
Sun Fangxin hanya terdiam terlalu banyak kata-kata yang ingin diucapkan. Penyesalan demi penyesalan mulai bermunculan. Ketakutan menghantui dirinya.
Aku tidak pantas berada di sini. Adik macam apa yang meninggalkan kakaknya. Kakak yang selalu membantu dan ada untukku. Tapi saat kakak membutuhkanku, aku malah menghilang. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Kakak maafkan aku. Sun Fangxin memegang batu nisan Liu Shu.
Seakan bisa mendengar isi hati Sun Fangxin, untuk ketiga kalinya angin mulai berhembus lembut dari pohon Sakura. Namun ada yang berbeda, kali ini setetes getah bergerak berlahan-lahan dari pohon Sakura menuju Sun Fangxin. Terlihat seperti setetes madu yang melayang-layang. Sun Fangxin hanya bisa pasrah menangis.
Semakin dekat dengan Sun Fangxin. Getah itu melayang dan mendarat di kalung batu Giok Jiwa yang berisikan jiwa Qian Tao.
Getah itu menyala terang dan terserap ke dalam kalung batu Giok Jiwa. Tiba-tiba saja hembusan angin keluar dari batu Giok Jiwa dan sebuah sosok mulai menampakkan diri ikut bersipu di sebelah Sun Fangxin.
“Kakak maafkan aku dan Shen Yue karena tidak bisa melindungimu”.
“A… Ayah…!!!”. Qian Qi kaget melihat sesosok arwah yang semakin lama semakin jelas berbentuk wujud Qian Tao.
“Kemarilah nak ayah rindu padamu”. Qian Qi pun berdiri menghampiri Qian Tao. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Namun sayang. Qian Qi tidak bisa memeluk tubuh ayahnya. Tangan Qian Qi menembus begitu saja.
Dengan lembut Qian Tao menyentuh kepala Qian Qi. Walau arwahnya tidak nampak tapi perasaan itu dapat tersalurkan.
“Sun Fangxin…”. Sun Fangxin terdiam menangis menutupi wajahnya. Qian Tao melayang mendekatinya.
“Maafkan aku Sun Fangxin… Aku telah banyak menyusahkanmu dan menyakitimu”. Sun Fangxin tidak menanggapi.
“Kamu tidak pernah berubah. Selalu memendam lukamu sendiri. Terima kasih banyak Sun Fangxin karena telah menyelamatkan Qian Qi”. Qia Tao bersujud.
“Jangan kegeeran itu semua bukan karenamu. Qian Qi sudah ku anggap anak sendiri tentu saja aku akan berusaha melindunginya”.
“Kalau begitu aku berterimakasih karena setiap hari kamu menyempatkan waktu untuk menemani, bercerita dan merawat jiwaku”.
“Ja… Ja… Jangan ke… kegeeran dulu. I… Itu demi Qian Qi. Dasar…! Kalau kamu sudah sadar kenapa tidak segera bangun. Menyusahkan saja”. Wajah Sun Fangxin merah merona. Tanpa sadar jari-jari manisnya memainkan cincin pemberian Qian Tao.
“Meski sudah sadar tapi tubuhku belum bisa digerakkan”.
__ADS_1
Bibi… Qian Qi terkejut mendengarnya. Ia menatap Sun Fangxin dengan curiga.
“Jangan melihatku seperti itu Qian Qi. Mungkin ayahmu hanya mengigau saja. Aku kan sibuk tidak sempat untuk mengurusinya”.
“Iya deh Bi…” Qian Qi tersenyum meledek.
“Sun Long, Dodo Fung kalian sudah besar… Cepat sekali tumbuhnya”.
“Paman…!”. Dodo Fung tersenyum gembira.
“Akhirnya Paman bangun juga. Kami akan menyiapkan tubuh paman secepat mungkin”.
“Terima kasih Sun Long, Dodo Fung kalian berdua telah menyelamatkan Paman dan Qian Qi. Paman berhutang budi pada kalian berdua. Paman bisa bangun berkat getah dari pohon Sakura. Bisa dibilang Kakak Liu Shu yang telah membangunkan Paman”.
“Kakak Liu Shu. Terima kasih karena Kakak selalu ada untuk membantu kami. Tolong maafkan Adik-adikmu yang kurang ajar ini. Kami tidak pernah ada di saat Kakak sangat membutuhkan kami”. Qian Tao bersujud ke makam Liu Shu.
“Maafkan kami kak”. Sun Fangxin ikut bersujud meminta maaf.
Angin berhembus kembali dari arah pohon Sakura seakan-akan Liu Shu sudah memaafkan mereka.
“Waktunya sudah habis kak”.
“Kita harus segera kembali. Burung Phoenix akan kembali bermeditasi. Air terjun Lahar akan kembali mengalir. Ayo kita berpamitan”. Mereka semua berbaris dan bersujud tiga kali ke arah makam Liu Shu. Air mata mulai mengalir waktu yang terhenti harus berjalan kembali.
Kapal tempur Atlas terbang kembali menuju kota Vegas. Mereka hanya diberi waktu satu jam saja di dalam sana. Waktu yang terlalu singkat untuk melepas rindu.
“Sudahlah Sun Fangxin. Jangan menyalahkan dirimu sendiri”. Qian Tao menghibur Sun Fangxin yang sedari tadi diam menangis.
“Lihatlah ke belakang Sun Fangxin. Masih ada generasi berikutnya yang harus kita bimbing. Jika kita ingin membalas budi kepada Kakak. Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mereka berempat”.
“Kamu benar Qian Tao”. Sun Fangxin melepas kalung batu Giok Jiwa.
__ADS_1
“Ini Qian Qi. Aku kembalikan Ayahmu”.
“Tidak Bi. Bibi saja yang menggunakannya”.
“Bicara apa kamu? Ayahmu tidak akan bisa pergi jauh dari kalung ini. Kalau kamu tidak membawanya, kamu tidak akan bisa bertemu dengan ayahmu”.
“Aku memang rindu dengan Ayah. Tapi kita cukup bertemu beberapa saat saja. Sekarang aku milik Hubby bukan milik Ayah lagi”.
“Qian Qi. Kamu sudah tumbuh menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Ayah bangga padamu”.
“Aku akan pulang bersama Hubby, Kakak Dodo Fung akan pergi mengudara bersama Dewi Ular Medusa. Sedangkan Bibi dan Ayah, kalian berdua bisa bersama sekarang”.
“Huss…! Bicara apa kamu Qian Qi”.
“Maafkan aku Sun Fangxin”. Qian Tao menunduk meminta maaf. Sun Fangxin hanya diam tidak menanggapi.
“Aku pikir ini sudah saatnya ayah menebus kesalahannya. Aku yakin ibu juga akan setuju”.
“Aku tidak ingin mengkhianati Kakak Shen Yue. Meski pun kakak telah tiada tapi Qian Tao tetaplah miliknya”. Qian Tao hanya terdiam kebingungan memandangi cincin yang pernah dia berikan.
“Ayah memang milik ibu. Tapi bukan berarti Bibi juga tidak bisa memiliki Ayah. Kalian bisa memiliki ayah secara bersamaan”.
“Apa maksudmu Qian Qi. Apa kamu rela kalau Sun Long dibagi-bagi. Lagi pula Ayahmu hanya mencintai Ibumu. Qian Tao cepat bantu aku, anakmu sudah mulai gila”. Qian Tao hanya diam saja.
“Awalnya aku tidak rela kalau Hubby dibagi-bagi. Bahkan aku sampai melakukan hal buruk kepada Kakak Luo Meilin. Tapi setelah berbicara dengan Bibi. Melihat bekas luka di perut Bibi. Aku tidak sanggup berkata tidak. Mungkin jika Kakak Luo Meilin masih ingin menjadi istri ke dua Hubby aku akan mengizinkannya”.
“Kamu hanya merasa iba Qian Qi. Bibi tidak perlu dikasihani. Cinta karena kasihan merupakan cinta yang paling menyakitkan”. Sun Fangxin menyindir Qian Tao. Qian Tao yang sadar segera menunduk. Ia sangat paham akan kesalahannya di masa lalu.
“Tidak Bi, bukan karena kasihan. Tapi karena perjuangan Bibi. Melihat perjuangan Bibi manusia mana yang tidak akan jatuh cinta. Waktu pertama kali aku tahu kalau Hubby makan Cacing Pita hanya untukku di saat itu pula aku mulai jatuh cinta kepadanya. Tidak ada orang yang pernah melakukan hal senekat itu untukku. Perjuangan Hubby membuat aku jatuh cinta kepadanya”.
“Perjuangan Bibi jauh lebih besar dan lebih mulia dibandingkan perjuanganku. Tentu saja Ayah menyesal dan mulai jatuh cinta kepada Bibi”.
__ADS_1
“Tidak Qian Qi. Ibumu jauh lebih mulia dan lebih sempurna dibandingkan Bibi. Lagi pula tidak mungkin ayahmu mencintai Bibi. Benarkan Qian Tao”. Qian Tao hanya terdiam membisu.
“Ayah jujurlah… Kebohongan ayah hanya akan berdampak buruk. Apa ayah mau mengulangi kesalahan yang sama?”.