
"Tang...!". Barbel seberat 400 kilogram terjatuh. Bersamaan dengan sobeknya otot tangan Sun Long.
"Crat...!". Darah bercampur keringat menyembur tak karuan membasahi geladak kapal.
"Sepertinya aku harus berlatih lebih keras lagi... Ada apa Jin Xianyi, kenapa kamu belum tidur?".
"Tuan Liu Long! Ta... Tanganmu". Jin Xianyi panik.
"Tenang Jin Xianyi. Hal seperti ini biasa terjadi". Sun Long meminum Pil Pemulih Raga.
"Biasa terjadi?".
"Iya... Aku terbiasa berlatih sampai batas maksimal".
"Batas maksimal apanya? Bukankah ini sudah tidak normal? Mana ada orang normal berlatih sampai melukai diri sendiri".
"Apa menurutmu aku orang normal?".
“Eeemmm… Aku juga bingung. Kadang iya, kadang tidak".
"Haaa… haaa… haaa… Kamu ada-ada saja. Kalau begitu aku mau lanjut latihan lagi”.
"Ma… masih lanjut? Tanganmu baru saja putus beberapa detik yang lalu".
"Selama ada Pil Pemulih Raga tanganku bisa sembuh berkali-kali".
"Bagaimana Tuan bisa memiliki banyak Pil Pemulih Raga? Bukankah pil itu sangat mahal dan langka? Banyak orang yang bisa diselamatkan dengan Pil Pemulih Raga itu".
“Aku membuat Pil Pemulih Raga bukan untuk menyelamatkan banyak orang. Aku membuatnya untuk menyelamatkan diriku sendiri. Ada banyak orang yang tidak perlu diselamatkan”.
“Membuat? Apa maksudnya Tuan Liu Long yang menciptakan Pil Pemulih Raga?”.
“Ya…!”.
“Wah… Berarti Tuan Liu Long merupakan Alkemis legendaris. Pantas saja bisa menyelamatkan Jenderal Xin Sheng. Kami sangat berterima kasih untuk itu Tuan”.
“YA…!”.
“Ngomong-ngomong kenapa Tuan Liu Long tidak latihan kultivasi saja. Kenapa malah latihan fisik? Bukankah hal itu tidak terlalu efektif”.
“Huhhh… Aku cacat. Aku tidak punya dantian”. Sun Long menghembuskan nafas.
“Cacat? Tapi Tuan sangatlah kuat, bisa mengalahkan Jenderal-jenderal musuh sendirian. Aura qi Tuan juga mengerikan seperti iblis. Tidak mungkin Tuan cacat”.
“Hadeh… Itu teknologi rune yang aku ciptakan. Aku pakai batu qi iblis sebagai kekuatan kultivasiku. Untuk menggunakan kekuatan sebesar itu, aku harus melatih kekuatan fisikku”.
“Rune? Ba… Bagaimana bisa Tuan… Mmm… Mmm…”. Prajurit boneka menutup mulut Jin Xianyi.
“Aku tidak menyangka aslinya kamu cerewet. Aku pikir kamu wanita pendiam dan lemah lembut. Pergi sana jangan menggangguku”.
“Mmm… Mmm…”. Prajurit boneka membawa Jin Xianyi kembali ke kamarnya.
Akhirnya wanita itu pergi juga. Aku tidak bisa konsentrasi kalau dia mengoceh terus. Sun Long kembali berlatih.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
“Kreeekkk…”.
“Kreeekkk…”.
“Suara apa itu? Apa kalian mendengarnya?”. Sun Long heran mendengar suara aneh di belakangnya.
“Tuan Liu Long…”. Jin Xianyi kembali ke geladak kapal dengan cara merangkak.
“Kenapa kamu balik lagi ke sini? Bukannya beristirahat. Pergi sana jangan menggangguku”.
“Demi bangsaku, aku akan melakukan apa pun. Aku ingin tahu apakah teknologi rune bisa menyelamatkan bangsaku”.
“Tentu saja bisa. Tapi aku tidak akan memberikannya”.
“Tuan Liu Long aku mohon”.
“Tidak, ya tidak”. Sun Long melanjutkan latihannya.
“Tuan L… Bruk…!!!”. Tanpa diduga Jin Xianyi merangkak hendak menyentuh Sun Long.
“Dasar keras kepala! Hampir saja kepalamu pecah tertimpa barbel”. Sun Long yang kaget berusaha memghindar. Karena beban berat ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh hampir melukai Jin Xianyi.
“Kamu sudah kelewatan. Jangan pernah menyentuhku. Aku sudah punya istri, ada hati yang harusku jaga”.
“Aku tidak peduli. Semua demi bangsaku. Kalau terus begini bangsaku akan saling membunuh. Mereka semua adalah orang baik. Mereka adalah saudara dan saudari berhargaku”.
Hadeh… Wanita ini tidak hanya cerewet tapi barbar juga.
“Lalu bagaimana Tuan Liu Long. Aku bingung”. Jin Xianyi pasrah.
"Prajurit. Tolong angkat dia ke tangga itu".
"Siap Kapten". Prajurit boneka membopong Jin Xianyi ke tangga yang ada di geladak kapal.
"Terima kasih prajurit".
"Fokus Jin Xianyi. Seperti yang ku bilang, kamu harus mengumpulkan apa yang kamu punya". Sun Long kembali meminjamkan sapu tangannya untuk mengelap wajah dan baju Jin Xianyi yang penuh debu akibat merangkak.
"Terima kasih Tuan. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi".
"Kamu masih punya banyak. Tapi hal itu semakin lama semakin hilang satu per satu".
"Apa maksud Tuan?".
"Kamu terlalu fokus ingin mengalahkan musuh. Kamu sampai lupa bahwa masih ada keluargamu yang sedang bersembunyi di balik batu atau berlari di tengah hutan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan mencekam untuk beberapa orang".
"Tuan Liu Long benar. Aku lupa dengan bangsaku yang sedang diburu. Lagi-lagi aku gagal sebagai pemimpin".
"Kapten kita sudah sampai di titik penjemputan pertama".
"Turunkan kapal, jemput mereka. Prajurit bantu Jin Xianyi berdiri. Kamu harus tegar Jin Xianyi. Elap air matamu, bangsamu membutuhkanmu".
__ADS_1
Jin Xianyi kaget. Ternyata di bawah sudah ada banyak anggota sekte Xin dan warga-warga lain yang sudah diamankan menunggu kapal tempur Atlas. Mereka terlihat kelelahan dan terluka.
"Terima Kasih Tuan Liu Long".
"Hhhmmm... Kamu sambutlah mereka dan berikan sedikit penjelasan. Aku mau kembali latihan. Malam ini akan jadi malam yang panjang".
...
Keesokan paginya.
"Hiii... hiii... hiii... Geli Qilin. Iya... iya... Kamu sudah lapar ya. Ini...". Qian Qi memberi makan Qilin.
"Huaaa... Kalau punya anak kecil memang tidak bisa tidur nyenyak". Qian Qi mandi dan bersiap-siap.
Setelah bersiap-siap Qian Qi pergi ke kantin divisi Petarung Bulan. Di asrama memang tidak ada dapur. Qian Qi terpaksa membeli makanan di kantin meski rasanya kalah jauh dengan rasa masakannya.
"Nona Da Qiao. Qian Qi sudah datang".
"Daaa... daaa... daaa... Dasar kau bajingan. Aku akan membalas perbuatanmu".
Da Qiao pergi menemui koki kantin. Ia menyogok koki itu untuk menambahkan obat pengocok perut ke dalam makanan Qian Qi.
"Silakan ini makanannya". Seorang pelayan mengantarkan makanan Qian Qi.
"Akhirnya datang juga. Aku sudah lapar".
"Bruk...!". Tiba-tiba saja ada seorang siswa menabrak meja makan Qian Qi. Menumpahkan semangkuk mie yang ia pesan.
"Dasar kau bajingan. Berani-beraninya mencuri monster buruanku".
"Kau saja yang terlalu lambat".
"Apa kau bilang? Berani kau melawan unit Petarung". Tiba-tiba saja banyak siswa pria berdiri mengintimidasi.
"Siapa takut. Kami unit Pembunuh jauh lebih kuat dari pada kalian". Para siswa dari unit pembunuh tidak mau kalah.
"Bukkk...".
“Brakkk...".
"Crakkk...".
“Prang...".
"Bukkk... Awas Nona". Bawahan Da Qiao reflek mendorong Da Qiao yang hampir terkena lemparan piring.
Da Qiao terdorong menabrak makanan-makanan yang ada di meja.
"Apa Nona baik-baik saja?".
"KAMU...!!!".
Da Qiao marah besar. Tidak hanya rencananya yang gagal, tubuhnya juga kembali kotor oleh tumpahan makanan yang ditabraknya.
__ADS_1
"Ampun Nona". Bawahan itu berlari mencoba kabur.
"Crat...!!!". Seakan tak kenal ambun Da Qiao langsung menebas punggung bawahannya sendiri.