
Hari ini Sid mulai mengunjungi rumah sakit tempat dulu ibunya dinyatakan meninggal, untuk mencari rekaman cctv pada hari kematian ibunya dua puluh enam tahun yang lalu.
"Selamat pagi, pak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang suster yang menjadi resepsionis.
"Bisakah aku bertemu dengan manager rumah sakit ini?" Suster itu melirik suster lain disebelahnya, saat Sid bertanya tentang manager padanya.
"Ya, pak. Tunggu sebentar kami akan meneleponnya dulu, siapa nama anda?"
"Siddharth Adeva Rafandi." Sid mengatakan nama lengkapnya, suster itu mengangguk dan langsung menelepon manager rumah sakit.
Setelah selesai, suster menghampiri Sid yang duduk di kursi tunggu.
"Pak, anda bisa bertemu dengan manager kami saat jam makan siang nanti." Ucap suster itu ramah.
"Jam berapa?"
"Jam dua belas siang, anda bisa kembali kesini lagi." Sid mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih ia langsung pulang ke mansion ayah Deva.
Di rumah ayah Deva sedang membawa ibu Aisha duduk di halaman rumahnya, tepatnya duduk di rerumputan yang sengaja di tanam untuk memperindah halaman rumahnya.
"Ayah, bisa kita bicara sebentar?" Ayah Deva menoleh, lalu mengangguk.
"Ridan, jaga Aisha sebentar, aku harus bicara hal penting dengan Sid." Ridan mengangguk, lalu mendekati ibu Aisha dan berdiri sambil mengawasinya.
"Deva, aku ikut!" Rengek ibu Aisha sambil berlari mengejar ayah Deva.
"Tunggu disini sebentar, aku akan bicara dengannya dulu, ya?" Ibu Aisha menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar, bu. Setelah ini dia akan kembali lagi kesini." Bujuk Sid lembut.
Ibu Aisha mengangguk, lalu kembali ke tempat dimana ia duduk tadi.
Setelah merasa jauh dari halaman rumah, Deva segera bertanya pada Sid ingin bicara apa.
"Katakan!"
"Ayah, manager rumah sakit itu bilang dia bisa menemuiku jam dua belas siang. Apa ayah akan ikut?" Ayah Deva. menggeleng cepat. "Kenapa?"
"Ada kemungkinan jika ayah ikut kau tidak akan mendapatkan rekaman itu, jika rekamannya masih ada. Ayah merasa bahwa dulu manager itu bersekongkol dengan seseorang untuk melakukan ini pada ibumu." Jelas ayah Deva sambil menduga-duga.
"Ayah benar, lalu apa rencana ayah kedepannya?"
Ayah Deva merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan alat penyadap suara berukuran kecil dan memberikannya pada Sid.
"Pasangkan itu di pakaianmu, ayah akan bisa mendengarnya lewat alat ini. Jangan lupa, gunakan alat pendengar suara juga agar ayah bisa memberimu petunjuk saat kau berhadapan dengannya nanti." Sid mengangguk, lalu menerima alat penyadap itu dari tangan ayah Deva.
"Semoga berhasil." Sid mengangguk. "Ayah kembali dulu, kau hati-hati dan jaga keselamatanmu nanti." Sid mengangguk lagi.
...----------------...
Jam menunjukan pukul dua belas siang, Sid sudah berada di rumah sakit itu tepatnya di ruangan khusus manager sejak tiga puluh menit yang lalu karena ingin segera bertanya padanya.
"Maaf, saya terlambat." Sahut seseorang tiba-tiba. Sid menoleh, lalu berdiri.
__ADS_1
"Tidak masalah." Jawab Sid dengan suara datar.
"Mohon maaf, ada apa anda datang dan ingin menemui saya?" Tanya manager itu langsung pada intinya, sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Sid.
"Apa rumah sakit ini masih menyimpan data-data atau rekaman cctv yang sudah puluhan tahun lamanya?" Sidpun langsung bertanya apa yang ingin ditanyakannya.
Manager itu mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan pertanyaan Sid.
"Pak, memangnya ada apa?"
"Jawab saja, apa rumah sakit ini masih menyimpan catatan data atau rekaman cctv yang sudah lebih dari dua puluh tahun?" Tanya Sid lagi.
"Ya, pak. Kami selalu menyimpannya untuk berjaga-jaga bila ada orang yang bertanya tentang pasien lama.
"Apa aku boleh meminta rekaman cctv pada tanggal sepuluh November dua puluh enam tahun yang lalu?" Manager itu kembali mengerutkan keningnya.
"Untuk apa, pak?"
"Jawab saja." Desak Sid dengan nada tak sabar.
"Tentu saja, tapi anda harus memberikan alasan anda meminta rekaman itu."
"Untuk melihat rekamannya, salah satu saudaraku dirawat dan meninggal di rumah sakit ini dua puluh enam yang lalu."
Deg...
Wajah manager itu memucat, entah apa yang menjadi penyebabnya.
Sid menatapnya penuh curiga.
Aneh, kenapa dia seperti ketakutan? Apa jangan-jangan ayah memang benar? Bahwa ada yang bersekongkol disini?
"Mari, pak. Kita akan mengambilnya di ruang cctv." Ajak manager itu.
Sebelum sempat beranjak, ponsel Sid berdering. Telepon dari Ridan.
"Sebentar, aku mengangkat telepon dulu." Manager itu mengangguk.
Sid membawa ponselnya dan mengangkatnya setelah merasa aman dan tidak ada siapapun yang bisa menguping pembicaraannya bersama Ridan di telepon.
"Ya, baiklah. Aku akan menuju ruang cctv, kau jangan membuatnya curiga, masuklah sebagai salah satu perawat atau apapun yang membuatnya percaya bahwa kau bagian dari rumah sakit ini." Lalu mematikan teleponnya dan kembali ke hadapan manager itu yang masih duduk di kursi.
"Ayo, kita ambil rekaman itu sekarang." Ajak Sid yang langsung diangguki manager itu.
Sesampainya di ruang cctv, sudah terdapat Ridan yang menyamar jadi staff ruang cctv. Dia mengangguk pada Sid, dan dibalas oleh isyarat tangan Sid.
"Tolong ambilkan rekaman cctv dua puluh enam tahun yang lalu, pada tanggal sepuluh november." Ridan mengangguk. "Ambil di laci nomor tujuh." Ridak mengangguk lagi, lalu memasuki ruang penyimpanan data lama.
Disana manager itu mulai menunjukan gelagat aneh, ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan pistol dari dalam sakunya.
Sid yang tidak menyadarinya terus menatap ponselnya dan menelepon Kiran.
"Bagaimana, apa semua berjalan lancar?" Tanyanya pada Kiran jauh di seberang sana.
__ADS_1
"Ya, kami sudah berhasil menjebakmya dan membuatnya mengakui perbuatannya." Jawab Kiran dengan nada suara bangga.
Sid dan Kiran terus berbicara di telepon, sambil menunggu Ridan membawa rekaman cctvnya.
Manager itu memegang pistolnya, lalu mengeluarkan ponselnya juga dan menanyakan siapa Sid pada suster yang menjadi resepsionis rumah sakitnya.
Namanya Siddharth Adeva Rafandi, pak. Putra dari perusahaan entertainment terkenal di Indonesia. SAR-E Group.
Manager itu membelalakan matanya sesudah membaca pesan dari susternya. Ia segera mengarahkan pistolnya ke arah Sid.
Dorr...
Pistol ditembakan, Sid memegangi bahunya yang tertembak. Ponsel yang masih terhubung dengan panggilannya pada Kiran terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai.
Ridan yang baru keluar dari ruang penyimpanan langsung menyambar pistol di tangan manager itu dan menembakannya ke manager itu dengan tembakan bertubi-tubi.
Dor.. Dor.. Dor...
Manager itu berhasil dilumpuhkan, Ridan langsung meraih Sid yang sudah akan tersungkur jatuh kelantai.
"Tuan muda!" Teriak Ridan.
"Ki... Kiran..." Ucap Sid, lalu Sid menutup matanya dan tak sadarkan diri.
"Sid! Hallo, hallo... Sid! Apa yang terjadi?! Paman Ridan!" Kiran terus berbicara di telepon.
Ridan mengambil ponselnya Sid, dan segera berbicara pada Kiran.
"Nona, tuan muda tertembak!" Tanpa menunggu reaksi dan jawaban dari Kiran lagi, ia mematikan ponsel Sid dan menyimpannya di saku celananya.
Di raihnya tubuh Sid, dan digendongnya untuk di bawa ke area gawat darurat. Beruntung, ia sedang di bawa ke rumah sakit jadi sangat mudah bagi Ridan untuk menyelamatkan tuan mudanya sebelum terlalu banyak darah yang keluar.
"Suster! Tolong cepat obati dia!" Teriak Ridan yang langsung mendapat reslon dari para dokter dan perawat disana yang segera membawa brankar.
Setelah meletakan Sid di atas brankar, dokter dan para suster segera membawaya menuju ruang gawat darurat.
Ridan menunggu di luar, ia sudah sagat panik melihat keadaan Sid.
Ponsel Sid yang berada di saku celananya kembali berdering. Diambilnya dan dilihatnya. Kiran yang menelepon.
Ridan mengangkatnya, walaupun ia takut istri dari tuan mudanya pasti akan sangat shock setelah ini.
"Paman Ridan, apa yang terjadi?" Syara Kiran nampak panik.
"Nona, tuan muda tertembak Saat ini ia sedang ditangani dokter." Jawab Ridan hati-hati.
"Apa?!" Setelah itu, terdengar suara bi Asih yang terdengar menyuruh Kiran bangun.
"Nona, ada apa? Nona, bangunlah!" Ridan mematikan teleponnya, lalu menghubungi orang lain untuk mengatasi masalah ini.
Bersambung...
Hmm... Jangan lupa vote sama like dan comentnya, gitu ajalah. Author bingung mau bilang apa, takut diserang kalian para readers gara-gara bikin Sid dan Kiran dilanda masalah lagi.😁
__ADS_1