Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 146 - Kaisar Sun Long


__ADS_3

Prajurit boneka dikerahkan untuk mengintai vila milik Gan Ning. Sementara itu Qian Qi pulang ke asrama untuk menenangkan diri.


Meski sudah berendam, Qian Qi belum bisa meredakan amarahnya. Qian Qi merasa sedikit bersalah karena menjahili para wanita itu.


Qian Qi tidak tahu konsekuensinya ketika para wanita itu tidak memberi batu qi. Andai saja ia tidak menjahili para wanita itu.


Mungkin tidak akan ada yang dihukum dan dibawa masuk ke vila. Mereka bisa menukar point dengan batu qi untuk selamat dari para pria itu.


"Meow... Meow...". Qilin mencoba menenangkan Qian Qi.


Melihat wajah imut Qilin hati Qian Qi sedikit tenang. Memang di perguruan Pedang Bulan terdapat sisi tidak baik dan menjijikan. Tapi di sisi lain, perguruan Pedang Bulan juga memiliki hal indah.


Qian Qi jadi teringat akan kata-kata Ibu Liu Shu.


"Segala sesuatu memiliki dua sisi. Sisi baik dan buruk. Seburuk-buruknya orang pasti memiliki sisi baik dan sebaliknya sebaik-baiknya orang pasti memiliki sisi buruk".


Sisi buruk... Sepertinya aku akan menggunakan sisi buruk ku. Qian Qi kembali melihat dirinya di cermin.


Hubby andai kamu ada di sini. Hubby... Apa kamu bisa menerima sisi buruk ku?. Aku akan membunuh seseorang untuk pertama kalinya.


Lagi pula dengan dendam yang kita bagi bersama. Aku pasti akan membunuh lebih banyak orang lagi.


Dendam kita begitu gelap dan kelam. Pasti ada saat dimana kita harus membunuh orang. Hanya saja aku tidak menyangka waktunya akan secepat ini.


Mereka semua masih muda Hubby... Mereka seumuran dengan ku. Bagaimana bisa mereka berprilaku sekejam itu?.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang. Kenapa mereka bisa tersenyum di atas penderitaan orang lain?.


Aku tidak akan pernah mengerti dengan perasaan itu. Aku tidak ingin bahagia jika orang lain terluka.


Sun An... Maafkan Ibu karena telah membawamu ke dunia yang kejam ini. Tapi Ibu tidak menyesal. Kamu adalah anugrah terindah untuk ku dan Hubby.


Jika dunia ini terlalu kejam untuk Sun An. Aku akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuknya.


Hubby..., Sun An. Kalian sedang apa? Aku menyaingi kalian berdua. Qian Qi beranjak dari bak mandi dan bersiap-siap untuk tidur.


Membunuh... Pembunuh... Qian Qi memejamkan mata mencoba untuk tidur.


Tunggu dulu...


Ini bukan pertama kalinya aku membunuh seseorang. Aku pernah membunuh seseorang. Bagaimana bisa aku melupakannya.


Ya... Aku ingat. Aku membunuh ketua bandit waktu itu. Aku membelahnya menjadi dua dengan tombakku.


Bagaimana bisa aku melupakannya? Bagaimana bisa aku tidak merasa bersalah? Mungkin karena dia memang pantas untuk mati.


Aku tidak mengganggap ketua bandit itu sebagai manusia. Orang sepertinya adalah monster. Mereka bukan manusia.

__ADS_1


Mereka pantas mati...


Mereka pantas dilupakan...


Mereka adalah monster...


Meski begitu aku tidak boleh gegabah. Tujuanku adalah mengalahkan Sun Jian. Jika aku membantai komplotan Gan Ning sekarang, aku takut hal itu akan menimbulkan masalah baru.


Baiklah lebih baik aku sudahi dulu. Aku harus bangun pagi untuk bertemu dengan Master Zhang Liao. Lebih baik, Aku buat rencana setelah berkonsultasi dengan Master Zhang Liao.


...


"Ibu... Ibu dimana?".


Uhuk... Sun Long. Ibu tidak bisa menemanimu selamanya. Kamu harus kuat. Liu Shu bersembunyi di balik batu.


"Ibu... Ngeee... ngeee...". Sun Long berjalan sambil menangis.


"Tolong... Tolong...". Terdengar suara lirih dari kejauhan, seorang pria meminta tolong.


"Ibu...!?". Sun Long terhenti mencari asal suara tersebut.


Jangan Sun Long... Jangan terpancing. Itu berbahaya.


"Tolong... Tolong...".


Dasar Sun Long. Liu Shu terpaksa bergerak mengikuti.


"Ibu...?".


"To... tolong nak. Kemarilah". Seorang prajurit merintih memanggil Sun Long.


"Sun Long terdiam takut melihat keadaan prajurit tersebut".


Prajurit itu menggunakan zirah lengkap. Sepertinya belum lama ini ia dikirim ke Surga Hitam.


Seekor Harimau Taring Silver terbaring kaku di sebelahnya. Perut Harimau itu robek dengan isi perut yang sudah keluar.


Prajurit itu berhasil mengalahkan Harimau Taring Silver. Namun sayangnya, ia terluka cukup parah. Tubuhnya terkoyak dengan dua lubang besar yang tembus di perutnya.


Kedua tangannya sudah hilang entah kemana. Sedangkan kakinya tinggal satu tergantung hampir putus.


"Nak... Jangan takut kemarilah. Aku butuh bantuan". Pinta prajurit itu lirih.


Melihat keadaan prajurit itu Sun Long merasa kasihan. Ia berjalan mendekat berlahan-lahan sedikit waspada dan bersiap untuk kabur. Sementara itu dari balik batu Liu Shu mempersiapkan senjatanya. Berjaga-jaga jika hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Apa yang bisa aku bantu Paman?".

__ADS_1


"Ambillah pedang itu". Prajurit itu melirik pedang patah di sebelah perut Harimau Taring Silver.


Sun Long yang ragu memutuskan untuk mengambil pedangnya. Lagi pula jika ia mengambil pedang itu ia mempunya senjata untuk mempertahankan diri.


"Iiihhh...". Sun Long merasa jijik ketika hendak memegang gagang pedang itu. Terdapat beberapa gigi yang masih menancap di sana. Bahkan masih tersisa gusi dan darah segar yang mengalir.


"Tap...". Dengan berat hati Sun Long tetap mengambil pedang itu.


"Su... Sudah Paman. Ini pedangnya".


"Tolonglah Nak. Tusuk jantungku dengan pedang itu. Aku sudah tidak kuat lagi".


"Apa...!?". Sun Long kaget, menjatuhkan pedangnya.


"Tolonglah Nak. Aku tahu, aku tidak akan selamat. Uhuk... Setidaknya aku ingin mati tanpa menderita. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini". Sun Long hanya bisa terdiam takut menatap ke arah prajurit tersebut.


"Tolonglah Nak. Kabulkan permintaan terakhir ku. Uhuk...". Prajurit itu batuk berdarah seraya air mata mengalir dari matanya yang terlihat putus asa.


Melihat tetesan air mata, Sun Long tidak bisa tinggal diam. Hatinya tergerak untuk mengabulkan permintaan terakhir prajurit itu.


Sun Long membulatkan tekat, ia mengambil kembali pedang patah yang terjatuh ke tanah. Dengan ragu-ragu Ia mendekati prajurit itu.


"Terima Kasih Nak. Tusuklah jantungku dengan tegas, tanpa rasa ragu". Prajurit itu tersenyum menatap Sun Long.


Sun Long bergetar hebat ketakutan. Ia berusaha mengarahkan pedang patah itu ke arah jantung prajurit.


"Tidak bisa Paman. Aku tidak pernah melukai seseorang sebelumnya". Sun Long menangis.


"Uhuk... Siapa bilang kamu melukai? Kamu tidak akan melukai siapa pun. Dengan pedang itu, kamu bisa menyelamatkan ku dari penderitaan ini. Kamu adalah seorang penyelamat. Uhuk... Kamu adalah seorang pahlawan di mata ku".


"Pahlawan...?".


"Siapa namamu nak?".


"Namaku Sun Long".


"Sun Long... Namaku Zhao Yun. Terima Kasih Nak. Kelak... Kamu akan jadi Kaisar yang hebat".


"Kaisar...?".


"Sekarang... Tolong selamatkan aku Kaisar Sun Long". Zhao Yun tersenyum menatap Sun Long.


"Baiklah". Sun Long kembali mengarahkan pedang patah itu ke jantung Zhao Yun.


"Sleb...". Tanpa ragu sedikit pun. Sun Long mengantarkan Zhao Yun ke surga terindah.


"Terima kasih Kaisar Sun Long". Zhao Yun menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2