  itu sayang?”. Bai Zhe mengantar teh untuk Dodo Fung.


“Dari Kakak”.


“Apa Kakak Sun Long dan Sun An baik-baik saja?”.


“Sepertinya baik-baik saja. Tapi mereka memutuskan untuk pergi bertualang”.


“Bertualang? Apa…? Coba aku mau lihat suratnya”. Dodo Fung memberikan Suratnya ke Bai Zhe.


“GAWAT…!!!”. Bai Zhe langsung berlari keluar.


“Bai Su…! Ratu Medusa…! Gawat…!!!”.


“Gawat kenapa Bai Zhe?”. Bai Su segera menghampiri Bai Zhe.


“Gawat kenapa Bu?”. Dodo Yang ikut penasaran.


“Ga… Gawat ke… kenapa Bai Zhe”. Dewi Medusa ikutan panik.


“Ratu Medusa. Harus kembali bersabar. Kakak Sun Long dan Sun An pergi bertualang”.


“APA…!!! Dasar Tuan Sun Long…!!! Apa dia tidak tahu aku sangat mencintainya. Rencana yang sudah ku susun gagal semua. Kesempatan yang dibuat Qian Qi jadi sia-sia”. Dewi Medusa tiba-tiba berubah ganas.



“BOOMMM…!!!”. Gedung walikota kota Vegas terbelah dua.


“Ada apa kak?”. Luo Meifen menghampiri Luo Meilin.


“Dimana musuhnya?”. Luo Zixin juga datang.


“Tuan Sun Long kembali berulah. Dia memutuskan sesuatu secara mendadak lagi”.


“Apa yang dilakukan Tuan Sun Long kali ini”.


“Dia… Dia pergi bertualang bersama Sun An. Padahal aku sudah mengosongkan jadwalku untuk merayunya. Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk minggu depan. Tapi dia pergi begitu saja. Kesempatan dari Qian Qi jadi sia-sia”.


“Sabar kak…”.


“Tuan Sun Long…! Aku sangat mencintaimu... Ngeee…”. Luo Meilin menangis di pelukan Luo Meifen.



“Hacih…!”. Sun Long tiba-tiba bersin.


“Eee… Ayah. Apa kita sudah sampai?”. Sun An bangun.


“Lihatlah Sun An. Laut yang luas itu”.


“Laut…?  LAUT…!!! Semuanya biru ayah seperti di buku”.


Sun An terlihat sangat bahagia. Ia baru pertama kali keluar dari Surga Hitam dan melihat laut. Ia berlari ke sana kemari memandangi laut.


“Ayah ayo kita turun. Aku ingin melihat laut dari dekat”.


“Kamu Kaptennya Sun An”.

__ADS_1


“Aku lupa… Haaa… haaa… haaa… Prajurit ayo kita taklukkan laut. Turunkan kapal sekarang juga”.


“Siap Kapten!”.


__ADS_2