Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-25 ( Season 2 )


__ADS_3

Surat cerai yang diterima Sid tentunya menggemparkan satu isi rumah, terutama Ayah Deva yang langsung shock saat mengetahui itu.


"Cari Kirana sekarang, kita tidak bisa membiarkan dia pergi!" Perintah ayah Deva dengan suara lemah.


Begitu sayangnya dia pada Kiran, sebab Kiranlah yang sejak dulu menjadi panutan keluarganya dalam hal kesabaran dan keberanian.


Disaat Ayah Deva memberi perintah, entah apa yang kini membuat Sid seperti menolak untuk mencari istrinya tersebut.


"Tidak usah kalian cari, biarkan saja dia bertemu nanti di pengadilan!" Tegasnya sambil bergegas entah menuju kemana.


Ayah Deva dan ibu Aisha tampak terkejut atas perkataan putranya, lalu ibu Aisha mengejar Sid yang baru sampai di depan pintu utama.


"Sid, apa maksud perkataanmu bertemu di pengadilan?"


"Dia ingin berpisah, itu keinginannya. Aku akan menyerahkan surat perpisahan ini ke pengadilan. Cukup, jangan ada yang berusaha mencarinya lagi!" Tegas Sid lagi sambil membuka pintu lalu keluar dari rumah.


ibu Aisha mengepalkan tangannya, ia begitu marah saat ini. Marah pada putranya dan pada salah satu pihak yang telah merusak kebahagiaan keluarganya.


Tekad telah bersarang dalam hatinya, hingga kakinya melangkah cepat menuju kamar tamu. Kamar dimana adanya ibu dan anak tidak tahu malu itu.


Braak..


"Pergi kalian dari rumah ini!" Teriak ibu Aisha membuat dua wanita berbeda usia itu cukup terkejut dengan suaranya yang menggema.


Sanya turun dari ranjang, lalu berdiri dengan tatapan tak mengerti.


"Puas kau?!" Teriak ibu Aisha lagi.


Ibu Aisha terdiam, namun tubuhnya bergerak menuju sebuah lemari berisi pakaian Sanya dan Rana. Ia mengambil koper wanita itu dan memasukan pakaian dari dalam lemari kedalam dua koper.


Setelah itu, ibu Aisha menyeretnya keluar rumah dan melemparnya.


"Bi, apa yang bibi lakukan? Apa Bibi mengusir kami?"


"Ya!" Ibu Aisha berkata dengan nada kasar dan marah.


"Pergi dari rumahku! Kalian penghancur, kalian telah menghancurkan kebahagiaan keluargaku!"


Entah darimana Sid, tiba-tiba dia datang dan memasukan kembali koper itu kedalam kamar tamu.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang pergi, aku dan Kiran akan bercerai setelah bayi keempat kami lahir. Setelah itu aku akan menikahi Sanya!"


Ibu Aisha membelalakan matanya tak percaya. Sanya pura-pura terkejut, akan tetapi hatinya sangat senang.


Akhirnya, aku akan dapat apa yang aku inginkan!


"Apa maksudmu, Nak?"


"Bunda tidak mengerti? Tunggu saja nanti!"


Sid masuk kedalam kamar, lalu mengambil surat perceraian yang sebenarnya belum ia tanda tangani dan membawanya untuk diserahkan ke pengadilan.


...****************...


Perut yang sudah semakin besar di usia kandungan ke delapan bulan membuat Kiran tidak panik, karena baginya ini bukan kali pertamanya hamil.


Paniknya kali ini, karena ia telah menyadari kebodohannya memancing hal-hal yang ia lakukan tanpa sadar. Yaitu dengan menggugat cerai suami yang telah lima belas tahun ini menemaninya.


Apa yang kulakukan? Tidak, jangan menyesal! Dia sudah mengkhianatimu!


Suara hati dan egonya berdebat, berusaha saling mengalahkan. Namun ego selalu lebih besar, sehingga Kiran tetap memilih berpisah dengan Sid.


Tak ia sangka, bahwa satu hal itu dapat menghancurkan segalanya. Kepercayaan yang telah ia bangun selama lima belas tahun harus hancur juga dalam satu hari saat kedatangan seorang anak gadis bernama Rana.


Tak dapat Kiran pungkiri, bahwa ia tak menginginkan perpisahan ini. Tapi harus bagaimana lagi, waktu telah mengubah segalanya.


Air matanya mengalir semalaman. Sang putra sulung yang tidur bersama dengannya dapat mendengar tangis ibunya.


Hati Siran ikut merasakan sakit atas apa yang terjadi pada hubungan ayah dan ibunya. Siran memeluk perut ibunya yang sudah besar, Kiran mengerutkan dahi serta menghapus air matanya mengetahui putranya belum tidur.


Sudah berbulan-bulan, anak-anaknya tidak bertemu dengan ayahnya. Kiran pikir besok akan mengirim ketiga anaknya untuk menemui ayahnya tersebut.


Esok harinya, Siran bersama adik kembarnya sudah memasuki mobil. Sebelum pergi ketiganya menatap sang ibu terlebih dahulu.


"Kenapa? Apa kalian tidak merindukan ayah kalian?" Tanya Kiran dengan senyuman manis.


Siran menggeleng, begitu juga dengan kedua adiknya.


"Jangan begitu, temui dia. Mungkin dia butuh kalian juga disana!" Dengan terpaksa, Kal mengangguk. Hingga mobil melaju, ketiga anak Kiran terus menatapnya dari dalam mobil seolah tidak ingin berpisah barang sedetikpun dari Kiran.

__ADS_1


Setelah mobil menghilang, Kiran baru masuk kedalam rumah. Langkah kakinya tiba-tiba saja menjadi sedikit susah, seolah tubuhnya merasa berat.


Akan tetapi Kiran menganggap itu biasa, seperti ibu hamil yang akan melahirkan langkah kakinya memang seperti itu.


Tak menyadari kakinya sudah terdapat darah yang mengalir. Pada saat terasa, Kiran sangat terkejut bukan main.


Hingga penglihatannya menjadi samar, setelah itu Kiran tak ingat apa-apa lagi. Saat sadar, Kiran tiba-tiba sudah berada di rumah sakit dengan disekelilingnya sudah ada beberapa orang yang tidak asing dimatanya.


"Kiran, kau sudah sadar?" Salah satu dari mereka menggenggam tangan Kiran. Namun Kiran menepisnya dan melepasnya.


"Maaf, sekarang aku mengerti kau benci aku!" Orang itu menjauh dengan senyuman yang menutupi luka.


"Lebih baik keluar dari sini, aku muak melihat wajahmu!" Ketus Kiran yang langsung membuat orang itu keluar dengan langkah pelan. Dibalik itu, air matanya menetes.


Semua yang menyaksikan sedih melihat adegan itu, dimana biasanya mereka hanya bercanda kini keadaannya serius dan Kiran benar-benar mengusir Sid baik dalam ruangannya dan ruang hatinya.


"Kiran, selama ini kau di rumah nenekmu?" Kiran mengangguk.


"Apa masalah kalian sebenarnya?" Ayah Deva bertanya penasaran.


"Coba ayah perhatikan cucu lain ayah, perhatikan juga putra ayah. Setelah itu ayah bayangkan jika ayah berada di posisi itu!" Kiran berkata dengan tangan dan suara bergetar.


Semua menunduk.


"Jika itu keputusanmu, maka ibu yakin kalian tidak akan pernah berpisah. Ibu akan buktikan hal yang sangat besar padamu!" Yakin ibu Aisha.


"Untuk saat ini, fokuslah pada kandunganmu jangan memikirkan hal-hal yang bisa memicu stres dan pendarahan pada kandunganmu!" Peringat ibu Aisha yang diangguki Kiran.


Di luar


Sid memegang kepalanya dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Sialan! Masalah ini kenapa tidak pernah berhenti menghampiriku? Anak siapa Rana itu?!" Kesalnya dengan memikirkan masa lalunya.


Apakah benar ia dan Sanya dulu telah melakukannya? Atau hanya akal-akalan Sanya? Apa benar Rana anaknya dan Sanya atau ada hal besar yang harus ia ungkap? Batinnya berkecamuk, berdebat dengan dirinya sendiri.


Masih ada satu bulan lagi, aku harus membuktikan segalanya! Jika itu benar, aku akan melepasnya meski itu berat.


Bersambung...

__ADS_1


Mungkin hanya beberapa episode lagi, setelah itu ada novel baru yang akan realese, eh terusin dulu Terpaksa Menikahi Duda Arrogant, setelah itu akan ada novel baru yang realese tapi bukan sekuel Siran ya! Itu masih lama untuk bulan agustus.


__ADS_2