Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Fakta Sebenarnya


__ADS_3

Ayah Deva, Sid, Ibu Aisha beserta anak buahnya yang berada di London sudah berada dalam pesawat untuk pulang.


Keadaan Sid memang masih lemah, tapi itu tak menjadikan kendala bagi mereka untuk pulang ke Jakarta.


"Sid, jika kau merasa lemah sebaiknya tidak ikut pulang dulu." Ibu Aisha merasa iba, melihat wajah putranya masih pucat dan lemah.


"Tidak, bunda. Aku baik-baik saja, aku harus pulang. Istriku pasti sudah sangat khawatir." Sid memasang senyum mencoba meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja.


"Baiklah, tapi sampai disana kau harus istirahat." Sid mengangguk.


"Ayo, Aisha! Duduk disini, pemilik kursi itu akan duduk sepertinya." Sambil menunjuk seorang nenek yang berdiri di samping kursi.


Ibu Aisha bangun dari duduknya, lalu berpindah ke kursi di sampingnya bersama ayah Deva.


Perjalanan dari London menuju Jakarta memang memakan waktu yang tidak sebentar, hal itu membuat hati Sid gelisah memikirkan keadaan Kiran disana. Terakhir kali Ridan memberitahunya bahwa Kiran tak berhenti menangis saat mengetahui bahwa ia ditembak manager rumah sakit.


"Ayah, apa Ridan mendapatkan rekaman rumah sakit itu?"


"Ya, dia mendapatkannya. Rekaman itu ada di tangan Ridan sekarang, rencananya ayah akan memutarnya nanti di Jakarta setelah kau pulih benar.


"Baiklah."


...----------------...


Kiran terus menangisi Sid tiada henti, berkali-kali dalam sehari ia menelepon Ridan demi menanyakan kabar Sid. Hari ini pun sama, seperti kemarin ia terus menelepon Ridan.


"Nona, hari ini anda tunggu di rumah jangan kemana-mana. Tuan besar akan pulang bersama nyonya dan tuan muda." Hati Kiran senang, saat mendengar bahwa suaminya akan pulang.


Itu artinya dia baik-baik saja kan, Tuhan? Terima kasih kau telah menjawab semua doa-doaku!


"Baiklah, bagaimana keadaanya?"


"Tuan muda masih harus dirawat, tapi tenang saja ia akan dirawat di rumah." Ridan menjawab dengan suara penuh ketenangan.


"Terima kasih, aku akan menjemput kalian di bandara."


"Tidak, nona. Anda tunggu saja di rumah, sudah ada yang menjemput kami disini." Jawan Ridan berbohong, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Kiran di perjalanan menuju ke bandara nanti.


"Baiklah." Kiran menutup teleponnya, lalu bergegas untuk menyuruh para pelayan menyiapkan makanan.


Malam harinya, baru Sid dan kedua orang tuanya tiba di rumah. Saat klakson mobil dibunyikan, Kiran segera berlari untuk membukakan pintu. Tanpa peduli bahwa dia sedang hamil, ia terus berlari.


"Hallo, menantuku? Apa kabar?" Sapa ayah Deva saat pintu sudah terbuka dan ternyata Kiran yang membukanya.


"Ayah, aku baik. Kalian apa kabar? Kenapa lama sekali kalian pulang? Tidak terjadi apapun, kan?" Ayah Deva menepuk pundak Kiran.


"Tenanglah, percayalah ayah tidak akan membiarkan apapun terjadi dan membuat keluarga kita menderita lagi."

__ADS_1


"Hmm..." Sid berdeham, cemburu istrinya hanya bertanya pada ayahnya. Kiran menoleh, tersenyum pada laki-laki yang sangat berarti baginya.


Sid merentangkan tangannya, meminta pelukan hangat dari istri tercintanya itu.


Tapi, sebelum Kiran memeluk Sid sang ibu mertua Aisha menarik Kiran ke pelukannya.


"Bunda!" Rajuk Sid. Ibu Aisha hanya terkekeh.


"Jadi ini ya, putrinya Rhea?" Kiran mengangguk. "Cantik! Pintar sekali ya Sid memilih istri." Puji ibu Aisha sambil melirik ke arah Sid.


"Aisha, dulu aku menjodohkannya tapi dia tidak mau. Alasannya Sid tidak mengenalnya, dan seribu alasan lainnya. Dia juga berdebat denganku di hari pernikahannya sendiri, tidak mau melihat wajah istrinya." Ejek ayah Deva yang membuat ibu Aisha langsung nenatap Sid sambil mengerutkan dahinya.


"Sudah, ayo masuk! Apa kita akan bicara di ambang pintu begini?" Sid mengalihkan pembicaraan. Lalu ia merangkul Kiran, dan membawanya masuk.


"Kau lihat kan, anakmu?" Ibu Aisha mengangguk. "Di pesawat dia terlihat lemah, tapi sampai di rumah dia seperti tidak habis tertembak. Semangat sekali saat melihat istrinya." Ibu Aisha tertawa.


"Kau pikir dulu kau seperti apa? Bukankah sama juga?" Ibu Aisha bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan ayah Deva yang masih mencerna ucapan istrinya itu.


Tidak ada dia aku kesepian, ada dia aku selalu jadi bahan ejekannya!


Ayah Deva menghela napas kasar, lalu mengikuti ibu Aisha masuk ke dalam rumah.


"Dimana Asri? Kenapa rumah sampai aneh seperti ini?" Ayah Deva menatap sekeliling rumah yang sangat berantakan.


"Disini, tuan." Sahut Reihan dari arah belakang ayah Deva sambil menyeret Asri yang tangannya diikat tali.


"Tuan, dia hampir mencelakakan nona Kirana kemarin."


"Apa?!" Ayah Deva dan Ibu Aisha berucap bersamaan.


"Tapi nona bisa mengatasinya sendiri."


"Bagaimana caranya?"


"Kami hanya bersandiwara, bu." Jawab Kiran sambil menyengir kuda.


"Sandiwara?" Ayah Deva mengulangi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tuan, ini titipan dari Ridan untuk anda." Reihan mengalihkan pembicaraan, sambil menyerahkan sebuah kaset pada ayah Deva.


"Paman Ridan berhasil mendapatkannya?" Sid menyahut dari sofa tempatnya duduk.


"Ya, tuan. Apakah kita akan memutar rekaman ini sekarang?"


"Tentu saja, tolong putarkan." Reihan segera memasukan kaset itu kedalam mesin pemutar video.


Di layar sudah terlihat ayah Deva dan ibu Aisha. Ibu Aisha terlihat tak sadarkan diri, lalu ayah Deva keluar dari ruangan.

__ADS_1


Tak lama, seorang dokter bersama pria yang dikenali Sid memasuki ruangan itu. Pria itu adalah manager rumah sakit tersebut, tampak berbeda karena rambutnya yang masih hitam.


Dokter itu tampak mengambil suntikan, dan mencoba menyuntikannya pada ibu Aisha. Namun, ibu Aisha menolak tangannya mencoba melawan dokter itu.


Perlawanan tak sebanding, karena keadaannya sedang lemah. Akhirnya dokter berhasil menyuntikan cairan itu pada ibu Aisha.


Tak lama ibu Aisha tampak tak sadarkan diri, lalu dokter yang wajahnya tertutup masker membuka maskernya.


Ayah Deva tampak sangat terkejut, ia terduduk lemas di lantai. Ibu Aisha tampak tidak terkejut.


"Dendi?" Ucap ayah Deva dengan wajah terkejutnya.


"Paman Dendi?" Kiran dan Sid saling menatap.


Di waktu yang bersamaan, ibu Rhea dan paman Dendi tampak sudah memasuki rumah Sid. Ibu Rhea sudah mendengar segalanya, iapun menatap paman Dendi dengan tatapan tak percaya.


Plak...Plak...


"Kau sangat bajingan! Kau ingin menghabisi Aisha, apa kau tidak tahu malu?! Mereka berbaik hati padamu, tapi kau membalasnya dengan cara keji seperti itu!" Teriak ibu Rhea setelah menampar kedua pipi paman Dendi.


"Kak Dendi adalah dalang di balik kematian palsuku itu." Ucap Aisha dengan wajah penuh kemarahan.


"Tontonlah video itu sampai selesai, kalian akan tahu siapa yang dimakamkan saat itu." Asri menimpali.


Merekapun kembali memutar video itu, dimana ibu Aisha masih berbaring tak berdaya. Malamnya ibu Aisha tersadar, malam itu juga ayah Deva dan keluarga ibu Aisha sudah tak berada di rumah sakit karena dokter menyatakan ibu Aisha telah tiada.


Namun, ketika melihat bahwa ibu Aisha kabur dari ruangan itu ayah Deva bertambah terkejut.


Paman Dendi memasuki kembaki ruang tersebut, dengan membawa jenazah seorang wanita yang sudah di operasi wajahnya menjadi sangat mirip dengan ibu Aisha.


"Lalu apa yang terjadi setelah ini?" Ayah Deva bertanya dengan nada lemah.


"Aku lari ke kediaman kita, tapi ditengah perjalanan aku tertabrak oleh mobil anak buah Dendi hingga tercebur kedalam sungai.


Aku ditemukan oleh seorang wanita bernama Asri, ia masih bersekongkol dengan Dendi. Setiap hari Asri mengatakan bahwa kau dan seluruh keluarga kita tidak selamat. Dihabisi oleh Dendi. Itulah sebabnya aku menjadi depresi, aku tidak sanggup kehilanganmu. Dua puluh enam tahun aku di rumah sakit jiwa. Lalu kemarin saat Asri mengambilku dan membawaku ke jakarta, ia memasukanku ke rumah sakit bandara itu."


Semua tercengang mendengar penuturan ibu Aisha, yang paling shock adalah ibu Rhea.


Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari luar, membuat semua serempak menoleh.


Dor...


Sekali lagi terdengar suara tembakan.


Semua tambah terkejut ketika tiba-tiba masuklah gerombolan berbaju hitam mengelilingi ayah Deva sekeluarga.


Bersambung...

__ADS_1


Perang sudah di mulai, siap-siap ya bentar lagi kita tamat 😊


__ADS_2