
Satu minggu berlalu, hari ini Sid dan Kiran sudah berada di rumah sakit tempat mereka memeriksakan diri seminggu yang lalu.
Mereka akan mengetahui hasil tes keduanya. Tampak dari wajahnya Kiran merasa tegang, ia takut terjadi sesuatu pada dirinya yang membuatnya tidak bisa hamil lagi.
"Jangan tegang, sayang! Semua pasti akan baik-baik saja." Sid mencoba menenangkan Kiran. "Tersenyumlah." Sambungnya sambil membelai pipi Kiran.
Kiran mencoba tersenyum dan menenangkan dirinya. Keduanya melangkah memasuki ruangan dokter Niken yang ternyata telah menunggunya.
"Selamat datang Sid dan Kiran. Apa kabar?" Sambut dokter Niken disertai senyuman ramahnya.
"Kabar kami baik, kami ingin melihat hasil tes." Dokter Niken mengangguk, lalu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari dalam laci mejanya.
Dokter Niken membuka kertas tersebut dan membacanya, lalu menyerahkannya pada Sid dan Kiran.
Kiran menerima surat tersebut lalu membacanya kemudian mengerutkan dahinya karena tidak mengerti. Sid yang tahu bahwa Kiran kebingungan meraih kertas tersebut dan membacanya.
"Aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan?" Perintah Sid pada dokter Niken yang langsung dianggukinya.
"Dari hasil pemeriksaannya, kalian sama sekali tidak bermasalah. Dan bisa dilihat bahwa Kiran sudah hamil dua belas minggu atau sekitar tiga bulan." Kiran membelalak, lalu melirik Sid yang hanya terdiam.
"Tapi dokter, aku tidak merasakan gejala apapun mengenai kehamilan baik mual ataupun muntah dan mengidam." Ucap Kiran kebingungan.
"Dengar ya Kiran dan Sid, sebagian ibu hamil terkadang tidak mengalami gejala apapun yang membuatnya tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Mungkin di kedua kehamilan sebelumnya kau mengalami morning sickness dan mengidam, tapi kali ini tidak." Jelas dokter Niken yang membuat Kiran dan Sid mengangguk-ngangguk.
Setelah selesai dengan urusan rumah sakit, Sid dan Kiran langsung pulang menuju ke rumah.
Di rumah semua orang tampak sedang bersantai, ayah Deva yang sibuk dengan televisi dan ibu Aisha yang sibuk bermain dengan ketiga cucu kesayangannya.
"Kalian darimana?" Tanya ayah Deva saat melihat Kiran dan Sid memasuki rumah.
"Dari rumah sakit, kami baru mengambil hasil tes." Jawab Sid yang membuat ibu Aisha dan ayah Deva saling melirik keheranan.
Tes apa? Kelihatannya mereka sehat-sehat saja tidak mungkin jika mengambil tes hasil pemeriksaan penyakit.
"Tes apa?"
"Kehamilan." Jawab Kiran sambil tersenyum.
"Apa?!" Ucap ayah Deva dan ibu Aisha bersamaan.
"Kiran hamil lagi."
"Apa?!" Kali ini si kembar dan Kal yang berucap bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa kalian terkejut? Seharusnya senang karena akan ada bayi lagi di rumah ini!"
"Yeaayy! Aku punya adik lagi!" Seru Kal sambil melompat-lompat kegirangan berbeda dengan si kembar yang langsung cemberut dan menangis.
Tangisan si kembar membuat ayah Deva dan ibu Aisha terkejut. Apalagi tangisan Ima yang sangat keras. Karena Ima jarang menangis, itu membuat semuanya sangat terkejut terutama Sid dan Kiran.
"Ima kenapa kau menangis sekeras itu?" Sid melangkah menghampiri Ima dan menggendongnya lalu memeluknya.
"Ayah aku tidak ingin punya adik bayi, nanti ayah dan ibu tidak sayang padaku lagi." Isak Ima membuat semuanya tiba-tiba tertawa renyah.
"Tidak begitu, sayang ayah!" Sambil menghapus air mata Ima, lalu menurunkannya.
"Kalian bertiga akan tetap ayah sayangi. Kalian anak-anak ayah dan ibu mana mungkin ayah akan melupakan kalian dan tidak menyayangi kalian lagi? Hmm?!" Sid memeluk Ira dan Ima, kemudian mengecup pipi putri kembarnya tersebut.
"Jika ayah dan ibu kalian tidak menyayangi kalian lagi mungkin saat ini kami sudah melupakan kalian!" Timpal Kiran sambil menghampiri Ira dan Ima yang sekarang sudah duduk dipangkuan Sid.
"Tenang saja, kasih sayang kalian akan tetap sama. Malah kami mungkin akan lebih menyayangi kalian." Ayah Deva ikut menimpali membuat si kembar mengangguk.
...----------------...
Seperti biasa, saat matahari muncul disebuah rumah besar milik ayah Deva sudah terjadi keramaian, bukan karena banyaknya penghuni rumah didalamnya. Akan tetapi karena ulah dua putri kesayangan keluarga tersebut.
"Ira, Ima! Dimana kalian sembunyikan jam tangan ayah?" Sid terus berteriak menanyakan jam tangannya lebih tepatnya jam tangan kesayangannya.
"Sid, coba cari dengan benar mungkin kau lupa menyimpannya." Ucap Kiran yang ikut sibuk mencari jam tangan milik Sid.
Sid mengangguk, kemudian melangkah kembali menuju kamar dan mengobrak-abrik seluruh isi laci untuk mencari lagi jam tangannya.
"Huft, aku sudah lelah mencarinya! Seingatku, aku menyimpannya diatas meja riasmu!" Ucap Sid sambil duduk di ranjang dengan bibir cemberut.
"Sudah pasti ini ulah Ira dan Ima!" Ucapnya lagi dengan wajah kesal.
Di kamar lainnya dua orang gadis kecil tertawa terbahak-bahak sambil melempar-lemparkan sebuah jam tangan yang tak lain jam tangan yang sedang dicari Sid.
"Ini jam tangan ayah, ayo kita buat main!" Seru Ira yang langsung mendapat anggukan dari saudara kembarnya.
Ira memakaikan jam tangan tersebut pada Ima, lalu mengambil sebuah kain yang sebenarnya adalah jas milik ayahnya kemudian memakaikannya pada Ima lagi. Tak berhenti sampai disitu, Ira memakaikan kemeja, celana, kaos kaki, serta sepatu milik Sid pada Ima.
"Selesai!" Seru Ira sambil tertawa geli.
Ima kemudian berjalan menuju cermin. Karena pakaian yang dipakainya terlalu besar, akhirnya Ima tersandung pakaian tersebut dan membuatnya terjatuh hingga kebawah ranjang.
Ira yang tidak mengetahui saudaranya terjatuh kebawah ranjang mulai kebingungan mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Ima, kau dimana?" Ucapnya sambil mencari Ima kesegala penjuru ruang kamarnya.
"Ima!"
"Ima!"
Beberapa saat mencari Ira tak kunjung menemukan Ima, hingga akhirnya ia keluar kamar.
Dibawah ranjang Ima sedang berusaha melepaskan pakaian ditubuhnya dengan menggeliat-geliat karena kesusahan. Ima memang cenderung pendiam, kecuali jika sudah kesal ia baru akan menangis dan berteriak-teriak meminta bantuan atau semacamnya.
Dua orang tua memasuki kamar si kembar bersama Ira.
"Memangnya kemana Ima, hmm?" Tanya Sid sambil mengikuti langkah Ira.
"Bukankah tadi Ima bersamamu?" Tanya Kiran.
"Tadi aku pakaikan dia pakaian dan jam tangan ayah, lalu dia menghilang."
"Apa?!" Ucap Sid penuh keterkejutan.
"Kenapa kau berteriak?!" Ketus Kiran.
"Jadi benar kalian yang mengambil jam tangan ayah?" Ira menutup mulutnya dengan tangannya, sadar bahwa dia sudah membongkar ulahnya sendiri.
"Ira jawab!" Ucap Sid. Ira mengangguk, lalu menyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang sudah ompong.
"Sekarang jangan membahas jam tangan dulu, tapi cari dulu anakmu sampai kau menemukannya!" Perintah Kiran.
"Baik, ibu negara!" Patuh Sid lalu mulai mencari keberadaan Ima.
Saat ditengah pencarian, Kiran mulai menemukan sesuatu yang aneh dibawah ranjang. Seperti sebuah sepatu yang bergerak-gerak.
"Sid, apa itu? Kenapa seperti sepatumu yang bergerak-gerak sendiri?" Sid menoleh, lalu mendekati sepatu tersebut.
Beberapa saat Sid menatapnya, lalu masuk kebawah ranjang.
Setelah jelas melihat apa yang dibawah ranjang tersebut Sid menghela napas kasar.
"Sedang apa kau disini, sayang?!" Sambil mengeluarkan Ima dari bawah ranjang.
"Ima!" Ucap Kiran dan Ira bersamaan saat melihat Ima dikeluarkan Sid dari bawah ranjang.
Tingkah si kembar ya ampun 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1