
"Ketua. Tolong serang aku dengan teknik pedang dan teknik cahaya tingkat dasar. Teknik Pagoda Tingkat 1 saja".
"Tingkat 1 ya? Aku yakin kamu bisa menghadapinya. Jadi tidak bahaya. Baiklah, apa kamu sudah siap?.
"Siap Ketua".
"Pisau Cahaya". Fu Lan mengeluarkan pisau cahaya kecil dan mengangkat tangannya hendak menebas Qian Qi.
"Letusan Petir. Zzzttt...".
"Crack...!". Pisau Fu Lan pecah menjadi abu.
"Serangan apa itu Qian Qi. Aku baru pertama kali melihat teknik itu. Bahkan Ayahmu saja tidak bisa melakukannya".
"Namanya teknik Letusan Petir. Evolusi dari teknik Sengatan Petir teknik ranah Pagoda Tingkat 1".
"Evolusi teknik? Apa itu Qian Qi?".
"Sebelum itu, apa Ketua tahu kenapa tingkatan ranah disebut Pagoda?".
"Benar juga. Aku sudah membaca banyak buku. Tapi aku tidak pernah kepikiran kenapa namanya Pagoda. Aku kira kiasan saja".
"Pagoda bukan kiasan semata. Karena tingkatan kultivasi seseorang memang berbentuk seperti Pagoda. Bedanya tidak meningkat melainkan mengalir. Mengalir dari titik satu ke titik lainnya di aliran dantian kita".
"Kalau pondasi pertama Pagodanya tidak kuat maka lantai di atasnya akan mudah runtuh. Para ahli kultivasi jarang melatih teknik-teknik sebelumnya. Hingga pondasinya cacat dan aneh".
"Seperti pagoda hanya saja. Lantai satu kecil, lantai dua besar, lantai tiga kecil lagi dan seterusnya tidak seimbang. Karena Pagodanya tidak seimbang maka batas maksimalnya hanya sampai Tingkat 7. Jika dibuat ke Tingkat 8 akan gagal terus menerus".
"Masuk akal. Tapi bagaimana cara memperbaikinya".
"Sebelum itu coba Ketua rasakan sendiri aliran dantiannya. Coba alirkan energi qi ke seluruh tubuh sekuat tenaga. Terus tekan satu persatu titik dantian Ketua".
"Hia...". Fu Lan mengikuti instruksi Qian Qi.
Apa ini kenapa aliran dantian pertamaku kecil sekali. Yang ke dua malah semakin kecil, yang ketiga cukup besar, yang ke empat kecil lagi.
"Benar katamu Qian Qi. Dantianku tidak seimbang. Kalau begitu bagaimana cara memperbaikinya?".
"Untuk sekarang tidak ada cara untuk memperbaikinya. Satu-satunya cara menghancurkan semuanya dan bangun lagi dari awal".
"Ba... Bangun lagi dari awal? Aku sudah terlalu tua untuk itu".
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir Ketua. Untuk membangun Pagoda lagi tidak terlalu sulit. Dalam beberapa tahun kondisinya akan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi kalau berkultivasi terus di ruangan ini pasti Ketua bisa naik ke ranah Pagoda Tingkat 8 Tahap Awal dalam waktu beberapa bulan saja. Syukurlah ruangan ini memiliki intensitas energi qi yang tinggi".
"Apa kamu pernah melakukannya? menghancurkan Pagodamu sendiri".
"Pernah Ketua. Tapi ranahku saat itu masih Pagoda tingkat 4 Tahap Awal. Aku butuh waktu lima tahun untuk sampai seperti sekarang. Tentu saja tanpa ruangan sebagus ini".
"Tapi bagaimana jika kekuatanku tidak kembali?".
"Harus kembali, jika Ketua ingin melindungi orang tersayang. Ranah Pagoda Tingkat 7 tidaklah cukup. Ketua harus lebih kuat lagi. Jangan memikirkan apa yang ketua inginkan, melainkan untuk apa ketua menginginkannya".
"Kamu benar Qian Qi. Aku harus menjadi lebih kuat, untuk melindungi perguruan Pedang Bulan dan keluarga ku sekte Fu".
"Suamiku pernah bilang. Kebahagiaan hanya untuk orang-orang yang berani".
"Baiklah aku akan menghancurkan Pagodaku dan membangunnya lagi dari awal".
"Aku akan menemani Ketua sampai aku naik ke ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal".
"Terima kasih Qian Qi".
Fu Lan menghancurkan Pagodanya. Tangannya bergetar karena ia merasa takut. Usahanya selama ini seakan sia-sia.
Tapi dengan lembut Qian Qi memberi semangat untuknya. Beberapa hari berlalu Qian Qi sudah naik ranah menjadi ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal.
Qian Qi tidak bisa menemani Fu Lan lama-lama. Ia harus kembali ke perguruan Pedang Bulan.
Qian Qi masih harus mengumpulkan point untuk mengikuti ujian peringkat. Tapi sebelum pergi Qian Qi harus memberi tahu hal penting kepada Fu Lan.
"Ketua, aku harus kembali ke perguruan Pedang Bulan. Tapi sebelum itu Ketua harus tahu kalau naik Tingkat dari Pagoda Tingkat 7 ke 8 cukup berbeda".
"Aku tahu itu berbeda. Tapi aku belun tahu bagaimana mengatasinya".
"Ketua harus mencari tahu kekuatan unik yang Ketua miliki. Saat naik ke ranah Pagoda Tingkat 8 Ketua akan mempunyai kekuatan khusus yang tidak akan bisa dipelajari dan dimiliki oleh orang lain. Contohnya Mata Api Putih milik Master Pang Tong".
"Kekuatan unik?".
"Kalau masalah itu aku tidak bisa membantu. Ketua harus cari tahu sendiri".
"Baiklah Qian Qi. Terima kasih".
Qian Qi pun berpamitan dan meminta identitasnya dirahasiakan. Qian Qi kembali ke Perguruan Pedang Bulan.
__ADS_1
Baru saja keluar gerbang, Qian Qi segera di sambut oleh Yu Na, Zhen Ji, Cai Wenji, Mei Mei, Guan Ping dan Kai Yu.
Mereka semua khawatir. Pasalnya Qian Qi tidak keluar-keluar, padahal ia sudah sampai di lantai 90 ke atas.
Bahkan semuanya jadi tidak masuk akal. Bagaimana bisa Qian Qi dan Mei Mei yang memiliki ranah Pagoda Tingkat 3 Tahap Menengah bisa sampai di lantai atas.
Ternyata Mei Mei yang kesal karena diteror oleh pertanyaan, sudah mengaku bahwa dirinya berada di ranah Pagoda Tingkat 6 Tahap Akhir dan sekarang naik ke ranah Pagoda Tingkat 7 Tahap Awal. Hampir setara dengan Zhen Ji dan Cai Wenji.
Nasi sudah terlanjur jadi bubur. Qian Qi yang kesal terpaksa mengaku kalau ranahnya sama dengan Mei Mei. Ia bisa bertahan lebih lama juga karena ia membawa perbekalan.
"Qian Qi. sejauh mana kamu naik". Cai Wenji penasaran.
"Sampai lantai tertinggi".
"Kalau begitu apa kamu bertemu dengan ketua?".
"Iya Tetua Zhen Ji. Aku bertemu dengan Ketua Fu Lan".
"Wah kamu sangat hebat Qian Qi. Bagaimana keadaan Ketua".
"Awalnya cukup memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering karena belum makan selama bertahun-tahun. Tapi setelah aku memberi perbekalanku, Ketua sudah jauh lebih baik".
"Qian Qi...".
"Sudah-sudah. Cucu ku baru saja keluar dari menara Surgawi. Biarkan dia istirahat dulu. Ayo Qian Qi kita pulang". Yu Na memotong pembicaraan.
"Maafkan kami Tetua Yu Na. Kami kelewatan".
"Ya... Ayo Qian Qi, Mei Mei". Yu Na, Qian Qi dan Mei Mei pulang.
"Bagaimana dengan kalian? Ternyata Qian Qi dan Mei Mei sudah jauh berada di atas kalian". Zhen Ji memanas-manasi Guan Ping dan Kai Yu.
"Aku tidak akan kalah". Guan Ping pulang ke divisi Blacksmith Bulan untuk bersiap-siap. Tekatnya sudah bulat ia akan masuk ke menara Surgawi dan mengalahkan Qian Qi.
"Tetua. Aku pinjam beberapa tanaman langka. Aku akan membayarnya nanti". Kai Yu tidak mau kalah.
"Ya... Ambil saja sesukamu". Kai Yu pergi.
"Hiii... hiii... Semakin lama semakin seru". Zhen Ji tertawa licik.
"Bukan saatnya tertawa Zhen Ji. Kita juga kalah oleh Qian Qi dan Mei Mei". Ternyata Cai Wenji ikutan kesal.
__ADS_1
"Benar juga. Kalau begitu, selanjutnya aku tidak akan kalah". Zhen Ji dan Cai Wenji pergi.