
Menjelang malam hari, keadaan Rafa sudah semakin parah. Ami terus menangis di sampong Rafa yang sudah tak sadarkan diri, bahkan sudah tak merespon apapun yang dikatakan dan dilakukan Ami padanya.
"Rafa, aku mohon bangunlah!" Ami mengguncang-guncang tubuh Rafa, sudah sekitar setengah jam Rafa tak sadarkan diri.
Kiran dan Sid yang datang atas permintaan Ami turut sedih menyaksikannya.
"Ami, semua akan baik-baik saja. Berdoalah pada Tuhan, agar Rafa cepat sadar dan sembuh dari sakitnya." Kiran mencoba menegarkan Ami.
"Kiran, dia jahat sekali padaku! Satu tahun dia meninggalkanku, dan saat dia kembali dia akan meninggalkan aku lagi untuk selamanya! Kenapa dia jahat sekali padaku?!" Ucap Ami sambil terisak.
"Tidak, Ami. Semua akan baik-baik saja, semua pasti baik-baik saja." Kiran memeluk Ami.
"Kiran, aku akan memanggil dokter untuk melakukan tindakan pada Rafa." Kiran mengangguk.
Sid pergi keluar, lalu kembali bersama dokter.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk Rafa, jika kalian membuatku kecewa maka rumah sakit ini akan aku tutup."
"Baik, pak. Untuk itu Rafa akan segera diberikan terapi yang terbaik di rumah sakit ini."
"Lakukanlah, atau aku akan benar-benar menutup rumah sakit ini."
Dokter itu mengangguk, lalu segera memeriksa Rafa yang sedari tadi belum sadar juga.
"Ami, ayo kita keluar dulu. Kita menunggu diluar."
Kiran membantu Ami berjalan keluar, diikuti Sid dari belakang. Namun, tiba-tiba saja kepala Kiran terasa pusing, hampir saja ia terjatuh ke belakang jika Sid tidak segera menangkapnya. Ami ikut terkejut, dan meraih tangan Kiran.
"Kiran, ada apa? Apa kau sakit?" Kiran memegangi pelipisnya, lalu menggeleng.
"Aku baik-baik saja." Jawab Kiran sambil mencoba tersenyum.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Ayo, kita cari kamar untukmu istirahat." Sid menggendong Kiran.
"Tolong siapkan satu ruang VVIP untuk istriku, dia harus istirahat." Ucap Sid pada seorang suster.
"Sid, aku tidak apa-apa. Aku akan menemani Ami disini." Suara Kiran tampak lemah, hal itu membuat Sid tak percaya jika Kiran baik-baik saja.
"Tidak, jangan membantah! Kau harus ingat, sekarang kau tidak sendiri. Kau istirahat bersama Ami, aku yang akan mengurus Rafa." Kiran mengangguk, ia tak ingin berdebat lagi atau keadaannya akan semakin buruk.
Setelah memastikan Kiran beristirahat dengan Ami, Sid kembali ke ruangan dimana Rafa sedang diberi tindakan oleh dokter terbaik di rumah sakit tersebut.
"Bagaimana? Apa dia akan sembuh?" Dokter menggeleng, Sid membelalakan matanya.
"Sangat kecil kemungkinan baginya untuk sembuh, kami tidak tahu harus melakukan apa untuk menyembuhkannya."
"Apa?!"
"Pak, jika memungkinkan dan jika tuhan memberinya kesembuhan coba kau bawa dia ke Singapura, bukankah banyak yang sembuh dari kanker seperti itu di singapura?" Sid mulai berfikir, memang benar sudah banyak yang sembuh dari kanker disana.
"Baiklah, siapkan segalanya yang diperlukan untuk memindahkannya ke Singapura."
__ADS_1
Meskipun aku benci padanya, karena sudah pernah membantu Maya untuk menghabisi Kiran tapi setidaknya aku tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sid menghela napas kasar, lalu bermaksud kembali ke kamar tempat Kiran istirahat.
"Sid, bagaimana?" Tanya Kiran sambil bersandar.
"Pak Sid, bagaimana suamiku?" Ami tampak duduk di sofa dengan wajah yang sudah sangat pucat karena kurang istirahat.
"Begini, aku akan memindahkannya ke Singapura." Berhenti sejenak. "Dokter disini sudah tidak mampu mengatasi Rafa, maka aku memutuskan akan memindahkannya ke singapura." Sambung Sid.
"Pak Sid, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan cara seperti apa, tapi aku akan mengorbankan nyawaku untuk membalas kebaikanmu itu karena aku tidak memiliki harta untuk membayarnya. Aku akan selalu melindungi istrimu, sampai titik darah penghabisan." Ami bersimpuh di kaki Sid, tentu itu membuat Sid sedikit risih di hadapan Kiran.
"Ami, bangunlah! Jangan bersujud di kakiku, aku tidak ingin seperti laki-laki yang tidak menghormati wanita dengan membiarkan wanita bersujud di kaki seorang pria. Berterima kasihlah pada istriku, tanpa dia aku tidak akan mau membantu suamimu itu." Sambil menunjuk Kiran.
Ami bangun, lalu beralih pada Kiran dan memeluknya erat.
"Kiran, terima kasih banyak." Ami terisak sambil memeluk Kiran.
"Tidak apa-apa, tidak masalah. Kita sahabat, bukan?" Ami mengangguk.
"Sekarang tolong biarkan aku dan Kiran berdua disini, temuilah suamimu sebelum dibawa pergi ke Singapura." Ami mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Kiran, aku sekarang ingin membuat perhitungan denganmu!" Raut wajah Sid seketika berubah kesal.
Kiran menunduk, ia merasa takut jika suaminya sudah marah seperti ini.
"Ma... Maaf."
"Apa? Tapi kenapa?!" Sudah akan meninggikan suaranya, tapi diurungkan setelah melihat mata Sid yang sudah memelototinya.
"Kenapa? Kau bilang kenapa?!"
Kiran menunduk lebih dalam lagi.
"Kau pergi membawa mobil setelah mendapat telepon dari Ami, bahkan kau menyetir sendiri dan tidak minta izin dariku? Apa kau tidak memikirkan keselamatanmu dan bayi kita?" Sid memninggikan nada suaranya.
"Sid, aku ingin membangunkanmu. Tapi wajahmu terlihat sangat lelah, tadi malam. Jadi aku tidak tega membangunkanmu." Suara Kiran bergetar menahan tangis.
"Apapun alasanmu, aku tidak terima! Kau tidak memikirkan keselamatanmu dan bayi kita!"
Huuu... Aku tau aku salah, maaf.
Kiran mulai terisak, hati Sid pun melunak. Merasa bersalah juga, karena mungkin dia terlalu keras barusan sehingga istrinya sampai menangis terisak-isak.
"Maaf, aku hanya khawatir padamu." Kiran mengangguk, ia memang salah. Tak seharusnya ia pergi tanpa izin dari Sid dan membawa mobilnya sendiri tanpa supir.
Flashback on
Tengah malam adalah waktu paling nyenyak untuk tidur. Dua insan yang baru saja selesai menanam kecebong dengan rutin itu juga terlelap dalam tidurnya.
Salah satunya terbangun, ketika suara ponsel dengan nada dering lagu Fakira milik Amit Mishra bernyanyi di ponselnya.
__ADS_1
Kiran mendudukkan dirinya sejenak, lalu meraih benda pipih itu dan mengangkatnya.
"Ami, ada apa?" Ucap Kiran dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kiran... Kiran.. Bi... bisa kau kesini sekarang?" Isakkan Ami terdengar jelas di telinga Kiran, membuat Kiran khawatir.
"Iya, iya! Aku akan kesana sekarang. Tolong Kirimkan alamat rumah sakitnya!" Kiran menutup teleponnya, lalu berniat membangunkan Sid.
Tapi tidak tega saat melihat Sid yang sedang tertidur pulas dengan wajahnya yang nampak lelah.
Aku akan pergi sendiri saja.
Kiran membuka laci, dan mengambil kunci mobil--Siran.
Sepanjang perjalanan Kiran merasa cemas, ia takut sesuatu yang buruk menimpa Ami di rumah sakit.
...----------------...
Di rumah, Sid merasa tenggorokannya kering. Ia bangun dari tidurnya untuk mengambil air minum, niatnya terlupakan ketika mendapati Kiran tidak ada disisinya.
"Kiran, kau dimana?"
Tidak ada yang menyahut, hanya suara jarum jam yang terdengar.
Sid melangkahkan kakinya menunu dapur, ia meminum air putih terlebih dahulu sebelum mencari Kiran lagi. Sidpun kembali ke kamar, menduga-duga bahwa Kiran mungkin sudah berada di kamarnya lagi.
Tidak ada. Yang dicarinya tidak ada. Itu membuat Sid kesal. Kesalnya bertambah ketika pintu laci meja kerja Sid terbuka dan salah satu dari tiga kunci mobilnya tidak ada ditempatnya.
Sid meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dengan kasar, ia menelepon Kiran.
"Kau dimana?" Tanya Sid dengan nada datar. "Berani sekali ya? Tunggu! Aku akn kesana!" Sid menutup teleponnya, lalu melangkah keluar rumah untuk menyusul Kiran.
Sid melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bukan karena emosi tapi karena jalanan kosong melompong di malam hari.
Sesampainya di rumah sakit emosinya sedikit terlupakan saat Ami terlihat sedang menangis di pelukan Kiran.
Flashback Off
"Maaf, Sid. Aku mohon maafkan aku." Isak Kiran dalam pelukan Sid.
"Aku memaafkanmu, tapi aku tetap akan mengurungmu di kamar mulai besok."
"Apa?!" Pekik Kiran terkejut.
"Kau tidak dengar?" Sid mendekatkan mulutnya ke telinga Kiran. "Kau tidak boleh kemanapun mulai besok! Dengar itu, tidak ada alasan apapun!" Tegasnya.
Kiran cemberut.
Kejam! Dasar kera albino! Rutuk Kiran dalam hatinya.
๐Bersambung...
__ADS_1
Lucu ada, sedih ada nih. Votenya sama like dan juga komentarnya jangan lupa, ya? Biar author tau siapa aja yang setia baca karya author dari awal sampai saat ini ๐๐๐