Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Hari Spesial


__ADS_3

Kiran meneliti semua persiapan. Hampir seluruh karyawan kantor hari ini memenuhi halaman belakang kantor.


"Bunga jadi urusan Edi, Kado urusan Kiran dan Kuenya jangan lupa, Riana dan Alfi. Bagaimana, apa semua sudah siap?" Rio mengatur para karyawan.


"Siap!" Jawab semuanya serempak.


"Kadonya bagaimana, Kiran? Apa sudah siap?" Kiran mengangguk.


"Kadonya apa?" Tanya Rio kembali.


"Sepatu kesukaan pak Sid."


"Yakin ukurannya tidak salah?" Suara Riana ragu.


"Yakin. Aku pernah menemani pak Sid membeli sepatu." Kiran menenangkan Rio yang sudah cemas.


Tiba-tiba di tengah persiapan ponsel Kiran berdering. Kiran mengangkatnya, dan memberi isyarat pada semua untuk diam. Karena yang menelepon adalah Sid.


"Ya, pak. saya akan keruangan anda sekarang." Lalu Kiran memutuskan telepon.


"Semua, aku kembali bekerja dulu. Pak Sid sudah memanggilku!" Pamit Kiran yang langsung berlari menuju lift.


...----------------...


"Kau darimana saja? Kenapa sedari tadi aku mencarimu tidak ada?" Tanya Sid dengan tatapan tajam pada Kiran.


"Apa kau punya kekasih baru? Dan kau begadang, lalu terlambat lagi kekantor?" Sid mengintimidasi Kiran dengan raut wajah dan nada suara yang tidak suka.


Eh, kenapa ini? Kenapa dia malah curiga seperti orang cemburu pada kekasihnya seperti itu?


"Ti.. Tidak, pak. Saya tidak memiliki kekasih."


"Lalu dari tadi kau kemana?" Tanya Sid curiga.


"Aku bersama Niki, tadi aku mencari kartu nama milik klien baru kita, pak." Jawab Kiran berbohong. Karena sebenarnya, ia dan seluruh karyawan kantor sedang menyiapkan perayaan ulang tahun Sid.


"Ya sudah, tolong kerjakan berkas ini. Jika sudah selesai berikan padaku lagi."


"Baik, pak." Kiran sudah akan berbalik, ketika Sid memanggilnya lagi.


"Kiran."


"Ya, pak."


"Bisa tidak, jika kita sedang berdua saja bahasamu jangan terlalu formal. Jangan menyebut saya, tapi aku. Bisa, kan?" Tanya Sid sambil tersenyum pada Kiran.


Kiran mengangguk. "Iya, pak saya... eh aku bisa."


"Satu lagi."


Kau jadi cerewet ya, sekarang?!


"Jangan memanggilku 'Pak', panggil aku Sid jika kita sedang berdua saja."


"Hah?" Mulut Kiran menganga.


Apa yang terjadi padanya? Apa roh kakek lampir di tubuhnya sudah sirna? Mengapa akhir-akhir ini sikapnya berubah manis sekali. Ini bisa membuatku jatuh cinta padanya... Eh, tidak! Apa yang kau pikirkan Kiran!


"Kau tidak dengar ya?"

__ADS_1


"I... Iya pak, aku dengar."


"Lalu kenapa kau memanggilku 'pak' lagi? Sekarang kan kita hanya berdua saja!"


"I.. Iya Sid." Kiran gelagapan.


Hati Sid menghangat, mendengar Kiran mengucapkan nama panggilannya.


"Terima kasih, kau boleh kembali bekerja." Kiran mulai melangkah meninggalkan ruangan Sid, tapi sekali lagi Sid memanggilnya.


"Eh, tunggu Kiran!" Sahut Sid.


Apalagi, bodoh?! Jantungku sudah hampir berhenti berdetak karena melihat senyumanmu!


"Ya, pak."


"Jangan lupa makan siang yang banyak."


Shit! Kau ini kenapa?


"Baik, pak. Terima kasih." Sid mengangguk, lalu mengibaskan tangannya sebagai kode menyuruh Kiran untuk keluar.


Aku ini kenapa? Bagaimana bisa aku jadi bodoh dihadapan gadis itu?!


Sid menepuk jidatnya, dan merutuki dirinya sendiri yang baru saja menjadi bodoh di hadapan Kiran.


...----------------...


"Semuanya, cepat ke belakang!" Rio memberi instruksi pada seluruh karyawan kantor.


Ini adalah perayaan pertama ulang tahun Sid diadakan di kantor, jika moment ini jatuh bulan lalu, pasti takkan ada seorang pun yang mau merayakannya.


Satu bulan terakhir ini, Sid benar-benar berubah. Tidak ada lagi Sid yang galak. Dia kini tampil seperri apa adanya dia. Semakin sering tersenyum, ramah membalas ucapan salam karyawannya, dan sudah jarang menghina karyawan yang pekerjaannya salah. Terutama pada Kiran.


Seperti biasa, Sid tidak pernah terlambat datang ke kantor. Dia sudah tiba di kantor. Perasaannya diliputi kecemasan. Ada yang tidak beres. Kantor kosong, lengang. Tidak ada karyawan yang terlihat sedang bekerja. Ketika akan naik ke lift, tiba-tiba seorang penjaga memanggilnya.


"Pak. Ada masalah!"


"Ada apa?" Tanya Sid cepat.


"Saya tidak bisa menceritakannya, lebih baik bapak melihatnya langsung di halaman belakang kantor!"


Setengah berlari, Sid menuju taman belakanh kantornya yang luas. Ketika ia membuka pintu tiba-tiba semua orag berteriak.


"Happy Birthday, pak Siddharth!" Teriak puluhan karyawan kantornya.


Butuh beberapa menit hingga Sid menyadari apa yang terjadi. Kiran berjalan mendekat.


"Selamat ulang tahun, pak Sid. Semoga kebahagiaan menyertaimu selalu." Kiran menjabat tangan Sid. Dingin, tapi terasa nyaman.


"Terima kasih Kiran. Terima kasih, semuanya!" Sid menghela napas panjang membuang keterkejutannya.


Satu persatu karyawan menjabat tangan Sid. Mereka menyerahkan sebuag bungkusan pada Sid. Bungkusan kado.


"Terima kasih untuk kado kalian. Boleh aku membukanya?"


"Tentu saja, pak." Sid membukanya dan tersenyum mendapatkan kado sepatu kesukaannya.


"Terima kasih banyak."

__ADS_1


"Terima kasih kembali, pak." Jawab semuanya serempak.


"Pak, ini untukmu." Kiran menyerahkan sebuah kotak persegi empat berwarna biru.


"Apa ini? Kotak P3K?"


"Bukan, ini hadiah untukmu."


"Boleh aku membukanya sekarang?" Kira mengangguk.


Sid membukanya, didalamnya terdapat sebuah figura kosong.


"Untuk apa ini? Kenapa kosong?" Sid mengerutkan dahinya.


"Pak, fotonya akan ada setelah ini. Kita akan berfoto bersama, dan mencetaknya. Lalu memasangkannya di figura itu." Kiran menjelaskan. Sid mangut-mangut.


"Kiran, jika boleh, aku ingin foto kita berdua yang di pasang disini. Boleh kan?"


"Eh, apa, pak?"


"Kiran, aku tidak suka mengulangi perkataanku!" Sid melotot gemas.


"Bo... Boleh, pak."


"Tuliskan nama kita di belakang figura ini." Kiran menurut, lalu mengambil sebuah spidol permanen dari tas yang ditentengnya. Lalu menuliskan nama mereka berdua di belakang figura itu.


Siddharth Adeva Rafandi & Kirana Putri Farella


Setelah selesai, ia memperlihatkannya pada Sid.


"Kiran, namanya salah." Bisik Sid.


"Salah? Tapi aku sudah menuliskannya dengan benar." Kiran memeriksa kembali figura itu dan mengeja nama Sid.


"Bukannya harusnya ditulis, Siddharth Kera Albino?"


Wajah Kiran sontak memerah. "Ah, pak Sid."


"Terima Kasih, Kiran. Ayo berfoto!" Kiran mengangguk.


"Rio! Tolong foto kami berdua!" Rio yang bertugas memotret di acara ini memotret Kiran dan Sid.


Sid merangkul Kiran, membuat dada Kiran berdegup kencang dan tubunya gemetar.


Setelah selesai, Sid melepaskan rangkulannya, barulah dada Kiran berhenti berdetak kencang.


"Tolong dicetak, secepatnya!" Perintah Sid. Rio mengangguk.


"Pak, apa anda akan memajang foto itu?"


"Hadiah dari sahabat mana mungkin tidak dipajang?" Sid mengedipkan matanya, lalu segera berbalik dan berjalan menuju kerumunan karyawannya. Mereka sedang menyalakan lilin di kue ulang tahun Sid yang ditempatkan diatas meja dengan posisi di tengah taman.


Kiran masih terpaku disana, dengan perasaan yang tak karuan. Antara senang bercampur sedih.


Tidak, Kiran! Jangan berharap lebih. Dia itu bosmu, bosmu! Pak Sid adalah bosmu! Kau tidak pantas mengharapkannya, lihatlah penampilanmu! Pasti bukan seleranya.


Setelah berdebat dengan perasaannya sendiri, Kiran ikut masuk kedalam kerumunan itu dan bersama-sama merayakan ulang tahun Sid.


Selama perayaan, Sid tidak menikmati pesta tersebut. Melainkan sibuk tersenyum sendiri menatap penampilan Kiran yang sangat berbeda. Membuat yang ditatap salah tingkah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2