
Akhirnya tiba juga giliran Qian Qi. Kali ini lawan Qian Qi adalah salah satu anak buah Da Qiao.
Meski lawan Qian Qi adalah seorang wanita, Qian Qi harus tetap waspada. Ia mempersiapkan senjata dan baju zirahnya. Anak buah Da Qiao semuanya dilatih menjadi pembunuh bayaran berdarah dingin.
"Ting...!". Pertandingan dimulai.
Tanpa basa-basi anak buah Da Qiao langsung menyerang.
"Sangkar Laba-laba". Anak buah Da Qiao menyebarkan benang tipis tak kasat mata.
Benang itu bukan sembarang benang melainkan benang yang terbuat dari baja. Tidak hanya tipis benang itu juga tajam, setajam silet. Qian Qi harus ekstra hati-hati melawannya.
"Apa ini?". Qian Qi merasakan benang yang menjuntai dari atas mulai mengikat tubuhnya.
"Benang Pengendali". Anak Buah Da Qiao mencoba mengendalikan tubuh Qian Qi dengan cara mengikatnya dengan benang baja.
Untung saja Qian Qi secara berkala mandi dengan ramuan herbal penguat tubuh sama seperti Sun Long. Benang baja itu tidak akan bisa melukai tubuh Qian Qi.
"Petir Berantai Zzzttt...". Qian Qi mengalirkan petir ke benang baja itu.
"Sleb...". Anak Buah Da Qiao cukup cerdas. Ia menancapkan benangnya ke dalam tanah.
Aliran listrik yang di buat Qian Qi jadi mengalir ke tanah. Tidak melukai Anak Buah Da Qiao.
Pantas saja dibutuhkan seluruh pasukan penjaga untuk melerai bentrok Da Qiao dan Wang Yi tempo hari. Ternyata mereka sama-sama memiliki anak buah yang kuat.
"Petir Berantai Zzzttt...". Qian Qi tidak kehabisan akal. Ia mengalirkan energi petir dari kedua sisi yang berlawanan.
Petir yang beradu menyebabkan panas yang tinggi. Akhirnya benang-benang baja itu meleleh kepanasan.
Setelah benang baja itu meleleh Qian Qi langsung bergerak maju. Menggunakan tombak Guandaonya.
"Buk...!". Qian Qi memukul anak buah Da Qiao di bagian sisi tumpul tombaknya hingga ia pingsan.
Akhirnya Qian Qi menang dengan cukup mudah. Kemenangan Qian Qi menutup Turnamen Peringkat di hari pertama.
Sebelum pulang Qian Qi memutuskan untuk makan dulu bersama Yu Na. Begitu sampai di depan kamar Yu Na. Qian Qi dan Mei Mei melihat para pegawai membawa tumpukan kertas yang berisikan masalah.
__ADS_1
Secepat kilat Qian Qi dan Mei Mei hendak kabur, namun Yu Na sudah terlebih dulu menyergapnya.
Ternyata sejak sore hari Yu Na sudah bersembunyi menanti kehadiran Qian Qi dan Mei Mei.
Karena sudah terpojok mau tidak mau Qian Qi dan Mei Mei harus membantu Yu Na menyelesaikan tugasnya.
Seakan tidak terima Mei Mei mencari alasan. Mulai dari besok ada turnamen, sakit perut bahkan sampai lagi bisulan tidak bisa duduk semua telah Mei Mei coba.
Tentu saja Yu Na tidak percaya begitu saja dan menolak alasan Mei Mei. Qian Qi dan Mei Mei cukup kesal. Niat baik mereka mengajak makan bersama dibayar dengan memeriksa tumpukan kertas.
Qian Qi dan Mei Mei membantu Yu Na sampai tengah malam. Meski begitu tumpukan kertas baru berkurang setengahnya.
Yu Na meminta Qian Qi dan Mei Mei datang lagi esok hari setelah Turnamen Peringkat. Qian Qi dan Mei Mei pulang dengan rasa penyesalan yang mendalam.
...
"Tuan Liu Long... Kenapa Tuan senyum-senyum sendiri?". Jin Xianyi bangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa. Aku sedang memikirkan istriku. Sekarang dia pasti sedang menghajar lawan-lawannya. Aku merasa kasihan kepada lawan-lawannya".
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Istriku dan temannya sedang mengikuti turnamen karena sebuah alasan tertentu. Hari ini Turnamen itu dimulai".
"Syukurlah aku kira Nyonya Liu sedang melawan musuh beneran".
"Nama istriku Qian Qi. Sepertinya bukan istriku yang sedang melawan musuh beneran. Melainkan kamu yang habis melawan musuh".
"A... Aku?".
"Memangnya kamu mimpi apa sih? Sepertinya seru sekali". Sun Long mengeluarkan sapu tangan kemudian membasahinya dengan air hangat.
"Benar juga. Aku mimpi sedang berperang melawan para pengkhianat kemudian kita menang. Tuan... Tuan...!?". Tanpa diduga Sun Long menunduk mendekati wajah Jin Xianyi.
"Sssrrrttt... Sssrrrttt...". Sun Long mengelap-elapkan saputangannya ke mulut Jin Xianyi.
Jin Xianyi hanya bisa pasrah memejamkan mata. Berharap ia tidak jatuh cinta kepada Sun Long lebih dalam lagi.
"Kamu semangat sekali mimpinya. Sampai ngences belepotan".
__ADS_1
Mendengar hal itu Jin Xianyi jadi malu setengah mati. Wajahnya merah merona seraya harapannya pupus begitu saja.
Sudah pasti Sun Long merasa jijik terhadapnya. Jin Xianyi tak kuasa untuk menatap wajah Sun Long lagi.
"Beruntungnya pria yang kamu nikahi. Mendapat gadis imut, cantik, polos dan lucu seperti dirimu. Siapa pun yang menikah dengan mu di dalam mimpi. Dia sangat beruntung bisa mendapatkan putri cantik dari Kekaisaran Jin".
Menikah tu... tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir setelah memenangkan pertempuran. Tuan Liu Long melamar ku kemudian kita menikah.
Mimpi yang sangat indah. A... apa Tuan Liu Long tahu kalau dirinyalah yang aku nikahi di dalam mimpi. Semoga saja mulutku tidak membongkarnya sampai sejauh itu.
Lain kali aku harus tidur dengan lebih hati-hati. Ngigau ku kali ini cukup berbahaya. Benar-benar memalukan.
"Yasudah kalau begitu. Aku masak makanan dulu untukmu. Tunggu sebentar". Sun Long pergi memasak.
...
Keesokan harinya Turnamen Peringkat hari kedua dilaksanakan. Kali ini penonton yang menyaksikan mulai berdatangan walau jumlahnya tetap masih sedikit.
Turnamen Peringkat hari kedua berjalan normal dan lancar seperti hari pertama. Tidak ada kejadian yang berarti.
Satu-satunya kejadian yang cukup heboh yakni Mei Mei yang dilarang datang lagi ke tempat judi.
Para murid protes pasalnya Mei Mei selalu menang dan untung banyak. Pertaruhan pun jadi tidak stabil.
Hal itu mengganggu dan merusak proses perjudian. Akhirnya bandar judi setuju melarang Mei Mei untuk datang lagi.
Mei Mei yang tidak punya tempat tujuan jadi bingung. Kalau pulang pastinya dia akan disuruh membantu Yu Na. Kalau ke tempat Qian Qi, sama saja membosankan. Duduk seharian memantau rencana.
Akhirnya Mei Mei memutuskan pergi bertarung bersama prajurit boneka dan para penjaga kota Goliat.
Lagi-lagi Mei Mei harus kecewa. Bukan baku hantam seru yang ia dapatkan, melainkan ia di tugaskan untuk membantu merawat luka dan mendata para korban.
Pertarungan berlangsung singkat. Rencana yang matang dan pasukan yang kuat menyebabkan tidak ada pertempuran yang terjadi.
Sekali sergap secara bersamaan. Beberapa detik kemudian musuh langsung menyerah. Musuhnya kali ini terlalu lemah. Tidak seperti monster-monster di Surga Hitam yang ganas dan kuat.
Menggunakan pasukan boneka dan para penjaga Elite kota Goliat. Sepertinya hal ini terlalu berlebihan. Tidak hanya berhasil menangkap musuh. Tapi musuh yang tertangkap jadi trauma berat.
__ADS_1