
Satu tahun berlalu dengan sangat cepat, baby Kal sudah semakin besar. Pertumbuhan dan perkembangannya tak luput dari pengawasan Sid dan Kiran sebagai orang tuanya.
Kini, baby Kal sedang belajar berjalan. Satu langkah, dua langkah, ia terjatuh. Namun, baby Kal tak menyerah begitu saja. Setiap kali terjatuh ia tak menangis, hal itu membuat Kiran dan Sid bangga sekaligus heran.
"Yah... Yah..." Gumam baby Kal sambil berusaha berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Tapi, gumaman itu membuat fokus Sid beralih padanya.
"Kal, anak ayah pintar sekali ya? Kemarilah, ayo jalan lagi!" Sid mengulurkan tangannya, agar diraih baby Kal.
Kiran senantiasa mengikuti di belakangnya, berjaga-jaga agar sang putra tidak terjatuh.
Kal berdiri, lalu berusaha meraih tangan ayahnya. Saat ia berhasil melangkah dan meraih tangan sang ayah, senyuman menggemaskan terbit di bibirnya. Membuat Kiran dan Sid gemas padanya.
"Pintar!" Puji Sid sambil mengangkat Kal dan menggendongnya lalu melayang-layangkannya ke udara, membuat Kal tertawa.
Kal begitu dekat dengan Sid, bahkan wajahnyapun walaupun masih kecil sudah terlihat sangat mirip dengan Sid.
"Duplikatmu itu menggemaskan sekali, bahkan lebih menggemaskan daripada aslinya." Ujar Kiran sambil mengambil Kal dari gendongan Sid.
"Ayahnya lebih menggemaskan!" Ujar Sid sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kiran.
"Menggemaskan, jika sedang baik dan ramah saja." Cibir Kiran.
"Kau selalu saja mengejekku!" Sid mengerucutkan bibirnya, lalu duduk di sofa yang tadi menjadi tempatnya duduk.
"Bercanda, jangan marah sayang!" Kiran duduk di sebelah Sid, lalu meletakan Kal di pangkuan Sid. Setelah itu, ia melingkarkan lengannya di perut Sid dan menyandarkan kepalanya di tangan Sid.
"Kita buat lagi?"
"Apa?" Tanya Kiran sambil mengerutkan dahinya.
Sid mendekatkan bibirnya ke telinga Kiran, lalu membisikan sesuatu yang membuat Kiran membelalak.
"Kau gila!"
"Tidak, jika kemarin malam hanya membuat saja nanti malam kita harus menjadikannya." Sid menaik turunkan alisnya.
"Raja mesum!" Kiran mencubit perut Sid.
"Ayolah, satu lagi." Wajah Sid mulai memelas.
"Berapa umur anak kita?"
"Satu tahun."
"Kau gila ya?" Tanya Kiran dengan wajah kesalnya.
"Apa hubungannya gila dengan umurnya Kal?" Tanya Sid sambil terkekeh.
"Pikirkan saja sendiri!" Kiran beranjak, lalu mengambil baby Kal dari gendongan Sid.
"Hei, kau ini terbiasa sekali membuat teka-teki ya?!" Mulai berdiri, lalu mengambil baby Kal dan meletakannya diatas karpet. Tanpa peduli mereka sedang di ruangan utama, Sid memeluk Kiran dengan erat.
__ADS_1
"Sid, lepaskan!" Sambil mencubit pinggang Sid.
"Yah... Mbu... mbu..." Baby Kal memanggil kedua orang tuanya.
"Ada apa, Kal?" Sid melepaskan pelukannya dan menggendong baby Kal.
Baby Kal tersenyum, lalu menepuk wajah Sid dengan tangan mungilnya. Setelah itu, baby Kal menunjuk Kiran.
"Ada apa, sayang?" Kiran mengambil baby Kal, tapi baby Kal menolak.
"Anakku ini menggemaskan sekali, ya!" Ujar Kiran sambil mencubit pelan pipi baby Kal yang semakin gembul.
Baby Kal langsung menggigit bahu Sid, sontak Sid terkejut dan mengerang kesakitan.
"Aaa, kenapa kau menggigit ayah?"
Baby Kal tertawa dengan riangnya, lalu berusaha menggigit kembali bahu Sid. Kiran tertawa melihat kelakuan anaknya tersebut, sementara Sid cemberut dan langsung memberikan Kal pada Kiran.
"Hei, kau ini kenapa? Dia hanya anak-anak!" Ucap Kiran sambil terkekeh.
"Kau ini, lihat ini!" Sid membuka kemejanya dan menunjukkan bekas gigitan baby Kal di bahunya.
"Waw, keren! Ternyata anakku ini membalas perlakuan ayahnya pada ibunya!" Lalu Kiran tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini, lihat saja ya nanti!" Ancam Sid.
"Apa?"
"Aku akan membalasmu lagi!" Sid mengerucutkan bibirnya lagi.
"Huh! Ternyata diam-diam kau menginginkannya juga, ya?" Kiran mengangguk antusias.
"Sayangnya ini masih pagi, aku harus ke kantor dan mencari uang dulu untuk membahagiakan keluargaku." Sid melingkarkan lengannya di pinggang Kiran, lalu mencium baby Kal dan beralih mencium ibunya.
"Carilah uang yang banyak, kebutuhan kita juga mulai banyak. Maksudku kebutuhan anak kita, tidak terasa dia sudah berumur satu tahun besok." Kiran menghela napas pelan.
Memang benar, tak terasa baby Kal besok berulang tahun yang ke satu tahun. Rasanya baru kemarin bagi Kiran melahirkan baby Kal.
"Kau benar, sepertinya baru kemarin kau menggigit tanganku saat melahirkan Kal. Sekarang dia sudah berumur satu tahu, sudah pintar menertawakan ayah dan ibunya. Sudah tidak mau ditimang-timang." Sid menyengir kuda, bermaksud memberi kode pada Kiran.
"Sid, jangan jadikan alasan dia sudah besar untuk keinginanmu!" Seolah tahu apa yang dipikirkan Sid.
"Aku mohon, satu lagi!" Sid memelas pada Kiran.
"Tunggu beberapa bulan lagi, aku masih ingin memanjakan Kal."
"Kau janji, ya? Kau janji setelah beberapa bulan kita akan berusaha menumbuhkan kecebong lagi, iya kan?" Kiran menghela napas kasar, lalu mengangguk.
Dengan tidak tahu malunya, Sid bersorak ria lalu melompat-lompat kegirangan. Membuat Kiran tertawa geli.
"Sid, kau kenapa? Apa sudah tidak waras sampai kau melompat-lompat seperti kera disana?" Tanya ayah Deva yang baru turun dari tangga.
Sid terkejut mendengar suara ayahnya, dan menghentikan lompatannya. Salah tingkah jangan ditanya lagi. Sid sangat malu dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Eh, a... Ayah, aku hanya..." Sid menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan untuk diberikan pada ayahnya.
"Semakin hari kelakuanmu seperti orang gila saja, apa perlu ayah memanggil petugas rumah sakit jiwa untukmu?" Kiran membelalak, dia tidak terima jika Sid sikatai sakit jiwa. Tapi ayah Deva memang ada benarnya juga, semakin hari kelakuan Sid menjadi somplak dan lucu.
"Tidak perlu, aku hanya ingin membuat anak dan istrimu selalu tertawa." Ayah Deva hanya mangut-mangut. "Itu saja." Tegas Sid cepat, sebelum ayahnya bertanya lagi.
"Sudah, berangkatlah ke kantor! Ini sudah akan siang, kau sebagai atasan harus disiplin!" Ayah Deva menarik tangan Sid, dan membawanya menuju mobil.
Kiran hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan mertuanya itu yang bisa sama gilanya, bahkan mertuanya bisa lebih gila daripada suaminya.
"Hallo, Kal, dan kak Kiran." Sapa Lakshmi yang baru keluar dari kamarnya.
"Hallo, bibi Lakshmi." Balas Kiran sambil melambaikan tangan Kal.
"Kak, kemarikan Kal!" Kiran menyerahkan baby Kal pada Lakshmi, lalu Lakshmi membawanya keluar.
"Hei, mau dibawa kemana anakku?" Teriak Kiran panik.
"Aku akan membawanya ke taman belakang, kak."
"Baiklah, hati-hati ya!"
"Iyaa.." Teriak Lakshmi yang suaranya mulai mengecil seiring dengan langkah kakinya yang sudah membawanya menuju taman belakang.
Kini di dalam rumah hanya tinggal ada Kiran, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Berantakan, mainan Kal berserakan dimana-mana. Kiran pun mulai membereskan semuanya.
Setelah semua beres, Kiran beranjak menuju kamarnya.
"Doooorrrrr..." Tiba-tiba seseorang muncul dan mengejutkan Kiran pada saat membuka pintu.
"Haaaaahhh....!" Kiran sangat terkejut, hampir saja Kiran memukulnya jika tidak segera menyadari siapa yang ada didepannya saat ini.
"Hahaha! Kena kau!" Serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau! Jantungku hampir saja copot, sedang apa disini? Sekarang kau jadi pemalas, ya?! Pergi sana, pasti mereka sedang mencari dan menunggumu disana!" Kiran mendorong tubuhnya keluar.
"Tidak, aku akan disini saja. Biarkan saja, sudah ada yang mengatur semuanya!" Sambil duduk diranjang dan menarik Kiran untuk berbaring disisinya.
"Kau ini memang sudah gila!" Ketus Kiran.
"Kau sudah janji, tadi!"
"Sid!" Kiran cemberut.
Sid memeluk Kiran, lalu mulai melancarkan aksinya.
"Eh tunggu! Dimana Kal?"
"Bersama Lakshmi di taman belakang." Jawab Kiran sambil mencubit pinggang Sid.
"Bagus! Ayo kita mulai!" Ucap Sid sambil menyeringai.
Bersambung...
__ADS_1
Mulai apa sih?😁😁