
"Apa?!" Sid dan Kiran merasa di sambar petir setelah mengetahui apa yang terjadi pada putra bungsunya itu.
Tak ada yang menyangka, bahwa keturunan mereka di uji dengan hal seperti itu.
"Sepertinya itu karena pengaruh semua yang terjadi saat kehamilanmu, jadi jantungnya bermasalah." Dokter Niken menjelaskan dengan penuh detail.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk menyembuhkannya?"
"Soal itu..."
...****************...
Hasil kesehatan baby Arsya nampaknya sangat memengaruhi Sid dan Kiran, keduanya seperti tidak bersemangat lagi dalam kehidupannya.
Baby Arsya yang sejak pulang dari rumah sakit tertidur, terus Kiran gendong meski tidurnya sangat nyenyak. Ketakutan sudah menguasai diri Kiran, sehingga ia tak bisa jauh walau hanya sebentar dari baby Arsya.
"Aku menyerahkan segalanya padamu lagi," ucap Kiran di pagi hari saat Sid akan berangkat ke kantor.
Tangannya tak lepas menggendong baby Arsya meski nampak lelah Kiran tidak mempermasalahkannya.
Ia terlalu takut untuk meninggalkan bayi itu sendirian di ruangan, sudah cukup ketika ia mengalami keguguran beberapa waktu lalu.
Sid meraih bayi Arsya, lalu meletakannya diatas keranjang bayi kemudian mengajak Kiran duduk diatas ranjang.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu begini?" Tanyanya lembut.
Kiran menatap Sid dengan mata yang sudah berkaca-kaca, kemudian ia mulai menjelaskan apa yang membuatnya begini.
"Bukankah kau sendiri juga mendengarnya? Apa yang dokter Niken katakan kemarin?" Sid mengangguk, kemudian mengingat kembali apa yang dikatakan dokter kedua keluarganya tersebut.
Flashback
"Arsya memilili kelainan jantung." Dokter Niken sambil membaca hasil dari pemeriksaan memberitahukan dengan wajah lesu.
"Dia bisa bertahan? Apa dia bisa sembuh?"
Kiran langsung panik dan menyerbu dokter Niken dengan berbagai macam pertanyaan khas seorang ibu jika anaknya terkena vonis penyakit serius.
Kiran adalah salah satu dari ibu tersebut.
"Tenang saja, aku akan memberinya perawatan-perawatan selama aku mampu dan bisa." Jawaban penuh keyakinan dari dokter Niken, namun masih belum mampu menghilangkan rasa sedih dan khawatir dari seorang ibu dan ayah.
"Jauhkan dia dari berbagai macam hal yang dapat memicu memburuknya keadaan jantungnya." Usul dokter Niken yang tentunya langsung membuat Sid dan Kiran berjanji untuk melakukannya.
Keduanya nampak sedih tak beraturan, bahkan Kiran sempat merasa dunianya hancur dengan kenyataan tersebut.
"Jangan, kau harus kuat! Demi Arsya, kuatkanlah dirimu!" Sid terus menabahkan hati Kiran, meski itu tak akan berhasil menghilangkan sebagian besar kecemasan Kiran.
__ADS_1
Flashback off.
"Aku ayahnya, aku juga sama halnya khawatir seperti dirimu. Tapi-"
"Tapi apa?! Dia..."
"Dengarkan dulu!" Sid menyela Kiran yang menyelanya bicara.
Kiran diam, kemudian berusaha menenangkan dirinya lagi.
"Seorang anak akan kuat jika ibunya dan ayahnya juga kuat, maka berhentilah bersedih dan kuatkan dirimu demi dia."
Sebuah pelukan hangat Sid berikan pada Kiran, lalu Sid menghapus air mata Kiran dan mengambil kembali Arsya dan menggendongnya.
"Lihatlah, dia masih bisa tersenyum!" Menunjukan Arsya yang tersenyum dalam gendongannya sendiri.
Hal itu sukses menjadi semangat untuk Kiran.
"Dia akan baik-baik saja, aku yakin! Bahkan aku yakin dia juga akan jadi panutan kita dan juga ketiga kakaknya."
Sid memberikan kecupan di dahi Arsya, kemudian memberikannya pada Kiran.
"Aku akan berangkat kekantor, hubungi aku jika ada apa-apa! Tenanglah, jangan sedih sebaiknya kau harus bahagia karena dalam keadaannya kau selalu berada di dekatnya bersamanya. Kau harus bahagia memiliki putra yang kuat dan diri yang kuat."
__ADS_1
Mohon maaf ya para readers yang sudah setia mungkin dalam beberapa hari ini author tidak akan up. Bukan malas ya semua dikarenakan keluarga author sedang berduka cita atas kepergian kakeknya author. 🙏🏻😥 mohon doanya supaya beliau ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Tuhan 🙏🏻