
“Sudah sampai di sini saja ceritanya”. Wajah Sun Fangxin memerah.
“Jangan dong Bi. Lagi seru-serunya. Aku penasaran bagaimana Bibi membawa air untuk ayah dan bagaimana kalian berdua bisa selamat. Ayo lah Bi aku mohon ceritakan”. Qian Qi memelas.
“Kamu yakin mau mendengar terusannya?”.
“Iya Bi mau”.
“Yasudah Bibi lanjutkan karena tidak ada benda atau sesuatu untuk membawa air. Akhirnya Bibi kumur-kumur dan membawanya dengan mulut Bibi”.
“Di… di mulut?”. Wajah Qian Qi memerah.
“Sudah ah Bibi malu”. Sun Fangxin berdiri hendak pergi. Namun Qian Qi menahannya.
“Ayolah Bi lanjutkan. Aku mohon”.
“Kita sedang membicara tentang ayahmu Qian Qi. Apa kamu tidak marah?”.
“Aku malah semakin penasaran dengan seluruh ceritanya. Ayolah Bi tolong ceritakan semuanya. Karena itu adalah ayahku aku ingin tahu kebenarannya”.
Tiba-tiba saja Sun Fangxin meneteskan air matanya. Ia menggenggam erat batu giok jiwa Qian Tao.
“Maafkan aku Bi. Aku tidak memikirkan perasaan Bibi”. Qian Qi memeluk Sun Fangxin.
“Itu bukan pengalaman buruk, malah sebaliknya. Bersama ayahmu adalah pengalaman terindah dalam hidup Bibi. Bibi hanya teringat kembali bahwa Bibi pernah bahagia. Walau hanya beberapa saat. Baiklah Bibi akan lanjutkan ceritanya”.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Bi. Jika bercerita bisa menyakiti hati Bibi aku tidak ingin mendengarnya. Aku juga tidak bisa membayangkan rasanya kehilangan Hubby dan harus menceritakannya”.
“Kamu sudah mulai mencintai Sun Long. Baiklah kalau begitu Bibi akan lanjut bercerita sebagai hadiah”. Sun Fangxin balik memeluk Qian Qi. Mereka duduk kembali,
***
Sun Fangxin pun membawa air di mulutnya. Ia berjalan cepat dengan jantung yang menggebu-gebu. Ia sangat malu dengan apa yang dilakukannya. Namun ia meyakinkan dirinya ini adalah keadaan darurat.
Sementara itu Qian Tao hanya bisa pasrah menahan rasa sakit di perutnya. Ia tidak bisa bergerak sedikit pun hanya bisa menjadi beban. Ia juga tidak bisa meminta Sun Fangxin untuk meninggalkannya karena di luar terlalu berbahaya. Ia harus segera pulih.
Berlahan-lahan suara langkah kaki Sun Fangxin terdengar dari kejauhan. Qian Tao hendak menoleh melihatnya, namun lehernya masih kaku dan tidak bisa di gerakan. Akhirnya Sun Fangxin sampai dan berdiri disebelahnya. Qian Tao keheranan ada apa dengan mulutnya Sun Fangxin.
Tanpa aba-aba Sun Fangxin langsung memegang kepala Qian Tao dan terhenti sejenak. Wajahnya merah menyala. Mereka berdua pun saling tatap-tatapan. Qian Tao membuka mulutnya hendak bertanya sebenarnya apa yang terjadi.
Baru saja mulut Qian Tao terbuka sedikit. Sun Fangxin langsung membulatkan tekat dan menciumnya. Ia menyalurkan air sedikit demi sedikit agar Qian Tao tidak tersendak. Maka itu menjadi ciuman terlama dan terindah dalam hidup Sun Fangxin.
Sun Fangxing beranjak pergi menelusuri gua tanpa sepatah kata pun. Ia mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia berjalan sambil menenangkan diri. Tadi merupakan ciuman pertama dalam hidupnya. Hatinya mulai berkecamuk, benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya.
Sun Fangxin memikirkan bagaimana Qian Tao bersama seluruh pasukan khusus berjuang menyelamatkannya. Terbesit sebuah pikiran tentang masa depan bersama Qian Tao. Pikiran-pikiran liar yang terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Setelah cukup dalam memasuki gua ternyata terdapat kolam yang cukup besar. Dengan celah bebatuan yang terlalu tinggi dan terlalu curam di atasnya. Cahaya matahari pasti masuk dari celah itu. Pus-pus sudah jalan keluar yang dipikirkan Sun Fangxin.
Jalan keluar satu-satunya adalah dengan cara menghancurkan tumpukan salju di mulut gua. Untung saja ada ikan di kolam tersebut. Sun Fangxin pun merasa lega, dengan ikan sebanyak ini mereka bisa bertahan sampai diri mereka bisa pulih kembali.
Setelah menangkap beberapa ikan Sun Fangxin kembali ke tempat Qian Tao. Untung saja basic kultivasi anggota keluarga kekaisaran Sun adalah api, Sun Fangxin bisa memasak ikan itu tanpa bantuan alat. Namun Sun Fangxin muda tidak terlalu pandai dalam berkultivasi. Api yang di keluarkanya sangatlah kecil dengan sabar dan hati-hati ia memasak ikannya.
__ADS_1
Setelah ikannya matang Sun Fangxin menyuapi Qian Tao berlahan dengan penuh kasih sayang. Ikan yang dimasak Sun Fangxin sangatlah enak karena masih segar dan memiliki energi yang murni.
Setelah makan Sun Fangxin pun kembali membawakan air minum untuk Qian Tao. Ciuman kedua menjadi sangat canggung karena mereka berdua sama-sama tahu apa yang harus dilakukan. Setelah kembali tenang Sun Fangxin menghabiskan waktu dengan berkultivasi sedangkan Qian Tao kembali tidur.
Malam hari pun tiba. Suhu dingin mulai masuk kembali. Suhu di dalam gua turun derastis membuat Qian Tao terbangun dan merasa kesakitan. Sun Fangxin yang khawatir segera memeriksa keadaannya. Benar saja Qian Tao menjadi demam dan mengigil.
Terlihat dengan jelas Qian Tao memejamkan matanya menahan rasa sakit. Keadaan gua juga berubah menjadi gelap remang-remang akibat tidak ada cahaya matahari, hanya ada cahaya bulan.
Qian Tao samar-samar merasakan sentuhan lembut di tubuhnya. Ia berusaha keras melihat apa yang terjadi. Ternyata Sun Fangxing sedang berusaha membuka baju Qian Tao berlahan-lahan. Kemudian Sun Fangxin membuka bajunya juga.
Sama seperti sebelumnya Sun Fangxin langsung menempelkan tubuhnya kepada Qian Tao. Rasa hangat pun langsung di rasakan oleh Qian Tao dan membuat rasa sakitnya berlahan-lahan menghilang.
Tidak lama kemudian Sun Fangxin tertidur manis di atas tubuh Qian Tao. Sedangkan Qian Tao tidak bisa tidur sama sekali. Perasaannya tidak karuan, jantungnya berdegup kencang dan rasa bersalah mulai terasa di hatinya.
Qian Tao menghabiskan sepanjang malam dengan merenung. Ia menyesal karena telah tidur siang, sekarang ia malah tidak bisa tidur sama sekali. Qian Tao tidak bisa bergerak selama satu minggu. Hal itu pun terulang kembali setiap harinya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh semakin kuat di hati Sun Fangxin. Mereka bedua sudah tidak canggung lagi meminum air dari mulut ke mulut dan tidur menempel di malam hari. Gua yang cukup sunyi penuh keindahan. Tidak ada kata yang terucap karena mereka bedua tahu. Sebuah kata hanya akan merusak segalanya.
Satu minggu yang hening, satu minggu yang indah. Setelah Qian Tao dan Sun Fangxin kembali pulih mereka berdua menyatukan kekuatan untuk menghancurkan tumpukan salju yang menutupi mulut gua. Akhirnya mereka berhasil keluar dari gua.
Terpancar secercah kesedihan dari wajah Sun Fangxin. Waktu harus kembali berputar hidup harus terus dijalani. Meski mereka berdua sudah keluar dari gua. Mereka belum bisa tenang. Mereka masih berada di wilayah musuh dan perang masih terus berlanjut.
Qian Tao pun kebingungan bagaimana cara mereka bisa menembus pertahanan musuh sedangkan mereka hanyalah berdua. Pertahanan musuh terlalu ketat bahkan tidak ada burung yang diperbolehkan melewati perbatasan. Seluruh burung yang dicurigai sebagai pembawa pesan akan langsung diserang sampai mati.
Sun Fangxin memiliki sebuah ide. Mereka berdua terpaksa tinggal dan bertahan di kekaisaran musuh. Mereka harus menunggu perang berakhir atau ada serangan dari luar yang membuat peratahan kekaisaran musuh melemah.
__ADS_1
Memang bertahan di wilayah musuh merupakan pilihan yang sangat berbahaya. Maka dari itu Sun Fangxin akan merubah gaya rambut mereka berdua agar menutupi wajah dan mereka berdua akan tinggal di desa terdekat dengan perbatasan Sun sebagai pengungsi suami istri.