
"Cepat, lajukan mobilnya ke arah sana!" Perintah Maya pada anak buahnya yang sedang bertugas menjadi sopir.
"Maya, aku mohon jangan lakukan ini!" Ucap Kiran dengan wajah memelas.
"Haha, aku tidak akan pernah rela membiarkan Sid ku bersama wanita lain! Rasakan ini, kau akan kuasingkan selamanya!" Sinis Maya sambil menyeringai licik.
"Maya! Kau akan membawa kami kemana, hah?! Kau akan mengirim kami pergi jauh, tapi sejauh apapun kami Sid akan bisa menemukan kami! Kau tahu kenapa?" Kiran mulai memberanikan dirinya. "Karena Sid dan aku adalah satu, kami terikat selamanya!" Lanjut Kiran yang membuat wajah Maya berubah menjadi kesal.
"Diam kau wanita j*lang! Sid tidak akan bisa menemukanmu!" Teriak Maya.
"Kau yang diam, Maya! Seharusnya kau tidak seperti ini!" Balas Kiran tak kalah keras.
"Dengar, Kirana! Sebelumnya kau merebut Sid dari Kanaya, sekarang kau membuat Sid jadi membenciku, maka aku akan membalasmu! Kau tidak akan pernah hidup bahagia bersama Sid! Dan bayimu itu tidak akan pernah lahir!" Menunjuk perut Kiran.
"Bayi ini akan lahir! Seiring dengan izin Tuhan, bayi ini akan lahir walaupun dalam keadaan aku menderita sekalipun! Dia adalah bukti cintaku dan Sid! Kau tidak akan pernah bisa menghalangi kelahirannya!" Nampaknya, keberanian Kiran semakin bertambah. Hal itu tentu saja membuat Maya menjadi semakin benci padanya dan berusaha mengakhiri Kiran.
"Apa masih jauh?" Tanya Maya dengan wajah kesal. "Kita harus secepatnya membuang wanita sialan ini beserta ibunya!"
"Tidak, nyonya. Lima ratus meter lagi kita sampai di tempat yang anda tentukan."
Kiran dan ibu Rhea kembali saling pandang, ibu Rhea mengangguk sambil tersenyum. Mencoba menguatkan Kiran lagi.
Sid, kau dimana? Datanglah, aku mohon datanglah!
Kiran menggenggam tangan ibunya dengan sangat kuat, hatinya terus berdoa dan memanggil-manggil nama suaminya. Berharap ia akan datang menyelamatkannya.
...----------------...
Sid, Ayah Deva, dan Paman Dendi berhasil lari dari gudang itu, belum jauh dari sana tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras. Diiringi semburan api dan asap juga tentunya.
"Sid, kita berhasil!" Seru ayah Deva dengan senyuman bangga.
"Kita pulang sekarang, ayah. Aku sangat khawatir pada Kiran."
"Aku juga entah kenapa sangat mengkhawatirkan Rhea." Sahut paman Dendi.
"Ayo, semoga mereka baik-baik saja."
Ketiganya meninggalkan tempat tersebut, namun sepanjang perjalanan Sid dan Dendi merasa sangat tidak tenang. Sid memikirkan istrinya Kiran, sementera paman Dendi memikirkan Rhea sang adik yang sangat di sayanginya.
Sampai di rumah, ketiganya terkejut karena kondisi rumah yang seperti tidak ada penghuninya. Mira yang baru saja pulang dari kampus langsung bertanya pada pamannya.
"Paman, kemana ibu dan kakak? Sepi sekali, biasanya mereka sedang memasak dijam saat ini!"
Dendi yang tidak tahu menahu kemana adik dan keponakannya itu pergi langsung menggeleng.
"Kami baru pulang, baru saja paman ingin meneleponmu. Paman pikir mereka sedang pergi keluar, tapi kenapa pintu rumahnyapun tidak di kunci?" Semua saling pandang.
Sid langsung memasuki rumah, memeriksa setiap ruangan. Sosok yang dicarinya tak ditemukan. Kemudian mengambil ponsel dan menelepon Kiran.
__ADS_1
Sialnya, ponselnya sudah tergeletak dilantai dengan kondisi rusak. Kemudian Sid menelepon ibu Rhea, diangkat.
"Hallo, ibu? Kalian dimana?"
"Sid kami..."
"Mereka ada pada diriku! Carilah mereka, jangan sampai terlambat. Atau saat kau menemukannya mereka sudah hanyut di lautan ini!"
Sid tercengang, suara itu ia mengenalnya.
"Maya!"
"Ya, saat ini kau hanya punya dua pilihan."
"Apa maksudmu?!" Bentak Sid.
"Menikahiku, maka aku akan melepaskan mereka dalam keadaan selamat. Atau... Kau cari sendiri mereka, jika terlambat maka istrimu dan calon anakmu beserta ibu mertuamu ini akan hanyut di lautan ini." Ucap Maya diiringi tawa jahatnya.
"Apa kau bilang? Jangan berani menyakitinya sedikitpun, jika sampai salah satu rambutnya terlepas oleh tanganmu, kau akan sangat menderita saat ini juga!" Ancam Sid penuh penekanan.
"Baik, kita lihat saja. Tentukan pilihanmu dari sekarang, aku hanya memberimu waktu empat jam!" Maya mematikan teleponnya, lalu mengirim sebuah gambar pada pesan.
Gambar tersebut adalah foto Kiran dan ibu Rhea yang sudah berada di sisi kapal laut.
"Tidak! Aku harus segera pergi!" Sid segera berlari keluar rumah, bermaksud pergi secepatnya.
"Sid, kau mau kemana?" Tanya ayah Deva.
"Apa?!" Ucap ayah Deva dan Dendi bersamaan.
"Ya, aku harus pergi sekarang. Aku hanya punya waktu empat jam, jika tidak mereka tidak akan selamat!"
"Ke laut mana? Memangnya kau sudah tahu tempatnya?" Sid mengangguk cepat.
"Pelabuhan Ratu! Kota sukabumi jawa barat." Jawab Sid yakin, karena dari fotonya terlihat ada ombak terbelah yang menabrak batu besar.
"Baiklah, ayah akan ikut bersama paman Dendi. Kita akan siapkan helikopter saja, itu akan mempercepat waktu." Sid mengangguk cepat.
"Mira, kau tunggu disini! Atau pergilah ke mansion utama, disana ada Lakshmi." Mira mengangguk. Ayah Deva memberikan kunci mobilnya agar Mira membawa mobil ke mansionnya.
Ketiganya bergegas pergi menuju lapangan yang terdapat helikopter ayah Deva.
"Ayo, kita harus segera pergi!"
Mereka menaiki helikopter tersebut, ayah Deva bertugas menjadi pilotnya. Ketiganya sudah berada diatas awan, menaiki helikopter.
Sid sudah tidak sabar lagi. Hatinya dipenuhi kemarahan sekaligus rasa khawatir. Marah atas perlakuan Maya yang tengah membuat istrinya dan mertuanya berada dalam bahaya, khawatir akan terlambat menyelamatkan kedua wanita yang berarti dihidupnya tersebut.
Dua jam, helikopter telah mendarat di sebuah lapangan luas yang tentunya juga menjadi pendaratan helikopter lainnya.
__ADS_1
Sid turun dengan sangat terburu-buru. Tempat pendaratan mereka masih jauh dengan lokasi laut, mereka pergi menaiki mobil yang sudah disewa oleh ayah Deva.
Ponsel Sid berdering, telepon dari ibu Rhea tentunya bukan ibu Rhea sendiri yang menelepon, melainkan Maya. Tidak Sid angkat, ia yakin Maya hanya ingin menggertaknya lagi.
Butuh waktu dua jam untuk sampai di lokasi, sejak tadi ponsel Sid terus berdering.
"Sid, angkat!" Perintah ayah Deva. Sid dengan terpaksa mengangkat teleponnya. Namun, Maya mengalihkannya menjadi panggilang video.
Panggilan sudah terhubung. Memperlihatkan Maya yang sedang menggiring Kiran dan ibu Rhea semakin berada di sisi kapal laut.
"Sid, selamatkan kami!" Teriak Kiran dengan tangis yang sudah pecah.
"Kiran!" Panggil Sid.
"Hallo, Siddharth. Bagaimana? Kau masih dimana? Jangan sampai terlambat, waktumu lima menit lagi! Jika terlambat, ikan-ikan dibawah sana akan memakan tubuh mereka!" Sambil menunjuk Kiran dan ibu Rhea.
"Berhenti, Maya! Jangan lakukan itu!"
Maya mematikan panggilan Video tersebut, Sid menjadi tambah kacau.
"Ayah, berapa lama lagi?" Sid melihat jam ditangannya. Sudah jam enam sore kurang lima menit.
"Sid, masih jauh! Kita butuh waktu setengah jam lagi untuk sampai di lokasi!" Ayah Deva menjadi sangat panik, kala melihat kesedihan yang sangat besar di wajah putra pertamanya itu.
"Tidak! Waktunya hanya lima menit lagi!"
Tiba-tiba, terdengar suara yang meletus. Ayah Deva menghentikan mobilnya, dan turun dari mobil. Sid dan paman Dendi ikut turun.
"Tidak! Ban mobilnya pecah!" Dada Sid tiba-tiba terasa sesak. Kepalanya berputar-putar. Membayangkan apa yang akan terjadi pada Kiran.
Tapi tidak, ia tak akan membiarkan itu terjadi. Dengan penuh kekuatan Sid berlari secepat mungkin, berharap ia akan sampai tepat waktu dan Maya hanya menggertaknya saja.
"Kiranaaaaaaaaaa!!!!!!!! Aku dataaaaannnnggggg!!!" Teriak Sid sambil berlari dengan kecepatan yang dimilikinya.
...----------------...
"Lima, empat, tiga, dua, satu." Maya menghitung dengan jarinya. "Lakukan sekarang!" Perintahnya pada anak buahnya.
"Tidak! Maya, aku mohon!" Pinta Kiran dan ibu Rhea dengan wajah memelas.
"Tidak, dia terlambat!" Ucap Maya dengan seringaian jahatnya.
Maaf, Sid. Aku tidak bisa memilikimu, jadi tidak ada yang boleh memilikimu.
Duaarr...
Tiba-tiba kapal laut yang ditumpangi Maya meledak. Kiran dan ibu Rhea ikut terpental dan tercebur kedalam laut.
"Tidaaakkk....!!!"
__ADS_1
Byuurrr....
Bersambung...