Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Mengabari Ibu Rhea


__ADS_3

Tengah malam sudah tiba lagi, Kiran kembali beraksi dengan semua keinginan ngidamnya yang membuat Sid terkadang merasa jengkel.


"Sid, bangun! Ayo telepon ibu." Sambil mengguncang-guncang tubuh Sid.


"Hem... Iya." Jawab Sid masih dengan posisi yang sama.


"Iya, tapi kau masih menutup matamu!" Kiran mencubit perut Sid.


"Aw! Iya, iya! Baiklah, aku akan meneleponnya. Tolong ambilkan ponselku disana." Menunjuk meja yang diatasnya ada lampu tidur.


Kiran mengambilnya, dan memberikannya pada Sid. Sid membuka ponselnya, dan terkejut saat melihat jam di ponselnya.


"Hah?! Ini jam sebelas malam, mereka pasti sudah tidur!" Ucap Sid sambil menunjukkan jam di ponselnya. Kiran langsung cemberut, sudah akan menangis.


"Baik, baik! Tapi jika tidak diangkat bukan salahku, ya?" Kiran mengangguk cepat.


Sid menelepon ibu mertuanya, pada deringan ketiga sepertinya ibu Rhea baru mengangkat telepon dari Sid.


"Ya, ada apa Sid?" Tanya ibu Rhea dengan suara serak khas bangun tidur.


Kiran cepat-cepat menyambar ponsel di tangan Sid.


"Hallo ibu, apa kabar?"


"Kiran, kabar ibu baik. Apa kabar denganmu?" Tanya ibu Rhea kembali.


"Aku ada kabar yang sangat baik untuk ibu!" Seru Kiran antusias.


"Ada apa? Sepertinya kau senang sekali?"


"Ibu akan menjadi nenek." Seru Kiran lagi dengan suara yang menggema di kamar.


"Benarkah? Wah, selamat ya untuk kalian!" Ibu Rhea merasa sangat senang, mendengar kabar kehamilan Kiran.


"Iya bu, maaf ya sudah mengganggu tidur ibu. Aku tidak sabar, memberitahu kabar ini pada ibu." Kiran terkikik, sementara Sid sudah tertidur pulas kembali.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Sekarang tidurlah, tidak baik jika sedang hamil begadang."


"Iya bu, selamat malam." Telepon ditutup, Kiran sangat senang setelah membagi kabar kehamilannya pada ibunya itu. Saking senangnya, ia tak menyadari bahwa suaminya sudah tertidur pulas.

__ADS_1


"Sid, aku sangat senang...." Kiran menghentikan kata-katanya, ketika sebuah suara dengkuran terdengar jelas di telinganya. "Sudah tidur lagi? Menyebalkan!" Rutuk Kiran sambil merebahkan kembali tubuhnya.


Tak lama, ia sudah kembali menyusul Sid tertidur pulas.


...----------------...


Pagi hari yang cerah, Sid dan Kiran sudah rapi. Bukan karena Sid akan ke kantor dan Kiran akan bekerja lagi menjadi sekretarisnya, melainkan atas permintaan Kiran yang selalu membuat Sid terpaksa mengikuti kemauannya yang aneh.


"Wah, kau sudah rapi kak. Mau kemana?" Tanya Lakshmi sambil memperhatikan penampilan Sid dan Kiran.


"Kami akan pergi ke air terjun! Kau mau ikut?" Mata Kiran berbinar, saat mengatakan air terjun.


"Hah? Untuk apa? Kak, apa kau akan berenang disana?" Kiran mengangguk cepat. Sid meringis, membayangkan bahwa Kiran akan berenang dalam keadaan hamil muda. "Apa tidak akan bahaya untuk kandunganmu? Kak, pikirkan lagi! Kau sedang hamil muda, jangan melakukan hal yang beresiko besar untuk kesehatanmu dan bayimu!" Lakshmi mengingatka Kiran, Sid mangut-mangut setuju dengan apa yang di katakan Lakshmi.


"Lakshmi benar, itu pasti akan sangat berbahaya bagimu dan bayi kita!"


"Tapi, Sid..."


"Jangan membantah, Kiran!" Potong Sid segera, sebelum Kiran menggunakan seribu alasan lainnya yang akan membuat Sid terpaksa menyetujui permintaannya.


"Jika terjadi apa-apa dengan bayi kita, aku tidak akan bisa memaafkanmu!" Ancam Sid dengan nada tegas.


Mata Kiran sudah berkaca-kaca.


"Kiran, jangan menggunakan bayi kita yang belum lahir itu demi memenuhi keinginanmu! Kau boleh melakukan apapun, jika kau sedang sendiri. Tapi ingat, saat ini ada dua nyawa yang harus kau jaga! Nyawamu sendiri dan juga nyawa bayi kita yang sedang tumbuh di dalam rahimmu itu!" Nasehat Sid.


"Kau pikir aku memanfaatkan keadaan ini untuk keinginanku? Begitu?"


"Bukan seperti itu, Kiran. Tapi pikirkan keselamatan kalian!" Tegas Sid.


"Sid, kau memang keterlaluan! Aku benci padamu!" Ucap Kiran dengan berurai air mata, lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya.


Sid menghela napas kasar, lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Kak, maaf. Aku hanya ingin mengingatkan saja, tidak baik kak Kiran berenang di air terjun seperti itu." Lakshmi merasa bersalah, telah membuat Kiran dan Sid jadi bertengkar.


"Tidak mengapa, kau tidak salah. Aku juga sudah mengingatkannya dari semalam. Tapi dia keras kepala, tidak ingin mendengarkan apapun yang aku katakan." Sid mengelus kepala Lakshmi, lalu pergi menyusul Kiran yang sudah masuk ke kamarnya.


Sebelum masuk, Sid mengetuk pintunya terlebih dahulu. Takut kemarahan Kiran akan semakin bertambah jika dia tiba-tiba masuk, walaupun ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Kiran, kau marah padaku?" Tanya Sid sambil menghampiri Kiran yang sedang duduk menghadap ke jendela.


Kiran tidak menjawab, hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap keluar lagi.


"Kiran, aku dan Lakshmi hanya ingin melihatmu dan bayi kita baik-baik saja. Tidak bermaksud membuatmu kecewa dan bersedih. Coba kau pikirkan, hanya hatimu yang akan sakit karena permintaanmu aku tolak. Tapi, jika sampai terjadi apa-apa dengan kau dan bayi kita, pikirkan siapa saja yang akan bersedih? Aku, kau, ayahku, ibumu, paman Dendi, dan semua keluarga kita. Aku akan menjadi yang paling bersedih dan merasa bersalah, jika terjadi sesuatu pada kalian karena aku yang mengizinkan dan menuruti kemauanmu." Sid mengelus kepala Kiran, yang dinasehati terdiam. Hanya bahunya yang berguncang-guncang.


Tiba-tiba isakkan keluar dari bibir tipis itu, air mata sudah banjir diatas pipinya. Sid semakin merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? Semua demi kebaikan Kiran dan calon bayinya sendiri.


"Sudah, jangan menangis. Maafkan aku, aku hanya ingin kalian baik-baik saja." Sid memeluk Kiran, dan mengelus punggungnya lembut.


"Aku ingin berenang." Lirih Kiran masih dengan isakannya.


"Kiran, di belakang mansion ini ada kolam renang! Kau berenang disana saja, bagaimana?!" Usul Sid, mencoba mengalihkan perhatian Kiran yang ingin berenang di air terjun yang dulu mereka kunjungin di hari terakhir sebelum mereka menikah.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?" Tangisnya seketika berhenti, Kiran langsung bangun dari duduknya.


Sid mengangguk. "Ayo, ganti pakaianmu! Kita akan berenang disana saja."


"Iya, ayo cepat!" Tanpa rasa malu, Kiran menarik Sid menuju ke ruang ganti pakaian. Mereka berganti pakaian bersama.


Begini ya, jika sudah terlanjur sangat mencintai?! Mengganti pakaian bersama sudah tak malu lagi!


Uhuy, Sid menang banyak liat Kiran ganti baju😁


"Sudah selesai?" Kiran mengangguk. Sid menarik Kiran menuju area belakang rumah, yang terdapat kolam renang.


Begitu sampai, Kiran sangat berbinar melihat luasnya kolam renang itu.


"Pelan-pelan! Jangan lari, nanti kau terpeleset dan jatuh!" Sid memberi peringatan pada Kiran, yang sudah seperti anak kecil ingin bermain air saja.


Kiran turun ke dalam kolam renang sebatas lutut, karena kolam renang dirumah Sid terbagi menjadi tiga. Yang sebatas lutut, sebatas dada, dan yang paling dalam, yang mungkin ketika Kiran memasukinya pasti akan tenggelam. Karena tingginya hanya 150 sentimeter, sedangkan dalamnya kolam renang mencapai 170 sentimeter.


Keduanya berenang hingga siang, membuat Sid lupa bahwa pekerjaan kantor yang menumpuk sudah satu bulan lebih ia tinggalkan sudah menunggunya.


"Ah, Kiran! Aku lupa, aku harus ke kantor! Sudah, cukup berenangnya! Nanti kau bisa masuk angin!" Sid menarik Kiran, membawanya naik ke pinggir kolam renang.


"Aku masih ingin berenang, Sid!" Protes Kiran.


"Nanti sore kita berenang lagi, sekarang sudah cukup! Kau tidak boleh terlalu lama di dalam air, atau kau aka mengalami kram!" Mendengar kata 'kram' Kiran menjadi takut, pasalnya dulu Kiran pernah mengalami kram saat berenang di laut yang membuatnya tenggelam dan terbaring lebih dari satu minggu di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah berganti baju, Sid berpamitan pada Kiran, Lakshmi, dan ayahnya untuk pergi ke kantor.


Bersambung...


__ADS_2