
Rian tertawa terbahak-bahak, merasa puas karena mengira rencananya berhasil. Ia berlari menuju mobilnya dam melajukannya ke bandara internasional.
Di bandara beberapa pria yang menangkap Kiran sudah menunggu Rian.
"Bagus, bawa dia kedalam pesawat! Dan kau, jangan pernah macam-macam atau berusaha kabur dariku!" Rian menunjuk Kiran.
Kiran tidak merasa takut atau menangis, akan tetapi ia merasa semakin berani.
"Apa yang kau inginkan, hah?! Sid tidak akan membiarkan ini semua berlanjut!" Kiran menatap Rian penuh keberanian.
"Tenang, sayang!" Sambil menyentuh pipi Kiran. "Semua akan bebas jika suamimu selamat!"
Kiran terdiam, mencerna ucapan Rian.
"Lihat ini!" Rian membuka sebuah laptop yang dibawakan salah satu anak buahnya, kemudian menunjukan sebuah video dimana ledakan didalam gedung yang tadi menjadi tempat pernikahannya terjadi.
Kiran menatap video itu dengan tatapan biasa saja, tidak menunjukan kesedihan ataupun histeris.
"Kau tidak takut suamimu mati sekarang?" Kiran menggeleng.
"Jika dia bisa selamat dalam ledakan saat aku hilang di sukabumi, lalu kenapa hari ini dia tidak bisa selamat juga dari ledakan kecil milikmu itu?" Sinis Kiran.
Rian menatap Kiran dengan tatapan kesal, ia sudah mengepalkan tangannya dan melayangkan tamparan pada pipi Kiran.
Plak...
Rian menampar Kiran dengan tamparan yang sangat keras, hingga sudut bibir Kiran mengeluarkan darah segar.
"Ini belum seberapa! Cepat bawa dia masuk kedalam pesawat!" Perintahnya pada anak buahnya.
Kiran dengan santainya mengikuti anak buah Rian kemanapun membawanya. Dalam hati terus melantunkan doa untuk suami dan keluarganya.
Ya Tuhan, lindungi suamiku. Bawa dia menuju diriku, untuk menyelamatkanku.
Ayah Deva sendiri, sebetulnya sejak tadi sudah berada dalam pesawat. Ia menunggu Rian membawa Kiran masuk kedalam pesawat setelah mendapat informasi bahwa Rian akan membawa Kiran terbang ke selandia baru untuk mendapatkan saham terbesar perusahaan mereka yang memang berada di selandia baru.
Tentunya, setelah Sid berhasil dihabisi oleh Rian kini Rian hanya tinggal menjadikan Kiran bersama si kembar yang telah ditangkap lebih dulu sebagai alat agar ayah Deva menyetujui atau memberikan saham terbesar padanya.
Ayah Deva menggunakan penyamaran bersama ibu Aisha dengan penyamaran yang cukup hebat hingga tak ada satupun yang mengenali mereka kecuali petugas bandara dan pesawat.
__ADS_1
Terlihat Kiran sudah dibawa masuk dengan paksa oleh empat orang anak buah Rian.
Ayah Deva mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Penerbangan ke Selandia Baru, kau bisa terbang dengan pesawat berikutnya yang akan terbang pukul dua siang. Jangan lupa, kerahkan seluruh anak buah mafia kita untuk menghancurkan seluruhnya. Jangan lupa juga, jangan biarkan keributan terjadi sebelum kita bisa membawa Kiran dan kembar kembali!" Ucapnya. Setelah itu telepon terputus.
...----------------...
Beberapa orang tergeletak diluar gedung yang telah meledak akibat bom tersebut, salah satunya sudah terbangun dengan baju yang menghitam dan beberapa luka bakar kecil di bagian tubuhnya. Sid.
Ia segera berlari menuju orang-orang yang masih tergeletak dan membantunya setelah itu menelepon seseorang untuk membawa mereka ke rumah sakit.
Sid lalu menelepon ayah Deva, menanyakan perihal Kiran dan kemana Rian akan membawanya juga menanyakan apa tujuan Rian sebenarnya.
Setelah mendengar penjelasan ayah Deva, Sid bergegas kerumah untuk membersihkan tubuhnya dan mempersiapkan penerbangan ke Selandia Baru sesuai petunjuk ayah Deva.
Kal dititipkan terlebih dahulu pada Lakshmi, karena kali ini adalah pekerjaan yang sangat berbahaya bagi Sid.
...****************...
Sid telah sampai di Selandia Baru, kini ia sedang mencari-cari Kiran dan ayah Deva, karena ponse Ayah Deva yang sudah tidak bisa dihubungi lagi sejak berada dalam pesawat, entah apa penyebabnya.
Hingga salah seorang petugas yang baru datang menghampirinya dan menyerahkan secarik kertas padanya.
"Apa ini?" Tanya Sid dalam bahasa inggris tentunya.
Petugas itu menggeleng, lalu berlari menuju ruang kerjanya. Sid membuka kertas itu dan membaca tulisan yang ternyata milik ayah Deva.
Apartemen kita, datanglah kesana!
Sid segera menyewa sebuah mobil, lalu bergegas ke apartemen milik mereka yang berada tepat di ibukota Selandia Baru.
Setelah sampai disana, Sid langsung membuka apartemen dengan kartu hitam yang diberikan seorang pelayan.
"Ayah, dimana Kirana?"
"Ayah belum menemukannya, tapi petunjuk sudah banyak kami temukan." Ucap ayah Deva sambil menunjukan beberapa perhiasan yang dipakai Kiran waktu di pernikahan Rian.
Salah satu perhiasan yang sangat Sid kenali adalah cincin yang belum lama ia berikan. Sid yakin, Kiran melakukan ini untuk memberi petunjuk tentang keberadaannya.
__ADS_1
"Ini petunjuk darinya, kita harus mengikuti petunjuk ini!" Seru Sid dengan mempersiapkan sesuatu untuk pencarian Kiran.
"Alangkah lebih baik minum ini dulu, kau pasti kedinginan karena cuacanya akan memasuki musim dingin!" Ibu Aisha menyerahkan secangkir teh melati, yang langsung diterima Sid.
Bertahanlah, kita sudah melalui banyak hal bersama. Termasuk hal seperti ini, aku yakin Tuhan akan mengembalikanmu padaku.
Begitu yakinnya Sid, hingga semangatnya kembali menggebu-gebu untuk mencari keberadaan istrinya.
Keyakinan memang hal yang paling utama jika kita mencintai seseorang, maka sebesar apapun kesalahan seseorang jika kita yakin pasti akan mampu untuk memaafkan kesalahan itu meski, mungkin hati memiliki rasa kecewa.
Setelah hampir satu jam menyusun rencana, Sid dan Ayah Deva bergegas untuk mencari Kiran. Mereka berpencar, dengan ayah Deva dan ibu Aisha pergi ke bagian lain Selandia Baru untuk mencari Kiran. Sid pergi ke tempat yang pernah ia kunjungin bersama Kiran sewaktu mereka berlibur ke Selandia Baru.
Hingga di bangku yang berada di taman yang sering mereka kunjungi, Sid tersenyum senang saat menemukan sebuah petunjuk lagi dari Kiran.
Sebuah kertas yang sudah terlihat lusuh dan ketika dibuka bertuliskan.
Aku disini, sebenarnya kita saling berdekatan. Tapi mungkin kau butuh waktu untuk menemukanku, tapi aku disembunyikan ditempat yang tidak berada jauh dari sini.
"Tenang saja, sayang! Aku akan menemukanmu!" Seru Sid dengan kembali bersemangat.
Beberapa kali Sid mengelilingi taman, hingga merasa bingung kemana harus mencari Kiran ditaman tersebut.
Kakinya sudah lelah, tidak dengan semangatnya yang terus menggebu.
Hingga saat dia berjalan diatas sebuah rumput, kakinya merasa ada sesuatu yang berbeda tidak seperti rumput yang lain.
"Apa ini? Kenapa seperti akan roboh?" Ucap Sid dengan menginjak-nginjakan lagi kakinya keatas rumput.
Cling...
Ia tak sengaja menginjak sebuah besi, hingga matanya menangkap sebuah besi yang berbentuk kotak juga.
Sid berjongkok, memastikan apa yang sedang dilihatnya. Hingga matanya membelalak, menyadari bahwa itu adalah pintu. Pintu yang menghubungkan jalan ke sebuah tempat, atau mungkin ada ruangan dibawah sana.
Bugh...
Tanpa disadari, sebuah pukulan terdengar. Pukulan benda tumpul yang mengenai tubuh seseorang.
Bersambung...
__ADS_1