Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kiran Hamil?


__ADS_3

Sudah lima hari, Kiran selalu muntah di pagi hari. Hal itu membuat Sid merasa sangat khawatir. Bahkan, bukan hanya karena Kiran selalu muntah di pagi hari. Sid juga khawatir ketika tingkah laku Kiran kadang menjadi sangat aneh.


Pagi ini, Kiran kembali diserang mual yang langsung membuatnya berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Sid yang masih tidurpun ikut berlari menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Kiran, hari ini kau tidak boleh membantah! Kita akan ke dokter untuk memeriksakan dirimu!" Tegas Sid.


"Iya, baik aku akan menuruti kata-katamu hari ini. Karena aku sudah tidak kuat dengan keadaanku ini." Lirih Kiran.


Tepat pukul tujuh pagi, keduanya sudah siap untu pergi ke dokter memeriksakan Kiran.


"Ayah, kami keluar dulu sebentar." Pamit Sid pada ayah Deva yang sedang sarapan.


"Kalian mau kemana sepagi ini? Sarapan dulu!"


"Kami akan pergi ke dokter, sepertinya mual dan pusing yang dirasakan Kiran semakin parah saja. Aku takut dia sakit parah." Jelas Sid sambil merangkul Kiran.


Ayah Deva beralih memperhatikan Kiran yang tampak berwajah pucat.


"Sepertinya Kiran memang benar-benar sakit. Ya sudah, kalian pergilah. Hati-hati di jalan! Semoga Kiran tidak sakit parah." Sid mengangguk, lalu segera membawa Kiran pergi keluar. Beruntung, Lakshmi si adik yang jahil sudah pergi ke kampus lebih awal, jadi Sid tidak perlu berdebat dan menjawab pertanyaan tidak masuk akalnya lebih dulu.


"Ayo, masuklah." Sid membantu Kiran masuk ke dalam mobil, setelah itu ia juga masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menit membuat Kiran tambah pusing, sesampainya di rumah sakit, Kiran tidak langsung masuk untuk di periksa. Melainkan berkeliling mencari kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang sedari dalam perjalanan sudah ia tahan.


Setelah merasa tidak mual lagi, Kiran keluar dari kamar mandi. Sid sudah menunggu di luar.


Kiran segera menghampiri Sid, dan menangis di pelukannya.


"Sid, aku sangat tidak suka dengan suasana ini!" Lirih Kiran.


"Bersabarlah, setelah ini kita akan tahu apa penyebabnya. Kau pasti bisa melaluinya, kau kan wanita yang kuat!" Sid mencoba menyemangati Kiran. "Ayo, kita masuk. Kau sudah tidak merasa mual lagi, kan?" Kiran menggeleng.


Sid merangkul Kiran, dan membawanya menuju ruangan dokter Ema. Sampai disana, ternyata dokter Ema sedang menunggu mereka, karena sebelumnya Sid sudah memberitahu bahwa mereka akan datang untuk memeriksa Kiran.


"Hallo, Sid dan Kiran. Kemarilah, aku akan langsung memeriksamu, Kiran." Kiran mengangguk, dan berbaring di bed rumah sakit. Dokter Ema dengan sigap memeriksa Kiran.


"Kiran, apa saja keluhan yang kau rasakan?"


"Sudah beberapa hari ini Kiran mengalami pusing dan mual." Sid yang menjawab.


"Apa kau sudah datang bulan, di bulan ini?" Kiran mengerutkan dahinya, mencoba mengingat kapan dia terakhir datang bulan.

__ADS_1


"Sepertinya belum, biasanya selalu lancar. Tapi bulan ini aku belum mendapatkannya." Jelas Kiran.


"Apa kau sering meminta yang aneh-aneh atau terkadang menginginkan sesuatu di luar batasan? Bersikap aneh juga?"


"Dokter, lima hari yang lalu dia bersikap sangat aneh. Bahkan aneh sekali, biasanya dia tidak pernah memakai apapun yang mencolok, tapi waktu itu dia berpenampilan mencolok sekali." Jawab Sid antusias.


"Bagaimana dengan hubungan kalian?"


"Hubungan kami?" Dokter Ema mengangguk. "Tentu saja baik dan lancar, setiap hari kami selalu mengobrol dan berkomunikasi seperti menelepon, mengirim pesan, dan video call." Jawab Sid dengan polosnya.


"Bukan itu, maksudku berhubungan suami istri!" Ralat dokter Ema.


"Apa? Kenapa kau bertanya seperti itu? Itu kan memalukan!"


"Jawab saja, Sid!" Ketus dokter Ema.


Dengan wajah malu-malu, Sid terpaksa menjawabnya.


"Dalam satu minggu kami terkadang melakukannya tiga atau empat kali, bisa juga setiap malam." Kiran mencubit perut Sid, yang membuat Sid meringis kesakitan. "Aw! Sakit, Kiran!" Pekik Sid.


"Kau ini, memalukan sekali! Jangan menjawabnya dengan terlalu detail!" Protes Kiran.


"Baiklah, baiklah! Sudah cukup! Sebenarnya apa yang terjadi pada istriku? Apa dia sakit serius atau hanya sakit biasa?" Tanya Sid pada dokter Ema dengan nada sedikit sinis.


"Bagaimana bisa tidak sakit? Sudah aku bilang, kan?! Dia setiap pagi merasakan pusing dan mual!" Potong Sid.


"Sid!" Kiran menahan Sid yang akan kembali marah.


"Istrimu tidak sakit, Siddharth! Mungkin dia hamil, untuk lebih jelasnya mari kita lakukan USG!"


"Ha... Hamil? Maksudmu Kiran hamil?"


Dokter Ema mengangguk.


"Kemungkinan besar seperti itu, dilihat dari keluhannya. Jika kita ingin tahu kebenarannya, mari ikut aku! Kita lakukan USG." Sid dan Kiran mengikuti dokter Ema untuk melakukan USG.


Sampai di ruangan khusus poli kandungan, dokter Ema segera menyurub Kiran berbaring diatas bed rumah sakit. Dokter Ema mengoleskan gel di atas perut Kiran, sementara Sid memperhatikan sambil dudul di sebelah Kiran.


Setelah itu, dokter Ema meletakan sebuah alat yang di pakai untuk USG diatas perut Kiran dan menggeser-geserkannya di atas perut Kiran.


Saat sebuah kantung berbentuk biji kecambah muncul di layar monitor, dokter Ema tersenyum.


"Wah, nampaknya memang benar, istrimu hamil! Selamat Sid, lihat itu!" Sambil menunjuk layar yang menampilkan biji kecambah itu.

__ADS_1


"Benarkah? Kau tidak bohong kan, dokter?" Dokter Ema mengangguk cepat.


"Sudah menginjak umur empat minggu."


"Lihat, Kiran! Aku akan jadi ayah, dan kau akan jadi ibu!" Ucap Sid dengan wajah penuh kebahagiaan. Kiran mengangguk, dan terharu.


"Selamat ya, untuk kalian. Tapi, sebisa mungkin Kiran jangan mengerjakan hal-hal yang berat. Kandungannya masih sangat rentan mengalami keguguran." Sid mengangguk kuat.


Mulai sekarang, apapun yang kau inginkan aku akan segera memberikannya padamu!


Sid mengelus perut Kiran yang masih rata itu, dia sangat bahagia bukan main. Sejak awal pernikahan, Sid sudah sangat menginginkan segera diberikan seorang anak. Kini, doanya sudah terkabulkan. Dia dan Kiran akan segera memiliki bayi.


"Sid, sudah cukup! Apa kau tidak malu? Ini di rumah sakit!" Ucap Kiran sambil menunjukkan dokter Ema yang berada di belakang Sid sedang memerhatikan keduanya.


"Ah iya, baiklah. Aku akan mengelusnya lagi di rumah!" Ucap Sid dengan tidak tahu malunya.


"Sid, ini aku memberikan obat untuk Kiran. Ini adalah obat penguat kandungan dan ini vitamin untuk penambah darah." Dokter Ema menyerahkan bungkusan obat, Sid segera mengambilnya.


"Baiklah, kami pulang dulu. Terima kasih, dokter." Dokter Ema mengangguk, Sid dan Kiran segera keluar dari rumah sakit.


Sepanjang perjalanan pulang, Sid tak henti-hentinya tersenyum senang.


Aku akan menjadi ayah, aku sangat bahagia.


Kata tersebut, tak berhenti dia ucapkan di dalam hatinya.


"Sid, kau kenapa? Dari tadi aku memperhatikanmu kau hanya tersenyum saja." Sid menoleh pada Kiran, lalu meraih tangan Kiran dan mengecupnya sekilas.


"Aku sangat senang, sebentar lagi kita akan memiliki bayi!" Seru Sid yang membuat Kiran ikut tersenyum.


"Kau sangat senang, rupanya! Aku juga, dan ayah pasti juga akan sangat senang. Oh ya, jangan lupa kita beritahu ibu da pamanku juga!" Kali ini Kiran yang sagat antusias.


"Dulu saja, kau menolak hamil dulu!" Sid mencibir Kiran.


"Kau ini!" Sid terkekeh, lalu mencubit pipi Kiran gemas.


"Oh ya, sebelum pulang apa kau ingin sesuatu? Jika ingin, kita membelinya dulu sebelum sampai dirumah?!" Kiran menggeleng.


"Tidak, mungkin aku belum ingin apapun. Ayo, kita pulang saja. Aku lelah."


"Siap, nyonya Kiran!" Sid mengedipkan sebelah matanya, dan sedikit mempercepat laju mobilnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa jejak, ya! Like, Coment dan Vote!


__ADS_2