
Setelah kejadian wangi parfum dipakaian Sid beberapa hari yang lalu, kini Kiran selalu waspada setiap kali Sid pulang dari kantornya ia selalu mencium pakaian Sid terlebih dahulu. Beruntung, wangi parfum itu tidak tercium lagi.
Kesal dengan tingkah Kiran, Sidpun langsung menegurnya.
"Cukup! Aku tidak mengkhianatimu, buktinya hari ini dan seterusnya aku selalu pulang kerumah!" Ujar Sid dengan nada bercanda.
"Lalu parfum itu..."
"Jika aku sendiri tidak tahu, lalu bagaimana bisa kau tahu? Mungkin saja dari rekan-rekanku yang langsung menempel, jika kami berdekatan." Potong Sid cepat sebelum Kiran berulah lagi dengan pertanyaan yang tidak masuk akal tersebut.
Kiranpun membuang rasa curiganya dan mulai melakukan hal normal lagi saat Sid pulang.
Di hari minggu, mungkin waktunya bagi sebagian besar keluarga untuk berkumpul. Terutama keluarga Sid yang tidak pernah membuang waktu dengan tidak berkumpul di akhir pekan tersebut.
Di tengah-tengah perbincangan satu keluarga tersebut, tiba-tiba saja dahi Sid berkerut. Bukan karena bingung melainkan kesal saat melihat seseorang datang dari gerbang rumah yang langsung menghadap pekarangan Sid.
Kiran ikut menatap orang itu dengan tatapan biasa, lalu melirik Sid yang sudah tampak kesal.
"Apa kau mengundangnya?" Tanya Sid spontan sambil melirik tajam Kiran disampingnya.
Ayah Deva dan ibu Aisha melirik ke arah mereka dengan raut wajah kebingungan, sedangkan untung saja anak-anak sedang bermain di kolam renang taman belakang.
Kiran menggeleng cepat, karena ia memang tidak mengundang siapapun datang kerumah mereka.
"Lalu?" Sambil menunjuk Rian dengan bola matanya.
Kiran mengangkat kedua bahunya. Sid mendengus sebal, lalu berdiri dari duduknya saat Rian sudah mendekati mereka.
"Selamat pagi, Pak Sid dan keluarganya. Selamat berakhir pekan, aku kesini ingin menemui Pak Sid." Rian menunjuk Sid.
Kiran langsung melirik Sid diikuti ayah Deva dan Ibu Aisha. Sid menggeleng, lalu menyuruh ketiga orang dihadapannya untuk pergi ke taman belakang rumahnya.
Setelah ketiganya pergi, Sid langsung menyuruh Rian duduk dan menanyakan maksud kedatangannya.
"Kenapa?" Tanya Sid ketus.
"Eh, pak. Apa kau lupa? Aku ingin bicara tentang bagaimana dekorasi pernikahanku? Waktunya satu bulan lagi!" Tutur Rian yang membuat Sid menghela napas kasar.
"Sekolah sampai tingkat apa?"
"Eh, aku, Pak?"
__ADS_1
"Ya," ketus Sid.
"D3, Pak." Jawab Rian dengan yakinnya.
"Lalu kenapa kau sangat bodoh? Pernikahanmu masih satu bulan lagi! Dekorasi akan dilakukan dua atau tiga hari menjelang hari pernikahan! Dua minggu menuju pernikahan kau baru harus mengurus hal lainnya, temui aku dua minggu lagi!" Kesal Sid dengan ucapan yang panjang lebar.
Rian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, kemudian tersenyum lebar.
"Apa artinya perusahaanmu bersedia menjadi perancang atau pengatur acara pernikahanku?" Sid menghela napas, kemudian mengangguki ucapan pria dihadapannya.
Ya Tuhan, Kiran bagaimana bisa kau dulu menjadi kekasihnya?
"Dulu dia tidak bodoh," bisik seseorang tiba-tiba dibelakang Sid.
Sid terkejut, dengan spontan ia hampir saja berteriak. Namun akhirnya diurungkan karena mengenali bisikan itu adalah Kiran.
"Kiran, apa kabar? Terakhir kali kita bertemu di reuni itu aku lupa menanyakan kabarmu!" Seru Rian ramah tanpa melirik Sid ia menerobos mendekati Kiran.
"Minggir, kau! Jangan mendekati Kiran!" Hardik Sid sambil mendorong Rian hingga hampir jatuh.
"Sid!" Kiran menahan Sid yang sudah akan menyerang Rian.
Setelah Sid tidak terlihat lagi, Kiran bermaksud mengikuti Sid menuju ke taman belakang. Akan tetapi tiba-tiba Rian menahan Kiran dengan menarik tangannya.
"Sebaiknya kau pergi, jangan datang kemari jika hari pernikahanmu masih jauh! Suamiku pasti akan melakukan pekerjaannya jika hari pernikahanmu sudah dekat!" Ujar Kiran berusaha melembutkan perkataannya.
Rian mengangguk, lalu berpamitan pada Kiran. Namun satu kesempatan, ia tiba-tiba memeluk Kiran saat melihat sosok Sid mengintip dibalik dinding.
Dengan senyuman puas, Rian mengeratkan pelukannya meskipun Kiran melakukan perlawanan untuk berusaha melepaskan pelukan itu.
"Lepas! Jangan menyentuhku!" Hardik Kiran sambil mendorong tubuh Rian hingga terjatuh dan meninggalkannya begitu saja.
Rian tersenyum penuh kemenangan. Lalu pergi meninggalkan rumah besar milik suami mantan kekasihnya itu dengan senyuman puas.
Sebentar lagi mereka akan berpisah. Ayo, Rian! Lakukan lagi langkah berikutnya untuk pembalasanmu!
...****************...
Sudah tiga puluh menit Kiran mengelilingi rumah mencari keberadaan Sid, namun tak menemukannya juga.
Hingga pencarian terakhir berakhir di gudang, karena memang pintunya terbuka Kiran mengira Sid disana. Ternyata benar, Sid berada disana dengan sebuah saxophone dalam genggamannya.
__ADS_1
"Kau memberi luka, namun kau juga yang menyembuhkannya." Sebuah lirik lagu terucap begitu saja dari bibir Sid.
Kiran yang semula ingin menghampirinya sampai mengurungkannya mendengar lirik lagu tersebut dari mulut suaminya.
"Masuklah, aku melihatmu!" Seru Sid tiba-tiba.
"Iya," Kiran memasuki gudang dan duduk disamping Sid.
"Tadi dia memelukmu?" Kiran tercengang, tak menyangka bahwa Sid melihatnya saat dipeluk Rian tadi.
"Tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan memelukku, lagipula bukan aku kan yang memeluknya?" Kiran membalikkan pertanyaan yang membuat Sid terkekeh ringan.
"Pintar sekali ya melawan? Jika dia berani memelukmu lagi, aku tidak akan mengampuninya! Bahkan aku tidak akan membiarkanmu hidup lagi!" Ucap Sid secara halus namun terdengar seperti ancaman.
Kiran terdiam, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Sid.
"Jika bahu suamiku senyaman ini untuk bersandar, maka untuk apa mencari dada orang lain untuk bersandar? Bahumu saja nyaman, apalagi dadamu?!"
"Tenang saja, seluruh hidupku sudah aku berikan hanya untukmu. Jiwa, raga, bahkan hatiku kau sudah memilikinya. Dari kepemilikan bahkan ada cinta besar hingga menghasilkan tiga orang belahan jiwa hasil dari kita." Ucap Kiran lembut dengan tangan mengelus dda bidang Sid.
Sid menundukan pandangannya, lalu mengecup mesra kening Kiran. Kecupan itu, Kiran selalu mendapatkannya setiap akan atau bangun tidur. Ditatapnya wajah Sid yang sudah mulai berkerutan itu, tapi meski mulai menua tidak kehilangan pesona serta kharismanya. Bahkan ketampanannyapun tidak hilang meski telah dimakan usia yang tak lagi muda.
"Jika begitu, kau akan mati jika berani berkhianat." Kiran menutup mulut Sid dengan tangannya, lalu mengubahnya dengan jari telunjuk.
"Kita akan mati bersama, hanya kita, bersama!" Sid mengangguk, lalu memeluk Kiran.
Dengan kenyamanan, keduanya menghabiskan waktu digudang itu dengan bermain musik dan bernyanyi. Menambah indahnya kisah cinta antara Sid dan Kiran.
Tak terasa, lima belas tahun telah mereka lalui bersama. Mungkin jarang sekali pasangan yang bisa bertahan lama dan menua bersama, akan tetapi jika kita mau dan bisa setia kenapa tidak bisa menua bersama?
"Sid, author pintar sekali membuat kisah cinta kita ya?" Tanya Kiran sambil kembali bersandar di bahu Sid.
Sid mengangguk, lalu mengecup Kiran lagi dibagian pipinya.
"Iya, author memang hebat. Dan akan lebih baik kita membalasnya dengan doa."
"Doa apa?" Tanya Kiran lagi dengan kening dikerutkan.
"Doakan semoga suatu saat kisah cinta author seperti kita, tidak ada kata berpisah meski berbagai masalah menerjang dan mencoba memisahkannya." Kiran mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya ke dada.
Bersambung...
__ADS_1