Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kebangkrutan


__ADS_3

Waktu demi waktu berlalu, tak terasa kini Keyra sudah menginjak bangku SMA. Tapi, dari saat sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya hingga saat ini masalah tiada hentinya menimpa Keyra.


"Key, maaf kakek tidak bisa mempertahankan perusahaan ayahmu. Kita sudah bangkrut, bahkan keluarga dari ibunya ayahmu sudah menggugat kita." Neneknya Keyra terisak.


"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Keyra dengan wajah gelisah.


"Kita akan menyerahkan perusahaan ini pada paman dari ibumu."


"Dengan rumah ini juga." Timpal kakeknya Keyra.


"Apa maksud kakek? Jika rumah ini diberikan kita tinggal dimana?" Tanya Keyra tak terima, karena rumah tersebut bagi Keyra memiliki banyak kenangan antara dirinya denga kedua orang tuanya walaupun sebenarnya belum lama ia tingga dirumah tersebut akibat kepindahan mereka ke Singapura.


"Ibumu dan juga ayahmu masih memiliki rumah pribadi, walaupun kecil tapi sekarang yang terpenting kita harus kesana dulu." Dengan terpaksa, Keyra mengangguki ucapan Neneknya untuk pindah ke rumah tersebut.


Paginya, Keyra sudah mengemasi seluruh barang-barang bersama nenek dan kakeknya.


"Keyra, apa semuanya sudah dikemasi? Jangan sampai ada yang tertinggal." Keyra mengangguk, lalu memasuki kamar bekas ibu dan ayahnya sebelum pergi.


"Tunggu sebentar, Nek."


Keyra memasuki kamar tersebut dan membuka sebuah laci yang sejak tadi lupa ia periksa. Dalam laci tersebut berisi beberapa lembar foto dirinya dan juga ayah serta ibunya.


"Ayah, Ibu, maaf karena aku kalian harus pergi." Lirih Keyra sambil mengusap foto tersebut kemudian memasukannya kedalam saku pakaiannya.


"Keyra, ayo cepat mobil pengangkut barang sudah datang!" Neneknya dari luar berteriak.


"Iya, Nek!" Keyra segera keluar.


Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai didepan sebuah gang kecil yang tidak dapat dimasuki kendaraan beroda empat.


"Nek, ini dimana? Dimana rumahnya?" Keyra menatap gang tersebut, tidak ada rumah. Pemikirannya apakah neneknya berbohong dan mereka akan tinggal dijalanan?


Tidak, apa nenek dan kakek berbohong?


"Ini jalan menuju rumahnya, ayo rumah kita tidak jauh dari sini." Keyra bernapas lega, karena ternyata pemikirannya salah.


Mungkin saat ini tidak mengapa mereka akan tinggal di rumah kecil asalkan tidak pergi dari Jakarta. Karena Keyra sangat mencintai kota seribu kenangan bersama ayah dan ibunya tersebut.


Cukup jauh mereka berjalan, napas Keyra sudah terengah-engah karena kelelahan bahkan wajahnya memerah karena kepanasan. Tapi tidak dengan nenek dan kakeknya mungkin karena sudah terbiasa berjalan jauh saat tinggal di pulau Siran.


Setelah agak jauh lagi berjalan di sebuah gang kecil, akhirnya mereka sudah sampai di depan sebuah pekarangan rumah yang cukup kecil.


"Ini rumah kita. Rumah ibu daj ayahmu sebelum mereka memiliki rumah yang kita tinggalkan." Ujar Neneknya Keyra sambil merangkul Keyra.

__ADS_1


Keyra menatap rumah tersebut. Lumayan, daripada ia terlunta-lunta dijalanan. Tidak masalah baginya tinggal di rumah kecil, asalkan ada tempat untuk pulang dan berteduh.


"Ayo masuk." Ajak kakeknya Keyra.


Ketiganya memasuki rumah tersebut. disusul dengan beberapa orang yang membantu memasukan barang-barang mereka kedalam rumah.


...----------------...


Di pagi-pagi yang cerah Kal dan keluarganya sedang berlibur di pulau Siran, pulau yang bertahun-tahun lalu menjadi saksi bersatunya kembali Sid dan Kiran.


Pasangan yang akan menginjak usia tua tersebut tampak sangat menikmati indahnya pemandangan pulau yang sudah dirombak menjadi indah tersebut.


Keduanya tidak sepenuhnya menikmati, ada sedikit kerinduan terhadap beberapa orang disana. Terutamanya rindu pada Kakek Narja dan Nenek Anjum.


"Dimana ya kakek dan nenek? Rumah merekapun tampak sepi." Ucap Kiran pada Sid yang sedang duduk disebelahnya.


"Kenapa tidak menanyakan pada orang-orang disana saja? Ayo!" Kiran berdiri, lalu mengikuti Sid yang sudah berjalan menuju rumah yang berada disebelah rumah kakek Narja dan Nenek Anjum.


"Permisi, boleh kami bertanya?" Ucap Sid pada beberapa orang yang sedang berkumpul.


"Pak Siddharth? Tentu, ada apa?" Seseorang yang mengenali Sid dan Kiran langsung memberi hormat.


"Kemana mereka? Kenapa sejak tadi pagi kami mencarinya tidak ada?" Menunjuk rumah kakek Narja.


"Ada apa? Mereka baik-baik saja kan?" Kiran bertanya dengan nada cemas.


"Me.. Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." Kiran dan Sid membelalak, cukup shock dengan kenyataan tersebut.


"Kapan? Kenapa tidak ada yang mengabari kami?" Air mata sudah mengalir di pipi Kiran.


"Sebenarnya kakek Narja yang lebih dulu meninggal, tidak lama setelah satu bulan Nenek Anjum menyusul kakek Narja pergi." Jelas seorang wanita paruh baya yang bernama Bik Tarmi tersebut.


"Ya Tuhan, cepat sekali mereka pergi." Isak Kiran. "Dimana mereka dimakamkan? Setidaknya aku harus mengunjungi makam mereka."


Bik Tarmi akhirnya mengantar Kiran dan Sid menuju ke makam kakek Narja dan Nenek Anjum yang ternyata dimakamkan bersebelahan. Kiran tak mampu lagi menahan tangisnya.


Dua orang tua yang berjasa besar menyelamatkan hidupnya tak disangka telah tiada. Sebelum tiada Kiran menyesal tidak sempat mengunjungi keduanya.


"Sudah sayang, jangan menangis. Biarkan kakek dan nenek tenang di alam sana." Sid mengusap punggung Kiran dan merangkulnya.


"Sid, kenapa bisa kita melupakan mereka?"


"Kiran, kita manusia bisa lupa. Lagipula karena banyak sekali masalah dalam hidup kita jadi kita sibuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Tapi buatlah ini jadi perjalanan untuk kita kedepannya, agar jangan pernah melupakan jasa seseorang apalagi orang tua." Sid menasehati Kiran.

__ADS_1


"Kau benar, mulai sekarang aku juga akan lebih sering mengunjungi ibu dan ayah. Mereka juga sudah tua." Sid mengangguk. "Ayo, sekarang kita kembali. Mungkin Kal dan yang lainnya sedang menunggu kita."


Sid dan Kiran kembali ke tempat tadi mereka duduk, tampak ayah Deva, Bunda Aisha, Kal, Ira, dan Ima sudah menunggu di tempat tersebut.


"Ibu dan ayah darimana?" Kal yang sejak tadi mencari Sid dan Kiran langsung mendekati ayahnya.


"Kami berkunjung ke tempat baru Kakek Narja dan Nenek Anjum sebentar, sekarang kita akan apa? Apa hanya akan diam saja melihat pulau setiap hari? Sungguh membosankan!"


"Ayah, ayah!" Si kembar yang sejak tadi diam kini mulai besuara. Sid bersiap-siap dan waspada, takut si kembar akan mulai membuat ulah yang membuat mereka kewalahan.


"Apa Ima?"


"Aku ingin main kesana!" Ira dan Ima menunjuk sebuah wahana yang berbentuk sangkar burung.


Sid melirik Kiran. Kiran menggeleng dengan wajah pucat dan ketakutan.


Sudah aku duga, mereka selalu usil padaku dan Kiran!


"Oke, kalian boleh main kesana. Baba dan Nani yang akan menemani kalian sampai kalian puas." Sid menunjuk ayah Deva dan bunda Aisha.


"Apa?!" Ucap keduanya bersamaan lalu saling melirik dan menggeleng.


"Iya, kalian teman Ira dan Ima." Dengan wajah jahil. "Aku, Kiran, dan Kal akan kesana." Menunjuk sebuah panggung kecil yang menampilkan beberapa orang penyanyi.


Kali ini aku yang mengerjai kalian, sebelum nanti saat pulang kalian akan membuat ulah lagi untuk menjahili aku dan Kiran.


Dalam hatinya Sid sangat ingin tertawa, ketika melihat kedua orang tuanya tersebut sangat ketakutan jika disuruh bermain bersama Ira dan Ima.


"Ayo cepat temani mereka!" Kiran yang berada di samping Sid ia mengerti bahwa suaminya sedang membalas kejahilan ayah Deva dan Bunda Aisha.


"Tidak, tidak! Kalian saja, kami yang akan bersama Kal!"


"Jangan membantah, ayo sekarang ayah dan Bunda pergi dengan Ira dan Ima!" Sambil menyeret ayah Deva dan bunda Aisha menuju wahana tersebut.


"Ira, Ima! Bermain sampai puas, ya? Ibu dan ayah ada disana bersama kakak kalian. Jangan lupa ajak selalu Baba dan Nani!" Ira dan Ima mengangguk, lalu menarik tangan Ayah Deva dan Bunda Aisha menuju wahana tersebut.


Keduanya hanya bisa pasrah dengan cucu kembarnya tersebut.


**Bersambung...


Kita sudah masuk season 2 perjalanan Kal dan Keyra memasuki masa Dewasa, kisah cintanya ada di novel yang baru. Tapi masih tetap akan ada beberapa adegan romantis antara Sid dan Kiran yaa...


Jangan lupa dukungan untuk novel Siran : The Musician'S Love Story**!!!!

__ADS_1


__ADS_2