
“Menikahiku? Itu tidak mungkin. Kalian pasti salah. Bagaimana bisa mereka menyukai ibu-ibu sepertiku. Bukan maksudku, aku sudah menikah dan punya anak. Hal itu mustahil”.
“Kami memiliki detail percakapan mereka. Apa Nyonya mau melihatnya”.
“Tidak. Untuk apa aku mengetahui obrolan mereka”.
“Kalau begitu kami undur diri Nyonya”. Prajurit boneka kembali bersembunyi.
Apa maksudnya mereka ingin menikahiku? Maaf Hubby, meski hanya sesaat aku merasa senang. Aku tidak berniat menduakanmu. Maafkan aku, aku kurang menutup diri padahal Hubby sudah memberi peringatan
Tapi… Hubby juga banyak yang suka dan mendekati. Anggap saja ini balasan dariku. Tidak boleh Qian Qi itu hanya pembenaran. Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Meski Hubby banyak yang suka ia tetap menjaga pandangan. Aku harus membalas kesetiaannya.
Hubby masih tetap setia kepadaku. Padahal ia bisa menikahi dua wanita yang sangat cantik. Mungkin aku sudah sempurna makannya Hubby tidak melirik wanita lain. Tidak, Hubby mencintaiku sejak awal. Sejak aku hina sampai sekarang. Semua berkat Hubby.
Maaf, kalian berdua terlambat. Aku milik Hubby sekarang. Jika tanpa Hubby, aku tidak akan sampai sejauh ini. Aku bisa jadi wanita terhormat dan kuat seperti sekarang semua berkat Hubby.
AKU MILIK HUBBY...
Tapi… Hiii… hiii… hiii… Ternyata aku laku juga di kalangan orang normal. Aku pikir hanya orang aneh saja yang mencintaiku. Maaf Hubby meski Hubby aneh. Aku mencintai keanehanmu. Maaf Hubby, Maaf Sun An. Qian Qi mengeluarkan boneka Sun Long dan Sun An kemudian menciumnya.
“Qian Qi. Maaf menunggu lama. Ayo kita ke rumah barumu”.
“Tidak apa-apa Master Zhang Liao”. Qian Qi dan Zhang Liao pergi ke bagian atas perguruan Pedang Bulan.
“Wah… Tempatnya indah dan bersih Master. Air kolamnya juga jernih”.
“Murid peringkat bawah akan membersihkan rumah-rumah ini setiap hari. Ada misi membersihkan rumah, mereka bisa dapat nilai dengan bersih-bersih rumah. Dengan begitu murid-murid kelas atas bisa fokus berkultivasi. Jadi kamu tidak perlu membersihkan rumah fokus saja berkultivasi”.
“Ooohhh…”. Qian Qi merasa kasihan kepada murid-murid biasa.
“Ini rumahmu Qian Qi”.
“Terima kasih Master”.
“Karena sudah sore Master pulang dulu. Jangan lupa, besok kita akan pergi ke hutan”. Master Zhang Liao memberi kunci.
“Terima kasih Master”.
Perumahan divisi Petarung Bulan cukup luas seperti desa kecil yang indah. Udaranya sejuk, ada pohon bambu yang menghiasi. Energi qinya juga banyak dan bersih. Benar-benar cocok untuk berkultivasi.
Rumah yang ada di perumahan divisi Petarung Bulan berbeda ukurannya. Yang peringkatnya standar rumahnya kecil dan ada di dalam satu blok.
Setiap blok terdiri dari 3 rumah kecil. Sedangkan yang peringkatnya tinggi mendapatkan rumah yang lebih besar dan luas. Letaknya juga semakin dekat ke puncak gunung.
__ADS_1
Semakin dekat ke puncak gunung, semakin besar dan murni pula energi qinya. Sepertinya yang kuat sangatlah diuntungkan.
Ketika ajaran baru dimulai bulan depan nanti, Qian Qi akan mendapatkan dua orang tetangga baru. Karena ia mendapat rumah blok untuk peringkat rendah.
Malam yang tenang dan hening. Qian Qi sendirian di dalam perumahan kosong. Hanya ada suara angin dan kegelapan malam. Memang perumahan di sore hari terlihat indah. Tapi saat malam hari tiba, hanya ada angin dan sinar lentera yang menyinari sudut-sudut ruangan.
Angin malam berhembus cukup kencang. Wajar saja, ketika malam hari tiba angin akan berhembus dari gunung ke laut. Qian Qi tidak memiliki masalah dengan suhu dingin yang menerpa. Gurun Surga Hitam juga dingin di malam hari.
Qian Qi memiliki masalah dengan lenteranya. Api lentera redup-redup terkena angin gunung membuat cahayanya berubah jadi remang-remang. Cahaya remang-remang tidak membuat Qian Qi tenang, malah sebaliknya ia menjadi ketakutan karena terlihat seram.
Sial…! seharusnya aku tidak menjadi juara. Aku lebih suka tinggal di asrama dari pada di sini. Mei Mei andai kamu ada di sini.
Bayangan apa itu? Qian Qi melihat bayangan besar yang ada di tembok. Dengan ketakutan ia mencoba melihat asalnya. Ternyata itu hanyalah batang bambu. Karena ketakutan Qian Qi bersembunyi di bawah selimut dan mencoba untuk tidur.
“Akhirnya ketemu juga”. Seseorang berbisik di telinga Qian Qi.
“AAAaaa…! Qian Qi menjerit ketakutan”.
“Ting…!”. Prajurit boneka segera datang.
“Lindungi Nyonya”.
“Tap…!”.
“Tap…!”.
“Tap…!”.
“Tap…!”.
“Kaaa… kaaa… kaaa…”. Beberapa iblis muncul. Di antara iblis-iblis kecil itu muncul seorang Iblis gendut bertubuh besar. Sangking besarnya iblis itu, kepalanya sampai menghancurkan langit-langit rumah Qian Qi.
“Tunggu dulu… Kamu bukan Sun Long”.
“Tapi baunya sama bos. Kita bunuh saja”.
“Kamu benar. Kita sudah jauh-jauh datang ke sini. Akan sia-sia jika tidak melakukan apa pun. Kalau begitu serang mereka”.
“Ting…!”.
“Crat…!”.
“Boom…!”.
__ADS_1
“Bruk…!”.
Pasukan boneka bertarung dengan iblis-iblis kecil. Pertarungan begitu sengit, mereka memiliki kemampuan yang seimbang.
“Hai wanita, kenapa kamu senyum-senyum begitu. Apa kamu sudah mulai gila karena ketakutan?”.
“Terima kasih karena telah menemaniku. Aku memang takut dengan hantu. Tapi aku tidak takut dengan iblis”. Qian Qi tersenyum.
“Kaaa… kaaa… kaaa… Kamu tidak takut padaku? Kalau begitu aku akan menunjukan apa itu rasa takut”.
“Tinju Bayangan!”. Iblis gendut itu maju menerjang.
“Tombak Raijin!”. Qian Qi menggunakan tekniknya. Petir besar mengalir di tombak Qian Qi. Tidak hanya tombak, cincin besar juga muncul di punggung Qian Qi. Cincin emas besar dengan 7 drum yang mengelilinginya.
Qian Qi terlihat seperti Dewi Petir yang mengerikan. Kekuatan yang di dapat setelah Qian Qi berlatih dengan Sun Long selama 5 tahun di Surga Hitam. Hingga akhirnya ia berhasil menyerap esensi dewa petir Raijin.
“ZZZTTT…!!! CRAT…!!!”. Qian Qi mengayunkan tombaknya. Iblis gendut itu langsung terbelah dua.
“ZZZTTT…!!!”. Qian Qi kembali mengayunkan tombaknya. Petir-petir langsung menyebar menyambar iblis-iblis kecil hingga musnah jadi abu.
Tetua Yu Na dan Mei Mei tiba-tiba datang memeriksa keadaan.
“Wahhh… Nyonya cantik sekali”. Mei Mei terpukau melihat kecantikan Qian Qi dan bentuk tekniknya.
“Mei Mei”. Qian Qi melepas tekniknya dan memeluk Mei Mei.
“Qian Qi. apa kamu baik-baik saja?”. Yu Na memperhatikan mayat iblis.
“Aku baik-baik saja. Nek”. Qian Qi langsung menunduk.
“Baguslah. Jangan panggil aku nenek. Aku tampak tua kalau di panggil nenek. Panggil saja Tetua Yu Na sama seperti yang lain”.
“Dewi Yu Na”.
“Kenapa sekarang malah Dewi?”.
“Aku sangat menyayangi Dewi Yu Na. Aku mau memanggil dengan nama spesial, aku tidak mau sama dengan yang lainnya”.
“Dasar kalian semua sama, keras kepala semua. Terserahlah”. Yu Na mengingat Liu Shu dan Sun Long.
“Terima kasih Dewi Yu Na”.
“Qian Qi sebagian besar perumahan hancur oleh tombakmu”.
__ADS_1
“Wah… Aku baru sadar. Lalu bagaimana ini, Dewi?”.
“Kalian diam saja, aku yang akan menjelaskan pada divisi Petarung Bulan. Kita akan menyalahkan iblis ini. Aku akan bilang ada iblis yang bersembunyi. Iblis itu berusaha menyerang Qian Qi, lalu aku yang datang membunuhnya”.