Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Firasat Hati yang Kuat


__ADS_3

Jika dua hati sudah saling terpaut menjadi satu, maka sejauh apapun mereka terpisah pasti akan dipertemukan kembali dan menyatu kembali, atas seizin yang Maha Kuasa.


Pagi ini, Kiran berencana akan pergi ke pasar ikan bersama Ami untuk menjual ikan-ikan hasil tangkapan kakek Narja.


Dua wanita berperut besar itu sedang berjalan menuju area pasar ikan.


"Kiran, pelan-pelan! Perutku berat sekali." Keluh Ami yang tidak bisa mengimbangi Kiran berjalan. Walaupun usia kehamilan Kiran lebih tua satu bulan dari Ami, tak membuat Kiran lambat dalam berjalan.


"Ami, ayo cepat! Hari sudah akan siang, aku takut tidak ada yang mau membeli dagangan kita nanti." Kiran cemberut, mendapati Ami sudah terduduk di atas batu besar.


"Kiran, kau sedang hamil besar tapi jalanmu cepat sekali. Sedangkan aku, rasanya perutku ini berat sekali." Keluh Ami lagi sambil mengusap perut besarnya.


"Sudah aku bilang, kau harus rajin berjalan-jalan agar tidak mogok terus seperti ini." Kiran mencibir Ami. Ami langsung cemberut.


Kiran merasa lucu, melihat bibir Ami yang sudah seperti kerucut itu.


"Ami, cukup! Jangan cemberut lagi, kau terlihat sangat lucu!" Ucap Kiran yang langsung disusul dengan tawa merdunya.


"Kiraan..!" Ami tambah cemberut, hal itu membuat Kiran semakin ingin tertawa.


"Sudah-sudah! Ayo kita lanjutkan perjalanan ini!" Kiran menghentikan tawanya, lalu menarik tangan Ami agar berdiri.


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya menuju pasar ikan.


Kiran memang bukan wanita yang lemah, ia begitu bersemangat untuk menjualkan ikan-ikan kakek Narja ke pasar ikan yang jaraknya cukup jauh dari pedesaan terpencil.


Hal itu juga dijadikan kesempatan bagi Kiran untuk mencari alat komunikasi di luar sana, siapa tahu ia akan menemukan telepon umum untuk menghubungi Sidnya.


"Kita sampai juga akhirnya!" Seru Ami dengan napas terengah-engah.


"Ayo, duduklah dulu. Aku akan menyiapkan daganganku." Ami mengangguk, lalu duduk di atas tanah karena tidak ada batu ataupun barang lain yang bisa ia gunakan untuk duduk.


Kiran mulai menjajarkan dagangannya, setelah selesai ia mulai menawarkan daganannya pada orang yang berlalu lalang disana.


Sampai siang, baru satu orang yang membeli ikan mereka. Tapi Kiran tak menyerah begitu saja. Meski cuaca panas dan keringat sudah membasahi tubuhnya, itu tak membuat semangatnya hilang.


"Ami, aku ingin ke kamar mandi sebentar. Tolong kau jaga dagangan ini, ya?!" Ucap Kiran yang sedari tadi menahan ingin kencingnya.


"Iya, jangan lama-lama." Jawab Ami sambil mengangguk.


Kiran segera pergi, ia juga sebenarnya ingin mencari telepon umum. Bukan benar-benar ingin kencing.


Cukup lama, dia berkeliling sampai akhirnya menyerah karena tak kunjung menemukan hal yang dicarinya.


Kiran memutuskan untuk kembali saja ke tempat ia meninggalkan Ami dan dagangannya tadi, tentunya dengan wajah yang memperlihatkan kesedihannya.


...----------------...

__ADS_1


Sid sedang berjalan-jalan di sebuah pasar, tentunya pasar ikan.


Ada yang aneh ketika ia melihat pasar itu, hatinya seperti menyuruhnya kembali untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pikirannya.


Ia melangkahkan kakinya diiringi jantungnya yang berdebar-debar.


Pada saat memasuki pasar itu, pandangannya terfokus pada seorang wanita yang sedang hamil besar.


Itu? Sepertinya aku pernah melihatnya, jika tidak salah dia yang kemarin sedang menganyam daun kelapa.


Sid melangkah, menghampiri Ami yang sedang duduk dengan wajah lelahnya. Dia kesal juga, karena sudah lama Kiran pergi untuk mencari toilet dan belum kembali juga.


"Berapa harga ikannya?" Tanya Sid pada Ami yang sedang menyeka keringatnya.


Ami mendongakkan kepalanya, merasa terkejut karena tiba-tiba ada seorang pria bertubuh tinggi di hadapannya.


Sebenarnya Sid tidak ingin membeli ikan-ikan itu, namun pada saat melihat yang menjualnya seorang wanita hamil ia merasa iba.


Jika Kiran ada, mungkin perutnya sudah lebih besar daripada wanita ini.


Sid memperhatikan perut Ami, jelas hal itu membuat hatinya kembali bersedih.


"Kau bertanya padaku?" Tanya Ami sambil menoleh kesana kemari, mencoba yakin bahwa Sid sedang bertanya padanya.


"Memangnya disebelahmu ada orang lain?" Sid bertanya kembali sambil menunjuk kesamping Ami.


"Semuanya, berapa?" Mata Ami membelalak sempurna.


Semua? Apa dia bercanda?


"Pak, jangan bercanda! Ini sangat banyak." Ucap Ami tak percaya.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Nada suara Sid mulai meninggi.


"Eh, tidak, pak." Ami jadi tambah kesal. "Aku tidak tahu, pak. Temanku yang tahu, sekarang dia sedang ke kamar mandi dulu." Ami memperlihatkan wajah bingung.


Sid menghela napas kesal, iapun mengambil dompet dari saku celananya dan mengeluarkan uang kertas bernilai seratus ribu sebanyak lima lembar dan memberikannya pada Ami.


"Ini, aku membeli semuanya. Terimalah!" Ami kembali membelalakkan matanya.


"Pak, itu..."


"Kenapa? Apakah kurang?" Potong Sid. Kemudian Sid mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan lagi dan menyodorkannya pada Ami.


"Pak, itu terlalu banyak." Protes Ami.


"Tidak apa-apa, terimalah. Untuk bayimu itu." Sambil menunjuk perut Ami. "Ikan-ikan ini bagikan saja pada yang membutuhkan." Sambung Sid yang membuat Ami merasa terharu.

__ADS_1


"Pak, terima kasih banyak atas kebaikanmu ini. Sebentar, jangan dulu pergi pak. Temuilah temanku lebih dulu, dia pasti akan sangat senang bertemu dengan anda." Ami menahan Sid yang baru akan membalikkan tubuhnya.


"Baiklah, tapi jika dia lama aku harus pergi." Ami mengangguk cepat.


Sid memasukan kembali dompetnya kedalam saku, namun meleset dan terjatuh ke tanah tanpa Sid sadari.


Dompet itu jatuh dalam keadaan terbuka, yang memperlihatkan kartu identitas yang selalu berada di dalam dompet Sid.


Seorang wanita datang dari arah belakang, dan melihat dompet Sid terjatuh. Wanita itu mengambilnya, namun tak sengaja melihat kartu identitas di dalam dompet tersebut.


Wanita itu berjongkok, tangannya bergetar memegang dompet itu. Tangisnya pecah saat mengetahui siapa pemilik dompet itu dari kartu identitas yang dibacanya.


Bibirnya ikut bergetar, tak sanggup berkata-kata. Hanya isakan yang keluar lirih dari bibir tipisnya.


Dada Sid tiba-tiba bergetar hebat, seperti ada sesuatu yang sangat ia kenali sedang berada di dekatnya.


Apa ini? Ada apa ini? Kenapa getaran ini kuat sekali?


Ia meraba dadanya, merasakan getaran hebat yang sangat kuat tersebut.


"Pak, ada apa?" Tanya Ami yang bingung melihat wajah Sid seperti orang yang baru saja menemukan hal mengejutkan.


Kiran yang masih berada dibelakang Sid tak kuasa menahan tangisnya, semakin membuat Sid terkejut.


Tangis itu? Suaranya,... Kiran? Tidak, aku pasti salah dengar!


Hati Sid berdebat dengan pikirannya.


Tiba-tiba sebuah tangan meraba bahunya, Sid semakin bisa merasakan dadanya tambah bergetar hebat.


Tiba-tiba, tangan yang semula hanya memegang bahu itu sudah melingkar di perutnya, disertai isakan yang semakin kencang.


"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Sid sambil berbalik. "Berani sekali kau meme..." Ucapannya terhenti saat matanya sudah benar-benar menangkap sosok yang berani memeluknya tersebut.


Sid menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat terkejut, ia berdiri mematung. Kakinya bergetar, lalu terasa lemas seperti akan patah.


Tak mempedulikan celananya akan kotor terkena tanah, seketika lututnya langsung mendarat di tanah.


Wanita yang berada di hadapannya saat ini terus terisak.


Sid menunduk, lalu menggosok-gosok matanya dengan tangannya. Wanita di hadapannya menyerahkan dompet yang sedari tadi ia genggam erat.


Apa ini mimpi? Tanya Sid di dalam hatinya.


Air mata sudah tak mampu ditahan lagi, ia tak percaya dengan sosok wanita yang selama empat bulan ini menghilang sedang berdiri di hadapannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2