Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kelahiran Siddharth Junior


__ADS_3

"Sid! Bantu kami, kenapa kau malah diam saja berdiri seperti patung disana?!" Panggil ibu Rhea pada Sid.


Sid masih terdiam, jika Reihan tidak menepuk bahunya pasti dia akan terus diam.


"Tuan muda!"


"Eh, iya iya!" Sid langsung menghampiri Kiran.


"Kiran, kenapa?"


"Jangan tanya kenapa! Kiran akan melahirkan!" Ibu Rhea yang menjawab, bukan Kiran.


Suasana tampak semakin panik, Kiran semakin merasakan rasa sakit yang luar biasa karena akan melahirkan.


"Sid, apa kita masih lama sampai?"


"Aku tidak tahu, bu. Tapi aku akan tanyakan pada nahkodanya." Sid segera berlari, mencari siapa saja yang tahu apa perjalanannya masih jauh atau sudah dekat.


"Pak, apa kita masih jauh? Tolong dipercepat! Kita harus segera sampai, ini sangat gawat!" Ucap Sid pada salah satu pegawai di kapal itu.


"Pak, sebentar lagi kita akan sampai!" Jawab orang itu.


Sid kembali pada Kiran yang terlihat sudah agak tenang, namun ketegangan masih terlihat di wajahnya. Ibu Rhea dan nenek Anjuk setia mendampingi Kiran.


"Apa masih sakit?" Kiran menggeleng pelan.


"Sedikit." Sid menghela napas pelan, sedikit tenang. Namun ia masih harus bersiap kembali dan berjaga-jaga jika Kiran merasa kesakitan kembali.


Tak lama, mereka sudah sampai di pelabuhan. Saat turun dari kapal, Kira kembali merasakan kontraksi pada kandungannya.


"Sid, sakit!" Pekik Kiran. Sid yang berjalan bersamanya langsung menggendong Kiran menuju mobilnya yang sudah dibawa anak buahnya.


"Cepat, bawa kami ke rumah sakit!" Perintah Sid pada anak buahnya. "Paman Reihan, tolong bawa ibu dan yang lainnya menyusul ke rumah sakit!" Reihan mengangguk.


Mobil segera melaju menuju rumah sakit terdekat, di dalam mobil Kiran terus merasakan kontraksi. Kali ini kontraksi yang dirasakan Kiran semakin bertambah.


"Tambah kecepatannya!" Perintah Sid pada anak buahnya yang sedang menyetir mobilnya.


Tiga puluh menit, barulah mereka sampai di rumah sakit. Sejak tadi kontraksi Kiran semakin bertambah.


"Suster! Dokter! Tolong istriku akan melahirkan!" Tanpa menunggu lama, seorang suster membawa kursi roda untuk Kiran. Sid menurunkan Kiran dari mobil, lalu mendudukannya di kursi roda.


Suster itu mendorongnya dan membawanya menuju ruang persalinan.


"Pak, anda tunggu disini." Suster menahan Sid yang akan ikut masuk ke ruang persalinan. Sid menurut, dan duduk di depan ruangan itu.


Ibu Rhea, kakek Narja dan nenek Anjum yang baru datang langsung menghampiri Sid yang sedang duduk dengan wajah tegang.


"Kiran dimana?" Tanya bu Rhea dengan napas terengah-engah.


"Di dalam, bu." Jawab Sid dengan suara yang terdengar bergetar.


"Semoga persaliannya lancar, berdoalah pada Tuhan." Timpal nenek Anjum yang diangguki Sid dan ibu Rhea.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, seorang suster keluar dari dalam ruang persalinan.


"Dimana suaminya?" Sid berdiri dan menghampiri suster itu.


"Aku, ada apa?" Wajah Sid tampak terlihat cemas, takut terjadi sesuatu pada Kiran.


"Ikut masuk, kau harus menemaninya di dalam supaya dia tidak tegang."


Sid ikut masuk ke ruang persalinan, di dalam tampak Kiran sudah berurai air mata. Wajahnya merah, menahan sakit.


"Kiran, berjuanglah! Kau pasti bisa melahirkan anak kita!" Sid menyemangati Kiran, ia mendekati Kiran dan meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.


"Sakit!" Rengek Kiran.


Yang terlihat sangat tegang kini bukan hanya Kiran, tapi Sid. Jelas dari raut wajahnya terlihat sangat tegang.


Tiba-tiba, rasa sakit kontraksi Kiran bertambah. Membuat Kiran mencengkeram tangan Sid dengan sangat kuat. Sid yang tahu bahwa Kiran sangat kesakitan hanya diam saja ketika tangannya sudah berdarah akibat kuku panjang Kiran.


"Ayo, kau pasti bisa!" Kata-kata penyemangat terus Sid lontarkan, hingga dokter yang menolong persalinan Kiran menyuruh Kiran untuk mengejan sekuat tenaga.


Kiran terus mengejan sekuat tenaga, semampu yang dia bisa. Sid sudah tak kuasa menahan tangisnya.


Ternyata seperti ini, perjuangan seorang wanita melahirkan manusia kedunia. Mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan sebuah nyawa baru ke dunia ini.


Kiran menggigit tangan Sid, ketika dia mengejan kembali. Sid tak memperdulikan rasa sakit di tangannya yang digigit Kiran.


Tangis Sid pecah, ketika suata tangisan bayi terdengar dan Kiran berhenti mengejan.


Tiada kata lagi yang bisa Sid ucapkan, ia langsung bersujud di lantai. Mengucap syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan. Buah dan bukti cintanya bersama Kiran.


Dokter membawa bayi itu untuk dibersihkan, Sid juga keluar karena suster akan membersihkan Kiran.


Di luar ibu Rhea, nenek Anjum, dan kakek Narja tersenyum bahagia. Dari arah lorong rumah sakit terlihat Ami datang bersama ayah Deva.


"Ayah, anakku sudah lahir. Putraku sudah lahir!" Seru Sid sambil menangis terharu. Ayah Deva mengangguk, lalu memeluk putra sulungnya itu.


"Ami, kau kesini?" Tanya nenek Anjum.


"Iya bu, mertuanya Kiran mencari Kiran dan suaminya ke desa. Aku mengantarnya saja kesini, karena anak buahnya bilang Kiran sudah di bawa ke rumah sakit xx karena akan melahirkan." Jelas Ami.


"Ya sudah, duduklah." Perintah ibu Rhea pada Ami karena tak tega melihat Ami yang tampak lelah, terlebih kondisinya juga sedang hamil.


"Dimana cucuku sekarang?" Tanya ayah Deva dengan wajah bahagia.


"Dokter sedang membersihkannya." Jawab Sid masih dengan senyuman bahagianya.


Flashback


Ayah Deva merasa khawatir, karena sudah satu minggu Sid tidak ada kabar di pulau tempat proyek akan dilangsungkan. Ia berencana untuk menyusul Sid hari ini juga.


"Ridan!" Bentak ayah Deva di telepon. "Kemana Sid? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" Tanya Sid masih dengan ponselnya yang sedang menelepon Ridan.


"Tuan besar, tuan muda sedang mengantar nona muda di rumah sakit. Nona muda akan melahirkan." Jawab Ridan.

__ADS_1


"Apa? Nona muda siapa maksudmu?" Tanya Deva tak percaya.


"Nona Kirana, dia sudah ditemukan dan saat ini dia akan melahirkan cucu anda." Ridan menjawab dengan suara bahagia.


"Apa? Cepat kirim lokasinya sekarang!"


"Maaf, tuan besar." Suara Ridan tampak sedih.


"Kenapa? Cepat kirim alamat rumah sakitnya!"


"Kami tidak tahu rumah sakitnya dimana, karena saya berada di lokasi proyek. Mungkin Reihan tahu, karena Reihan yang mengantar mereka." Suara Ridan tampak bergetar ketakutan.


"Bodoh! Tidak berguna!" Ayah Deva memutuskan sambungan teleponnya, lalu beralih menelepon Reihan yang memang sedang menemani Sid di rumah sakit.


Namun, tiga kali panggilan tidak ada jawaban.


"Tidak berguna! Yang satunya bodoh, yang satunya lagi selalu susah untuk di hubungi!" Gerutu ayah Deva. Kemudian ia menelepon Ridan kembali, agar mengirimkan lokasi proyek pulau terpencil tersebut.


Setelah mendapat lokasinya, ayah Deva segera berangkat menggunakan helikopternya.


Sampai disana, Ridan tampak sudah mennunggunya dengan seorang wanita yang sedang hamil besar.


"Tuan besar, wanita ini tahu letak rumah sakitnya." Ridan menunjuk wanita yang tak lain adalah Ami.


"Ayo, ikut denganku naik ke atas helikopter!" Ami mengangguk patuh, karena ia juga merindukan Kiran. Jadi, ini kesempatannya untuk menemui teman yang selama empat bulan ini bersamanya.


Flashback off


Hampir setengah jam menunggu, seorang suster keluar dengan menggendong bayi yang terlihat lucu serta tampan. Bayi itu tak lain adalah bayinya Sid dan Kiran.


"Pak, ini bayi anda." Suster itu menunjukkan bayinya, ketika Sid akan menggendongnya bayi itu menangis.


"Kenapa kau menangis, sayang? Ini aku, ayahmu." Ucap Sid pada bayi itu.


"Mungkin dia haus, pak. Kalau begitu saya akan membawanya pada ibunya, setelah ini kalian boleh menemuinya di dalam." Semua mengangguk, lalu suster itu membawa bayi itu kedalam ruangan yang terdapat Kiran.


Tak lama, suster keluar dan mempersilahkan keluarga untuk menemui Kiran dan bayinya. Sid masuk lebih dulu, ia tidak sabar untuk memeluk istrinya itu serta mengucapkan terima kasih karena telah melahirkan bayinya.


Terlihat Kiran sedang duduk bersandar dengan tangannya yang menggendong bayinya.


Sid terharu, Kiran baru saja melahirkan tapi dia terlihat seperti sudah pulih saja. Saat melihat kedatangan Sid, Kiran tersenyum.


"Sid, lihat bayi kita!" Sid mengangguk, lalu duduk di samping ranjang Kiran. Dia memeluk Kiran dengan sangat lembut, kemudian berganti menggendong bayi mungil itu dengan penuh kehati-hatian.


"Terima kasih, terima kasih banyak kau sudah melahirkan bayi kita. Malaikat kecil kita." Kiran mengangguk. Bayi itu menangis ketika Sid memeluk lagi Kiran.


"Lihat, sepertinya dia cemburu melihat ayahnya memeluk ibunya!" Ejek ayah Deva yang baru masuk ke ruangan.


Sontak, wajah Sid memerah. Semua orang tertawa. Ami tertawa paling keras, sehingga mendapat tatapan tajam dari Sid.


Bersambung...


Jangan lupa Like, coment, dan Vote! Hadiah juga boleh!

__ADS_1


__ADS_2