Balas Dendam Keluarga Baru

Balas Dendam Keluarga Baru
Bab 111 - Pil Pemecah Es


__ADS_3

Qian Qi menotok tubuh Mei Mei membuatnya ambruk terkulai lemas.


“Aduh Nyonya…! apa yang Nyonya lakukan?”. Mei Mei kesakitan, ia mencoba merangkak kabur.


“Jangan kabur Mei Mei. Hiii… hiii… hiii…”.


“Jangan Nyonya”.


“Aaahhh…”. Qian Qi terus menotok Mei Mei tanpa ampun.


“Tahan sebentar Mei Mei. Hiii… hiii… hiii…”.


“Aaahhh…”.


                             “Aaahhh…”.


“Aaahhh… Ampun Nyonya”.


“Cucu Tetua Yu Na sangat mengerikan”.


“Aku kira sifatnya akan lebih anggun ternyata sama saja”. Para murid kembali berbisik.


“Ehem…”.


“Maaf Tetua”.


“Coba berdiri Mei Mei”. Mei Mei mencoba berdiri.


“Bruk…! Tubuhku masih lemas Nyonya”.


“Luruskan badanmu, biar aliran darahnya lancar”. Mei Mei meluruskan badannya.


Qian Qi terlihat sama seperti Sun Long. Keras kepala, melakukan sesuatu semaunya. Sepertinya mereka berdua memang pasangan serasi. Syukurlah Sun Long menemukan belahan jiwanya. Yu Na tersenyum sambil meminum tehnya.


Beberapa menit kemudian.


“Qian Qi”.


“Iya Dewi?”.


“Kamu mau ikut turnamen peringkat?”.


“Iya Dewi. Aku dan Mei Mei akan mengikutinya”.


“Apa kamu sudah tahu cara mendapatkan kartu peserta?”.


“Kartu peserta? Apa itu Dewi?”.


“Sepertinya mereka belum memberi tahumu. Untuk ikut turnamen peringkat kamu harus mendapatkan kartu peserta. Kamu harus mengumpulkan nilai sampai 1000 Point kemudian mendaftar”.


“Point bisa di dapat dari misi yang ada di gedung pusat divisi masing-masing. Atau kamu juga bisa dapat kartu peserta jika Tetua divisi memilihmu sebagai wakilnya. Setiap Tetua boleh menunjuk satu wakil”.


“Terima kasih Dewi atas informasinya. Aku akan mengumpulkan Point mulai besok”.


__ADS_1


“Apa ada informasi baru?”. Kai Yu datang menghampiri Guan Ping.


“Ya ada… Kita tidak perlu khawatir lagi. Qian Qi adalah cucu Tetua Yu Na”.


“Pantas saja. Semuanya jadi jelas”.


“Ada informasi lagi. Qian Qi akan ikut turnamen peringkat”.


“Turnamen tahun ini akan menyenangkan. Aku jadi tidak sabar”.


“Informasi sudah di dapat. Kamu tidak perlu memantau Qian Qi lagi”. Guan Ping mengusir Kai Yu


“Brukkk…! Sudah pergi sana gantian…!”. Bukannya pergi, Kai Yu malah menendang Guan Ping.



“BERHASIL…!!!”. Lian Shi berteriak dari dalam ruang alkemis.


“Ada apa kak?”. Lian Pu mendobrak masuk.


“Lihat ini Lian Pu… Kakak berhasil membuat Pil Pemecah Es”.


“APA…? Kakak hebat. Selamat kak…”.


“Ini semua berkat Pria kemarin dan Anaknya. Mereka pasti Master Alkemis”.


“Jangan lupa, ini juga berkat kerja keras kakak”.


“Kita harus merahasiakan Pil ini”. Lian Shi memasukan pilnya ke dalam kotak.


“Sebaiknya kita bergegas menuju istana kekaisaran dan menyembuhkan Tuan Putri”.


“Baik kak. Ayo kita berangkat”. Lian Shi dan Lian Pu pergi.


Sesampainya di istana kekaisaran Jin. Lian Shi dan Lian Pu pergi ke ruangan Jenderal Xin Sheng.


“Tok… tok… tok…”.


“Masuk”. Lian Shi dan Lian Pu masuk ke dalam ruangan Jenderal Xin Sheng


“Jendral Xin Sheng”. Lian Shi dan Lian Pu memberi hormat.


“Ada apa Lian Shi?”.


“Jenderal, tolong gunakan formasi Kedap Suara terlebih dahulu. Ada informasi penting yang harus aku sampaikan”.


“Hhhmmm… Baiklah”. Jenderal Xin Sheng memasang formasi.


“Jadi ada apa? Kenapa kalian datang sore-sore begini”.


“Jenderal aku berhasil membuat Pil Pemecah Es”. Lian Shi berbisik.


“APA…? Kamu tidak perlu berbisik. Kita sudah di dalam formasi Kedap Suara. Coba katakan sekali lagi”.


“Aku berhasil membuat Pil Pemecah Es”.

__ADS_1


“Pil Pemecah Es? Xaaa… xaaa… xaaa… Sudahku duga, kamu adalah Alkemis berbakat. Coba tunjukkan kepadaku pilnya”.


“Ini Tuan”. Lian Shi menunjukan Pilnya.


“Tunggu beberapa jam lagi hingga malam hari. Para keparat itu masih ada di sekeliling Tuan Putri. Kalian tunggulah di sini. Aku akan memantau keadaan. Ketika sudah sepi aku akan kembali”.


“Baik Jenderal”.


Lian Shi dan Lian Pu menunggu di ruangan Jenderal Xin Sheng. Detik demi detik terasa begitu panjang. Mereka terkejut bersembunyi, setiap kali mendengar langkah kaki lewat di depan pintu.


Suasana begitu mencekam. Mereka tidak tahu siapa saja orang yang berkhianat di antara para petinggi. Rasa ketakutan menghantui Lian Shi dan Lian Pu. Seakan-akan tembok di sekeliling mereka berisikan para pengintai. Lukisan-lukisan yang indah terasa menyeramkan seakan ada sepasang mata yang memantau. Mereka ada di markas pusat musuh tanpa perlindungan sama sekali.


“Ceklek…”.  Setelah beberapa jam pintu ruangan Jenderal Xin Sheng terbuka.


“Lian Shin, Lian Pu”. Ternyata itu adalah Jenderal Xin Sheng.


“Kami di sini Jenderal”. Lian Shi dan Lian Pu keluar dari bawah meja.


“Kenapa kalian bergetar seperti itu. Bahkan baju kalian basah”.


“Kami takut Tuan”.


“Maafkan aku, seharusnya aku menunggu bersama kalian. Sudahlah yang penting ayo kita berikan Pil itu kepada Tuan Putri. Ruangannya sudah sepi”.


“Baik Tuan”. Lian Shi, Lian Pu dan Jenderal Xin Sheng pergi ke kamar Tuan Putri.


Sesampainya di sana hanya ada Tuan Putri dan seorang pelayan yang mengawasi. Terlihat Tuan Putri terbaring lemah. Tubuhnya membeku akibat kultivasi esnya sendiri yang hilang kendali.


Putri itu terlihat anggun dalam tidurnya. Seperti seorang Dewi yang tertidur di dalam lapisan es. Lapisan es itu terus tumbuh membesar setiap harinya. Mengurung tubuh cantiknya yang putih dan suci.


Tuan Putri membutuhkan Pil Pemecah Es. Pil Pemecah Es merupakan wabah naga yang sudah dijinakkan. Dengan panas dari wabah naga, lapisan es itu akan pecah. Kemudian tubuh Tuan Putri akan kembali normal.


“Pelayan mohon tunggu di luar sebentar”.


“Baik Jenderal”. Pelayan itu keluar.


“Tubuh Tuan Putri dilapisi es. Bagaimana cara kita memberikan pilnya?”.


“Aku akan melarutkan Pil Pemecah Es dengan air. Kemudian menyiramkannya berlahan-lahan”.


Lian Shi mengeluarkan gelas baja khusus. Ia menuangkan air dan memasukan Pil Pemecah Es ke dalamnya. Tidak lama kemudian Pil Pemecah Es melebur ke dalam air membuat airnya mendidih panas.


Lian Shi segera menuangkan cairan pilnya sedikit demi sedikit ke tubuh Tuan Putri. Tanpa diduga cairan pil itu terus memanas di dalam gelas baja. Sangking panasnya cairan pil itu gelas baja juga ikut memanas membakar tangan Lian Shi.


“Aaarrrkkk…”. Lian Shi kesakitan. Meski begitu tekatnya masih kuat. Ia tidak goyah meski tangannya mulai hangus terbakar.


“Kakak…”.


“Lian Shi…”.


“Aku tidak apa-apa. Ini semua demi Tuan Putri. Aaarrrkkk…”. Gelas baja itu semakin panas tiap detiknya.


Lian Shi memegang gelas baja panas selama tiga menit. Tiga menit terlama dalam hidupnya. Setelah selesai menuangkan semua cairan pilnya Lian Shi terjatuh terkulai lemas. Lian Shi berusaha melepas gelas baja itu dari tangannya. Namun kulit tangannya sudah melepuh menempel dengan gelas baja.


“Aaarrrkkk…”. Lian Shi berteriak kesakitan.

__ADS_1


“Lian Shi. Minum pil ini”. Jenderal Xin Sheng memberi Pil Pemulih Raga kepada Lian Shi. Untung saja Pil Pemulih raga itu bekerja cepat. Gelas baja itu terlepas dan Lian Shi kembali normal.


__ADS_2