Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-32


__ADS_3

Sid menoleh ke arah sumber suara, ia terkejut ketika melihat yang datang adalah pengacara dan hakim pengadilan.


Kiran yang baru turun untuk melihat pernikahan Sid ikut bingung melihat dua orang tersebut datang.


"Tidak ada yang akan menikah!" Pengacara menegaskan, membuat Kiran dan Sid saling melirik satu sama lain.


"Tapi kenapa?"


"Lihat!" Menunjukan sebuah dokumen, dimana terdapat tanda tangan Kiran saja.


"Siddharth dan Kiran belum bercerai karena kalian bisa melihatnya sendiri, Siddharth tidak menanda tangani surat cerai itu. Selain itu, ada sesuatu yang ingin dijelaskan oleh hakim mengenai Sanya. Tolong hentikan dulu pernikahannya!" Ibu Aisha datang dengan memerintah, membuat Sid tersenyum dan bahagia.


Semua sudah dalam posisi duduk dan berkumpul. Bahkan ayah Deva duduk di dekat istrinya.


"Sanya, maaf kami tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan. Harta dari keluarga ini sudah di wariskan ke tangan anak-anak dari Siddharth Adeva Rafandi."


"Apa?!" Mata Sanya membelalak, ia juga langsung berdiri dengan raut wajah terkejutnya.


Kiran melirik Sanya dengan tatapan tidak percaya bahwa Sanya ternyata menginginkan harta Sid.


"Selain itu, aku ingin tunjukan sesuatu mengenai masalah kalian. Tentang siapa Rana. Apakah dia anak Sid atau bukan?! Ini dia bukti yang sebenarnya!" Menunjukan sebuah amplop berwarna putih, lalu memberikannya pada Sid.


Sid menerimanya, kemudian membukanya.


"Disini tertulis, bahwa Dna ku tidak sama dengan sample Dna milik Rana. Ini ditulis langsung oleh dokter yang melakukan tes Dnanya." Mengucapkannya dengan lantang, membuat Kiran meliriknya langsung.


Seolah petir sudah menyambarnya, Sanya langsung diam tak berkutik. Ia melirik orang-orang yang sudah menatapnya tajam.

__ADS_1


Kiran yang sudah berada disana langsung menghampiri Sanya, menatapnya sama seperti orang lain menatapnya.


"Permainan macam apa ini?" Dengan suara bergetar Sanya masih bisa berucap.


"Kalian menipuku!" Tuduh Sanya, seolah-olah ia yang dibohongi.


Tanpa rasa malu Sanya mendekati Sid, namun Sid menghindar dan malah menghampiri Kiran yang masih diam seribu bahasa.


"Dengar ya, wanita licik!" Ibu Aisha menarik tangan Sanya membawanya sampai ke ambang pintu.


"Yang pembohong itu kau, bukan kami! Menggunakan anakmu sendiri sebagai alat untuk merebut harta keluargaku!" Ia membuka pintu, kemudian menyeretnya keluar.


Tak lama, Rana keluar menyusul dengan tas yang berisi pakaian-pakaiannya dengan Sanya.


"Bu, ayo kita pergi!" Rana membangunkan Sanya, kemudian berusaha membawanya menjauh dari rumah ayah Deva.


Namun Sanya yang tidak tahu malu malah masuk kembali ke dalam rumah menghampiri Sid yang masih berdiri menatap Kiran.


"Aku permisi, aku juga akan pergi dari sini." Ucap Kiran pelan.


Semua tak berani berkata, hanya menatap Kiran lesu. Tak lama Kiran turun kembali dengan kopernya tanpa membawa barang lain lagi.


"Jaga anak-anak, aku pergi!" Tak memperdulikan orang-orang yang menahan dan memanggilnya Kiran menyeret kopernya keluar rumah.


Sid berlari menyusul Kiran yang sudah akan masuk ke dalam mobil.


"Apa maksudmu? Semua sudah terbongkar, kenapa kau masih beranggapan seolah tidak ingin bersamaku lagi?" Sid meraih tangan Kiran, menggenggamnya erat.

__ADS_1


Kiran menggeleng sambil menepis tangan Sid. "Tidak, aku harus tetap pergi."


Ia masuk ke dalam mobil tanpa melirik pada siapapun lagi Kiran melajukan mobilnya menjauh dari rumah ayah Deva.


Anak-anaknya menjerit, menangis memanggil-manggil Kiran.


"Ada apa ini? Kenapa dia bersikap seperti itu? Ikuti dia, Siddharth!" Perintah ibu Aisha sambil memeluk tiga anak Sid yang menangis.


...****************...


Kiran telah sampai di bandara, ia sedang duduk di ruang tunggu. Sesekali Kiran melirik jam di tangannya.


"Masih satu jam lagi, kenapa kau tiba lebih awal?" Seseorang bertanya dengan duduk di sampingnya.


Kiran melirik orang itu, kemudian tersenyum samar padanya.


"Aku tidak bisa berada lebih lama lagi. Atau semuanya tidak akan bisa aku lakukan." Suara bergetar menahan tangis, akan tetapi tangis itu tak tertahankan lagi.


Membuat Kiran menyandarkan kepalanya pada bahu pria disampingnya. Bahu Kiran berguncang-guncang kala ia menumpahkan tangisnya.


"Ayah, semua ini membuatku kehilangan perasaanku." Isak Kiran.


Ibu Rhea dari arah pintu bandara datang, kemudian memeluk Kiran dan mengusap punggungnya.


"Pikirkan lagi, masih ada waktu!" Ucapnya membujuk.


"Ibu harap kau berubah pikiran dan kembali kesana. Setidaknya pikirkan anak-anakmu, bahkan Arsya masih bayi."

__ADS_1


"Ibu, aku..."


Bersambung...


__ADS_2