
"Aku akan membuatnya menyesal, karena telah memutuskan segalanya denganku!" Ucap Maya pada seorang pria.
"Kak, sudahlah! Jangan mengganggu hidup Siddharth lagi, apalagi dia sudah memiliki keluarga!" Pria yang diketahui adalah adiknya itu mencoba mematika api dendam Maya.
"Sudahlah, jangan ikut campur jika kau tidak ingin membantuku! Biarkan aku sendiri yang melakukannya! Kau tidak tahu, berapa kerugian perusahaan Kita setelah putus kontrak dengan perusahaannya Sid!"
"Lalu kenapa jika putus kontrak dengan perusahaan Sid? Bukankah kita bisa mencari perusahaan besar lain untuk bisa bekerja sama dan mengikat kontrak lagi?"
"Diam, Rian! Apa kau tidak tahu? Jika SAR-E Group memutuskan kontrak dengan sebuah perusahaan, maka perusahaan tersebut tidak akan bisa mengikat kontrak dengan perusahaan lain lagi! Karena SAR-E Group adalah salah satu perusahaan terbesar!" Maya memasang wajah cemas. "Kau pikir saja, jika Sid benar-benar mengirim surat pemutusan kontrak, artinya sebentar lagi kita akan jadi gelandangan!" Ucap Maya dengan suara yang menggelegar di telinga Rian.
"Terserah, kak! Aku sudah mengingatkanmu, sekarang kau rasakan saja sendiri akibat dari perbuatanmu!" Rian pun bergegas meninggalkan Maya, ia tentunya begitu kesal pada Maya yang sangat terobsesi oleh Sid, suami dari mantan kekasihnya tersebut.
...----------------...
Empat bulan dijalani Kiran dan Sid dengan tenang, tidak ada gangguan dari siapapun lagi. Sid merasa nyaman tinggal di rumah ibu Rhea, bukan hanya nyaman, tapi dia begitu bersyukur karena ada yang menjaga Kiran selama dirinya pergi ke kantor.
"Kiran, aku akan pulang malam sepertinya." Ucap Sid di tengah-tengah sarapan mereka.
"Tidak apa, ada ibu dirumah yang akan menemaniku. Mira juga sepertinya ada di rumah, kau hati-hati di jalan ya?" Sid mengangguk, lalu menghabiskan sarapannya dengan cepat.
Setelah selesai sarapan, Sid berpamitan pada Kiran dan juga ibu mertuanya. Paman Dendi yang juga akan pergi ke kantor ikut berpamitan.
"Hati-hati di jalan, jangan mengendarai mobil terlalu cepat!" Sid mengangguk. Sebelum pergi, ia mengelus perut istrinya terlebih dahulu. Perut yang mulai membuncit itu membuat Kiran agak terlihat gemuk.
"Sayang, ayah pergi dulu. Jangan nakal di perut ibumu!"
Kiran tersenyum, melihat kelakuan Sid.
Sid memasuki mobilnya, sebelum pergi ia menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Kiran. Kiran membalas lambaian itu sambil tersenyum.
"Ayo kita masuk ke rumah." Ajak ibu Rhea sambil membantu Kiran berjalan.
Saat masuk ke rumah, tiba-tiba ibu Rhea dan Kiran terkejut.
"Masuklah, atau aku akan memaksamu masuk." Ucap seseorang dengan tubuh membelakangi.
"Siapa kau?" Tanya Kiran dengan penuh keterkejutan.
__ADS_1
"Aku? Perkenalkan, namaku Maya. Aku adalah kakak dari mantan kekasihmu, Rian. Kau pasti mengenal diriku, kan?" Kiran dan ibu Rhea saling memandang.
"Kak Maya, untuk apa kau kesini?" Tanya Kiran dengan nada suara sopan. Lebih tepatnya, berusaha lembut agar tak memancing keributan antara dirinya dan Maya.
"Haha. Untuk apa?" Sinis Maya diiringi tawa sinisnya juga. "Untuk meminta Sid darimu.
Mata Kiran membulat sempurna, lalu ia mengingat kembali ucapan Sid tentang Maya.
Jadi dia juga Maya yang di maksud Sid? Artinya, aku dan bayiku ada dalam bahaya. Aku harus segera memberi tahu Sid.
Kiran mengeluarkan ponselnya, lalu mencoba menelepon Sid. Namun Maya dengan cepat menghampirinya, dan merebut ponselnya.
"Tidak, sayangku. Jangan lakukan ini! Atau mereka akan menembakmu." Maya menunjuk orang-orang yang tiba-tiba sudah berada di belakang Kiran.
Kiran dan Ibu Rhea menoleh, dan terkejut mendapati hal tersebut.
"Akhirnya, setelah tiga bulan aku menyusun rencana ini aku bisa menemukan kalian disini dan akan segera melakukan rencana utamaku secepatnya." Ucap Maya diiringi tawa jahatnya.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan pernah mengganggu kami! Atau kau akan merasakan akibatnya!" Ancam Kiran. Namun Maya tak bergeming sedikitpun. Tawanya semakin keras.
"Wah, sayang sekali." Maya memutar sebuah video di ponselnya sendiri, lalu memperlihatkannya pada Kiran. "Lihat ini siapa?"
Ibu Rhea hanya terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana. Sebuah ide melintas di pikirannya.
Diam-diam ibu Rhea menelepon seseorang dengan ponsel yang sejak tadi dia sembunyikan di balik tangan bajunya yang panjang.
"Bawa dia!" Perintah Maya pada orang-orang yang bisa dibilang adalah anak buahnya. Empat orang menyeret ibu Rhea dan Kiran entah menuju kemana, Kiran sudah berteriak-teriak namun sia-sia saja. Orang itu segera membekap Kiran dengan obat bius yang diteteskan pada sapu tangan.
Ibu Rhea yang masih sadar berusaha melawan, ia menginjak kaki kedua orang itu. Tangannya terlepas dari ibu Rhea, kesempatan itu segera di manfaatkan untuknya mencari bantuan dan menyelamatkan Kiran. Namun, masalah tepat ada di depannya.
Yaitu Maya, yang sudah berdiri dengan pistol ditangannya yang sudah mengarah pada ibu Rhea.
"Apa yang akan kau lakukan? Menyerahlah, melawanpun percuma saja! Lihat itu, kalian hanya berdua!" Ibu Rhea akhirnya menyerah, namun hatinya sedikit lega karena mungkin orang yang baru saja ia telepon akan segera menyelamatkan dirinya dan juga putrinya.
"Hei kalian, ayo cepat bawa kedua wanita sok kuat ini!" Perintah Maya pada anak buahnya.
Mereka membawa Kiran dan ibu Rhea kedalam mobil, sepanjang perjalanan senjata terus ditodongkan pada keduanya. Kiran yang baru sadar langsung menangis dan memeluk ibu Rhea.
__ADS_1
"Ibu, mereka akan membawa kita kemana?" Tanya Kiran dengan wajah ketakutan.
"Ibu tidak tahu, tapi semoga saja penyelamat segera datang dan membebaskan kita dari semua ini." Jawab Ibu Rhea sambil mengelus kepala putrinya.
...----------------...
Sid terbangun, dan menyadari bahwa dia tidak sedang berada di kantor. Dia sedang berada di sebuah gudang kosong. Tubuhnya merasa sakit, karena tali yang mengikatnya. Mulutnya tak mampu berbicara karena ditutup oleh sebuah syal.
Yang lebih mirisnya, ternyata ayah dan paman istrinya juga berada disampingnya dalam keadaan yang sama. Hanya Lakshmi yang tidak ada, karena Sid yakin Lakshmi berada di kampusnya.
Matanya kembali mencari sosok lainnya, istrinya. Ia takut Kiran juga mengalami hal seperti dirinya saat ini. Menjadi sanderaan entah sanderaan siapa? Yang pasti, ia berdoa semoga Kirananya tidak ada disini dan tidak sedang dalam bahaya sedikitpun.
Sid menggerak-gerakan tubuhnya, berharap tali yang mengikatnya terlepas akibat gerakannya itu. Pada usaha kesekian kali, tali itu mulai melonggar.
Berhasil!
Sialnya, mereka dijaga ketat. Jika tidak Sid pasti sudah melepaskan ikatan ayahnya dan paman Dendi.
Ayah Deva melirik Sid, memberi kode agar melakukan apapun diperintahkannya. Sid mengangguk, paman Dendi hanya terdiam sendiri. Ia bingung tidak mengerti dengan kedua laki-laki disampingnya.
"Sepertinya nyonya Maya akan lama, ayo kita kesana dulu!" Sambil memberi kode mengajak minum pada yang lainnya. Minum dalam artian minum yang tidak biasa.
Yang lainnya langsung mengikuti, Sid dan ayah Deva segera melakukan rencananya. Sid berdiri, lalu mengunci pintu gudang itu terlebih dahulu. Setelah pintu terkunci rapat, ia langsung melepaskan ikatan keduanya.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini!"
"Tidak, tidak semudah itu Dendi! Kita harus memberikan pelajaran terlebih dahulu pada orang-orang ini!" Ucap ayah Deva.
"Aku setuju." Sahut Sid sambil mengangguk.
Tanpa berlama-lama, keduanya langsung mencari senjata apa saja yang bisa digunakan. Saat membuka sebuah kotak, Sid tercengang.
"Bom!" Seru Sid. Ayah Deva langsung menghampirinya, dan menyeringai.
"Bagus, kita akan melenyapkan mereka semua disini!"
Hmm...Gimana ya rencana mereka? Bom nya bakal digimanain nih???
__ADS_1
Bersambung...
like, coment, vote, hadiah juga boleh...